DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Proses Berpikir Anak Berkebutuhan Khusus (Slow Learner) di Kelas Inklusi dalam Memecahkan Masalah Matematika

Susana, Labuem.

Abstrak


KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS TULIS SLOW LEARNER

DALAM MEMECAHKAN MASALAH OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT

 

1)Susana, Labuem, 2)Abadyo, 3)I Nengah, Parta

1)Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Malang

2,3)Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Malang

INFO ARTIKEL

RiwayatArtikel:

Diterima:Tgl-Bln-Thn

Disetujui:Tgl-Bln-Thn

ABSTRAK

Abstract: This research aims to describe the mathematical communication skills of slow learners in inclusion classes in solving mathematical problems. The subject of this study is Children with Special Needs (ABK) in the slow learner category consisting of one person. The research method used is descriptive research with a qualitative approach. Indicators of written mathematical communication skills used include writing down what is known and asked in the question, stating the situation with mathematical images or symbols, writing down the problem solving process, and drawing conclusions. The results of this study state that in solving mathematical problems, the subject only fulfills the indicator stating the situation with mathematical images or symbols and indicators writing down the problem solving process.

Abstrak: Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis tulis slow learner dalam menyelesaikan soal operasi hitung. Subjek penelitian ini adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kategori slow learner yang terdiri atas satu orang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Indikator kemampuan komunikasi matematis tulis yang digunakan meliputi menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan di soal, menyatakan situasi dengan gambar atau simbol matematis, menuliskan proses pemecahan masalah, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dalam memecahkan masalah matematika, subjek hanya memenuhi indikator menyatakan situasi dengan gambar atau simbol matematis dan indikator menuliskan proses pemecah.an masalah.

Kata kunci:

Kemampuan komunikasi matematis tulis, Slow learner, Pemecahan masalah matematika.

Alamat Korespondensi: Susana Labuem

Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5 Malang

E-mail: susisusanalabuem@yahoo.com

Matematika adalah ilmu universal yang berperanan penting untuk disiplin-disiplin ilmu lain (Puspitasari, 2017). Peranan matematika sebagai alat bagi ilmu lainnya didukung dengan adanya bahasa universal dalam matematika yang dikenal dengan bahasa simbolik. Hodiyanto (2017) menyatakan bahwa bahasa simbolik digunakan dalam mengomunikasikan ide atau gagasan matematika yang memungkinkan setiap orang dapat memahami makna dari suatu pernyataan sehingga terwujud komunikasi yang cermat dan tepat. Komunikasi matematika merupakan salah satu bagian penting di dalam aktivitas belajar mengajar matematika disebabkan karena merupakan satu diantara lima kemampuan dasar matematika yang adalah acuan dalam pembelajaran matematika (NCTM, 2010).

Baroody (dalam Husnah, dkk: 2013) mengemukakan dua alasan komunikasi perlu ditumbuh kembangkan dalam pembelajaran matematika, yaitu matematika adalah bahasa yang esensial bagi ilmu itu sendiri. Matematika tidak hanya dipandang sebagai alat berpikir yang dapat menolong siswa untuk belajar mendapatkan pola, menyelesaikan permasalahan matematika dan membuat kesimpulan, akan tetapi matematika juga digunakan sebagai alat untuk mengomunikasikan pikiran siswa mengenai ide dengan jelas, sesuai sasaran, dan terinci. Kedua, belajar dan mengajara matematika adalah kegiatan sosial yang menjadi temoat adanya interaksi dan sarana komunikasi yang melibatkan paling sedikit dua pihak, yaitu guru dan siswa. Selain pendapat di atas, Greenes dan Schulman (dalam Umar, 2012) juga menyatakan bahwa komunikasi matematika merupakan

(1) kekuatan pusat untuk siswa dalam merumuskan ide dan konsep serta strategi matematika,

(2) modal keberhasilan siswa terhadap pendekatan dan pemecahan dalam eksplorasi dan kemampuan investigasi matematik,

(3) wadah untuk siswa dalam berkomunikasi dengan teman – temannya untuk mendapatkan informasi, mengkolaborasikan ide atau gagasan dan penemuan, tukar pendapat, menilai serta mempertajam adan memperdalam ide untuk meyakinkan pihak lain.

Hodiyanto (2017) berpendapat bahwa kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan siswa untuk menyampaikan ide atau gagasan matematika baik itu secara lisan ataupun tulisan. Kemampuan komunikasi matematis siswa bisa dilatih dan dikembangkan melalui aktivitas pembelajaran yang berlangsung di sekolah, diantaranya melalui proses pembelajaran matematika. Hal ini terjadi karena salah satu unsur dari matematika adalah ilmu logika matematika yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa termasuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika.

Mairing (2017) berpendapat bahwa pemecahan masalah dapat didefinisikan sebagai pemikiran yang bertujuan untuk mendapatkan solusi dari suatu permasalahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berpikir merupakan suatu proses, sehingga pemecahan masalah juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Hal ini menegaskan bahwa proses berpikir siswa pada saat memecahkan suatu masalah jauh lebih penting daripada jawaban akhir yang diperoleh siswa (Mairing, 2017). Dengan demikian, peran guru sangat diharapkan untuk melakukan konfirmasi proses berpikir siswa saat memecahkan masalah matematika. Menurut Schoenfeld (2013), dalam membuat pemecahan masalah matematika, bukan hanya pengetahuan yang diutamakan, tetapi juga dibutuhkan strategi penyelesaian, aktivitas metakognisi, pengalaman dan keterampilan yang baik. Silver (dalam Syafitri, 2016) menyatakan bahwa tahapan dalam proses penyelesaian masalah bisa dijadikan sebagai acuan yang berfungsi untuk siswa dalam memantau dan menilai proses berpikir mereka. Apabila siswa tidak menunjukkan adanya identifikasi tahapan pemecahan masalah secara rinci dan jelas, maka aktivitas pemecahan masalah yang dilakukan baik di dalam tetapi juga di lingkungan tidak akan berjalan sebagamana mestinya. Aktivitas pemecahan masalah dapat dijadikan sebagai alat untuk mengetahui proses berpikir dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika, baik untuk siswa yang tidak mengalami keterbelakangan dalam aktivitas belajar (siswa normal) tetapi juga siswa yang memiliki berkebutuhan spesial atau khusus.

Siswa berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya, baik dilihat dari segi emosi, mental maupun secara fisiknya (Supriadi, 2016). Anak yang tergolong sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah siswa lamban belajar (slow learner). Slow learner merupakan anak yang mempunyai kemampuan dalam bidang akademik rendah atau berada sedikit di bawah anak normal pada umumnya. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada sebagaian area akademik tapi bisa juga mencakup semua area akademik. Jika dilakukan pengetasan IQ, skor tes IQ menunjukkan skor antara 70 – 90. Triani (2013) berpendapat bahwa siswa yang tergolong sebagai anak lamban belajar memiliki karakteristik

(1) dari segi intelegensi anak-anak lamban belajar berada pada hitungan kurang dari rata-rata, yaitu 70 sampai 90 berdasarkan skala WISC.

(2) Dari segi kemampuan berbahasa, slow learner belajar memiliki kendala atau kesulitan dalam berkomunikasi entah itu melalui bahasa ekspresif atau menyampaikan gagasan.

(3) Untuk hal emosi, slow learner lebih cenderung mempunyai emosi yang tidak tetap atau tidak stabil serta senderung sensitif.

(4) Anak lamban belajar dalam bersosialisasi biasanya cenderung pasif. Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh anak lamban belajar yang telah dikemukakan sebelumnya, peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis slow learner dalam memecahkan masalah operasi hitung bilangan bulat.

METODE

Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif. Riset ini bersifat interpretive (menafsirkan) dan holistic (menyeluruh), artinya peneliti membuat interpretasi atas apa yang dilihat, didengar, dipahami dan berusaha membuat gambaran umum dari masalah yang diteliti, sehingga penelitian ini menawarkan pandangan-pandangan yang beragam atas suatu masalah, khususnya yang terkait dengan masalah dalam riset ini.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah ABK kategori slow learner yang terdiri dari satu orang berusia 11 tahun. ABK kategori slow learner dipilih sebagai subjek penelitian dengan alasan bahwa slow learner memiliki tingkatan IQ yang lebih tinggi jika dibandingan dengan para ABK lainnya yang ada di kelas VI yang merupakan kelas inklusi di SD 9 Muhammadiyah “Panglima Sudirman” Malang.  Dengan demikian, diharapkan peneliti akan memperoleh data apabila subjek penelitian adalah ABK kategori slow learner.

Alat ukur yang dipakai ketika melakukan riset ini adalah lembar soal matematika yang di dalamnya memuat satu soal tentang materi operasi hitung bilangan bulat. Selain lembar masalah matematika, dalam penelitian ini juga digunakan protokol wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar pemecahan masalah yang dihasilkan dari pikiran subjek. Selanjutnya, akan ditampilkan soal matematika yang diujikan untuk di dalam riset ini.

Berdasarkan standar NCTM dan aspek-aspek komunikasi matematis menurut Barody (dalam Husnah, dkk: 2013), maka indikator-indikator komunikasi matematis tulis yang dijadikan sebagai acuan dalam riset ini, yaitu:

 Tabel. I  Indikator Komunikasi Matematis Tulis

NO KLEDEN, dkk

(2015) HUSNA, dkk

(2013) PANGASTUTI, dkk (2014) PENELITI

 1. 

Menjelaskan ide-ide matematis dan situasi dalam bentuk tulisan. Menyatakan ide-ide matematika dalam bentuk tulisan dan lisan.             Memahami permasalahan (menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan di soal).

2.Menyatakan situasi atau hubungan matematis dalam bentuk model matematis (grafik, gambar, dan simbol matematis).                Menyatakan situasi matematis dalam model matematis.              

Menyatakan situasi dengan gambar atau simbol matematis.

3.Proses penyelesaian masalah.                Proses pemecahan masalah.

4.Mendeskripsikan makna dari situasi atau permasalahan yang diberikan.

Menarik kesimpulan.

HASIL

Gambar 1 berikut ini menunjukkan jawaban tertulis subjek dalam menuliskan informasi yang diketahui dan hal yang ditanyakan di masalah I.

Dalam masalah I terdapat tiga informasi, yaitu ayah memiliki persediaan buku tulis sebanyak 12 buku. Ayah membeli lagi 2 lusin buku tulis. Semua buku akan dibagikan untuk 3 orang. Dari tiga informasi tersebut, subjek hanya menuliskan 2 informasi, yaitu persediaan buku tulis sebanyak 12 buku dan ayah membeli lagi 2 lusin buku tulis. Jawaban subjek ini mengindikasikan bahwa ada sebagian informasi yang sudah dilupakan oleh subjek, yaitu informasi tentang buku-buku tersebut akan dibagikan kepada 3 orang subjek. Dalam Gambar 1 di atas, nampak bahwa setelah menuliskan 2 lusin buku tulis selanjutnya subjek menulis 24 lusin buku. Subjek keliru dalam menuliskan 24 lusin buku, yang seharusnya adalah 24 buku tulis. Kekeliruan yang dilakukan oleh subjek ini merupakan salah satu ciri dari slow learner, yaitu kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Kekeliruan ini tidak menjadi indikasi bahwa subjek tidak memahami bahwa 2 lusin buku terdiri dari 24 buah. Subjek memahami bahwa 2 lusin buku terdiri dari 24 buah. Hal ini terlihat pada saat subjek menerjemahkan informasi 2 lusin buku terdiri dari 24 buah dalam simbol 12 + 12 secara bersusun seperti yang terlihat pada Gambar 2 bagian yang dilingkari berikut ini.

Berikut adalah cuplikan wawancara terkait dengan informasi yang dituliskan oleh anak subjek.

Berdasarkan cuplikan wawancara di atas, nampak bahwa subjek memahami bahwa 2 lusin sama dengan 24 buah dan telah menuliskan prosesnya seperti pada Gambar 2. Akan tetapi, setelah ditanya kembali, anak slow learn sudah lupa bahwa 2 lusin buku sama dengan 24 buah. Hal ini merupakan salah satu ciri anak slow learn, yaitu cepat melupakan apa yang telah dituliskan atau diucapkan sebelumnya. Selain menuliskan informasi yang ada dalam soal, subjek juga menuliskan hal yang ditanyakan atau tujuan soal dengan benar. Berdasarkan hasil pekerjaan subjek dan jawaban subjek ketika wawancara, dapat disimpulkan bahwa indikator I yang berkaitan dengan kominkasi matematis,  yaitu memahami permasalahan yang ditandai dengan menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan di soal tidak terpenuhi.

Tahap berikut yang dibuat oleh subjek adalah menyelesaikan operasi perkalian dan operasi pembagian seperti yang terlihat dalam Gambar 3. Walaupun tidak menuliskan informasi tentang 3 anak yang akan menerima buku tulis, tetapi informasi tersebut kemudian digunakan oleh subjek dalam proses pemecahan masalah. Hal ini mengindikasikan bahwa subjek telah memasukan informasi tersebut ke dalam pikirannya.

Berdasarkan Gambar 3 di atas, subjek dapat menyatakan situasi di soal dalam bentuk simbol matematika. Subjek memahami bahwa 1 lusin terdiri dari 12 buah, sehingga 2 lusin terdiri dari 24 buah. Subjek kemudian menyatakan pikirannya ini dalam bentuk tulisan penjumlahan bilangan 12 dan 12 secara bersusun seperti yang ditunjukan dalam Gambar 2. Setelah melakukan operasi penjumlahan, subjek kemudian melakukan operasi perkalian dan pembagian seperti yang terlihat dalam Gambar 3. Subjek menerjemahkan informasi tentang banyaknya buku yang tersedia dan banyaknya buku yang dibeli lagi oleh ayah dalam bentuk simbol 12 x 3 secara bersusun seperti yang terlihat pada Gambar 3. Subjek kemudian mengoperasikan 12 dan 3 dengan menggunakan operasi perkalian. Subjek berpikir untuk menyelesaikan perkalian 12 dan 3 untuk mengetahui jumlah keseluruhan buku yang dimiliki ayah. Pikiran subjek ini mengindikasikan kalau subjek memahami bahwa sebelum buku-buku tersebut dibagikan kepada 3 orang, penting untuk mengetahui jumlah keseluruhan bulu yang tersedia. Berikut adalah cuplikan wawancara terkait dengan penjelasan subjek saat melakukan operasi perkalian seperti yang ditunjukan dalam Gambar 3.

Berdasarkan cuplikan wawancara di atas, nampak bahwa subjek memahami bahwa 12 buku mula-mula dijumlahkan dengan 24 buah buku yang dibeli dapat disimbolkan sebagai 12 x 3. Pemahaman subjek ini mengindikasikan bahwa subjek memahami penjumlahan berulang 12 + 12 + 12 dapat dinyatakan dalambentuk perkalian 12 x 3. Setelah membuat simbol 12 x 3, selanjutnya subjek menyelesaiakan perkalian 12 dan 3. Prosedur yang digunakan oleh subjek untuk melakukan operasi perkalian sudah benar. Hal ini terlihat pada saat subjek mengalikan 12 dan 3. Berikut adalah cuplikan wawancara terkait dengan cara subjek menyelesaikan operasi perkalian 12 dan 3. 

Berdasarkan cuplikan wawancara di atas, subjek memahami dengan baik prosedur dalam melakukan operasi perkalian dengan cara bersusun. Kesalahan hasil akhir yang diperoleh terjadi karena subjek salah dalam menuliskan hasil perkalaian 2 dan 3. Kesalahan yang terjadi tersebut menunjukkan bahwa subjek mengalami kendala untuk operasi perkalian. 

Setelah melakukan operasi perkalian untuk mengetahui jumlah semua buku yang tersedia yaitu sebanyak 35 buku, selanjutnya subjek menyelesaikan operasi pembagian. Subjek menerjemahkan informasi mengenai jumlah keseluruhan buku yang ada dengan banyaknya anak yang akan menerima buku-buku tersebut dalam simbol 35 : 3. Aktivitas menerjemahkan informasi yang dilakukan oleh subjek ini mengindikasikan bahwa subjek memiliki kemampuan yang baik dalam menyatakan suatu situasi dengan simbol matematis. Selanjutnya, subjek melakukan proses pembagian. Berikut adalah cuplikan wawancara terkait dengan cara subjek menyelesaikan operasi 35 : 3. 

Berdasarkan cuplikan wawancara di atas, untuk mengetahui banyaknya buku yang akan diterima oleh masing-masing anak, subjek melakukan operasi pembagian. Subjek mengoperasikan 35 dan 3. Hal ini mengindikasikan bahwa, subjek memahami bahwa 35 menunjuk pada jumlah keseluruhan buku yang tersedia. Pertama-tama subjek mengoperasikan 3 pembagi dan 3 pada bilangan yang akan dibagi yaitu 35. Subjek menyelesaikan bentuk 3 : 3 hasilnya 1. Selanjutnya subjek mengoperasikan 3 pembagi dengan 5 pada bilangan yang akan dibagi dengan menggunakan operasi perkalian sehingga diperoleh hasilnya 15. Proses perkalian yang dilakukan oleh subjek ini tidak sesuai dengan konsep perkalian yang seharusnya. Setelah menulis bilangan 15 di bawah bilangan yang akan dibagi yaitu 35. Selanjutnya subjek mengoperasikan 35 dan 15 dengan menggunakan operasi pengurangan dan memperoleh hasil pengurangan 0. Dengan demikian subjek berkesimpulan bahwa solusi untuk masalah ini adalah 1, artinya masing-masing anak akan menerima 1 buku. Kesalahan yang terjadi ini disebabkan karena dalam pikiran subjek telah terbangun konsep bahwa untuk pembagian secara bersusun hasil pengurangan selalu 0.

PEMBAHASAN

Pada saat memecahkan masalah yang diberikan, pertama-tama subjek menuliskan dua informasi dari tiga informasi yang ada di soal. Penyebab tidak lengkapnya informasi yang dituliskan oleh subjek ini adalah ada informasi yang sudah dilupakan oleh subjek. Kondisi subjek yang mudah melupakan informasi ini sesuai dengan pendapat Chauhan (2011) yang mengemukakan bahwa cepat melupakan informasi yang sudah diterima merupakan salah satu karakteristik subjek yang merupakan anak berkebutuhan khusus kategori slow learner. Subjek tidak menuliskan apa yang ditanyakan di soal. Kondisi yang terjadi ini mengindikasikan bahwa untuk tahap ini, indikator komunikasi tulis, yaitu memahami permasalahan (menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan di soal) tidak terpenuhi. Selanjutnya, subjek menerjemahkan masalah dalam bentuk simbol matematika. Hal ini terlihat pada saat subjek menerjemahkan informasi 2 lusin buku sama dengan 24 buah buku dalam bentuk simbol 12 + 12 secara bersusun. Subjek juga mampu menyatakan situasi jumlah keseluruhan buku apabila telah tersedia 12 buah buku kemudian dibeli lagi 12 buku dalam simbol matematika yaitu 12 x 3. Subjek kemudian dapat menyatakan situasi membagi 35 buah buku kepada 3 orang dalam simbol matematika 35 : 3. Kemampuan subjek dalam menyatakan situasi yang ada dalam soal dalam simbol menunjukkan bahwa untuk tahap ini, indikator komunikasi tulis, yaitu menyatakan situasi dengan gambar atau simbol matematis dapat terpenuhi. Selanjutnya, pada saat membuat penyelesaian, pada saat melakukan operasi penjumlahan dan perkalian, subjek menerapakan prosedur penjumlahan dan perkalian bersusun dengan benar. Kesalahan hasil akhir operasi perkalian tidak disebabkan oleh kesalahan prosedur, namun lebih cenderung kepada penguasaan perkalian 2 dan 3. Untuk operasi pembagian, subjek tidak mengikuti prosedur pembagian dengan cara bersusun. Kesalahan yang terjadi cenderung kepada konsep pembagian bersusun yang terbangun dalam pikiran subjek, yaitu jika operasi pembagian dilakukan secara bersusun, maka bilangan yang akan dibagi selalu habis terbagi oleh pembagi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk indikator komunikasi tulis, yaitu proses pemecahan masalah terpenuhi. Ketika memperoleh jawaban dari soal yang telah dikerjakan, subjek tidak membuat kesimpulan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa yang terpenting bagi subjek adalah solusi yang diharapkan sudah ditemukan.

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil riset ini maupun berdasarkan pembahasannya dapat disimpulkan bahwa dalam memecahkan masalah matematika subjek hanya memenuhi indikator menyatakan situasi dengan gambar atau simbol matematis dan indikator menuliskan proses pemecah.an masalah. Berdasarkan temuan-temuan yang dijumpai dalam penelitian ini, terdapat beberapa hal yang dijadikan saran, yaitu:

(1) guru yang mengajar di kelas inklusi harus menguasai strategi pembelajaran agar dapat membantu ABK yang ada di dalam kelas inklusi untuk dapat menyesuaikan dengan anak normal lainnya.

(2) Perlu dilakukannya penelitian lanjutan tentang pemberian scafolding kepada ABK yang berada di dalam kelas inklusi.

(3) Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang perbandingan proses berpikir ABK yang berada di kelas inklusi dan ABK yang berada di SLB.

DAFTAR RUJUKAN

Chauhan, S. 2011. Slow Learner: Their Psychology and Educational Programmes. International Journal of Multidisciplinary Research. pp. 279-289

Gordah, E.K. & Nurmaningsih. 2015. Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Mahasiswa pada Materi Kuliah Geometri Analitik di Program Studi Pendidikan Matematika IKIP PGRI Pontianak. Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains, Vol. 4 (2).

Hodiyanto, 2017. Kemampuan Komunikasi Matematis Dalam Pembelajaran Matematika. AdMathEdu Vol. 7 No. 1 Juni 2017, Hal 9 – 17

Husna., Ikhsan, M., dan Fatima, S. 2013. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS). Jurnal Peluang. Vol. 1 (2).

Mandasari, Rianti. 2018. Profil Komunikasi Matematis Tulis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita. Tesis Tidak Dipublikasikan. PPs Universitas Negeri Malang

Mairing. J. P. 2017. Thinking Process of  Naive Problem Solvers to Solve Mathematical Problems. International Education Studies; Vol. 10, No. 1, 2017, pp. 1–11. Published by Canadian Center of Science and Education. Dari file:///C:/Users/DIGITAL/Downloads/Pemecahan%20Masalah%204%20EJ1124786.en.id.pdf.

NCTM. 2010. Principles and Standards for School Mathematics. http://www.nctm.org/Standards-andPositions/Principles-and-Standards/ Principles,-Standards,-andExpectations/.

Puspita Sari, Ika. 2017. Kemampuan Komunikasi Matematika Berdasarkan Perbedaan Gaya Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Wajo pada Materi Statistika. Jurnal Nalar Pendidikan Vol. 5, No. 2, 2017, Hal 86 -92

Schoenfeld, Alan H. 2013. Mathematical Problem Solving. Orlando: Academic Press

Syafitri, T. I. 2016. Proses Berpikir Siswa Tunanetra Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Di UPT SMPLBN Kota Pasuruan. Tesis Tidak Dipublikasikan. PPs Universitas Negeri Malang

Supriadi, N., Damayanti, R. 2016. Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Lamban Belajar Dalam Menyelesaikan Soal Bangun Datar. Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7, No. 1, 2016, Hal 1 - 9

Triani, N., & Amir 2013. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner). Jakarta: Luxima.

 

Umar, W. 2012. Membangun Kemampuan Komunikasi Matematis dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol. 1 (1). Dari http://ejournal.stkipsiliwangi.ac.id/ index.php/infinity/article/view/2/1