DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Makna Fertilitas Bagi Pelaku Pernikahan Dini Pada Masyarakat Terpencil Di Pulau Bawean Sebagai Suplemen Pada Mata Kuliah Geografi Penduduk Dan Demografi

Al'Ghani, Muhammad Zulfi.

Abstrak


RINGKASAN

Al’Ghani, Muhammad Zulfi. 2019. Makna Fertilitas Bagi Pelaku Pernikahan Dini Pada Masyarakat Terpencil Di Pulau Bawean Sebagai Suplemen Pada Mata Kuliah Geografi Penduduk Dan Demografi. Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi Pascasarjana. Universitas Negeri Malang,

Pembimbing:

(I).Prof. Dr. Budijanto, M.Sos

(II) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si.

 

Kata kunci:  pernikahan dini, fertilitas, konteks sosial, fenomenologi.

Indonesia merupakan salah satu negara di ASEAN yang memiliki prevalensi pernikahan dini tinggi. Prevalensi tersebut sebesar 34%, yang menyebabkan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kamboja. Laporan lainnya, menyebutkan anak-anak wanita usia 15 dan 16 tahun prevalensi pernikahan dini mengalami peningkatan. Angka pernikahan dini di Jawa Timur sebesar 16%, di Pulau Bawean sebesar 14% pada wanita usia 15 dan 16 tahun. Dampak pernikahan dini yang ditimbulkan bagi pelakunya antara lain; meningkatkan stres, resiko perceraian, resiko kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta mengakibatkan putus sekolah. Selain itu, pernikahan dini juga berdampak pada fertilitas karena masa periode reproduksi dari seorang wanita semakin panjang dan memberikan peluang untuk melahirkan lebih banyak anak. Terbukti dengan ASFR (Age Specific Fertility Rate) pada golongan usia 15-20 tahun sebesar 117.

Keterkaitan antara tingginya pernikahan dini terhadap tingginya angka fertilitas ini menjadi hal yang penting untuk dikaji dari sudut pandang konteks sosial pelaku pernikahan dini dan fertilitas, serta pemaknaan fertilitas bagi pelaku pernikahan dini. Tujuan penelitian adalah:

(1) mengetahui konteks sosial pelaku pernikahan dini, dan

(2) mengetahui makna fertilitas bagi pelaku pernikahan dini.

Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan pendekatan fenomenologi perspektif Alfred Schutz yang beranggapan bahwa setiap tindakan individu tidak terlepas dari motif sebab (because motives) dan motif tujuan (in order to motives). Subjek penelitian merupakan wanita yang berusia kurang atau sama dengan 16 tahun yang sudah memiliki anak maupun yang belum memilki anak. Data dianalisis dengan menggunakan pisau analisis fenomenologi perspektif Alfred Schutz. Pengumpulan data dilakukan dengan 3 tahap, yaitu observasi umum, observasi partisipasi, dokumentasi, serta wawancara mendalam. Subjek yang diwawancarai adalah 12 orang.

Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa:

(1) pelaku pernikahan dini melakukan pernikahan saat berusia 15 dan 16 tahun merupakan tamatan SMP yang mayoritas bekerja sebagai ibu rumah tangga; suami dari pelaku pernikahan dini rata-rata berusia 30 tahun, tamatan SMP, dan mayoritas merantau bekerja sebagai kuli bangunan, pedagang, dan pekerja kapal; pelaku pernikahan dini hidup pada kategori keluarga pra sejahtera; Dampak pernikahan dini membuat kegelisahan dalam melanjutkan rumah tangganya yang berujung pada potensi perceraian, dan terpaksa putus sekolah.

(2) makna fertilitas bagi pelaku pernikahan dini adalah

(a) fertilitas sebagai bentuk upaya mengikat pernikahan,

(b) fertilitas sebagai bentuk upaya untuk memutus garis kemiskinan (anak laki-laki sebagai penerus warisan dan membantu penghasilan keluarga).