DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Flouting and Hedging in the Graduate Students’ Classroom Discussion Context at State University of Malang. (Thesis)

Munawwir Hadi Wijaya

Abstrak


When we hear pieces of language, we normally try to understand not only what the words mean, but what the speaker of those words intends to convey. The study of ‘intended speaker meaning' is called pragmatics. In many ways, pragmatics is the study of ‘invisible' meaning, or how we recognize what is meant even when it isn't actually said. In order for that to happen, speakers must be able to depend on a lot of shared assumptions and expectations. The investigation of those assumptions and expectations provides us with some insight into how make our utterances more communicative in a conversation.

A basic underlying assumption we make when we speak to one another is that we are trying to cooperate with one another to construct meaningful conversations. This assumption is known as the cooperative principle. Moreover, an implicature is something meant, implied, or suggested distinct from what is said. Implicatures can be part of sentence meaning or dependent on conversational context, and can be conventional or unconventional. Regarding the conversational implicature, this study takes the graduate students' classroom discussion context at State University of Malang as the object of the study under the guidelines of three research questions, those are: (1) How does the flouting of maxims occur in the graduate students' classroom discussion context?; (2) How does the hedging of maxims occur in the graduate students' classroom discussion context?; and (3)Why do flouting and hedging occur in graduate students' classroom discussion context?

In addition, five out of sixteen topics were chosen randomly since the focus of this study is not on the topic of the discussion but on how the maxims are hedged and flouted in the conversational utterances among the students during the discussion. The utterances considered to be included are, (1) the introduction uttered by the presenters in the beginning of the discussion, (2) the presentations of the presenters, (3) the discussions that occur between the presenters and the audiences, after the presenters present their topics, and (4) the endings by the presenters. Furthermore, the data are displayed and ordered according to the following procedures: first, the statements suspected contain maxim flouts are grouped based on the topics; second, they are classified into types of flouts and hedges, and then further grouped under the four maxims of the cooperative principle.

Once data ordering and reduction are done, the next phase is recovering the implicature of each maxim flout. To do this each statement or fragment of the statement should be analyzed with the purpose on finding the entailed meaning, first, by describing and clarifying what the speaker intents to say; second, by drawing an inference out of the statement or fragment of the statement which then gives rise to a related implicature by considering the given context.

The results of the study show that the occurrence of flouting of maxims is denoted by various indicators, such as: redundancy, less informative, untruthful, inadequate evidence, out of topic, obscurity, ambiguity, prolixity, and disorderliness. Moreover, the way hedging of maxims occurs is carried out by means of the assertion of framing statement, personal opinion, expression of topic change indicator, and expression which indicates the obscurity. Furthermore, mostly the members of the discussions committing violation of the maxims on the basis of the following circumstances: the speaker assumes tha the hearer is following the flow of the speaker's ideas and what is unstated can be understood right away; the speaker tries to avoid answering some issues in which they may not have sufficient knowledge on them; the speaker makes obscure statements intentionally to "trap" the hearer in order to be confused with his/her questions or statements; the speakers do not want to get involved in any further discussion, for the information conveyed is limited; the truth values of the information conveyed may lack commitment; the messages conveyed may not be relevant, since they are expressed for politeness sake only; and the speakers are cautious in showing that there is a query in the speakers' mind whether or not the hearers are following the speakers' discourse adequately or suggests that the speaker is aware of the vagueness of his utterance to the hearers.

Regarding the significant of the cooperative principle, the results of study can be used to raise the awareness of EFL teacher on the importance of cooperative principle to be applied in a classroom discussion to make it more effective, and provide knowledge for the teacher in a classroom to help the students on how to learn language through discussion by making them aware of possible violation of the cooperative principle.

 

Abstrak:

Ketika kita mendengar penggalan-penggalan bahasa, kita biasanya mencoba memahami tidak hanya dari makna kata-kata yang tersurat saja, tapi juga makna tersirat yang ingin disampaikan oleh penutur. Studi tentang 'makna yang tersirat' lazim disebut pragmatik. Dilihat dalam banyak perspektif, pragmatik adalah studi tentang 'makna yang tak kasat mata', atau bagaimana kita memahami apa yang tersirat, bahkan ketika kata-kata tersebut tidak tersurat. Agar hal itu dapat dimugkinkan, penutur harus bersandar pada asumsi-asumsi dan persangkaan-persangkaan yang telah disepakati bersama. Pengkajian asumsi-asumsi dan persangkaan-persangkaan tersebut membantu kita memahami secara mendalam tentang bagaimana membuat ujaran kita lebih komunikatif dalam sebuah percakapan.

Sebuah asumsi yang kita jadikan dasar ketika kita berbicara satu sama lain adalah bahwa kita berusaha untuk bekerjasama untuk mengkonsepsi sebuah percakapan yang bermakna. Asumsi ini dikenal sebagai prinsip kerjasama. Lebih dari itu, implikatur adalah sesuatu yang berarti, tersirat, atau disarankan dari apa yang dikatakan. Implikatur dapat menjadi bagian dari makna kalimat ataupun bergantung pada konteks percakapan, dan hal tersebut bisa berupa konvensional ataupun non konvensional. Terkait dengan implikatur percakapan, objek studi dari penelitian ini adalah konteks diskusi kelas mahasiswa pascasarjana di Universitas Negeri Malang berdasarkan tiga rumusan masalah penelitian, yaitu: (1) Bagaimana ‘maxims flouting' muncul dalam konteks diskusi kelas mahasiswa pascasarjana?; (2) Bagaimana ‘maxims hedging' muncul dalam konteks diskusi kelas mahasiswa pascasarjana; dan? (3) Mengapa maxims flouting' dan ‘maxims hedging' muncul dalam konteks diskusi kelas mahasiswa pascasarjana?

Selain itu, lima dari enam belas topik yang dipilih secara acak digunakan sebagai objek dari studi ini, karena fokus penelitian ini bukan pada topik pembahasan, tetapi pada bagaimana pelanggaran prinsip kerjasama terjadi dalam percakapan antar anggota diskusi selama diskusi berlangsung, hal ini meliputi, (1) pembukaan pada awal diskusi, (2) presentasi oleh para presenter, (3) diskusi yang terjadi, setelah presenter menyajikan topik bahasan mereka, dan (4) penutup. Selanjutnya, data disajikan dan disusun sesuai dengan prosedur-prosedur berikut: pertama, ujaran-ujaran yang diduga mengandung ‘flouts' dan ‘hedges'dikelompokkan berdasarkan topik-topik diskusi, kedua, ujaran-ujaran tersebut diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis ‘flouts' dan ‘hedges', dan kemudian lebih lanjut dikelompokkan berdasarkan empat bidal prinsip kerjasama.

Setelah penyusunan dan pengurangan data telah selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah memulihkan implikatur setiap ‘flout' yang telah ditemukan. Untuk melakukan hal tersebut setiap pernyataan atau penggalan pernyataan harus dianalisis dengan tujuan untuk menemukan makna yang tersirat, pertama, dengan menggambarkan dan menjelaskan apa maksud dari ujaran si penutur, kedua, dengan mengambil sebuah ‘inference' dari pernyataan atau penggalan pernyataan yang kemudian memunculkan sebuah implikatur yang terkait dengan mempertimbangkan konteks yang ada.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan "flouting maxims" ditandai oleh beberapa indikasi seperti: pemborosan kata, informasi yang disampaikan kurang informatif, ketidakjujuran, kurangnya bukti yang memadai, keluar dari topik, ketidakjelasan, ambigu, bertele-tele, dan kesimpangsiuran. Lebih dari itu, kemunculan "hedging maxims" ditandai oleh beberapa indikasi sebagai berikut: pernyataan yang dibatasi (framing statement), opini pribadi, ekspresi penanda perubahan topik, dan ekspresi yang menandai ketidakjelasan. Selanjutnya sebagian besar anggota diskusi melakukan pelanggaran bidal-bidal prinsip kerjasama berdasarkan keadaan-keadaan sebagai berikut: penutur berasumsi bahwa si pendengar mengikuti alur ide-ide penutur dan apa yang tidak ia ujarkan dapat langsung dipahami, penutur mencoba untuk menghindari menjawab beberapa isu diluar pengetahuan mereka; penutur dengan sengaja membuat pernyataan yang tidak jelas/ kabur untuk "menjebak/membingungkan" si pendengar; penutur tidak ingin terlibat dalam diskusi lebih lanjut, karena informasi yang dia sampaikan terbatas; kurangnya nilai-nilai kebenaran dalam informasi yang disampaikan; pesan yang disampaikan mungkin tidak relevan dengan topik yang sedang didiskusikan, karena ungkapan tersebut disajikan demi kesopanan saja; dan penutur secara hati-hati menunjukkan bahwa ada sebuah keraguan di pikirannya apakah pendengar mengikuti wacana si penutur secara lengkap atau tidak dan juga menunjukkan bahwa si penutur menyadari ketidakjelasan dari ujarannya kepada para pendengar.

Menimbang signifikansi dari teori prinsip kerjasama, hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk membangkitkan kesadaran para guru bahasa Inggris tentang pentingnya memiliki pengetahuan tentang prinsip kerjasama yang sangat berguna untuk diterapkan dalam diskusi kelas agar lebih efektif dan memberikan pengetahuan bagi guru tentang bagaimana membantu para siswa belajar bahasa melalui diskusi dengan menumbuhkan kesadaran akan pola-pola umum pelanggaran bidal-bidal prinsip kerjasama.