DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMANFAATAN SITUS SEJARAH DI KABUPATEN SIDOARJO SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH PADA SISWA DI SMK KRIAN 1 SIDOARJO

Gebi Krista Viona

Abstrak


PEMANFAATAN SITUS SEJARAH DI KABUPATEN SIDOARJO SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH PADA SISWA DI SMK KRIAN 1 SIDOARJO

Gebi Krista Viona*, Ari Sapto**, Blasius Suprapta***

* S2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang

** Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

*** Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Riwayat Artikel:

Diterima: Tgl-Bln-Thn

Disetujui: Tgl-Bln-Thn

Abstract: Utilization historical sites in Sidoarjo district as a history learning resources on students at SMK Krian 1 Sidoarjo, was done because there are plenty of historical sites that can be boring, teacher plays active rule in encovraging students to learn. Teacher must make teaching materials that appropriate with the students needs and interesting themes. Researcher used the 4D model of Thiagarajan, Semmel and Semmel (1974). This research is succesded to increase students motivation and learning outcomes at SMK Krian 1 Sidoarjo, that is students motivation level score 91,8%, cognitive learning outcomes score 93% and psychomotor learning outcomes score 100%.

Abstrak: Pemanfaatan situs sejarah kabupaten Sidoarjo sebagai sumber belajar sejarah pada siswa di SMK Krian 1 Sidoarjo, dilakukan karena banyak situs-situs sejarah yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Pembelajaran sejarah umumnya terkesan membosankan, guru sangat berperan aktif dalam mendorong siswa untuk belajar. Guru harus membuat bahan ajar sesuai dengan kebutuhan siswa dan tema yang menarik. Peneliti menggunakan model 4D dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel (1974). Penelitian ini berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di SMK Krian 1 Sidoarjo, yaitu tingkat motivasi siswa sejumlah 91,8%, hasil belaar kognitif sejumlah 93% dan hasil belajar psikomotorik sejumlah 100%.

Kata kunci:

Situs Sejarah Sidoarjo, Sumber Belajar, Motivasi, Hasil Belajar                   

Alamat Korespondensi:

Gebi Krista Viona

Pascasarjana/S2 Pendidikan Sejarah

Jalan Semarang no.5 Malang

Alamat Instansi/Perguruan Tinggi

E-mail: Gebikrista@gmail.com 

Peneliti melakukan observasi di SMK Krian 1 Sidoarjo melalui guru mata pelajaran sejarah dan siswa. Peneliti mendapatkan beberapa fakta pada kelas X Rekayasa Perangkat Lunak 1, bahwa perkembangan internet dalam pembelajaran sejarah, sering disalahgunakan oleh siswa seperti membuka sosial media, chatting dan bermain game. Guru sudah melakukan banyak cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut seperti menyampaikan materi dengan mengggunakan video pembelajaran, nmun hasilnya kurang maksimal.

Berdasarkan letak SMK Krian 1 Sidoarjo yang terdapat banyak situs-situs sejarah Hindu-Buddha, peneliti menggunakan situs-situs tersebut sebagai materi bahan ajar yang menarik. Sejarah adalah mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia pada masa lampau hingga kini (Isjoni, 2007: 7). Maka sanagat penting peranan pembelajaran sejarah bagi siswa dalam kehidupan berbangsa. Pembelajaran sejarah hendaknya dimulai dari fakta-fakta sejrah yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal anak, baru kemudian pada fakta-fakta yang jauh dari tempat tinggal anak (Wasino, 2007: 14). Jadi pembelajaran dengan materi yang berasal dari lingkungn dan kebiasaaan siswa sehari-hari akan mudah dipahami oleh siswa.

Berdasarkan hasil observasi di SMK Krian 1 Sidoarjo dan letaknya, peneliti akhirnya menyimpulkan untuk membuat bahan ajar untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut. Bahan ajar merupakan komponen yang penting dalam proses pembelajaran, bahan ajar hendaknya diciptakansesuai dengan kebutuhan siswa. Tema bahan ajar dipilih berdasarkan lingkungan atau keseharian yang dapat langsug dilihat atau dirasakan oleh siswa sehingga pembelajaran  dengan mudah dipahami. Menurut Daryanto (2014: 173), jenis-jenis bahan ajar sebagai berikut:

1.Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan cetak (printer) seperti antara lain handout, buku, odul, lembar kerja siswa, brosur, leflet, wallchart, foto/gambar, non cetak (non printed), seperti model/maket.

2.Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.

3.Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.

4.Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (computer assisted instruction), CD (compact disk) multi media pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Berdasarkan jenis-jenis bahan ajar tersebut, peneliti berkesimpulan bahwa bahan ajar buku berupa modul merupakan pemilihan yang tepat. Pemilihan tersebut karen modul merupakan bahan ajar yang menarik dengan pemilihan materi menggunakan situs-situs sejarah sebagai sumber belajar siswa. Modul berisi mengenai penjelasan beserta gambar-gambar, sehingga menarik, efektif dan dapat disimpan dalam jangka panjang.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah 1. Menghasilkan bahan ajar  modul kearifan lokal pada bangunan Hindu-Buddha berbahan batu bata kuno di Delta Brantas untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa dan 2. Melihat efektivitas bahan ajar modul untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ( kognitif dan psikomotorik ) siswa. Tujuan penelitian ini adalah upaya peningkatan otivasi dan hasil belajar siswa dengan mengembangkan bahan ajar, yaitu berupa modul kearifan lokal.

METODE

Peneliti pengembangan ini menggunakan model 4D dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel (1974), alasan peneliti, yaitu: mencakup landasan kebutuhan dalam pembelajaran, indikatornya sesuai untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul dan mempunyai tahapan sistematis, ringkas dan saling berhubungan. Langkah-langkah Model 4D dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel (1974) adalah:

1.Pendefinisian (define), yaitu menetapkan dan mendefinisikan kebutuhan dalam pembelajaran, serta pemilihan topic materi yang digunakan.

2.Perancangan (desain), yaitu merancang prototype pada pengembangan bahan ajar.

3.Perancangan (develop), yaitu tahap yang menghasilkan draft akhir.

4.Penyebaran (desiminate), pada tahap ini peneliti melakukan dua kali uji coba yaitu uji coba kelompok kecil dengan 7 siswa dan kelompok besar pada kelas X Rekayasa Perangkat Lunak 1 dengan jumlah 30 siswa.

HASIL

Peneliti merupakan hasil dari pemanfaatan situs-situs di kabupaten Sidoarjo sebagai sumber belajar sejarah dengan bahan ajar berupa modul yaitu validasi materi dan bahasa rata-rata 78,5% yang menyatakan bahwa modul sejarah “sangat valid” dan “dapat digunakan” untuk pembelajaran. Kemenarikan berdasarkan penilaian guru mata pelajaran sejarah, uji coba kelompok kecil dan uji lapangan menghasilkan rata-rata 88,9% yang menunjukkan kriteria “sangat menarik”. Penilaian kemenarikan modul mengalami peningkatan 2,7% yang pada uji coba kelompok kecil dengan skor 85% dan uji lapangan menjadi 8,7%. Kepraktisan modul berdasarkan penilaian guru mata pelajaran sejarah, uji coba kelompok kecil dan uji lapangan menghasilkan rata-rata sejumlah 85,33% menunjukkan kriteria “sangat praktis”. Penilaian kepraktisan modul mengalami peningkatan 3% yang pada uji coba kelompok kecil dengan skor 981,42% dan uji lapangan menjadi 84,58%. Keefektifan modul sejarah berbasis kearifan lokal pada bangunan Hindu-Buddha berbahan batu bata kuno di Delta Brantas melalui hasil motivasi dan hasil belajar siswa. Hasil motivasi belajar siswa menghasilkan rata-rata 91,8% yang menunjukkan kriteria “sangat baik”. Hasil belajar kognitif siswa diperoleh berdasarkan ketuntasan posttest siswa yaitu 93% menunjukkan kriteria “sangat baik”., yang pada ketuntasan pretest hanya berjumlah 63,33%, sehingga hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan 29,67%. Hasil belajar psikomotorik siswa berdasarkan tugas vlog, yang memperoleh ketuntasan belajar sebesar 100% menunjukkan kriteria “sangat memuaskan”. Berdasarkan hasil belajar kognitif dan psikomotorik tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan modul sejarah berbasis kearifan lokal pada bangunan Hindu-Buddha berbahan batu bata kuno di Delta Brantas mampu meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata-rata 96,5% menunjukkan kriteria “sangat memuaskan”.

PEMBAHASAN

Peneliti menemukan beberapa masalah yang terjadi pada proses pembelajaran, yaitu banyaknya siswa yang menyalahgunakan penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Siswa bermain game dan membuka sosial media pada saat guru memberikan waktu kepada siswa untuk mencari sumber belajar dari internet. Berdasarkan hal tersebut, motivasi belajar siswa sangat rendah sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa yang tidak dapat mencapai KKM. Peneliti akhirnya memutuskan untuk memberikan bahan ajar yang menarik berupa modul. Pemilihan  bahan ajar tersebut berdasarkan analisa kebutuhan siswa.

Bahan ajar modul digunakan dengan penyesuaian tema dan materi yang berasal dari lingkungan siswa yaitu melalui situs-situs bersejarah di Sidoarjo. peneliti juga menyesuaikan penggunaan modul dengan standar kompetensi dan standar inti dalam pemeljaaran serta kesesuaian dengan RPP.

Peneliti melakukan konsultasi dalam pengembangan bahan ajar modul kearifan lokal, serta melakukan penilaian terhadap pengembangan modul. Ahli materi Dr. Blasius Suprapta, M.Hum yang memberikan penilaian 77%  dan ahli bahasa Dr. Gatut Susanto,M.M., M.Pd. memberikan penilaian 80%. Masukkan dan komentar dari ahli materi dan ahli bahasa digunaan peneliti untuk merevisi produk.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pemanfaatan situs-situs sejarah di kabupaten Sidoarjo sebagai sumberbelajar sejarah siswa bahan ajar modul menggunakan metode Thiagarajan Dkk (1977). Kegiatan penelitian ini dilakukan di SMK Krian 1 Sidoarjo yaitu kelompok kecil yang berjumlah 7 siswa dan kelompok besar yaitu kelas X Rekayasa Perangkat Lunak 1 dengan jumlah 30 siswa. Berdasarkan hasil penelitian, hasil penggunaan pengembangan bahan ajar modul sebagai sumber belajar dengan menggunakan situs-situs sejarah di kabupaten Sidoarjo dapat meningkatkan motivasi dan hsil belajar siswa karena menggunakan materi yang berasal dari lingkungan siswa.

Saran

Penelitian memberikan saran apabila beberapa pihak ingin melakukan penelitian dengan tema yang sama, yaitu: 1) melakukan analisis kebutuhan siswa sebekum melakukan penelitian, 2) mengembangkan dengan tema yang mencakup semua peninggalan sejarah d kabupaten Sidoarjo yaitu masa praaksara, masa Hindu-Buddha, masa colonial dan masa islam, 3) mengembangkan berupa aplikasi sesuai dengan perkembangan teknologi..

DAFTAR RUJUKAN

Daryanto dan Sudjendro, Herry. (2014). Siap Menyongsong Kurikulum 2013. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Isjoni. (2007). Pembelajaran Sejarah pada Satuan Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Thiagarajan, Sivasalaiman, dkk. (1977). Instruction Development for Training Teachers of Exceptional Children. Washington DC: National Center for Improvement Education Center.

Wagiran. (2009). Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal di Wilayah Provinsi DIY dan Mendukung Perwujudan Visi Pembangunan DIY Menuju Tahun 2025. Yogyakarta: Setda Provinsi DIY.

Wasino. (2007), Dari Riset Hinga Tulisan Sejarah. Semarang: UNNES Press.