DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kontribusi Kualifikasi Guru, Kegiatan Pembelajaran, Sarana Prasarana, dan On the Job Training terhadap Soft Skill serta Dampaknya pada Keterserapan Lulusan Kelas Industri di SMK Jawa Timur

Efendi, Syaiful.

Abstrak


ABSTRAK

Efendi, Syaiful. 2019. Kontribusi Kualifikasi Guru, Kegiatan Pembelajaran, Sarana Prasarana, dan On the Job Training terhadap Soft Skill serta Dampaknya pada Keterserapan Lulusan Kelas Industri di SMK Jawa Timur. Tesis, Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Pembimbing

(I).Dr. H. Ahmad Dardiri, M.Pd.,

(II) Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd.

 

Kata Kunci: kualifikasi guru, kegiatan pembelajaran, sarana prasarana, on the job training, soft skill, keterserapan lulusan

Aspek hard skill yang dimiliki lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan persyaratan minimal yang digunakan mendapatkan pekerjaan, sedangkan aspek soft skill digunakan untuk mengembangkan karir di dunia industri dalam menghadapi dampak globalisasi.  Dominasi tingkat pengangguran terbuka oleh lulusan SMK salah satunya disebabkan kurangnya aspek soft skill dalam diri lulusan yang selama ini dibutuhkan dunia industri. Unsur soft skill yang dibutuhkan oleh dunia industri meliputi kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, kerjasama, problem solving, disiplin, tanggung jawab, dan etika. Program pendidikan pada kelas industri di SMK sebagai wujud kerjasama antara sekolah dan dunia industri memiliki tujuan untuk meningkatkan keterserapan lulusan SMK dengan membentuk kompetensi spesifik sesuai kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan dunia industri. Pihak industri ikut terlibat langsung pada proses pendidikan di kelas industri, mulai dari perencanaan pendidikan, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi dan monitoring. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat

(1) kontribusi kualifikasi guru terhadap kegiatan pembelajaran;

(2) kontribusi sarana dan prasarana terhadap kegiatan pembelajaran;

(3) kontribusi kegiatan pembelajaran terhadap on the job training (OJT);

(4) kontribusi kegiatan pembelajaran terhadap soft skill;

(5) kontribusi OJT terhadap soft skill;

(6) kontribusi OJT terhadap keterserapan lulusan; dan

(7) kontribusi soft skill terhadap keterserapan lulusan.

Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei, mengggunakan rancangan penelitian korelasional yang dikembangkan ke dalam analisis Structural Equation Modeling (SEM). Sampel penelitian terdiri dari 203 guru yang mengajar di kelas industri Kompetensi Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) di 19 SMK Jawa Timur. Data dikumpulkan melalui angket menggunakan skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan persamaan struktural (SEM) berbantuan program AMOS 20.

Hasil penelitian menunjukkan

(1) kualifikasi guru memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas industri;

(2) sarana prasarana memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas industri;

(3) kegiatan pembelajaran memiliki  kontribusi yang signifikan terhadap OJT siswa kelas industri;

(4) kegiatan pembelajaran memiliki kontribusi yang signifikan terhadap soft skill siswa kelas industri;

(5) OJT memiliki kontribusi yang signifikan terhadap soft skill siswa kelas industri;

(6) OJT memiliki kontribusi yang signifikan terhadap keterserapan lulusan kelas industri; dan

(7) soft skill memiliki kontribusi yang signifikan terhadap keterserapan lulusan kelas industri.

Berdasarkan hasil penelitian, maka dinas pendidikan provinsi Jawa Timur diminta ikut menyukseskan program kelas industri melalui kebijakan yang lebih luwes dalam mengatur SMK, mengapresiasi pihak industri terkait dalam bentuk pemberian penghargaan, dan mendorong SMK lain segera memiliki kelas industri. Bagi kepala sekolah SMK, disarankan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru melalui pelatihan dan magang guru dan memutakhirkan sarana prasarana kelas industri melalui upaya sharing budget dengan industri mitra. Bagi pihak industri, disarankan untuk menyediakan tempat dan materi pendidikan dan pelatihan bagi guru dan mendelegasikan instruktur ke sekolah secara periodik untuk mentransfter pengetahuan dan wawasan budaya kerja industri kepada siswa serta menyelaraskan penempatan siswa OJT di jaringan industri mitra dengan fasilitas bengkel yang sesuai dengan tuntutan kurikulum kelas industri. Bagi guru, selain mengembangkan kompetensi melalui pelatihan dan magang guru, disarankan untuk melakukan pengembangan profesi secara baik. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan referensi sekaligus komparasi hasil dalam mengkaji topik sejenis dengan menjaring atau memetakan kriteria tenaga kerja yang diharapkan industri karena tidak semua lulusan kelas industri terserap di industri mitra serta dapat memperluas jumlah sampling penelitian.