DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Manajemen Hubungan Masyarakat pada Sekolah Inklusi. Studi Multi Kasus pada SMPN 18 dan SMPK Bhakti Luhur Malang. (Tesis)

Andreas Wato

Abstrak


Kehidupan manusia senantiasa berubah. Agar dapat survive dalam era yang terus berubah ini, diperlukan SDM yang unggul. Upaya untuk menciptakan SDM yang unggul itu dilakukan melalui pendidikan. Telah menjadi jelas bahwa pendidikan diselenggarakan untuk semua. Upaya impelementasi adagium Education for All itu nampak dalam sekolah inklusi karena dalam sekolah inklusi kebutuhan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus terakomodasi dengan baik. Agar implementasi pendidikan inklusi dapat terwujud, diperlukan kerjasama antara berbagai pihak karena pendidikan adalah tanggungjawab bersama. Namun, sejauh ini banyak masyarakat masih menolak kehadiran siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusi. Penolakan masyarakat ini terjadi karena kurang adanya sosialisasi kepada masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu didekati dan diberikan berbagai informasi mengenai siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusi agar mereka mengerti dengan baik siswa berkebutuhan khusus, menerima mereka serta mendukung pendidikan inklusi.

Bertolak dari hal di atas, peneliti merasa perlu untuk meneliti manajemen hubungan masyarakat pada sekolah inklusi agar masyarakat dapat memahami dan menerima kehadiran siswa ABK dan sekolah inklusi dan juga agar sekolah-sekolah yang belum menyelenggarakan program inklusi bisa terinspirasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan sekolah inklusi.

Berdasarkan konteks tersebut, peneliti merumuskan fokus penelitian yang terdiri dari: (1) Perencanaan hubungan masyarakat pada sekolah inklusi di Malang. (2) Pelaksanaan hubungan masyarakat pada sekolah inklusi di Malang. (3) Evaluasi hubungan masyarakat pada sekolah inklusi di Malang. Untuk bisa mendeskripsikan dengan benar fokus tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis etnografi dengan rancangan penelitian studi multikasus pada dua sekolah yakni SMPN 18 dan SMPK Bhakti Luhur Malang. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interviewing), observasi partisipan (participant observation) dan studi dokumentasi (study of document).

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa (1) Perencanaan program humas pada sekolah inklusi dimulai dari identifikasi permasalahan baik melalui pengamatan pribadi para praktisi hubungan masyarakat terhadap fenomena sehari-hari maupun masukan pihak yang berkepentingan tentang harapan dan kebutuhan para orangtua. Selanjutnya, dirumuskan tujuan dari program humas tersebut. Tujuan humas pada sekolah inklusi adalah agar masyarakat bisa menerima kehadiran siswa ABK dan pendidikan inklusi. Setelah tujuan kegiatan hubungan masyarakat dirumuskan, sekolah mengadakan rapat untuk menentukan strategi yang tepat untuk menjawab permasalahan. Setelah itu disusunlah program kerja. (2) Pelaksanaan program hubungan masyarakat dalam sekolah inklusi dilakukan dengan menjalin komunikasi dua arah simetris yang baik dan rutin dengan pihak yang berkepentingan dengan mengedepankan sikap yang ramah dan menggunakan berbagai media, membentuk Pokja sekolah inklusi, melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah, memberikan dukungan dan motivasi kepada para praktisi hubungan masyarakat dengan pendekatan moral religius humanis, melakukan koordinasi melalui rapat triwulan. (3) Evaluasi program hubungan masyarakat dalam pendidikan inklusi meliputi aktivitas pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah dan manajer inklusi serta koordintor GPK, serta pengawasan non formal oleh orangtua dan semua personil sekolah. Evaluasi dilakukan secara individual nonformal dan formal dalam pleno atau rapat bersama pada tengah dan akhir semester serta akhir tahun ajaran. Salah satu pendekatan penting yang dilakukan dalam mekanisme evaluasi adalah dengan menggunakan pendekatan rohani.

Berangkat dari temuan penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran berikut. (1). Mengingat sebagian besar masyarakat masih menolak dan belum mengenal dengan baik seluk beluk siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusi, Dinas Pendidikan kota Malang perlu terlibat dan memberikan perhatian khusus pada pelaksanaan dan sosialisasi siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusi khususnya pada sekolah-sekolah reguler atau konvensional yang sudah ada. Dan untuk menetapkan atau menyetujui apakah sebuah sekolah sudah layak membuka program inklusi, Dinas Pendidikan perlu memperhatikan segala bentuk persiapan penyelenggaraannya agar dapat sekolah inklusi melayani siswa dan masyarakat dengan baik. (2). Berkaitan dengan pelaksanaan program hubungan masyarakat, pihak SMPN 18 dan SMPK Bhakti Luhur perlu terus membuka diri dan memelihara komunikasi dua arah yang simetris dengan stakeholders, terutama pada sekolah-sekolah jenjang pendidikan menengah pertama dan menengah atas atau yang sederajat serta. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa terdorong menerima, mendukung dan bahkan menyelenggarakan program inklusi. Tentunya, dalam menjalankan tugas kehumasan ini, para praktisi perlu menggunakan pendekatan moral religius dan menunjukkan berbagai bukti melalui para alumni yang sudah berhasil untuk memotivasi pihak yang berkepentingan agar mau menerima kehadiran siswa ABK dan pendidikan inklusi. (3). Orangtua sebaiknya tidak merasa malu atau minder menyekolahkan anaknya melainkan secara terbuka perlu menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus serta mencari informasi mengenai bagaimana berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus pada sekolah inklusi yang sudah ada karena justru di sanalah berbagai informasi tentang anak berkebutuhan khusus ditemukan dan anak-anak dapat belajar untuk hidup dalam masyarakat yang sesungguhnya bahwa di dalam masyarakan ada warga yang normal ada yang memiliki kebutuhan khusus. (4). Mengingat penelitian dalam kaitan dengan substansi manajemen pendidikan inklusi masih sebatas manajemen kurikulum dan humasnya, maka disarankan agar peneliti lain perlu melakukan penelitian secara lebih mendalam dalam kedua substansi manajemen tersebut atau dalam substansi manajemen lainnya yang belum diteliti sebagai sumber informasi bagi sekolah lain di kota Malang yang ingin membuka program inklusi pada satuan pendidikannya.

 

Abstract:

Life is always changes. In order to survive in this era, we really need the excellent human resources. The efforts to create excellent human resources have been done by education. It is clear that education was held for all. Education for All means that education has to accommodate the diversity of the students needs, either difable or nondifable. The adage of education for all was implemented in kind of inclusive school. In the inclusive school the needs of the students, either difable or nondifable, were accommodate well. But we know that there are many schools that not run an inclusive program and many people in the community refuse the presence of children with special needs. This rejection of children with special needs was happen because of the citizen not get more information about that things. That is why the citizen need to be approached and given more information about children with special needs and inclusion education so they can accept and give their support to the children. For this reason, researcher think that it good to do an observation about public relation management in inclusive school so the other schools that are not run an inclusive program were inspired to do the same thing, to run an inclusive program in their school.

Grounded on those contexts, researcher made some point those are the focus of this observation. Those focuses are: (1) Public relations planning on inclusive school in Malang city. (2) Actuating of public relations program on inclusive school in Malang city. (3) Evaluating of public relations program on inclusive school in Malang city. In order to have a description about those focus, researcher use the ethnography phenomenological qualitative approach and the multi case study on SMPN 18 and SMPK Bhakti Luhur in Malang city. The determination of sample was done by purposive sampling technique. And then, the collecting data process in this observation was done by indepth interviewing, participant observation and study of document method.

From the results of the observation, it was find that (1) Public relations planning on inclusive school in Malang city were begun by problem identification, goals determination, determination of the strategic of problem resolving and programming process. It all was done in a process of consultation and meeting, either formal or non formal. (2) Actuating of public relations program on inclusive school in Malang city was done by a good and routine two way symmetrical communication, in friendly way, between school and stakeholders with a variety of media, and built up inclusive schools work group (Pokja) or association of disabilities children parents, encouraging stakeholders or community participation in inclusive school, giving motivation and support to the public relations personnel in humanity-religious and morality approach. (3) Evaluating of public relations program on inclusive school in Malang city was begun from controlling which done by principal, inclusion manajer or special Guide coordinator. Controlling was also run by personal assessment of public relations personnel about the result of public relations implementation. On the other hand, evaluating process was run in individual way between two teacher, between principal and teacher etc. Apart from those ways, process evaluating of public relation program in inclusive school, was done in a formal meeting on the end of semester of year also. The important thing must be noted here is, the evaluating process of public relations program in inclusive school was run in a spiritual approach. At the end of process of evaluation, is follow up of the result of evaluation. Follow up wan done by improving, reminding and rolling of personnel process.

 From those several result, researcher will give some suggestions follow. (1). Remember that a big part of citizen still reject and not know well what is children with special needs and inclusion education, Department of Education in Malang city need to take a part in spread the information about children with special need and inclusion education to the regular or conventional school. And in determinate a school to be an inclusion school, department of education need to asses all of thing that related to the inclusion program so a school can give the best service to the children and community. (2) Related to the actuating of public relations program, both part, either SMPN 18 or SMPK Bhakti Luhur need to be inclusive and to keep the two way symmetrical communication with stakeholders especially to lower secondary school and upper secondary school. The objective of this thing is to encourage them to make a preparation or to run an inclusive program in their school. Certainly, all these must be done in religious morality approach and by showing the community that children with special need can grow up well. (3) Parents should not be ashamed of have an children with special needs and ashamed to take then to inclusion education. They should seek more information on how to deal with their children from inclusion education. (4) Considering that research on the substances of education management in inclusive school are very rare, just about curriculum an public relation management, than researcher suggest that other researcher need to make some research on the other substances of education management on inclusive education so the result of that research can be use as a source of information for another school in Malang city that want to run an inclusive program in their school.