DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Ditinjau dari Tingkat Adversity Quotient

Aris Eko Kurniawan

Abstrak


RINGKASAN

Kurniawan, Aris Eko. 2019. Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Ditinjau dari Tingkat Adversity Quotient. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Pembimbing:

(I).Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd., M.A.

(II) Dr. Makbul Muksar, S.Pd., M.Si

 

Kata kunci: berpikir kritis, HOTS, Adversity Quotient

Pemerintah sudah memasukkan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam Ujian Nasional mulai tahun 2013. Soal HOTS merupakan soal yang dapat mengukur aktivitas berpikir siswa dalam level kognitif tingkat tinggi. Dengan memasukkan soal HOTS, pemerintah berharap mengerjakan soal HOTS menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan siswa di sekolah. Hal ini juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa yang kritis harus memiliki kecerdasan dan keuletan untuk mengatasi kesulitan saat menyelesaikan permasalahan, termasuk didalamnya menyelesaikan soal HOTS. Salah satu faktor yang dimungkinkan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis seseorang dalam menyelesaikan soal HOTS adalah Adversity Quotient (AQ). AQ merupakan kemampuan seseorang dalam berpikir, mengelola dan mengambil tindakan dalam menghadapi suatu masalah, hambatan maupun tantangan dan mencari penyelesaiannya.

Penelitian jenis kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dengan tingkat Adversity Quotient climber, camper, dan quitter dalam menyelesaikan soal HOTS. Subjek penelitian yang dipilih dalam penelitian ini mempertimbangkan siswa yang memiliki tingkat AQ tinggi (climber), AQ sedang (camper) dan AQ rendah (quitter); kemampuan siswa untuk berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat atau jalan pikirannya berdasarkan rekomendasi guru pengajar dan kesediaan siswa menjadi subjek penelitian. Dari pengambilan subjek didapat 3 siswa climber, 3 siswa camper dan 3 siswa quitter. Data pada penelitian ini didapatkan dari hasil angket Adversity Response Profile (ARP), hasil pekerjaan subjek penelitian dalam menyelesaikan soal HOTS, hasil wawancara subjek penelitian, dan catatan peneliti saat subjek mengerjakan soal HOTS. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data, ketekunan pengamatan dan diskusi teman sejawat. Setelah data terkumpul dilakukan teknik analisis data kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan soal HOTS, siswa climber dapat memenuhi semua aspek berpikir kritis basic clarification, bases for a decision, inference, dan advanced clarification. Untuk siswa camper hanya mampu memenuhi aspek berpikir kritis basic clarification saja sedangkan siswa quitter belum mampu memenuhi semua aspek berpikir kritis basic clarification, bases for a decision, inference, maupun advanced clarification.

Berdasarkan hasil tersebut disarankan guru sebaiknya mengetahui tingkat adversity quotient siswanya, agar mampu memotivasi siswa quitter maupun camper jika mengalami kesulitan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru diharapkan sering memberikan soal HOTS dengan lebih memperhatikan siswa quitter maupun camper dengan tujuan agar siswa quitter dan camper sering menerima tantangan dan akhirnya terbiasa menghadapi soal HOTS.