DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Imperial-Colonial Discourses and the Politics of English Language in the 19th Century English Literature. (Thesis)

Dian Nurrachman

Abstrak


The position of English literature, especially its novels in the 19th Century as the proponent of English imperialism-colonialism proved that literature-as another discipline as well-would not be an innocent discipline, and never has been. English literature was then placed as the hegemonic power which manifested in the imperial-colonial discourses to sustain imperialism-colonialism, since the power of its content can leave an influence behind the colonized people. From this stance as well, then, the politics of English language appeared to accompany the imperial-colonial discourses. The politics of English language in English literature was the foremost notion of English language growth or expansion all over the world, which is nowadays known by several names, such as Global English(es), World English(es), and English as an International Language. Those ideas indeed became the real reasons for conducting this thesis research, since our English language education is part of such (a) ‘Global English(es)', which was in the first sense closely related to the English imperialism and colonialism.

In elaborating those ideas, I have chosen two novels to be scrutinized which were considered as the prototype of the 19th century English literature, namely, Rudyard Kipling's Kim and Joseph Conrad's Lord Jim. These novels were assumed as the ideologically convenient with the imperial-colonial discourses and the politics of English language, since Kipling and Conrad were two authors who were often regarded as the imperialists-colonialists, and therefore made their works as the imperial-colonial texts. Due to this, I then proposed two research questions: 1) How are the imperial-colonial discourses presented in the two novels? 2) How is the politics of English language presented in the two novels? Thus, in order to make the elaboration arguable, reasonable, and justifiable, I also have chosen the colonial/post-colonial theory of literary criticism to be made as theoretical standpoint as well as the approach to elaborate the research questions. This theory was chosen because of its trustworthiness in treating literature (both as text and as institution) to be ideologically convenient with the context of imperialism and colonialism, especially in dealing with the English/British imperialism and colonialism.

The result of the research showed that the two novels were indeed the imperial-colonial texts which reflected and represented the imperial-colonial discourses and the politics of English language within their narratives. In the imperial-colonial discourses, the two novels represented the characteristics of hegemony and power, hybrid cultural identity, and politics of difference and racism which representatively existed there as well as the ideological interests of their narratives to be a system of statements (theorizing knowledge) which theorizes the colonized (indigenous) people. Both of them also viewed the native, the indigenous, and certainly the colonized as Others, as people who did not have any rights to speak up about themselves, because their destiny was theorized by Self-the European, the West, the English/British, while in the politics of English language, the two novels also represented the real political facts of language use which was characterized by textual politics and colonial semantic reference. These two characteristics then could be considered as the foremost link to English linguistic imperialism in the context of the growth or the expansion of English language in nowadays context.

Some possible suggestions for further research, then, are: 1) Researching other novels of the same period was necessary to make comprehensive information on such problems for the sake of the contribution on literary knowledge; 2) Due to the issue of English linguistic imperialism in nowadays contexts, therefore, going through the problems of imperial-colonial discourses and the politics of English language is still important to conduct, even now in our own age; 3) Echoing number 2, this thesis could become a basis and/or background knowledge, both in English literature and English language education field; 4) It is now for English language teachers to be more open to English literature, in order to be able to use it as the authentic source, especially for reading materials, of course, with a critical perspective in mind.

 

Abstrak:

Posisi sastra Inggris, khususnya novel-novel pada abad ke-19, sebagai bagian pendukung terhadap imperialisme-kolonialisme Inggris, membuktikan bahwa sastra-sebagaimana juga disiplin lainnya-tidak akan pernah menjadi disiplin yang murni. Sastra Inggris kemudian ditempatkan sebagai kekuatan hegemonik yang termanifestasi dalam wacana imperial-kolonial untuk meneruskan imperialisme-kolonialisme, karena kekuatan isinya yang dapat mempengaruhi orang-orang jajahan. Dari pendirian ini, maka, politik bahasa Inggris muncul untuk menemani perjalanan wacana imperial-kolonial ini. Politik bahasa Inggris dalam sastra Inggris kemudian menjadi gagasan utama dalam tumbuh kembangnya bahasa Inggris di seluruh dunia, yang sekarang dikenal dengan beberapa nama, seperti Global English(es), World English(es), dan Bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Semua gagasan ini tentunya menjadi alasan-alasan nyata untuk mengadakan penelitian ini, karena pendidikan bahasa Inggris kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Global English(es) tersebut yang pada mulanya berhubungan erat dengan imperialisme dan kolonialisme Inggris.

Dalam mengelaborasi semua gagasan ini, saya telah memilih dua novel untuk diteliti yang dianggap sebagai purwa-rupa (prototipe) sastra Inggris abad ke-19, yaitu, Kim karya Rudyard Kipling dan Lord Jim karya Joseph Conrad. Dua novel ini diasumsikan sebagai yang memiliki kecocokan secara ideologis dengan wacana imperial-kolonial dan politik bahasa Inggris, karena Kipling dan Conrad merupakan dua pengarang yang sering dianggap sebagai para imperialis-kolonialis, sehingga membuat karya-karya mereka pun menjadi teks-teks imperial-kolonial. Oleh sebab itulah, maka, saya mengajukan dua pertanyaan dalam penelitian ini: 1) Bagaimanakah wacana-wacana imperial-kolonial dihadirkan dalam kedua novel tersebut? dan 2) Bagaimanakah politik bahasa Inggris dihadirkan dalam kedua novel tersebut? Kemudian, untuk mengelaborasi dua masalah ini supaya lebih dapat dipertanggungjawabkan, maka saya juga telah memilih teori sastra kolonial/poskolonial sebagai pendirian teoritis saya sebagaimana ia juga digunakan sebagai pendekatan untuk mengelaborasi dua pertanyaan tersebut. Teori ini dipilih karena derajat kepercayaannya dalam memperlakukan sastra Inggris (baik sebagai teks maupun sebagai pranata) untuk menjadikannya terhubung secara ideologis dengan konteks imperialisme-kolonialisme, khususnya dalam hubungannya dengan imperialism-kolonialisme Inggris/Inggris Raya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua novel itu memang merupakan teks-teks imperial-kolonial yang merefleksikan dan merepresentasikan wacana-wacana imperial-colonial dan politik bahasa Inggris dalam narasi-narasinya. Di dalam wacana imperial-kolonial, dua novel tersebut merepresentasikan karakteristik hegemoni dan kekuasaan, identitas budaya hibrida, dan politik perbedaan dan rasisme yang secara representatif hadir di dalamnya sebagaimana juga kepentingan-kepentingan ideologis dari narasi-narasi mereka menjadi sistem pernyataan (penteorian pengetahuan) yang menteorikan orang-orang asli (terjajah). Kedua novel itu juga memandang orang-orang asli dan terjajah sebagai yang Lain (Others), sebagai masyarakat yang tidak memiliki hak untuk berbicara tentang mereka sendiri, karena takdir mereka untuk diteorikan oleh Diri-orang Eropa, orang Barat, orang Inggris. Sementara di dalam politik bahasa Inggris, kedua novel itu juga merepresentasikan fakta-fakta politis penggunaan bahasa yang dicirikan oleh politik tekstual dan acuan semantis kolonial. Dua karakteristik inilah yang pada gilirannya dianggap sebagai jalur utama menuju imperialisme linguistik Inggris dalam konteks perkembangan bahasa Inggris di masa sekarang.

Beberapa saran yang dapat diajukan untuk penelitian lanjut adalah: 1) Meneliti novel-novel lain dalam satu periode yang sama penting dilakukan untuk menghasilkan informasi yang menyeluruh tentang dua masalah di atas demi kontribusi terhadap pengetahuan sastra; 2) Sehubungan dengan isu imperialisme linguistik dalam konteks sekarang, karenanya, penelusuran masalah wacana-wacana imperial-kolonial dan politik bahasa Inggris masih penting untuk dilakukan; 3) Mengikuti nomor 2, tesis ini kemudian dapat dijadikan dasar dan/atau pengetahuan dasar, baik dalam bidang sastra Inggris maupun pendidikan bahasa Inggris; 4) Saatnya sekarang bagi guru-guru bahasa Inggris untuk lebih terbuka terhadap sastra, agar dapat menggunakannya sebagai sumber otentik, khususnya untuk materi reading, tentunya dengan pikiran yang tetap menggunakan perspektif kritis.