DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Pembelajaran Model Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Kognitif Berdasarkan Kemampuan Akademik Awal Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Jambi.

SIBURIAN, JODOIN.

Abstrak


RINGKASAN

Siburian, Jodion. 2018. Pengaruh Pembelajaran Model Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Kognitif Berdasarkan Kemampuan Akademik Awal Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Jambi. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing:

(I)Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd.

(II) Dr. Ibrohim, M.Si.

(III) Dr. Murni Saptasari, M.Si. 

Kata kunci:  pembelajaran inkuiri, berpikir kritis, berpikir kreatif, hasil belajar kognitif, kemampuan akademik awal.

Salah satu kebutuhan hidup di abad 21 adalah kemampuan berpikir. Optimalisasi kemampuan berpikir menjadi sangat penting dan perlu dikembangkan karena merupakan life skill yang diperlukan untuk mengatasi suatu permasalahan yang kompleks. Kemampuan berpikir kritis merupakan generator lahirnya ide dan inovasi baru, baik secara komparatif maupun kompetitif dalam persaingan global. Kemampuan berpikir lainnya yang juga merupakan kunci keberhasilan pendidikan adalah keterampilan berpikir kreatif. Kondisi dilapangan, bahwa keberhasilan yang ditunjukkan berdasarkan hasil belajar kognitif masih tergolong rendah.

Masih terdapat lulusan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Jambi dengan nilai yang rendah, pada tahun akademik 2014/2015 hingga 2017/2018 berturut adalah: 2,77; 2,54; 2,61; dan 2,65. Pemberdayaan potensi berpikir tingkat tinggi mahasiswa oleh dosen tergolong rendah yaitu sebesar 20%. Mahasiswa menyatakan kesulitan memberdayakan berpikir kritis dan berpikir kreatif karena malas, tidak terbiasa dan jarang berlatih. Rata-rata lama studi lulusan periode 2014 hingga 2017 secara berturut adalah 4,70 tahun; 4,43 tahun; 4,84 tahun dan 4,67 tahun. Rata-rata lama studi mahasiswa pendidikan biologi tahun akademik 2015/2016 adalah 4,48 tahun, dan 2016/2017 adalah 4,59. Persentase lulusan tepat waktu dari tahun 2015-2017 berturut-turut adalah 25%, 15%, 25,54%. Salah satu penyebab yang dapat menjelaskan hasil belajar kognitif mahasiswa masih rendah disebabkan rendahnya kemampuan berpikir. Kondisi tersebut berdampak pada sistim kredit semester dan lama studi mahasiswa. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya memberikan solusi untuk hasil belajar yang optimal dan indikasi perlu adanya perbaikan kegiatan pembelajarannya.

Pembelajaran yang dilakukan, hendaknya dapat mempersiapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam wawasan regional, nasional, dan global, secara kritis dan kreatif. Pembelajaran inkuiri dapat melatihkan keterampilan berpikir kritis, dan keterampilan berpikir kreatif. Dengan fokus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, serta hasil belajar kognitif, solusi yang ditawarkan adalah penerapan model inkuiri dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemampuan awal terutama pada perkuliahan awal mahasiswa di Perguruan Tinggi. Selain model pembelajaran, faktor yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan mahasiswa, kemungkinan dapat disebabkan kemampuan akademik awal. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian untuk mengungkap pengaruh penerapan model inkuiri dan kemampuan akademik awal dan interaksinya terhadap kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif mahasiswa.  

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran model inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif mahasiswa berdasarkan kemampuan akademik awal. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa pada tahun ajaran 2017/2018 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi. Sampel dibagi menjadi 2 group kemampuan akademik awal dengan total subjek 52 mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah tes esei terintegrasi dengan jumlah 12 soal, untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif berdasarkan kisi-kisi. Data diperoleh dari nilai tes awal dan tes akhir setelah dikonversi menjadi nilai 0 - 100. Uji hipotesis dilakukan menggunakan Anacova pada taraf signifikansi 0,05 (p < 0,05). Analisis diawali dengan uji normalitas dan homogenitas data. Data dianalisis dengan program SPSS IBM for Windows.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian diperoleh kesimpulan. (1) Pembelajaran inkuiri berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis lebih tinggi 6,50% pada penerapan model inkuiri daripada model konvensional. (2) Kemampuan akademik awal berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kritis lebih tinggi 2,37% pada mahasiswa Akademik Atas (AA) daripada Akademik Bawah (AB). (3) Interaksi model inkuiri dengan kemampuan akademik awal berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis. Hasil kemampuan berpikir kritis lebih tinggi pada interaksi kemampuan akademik awal dengan model inkuiri daripada dengan model konvensional. (4) Pembelajaran model inkuiri berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kreatif. Rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kreatif lebih tinggi 19,37% pada pembelajaran inkuiri daripada pembelajaran konvensional. (5) Kemampuan akademik awal berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif. Rata-rata nilai terkoreksi kemampuan berpikir kreatif lebih tinggi 3,75% pada AA daripada AB. (6) Interaksi model inkuiri dengan kemampuan akademik awal berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif. Hasil kemampuan berpikir kreatif lebih tinggi pada interaksi kemampuan akademik awal dengan model inkuiri daripada dengan model konvensional. (7) Pembelajaran inkuiri berpengaruh positif terhadap hasil belajar kognitif. Rata-rata nilai terkoreksi hasil belajar kognitif lebih tinggi 18,77% pada pembelajaran inkuiri daripada pembelajaran konvensional. (8) Kemampuan akademik awal berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif. Rata-rata nilai terkoreksi hasi belajar kognitif lebih tinggi 2,17% pada AA daripada AB. (9) Interaksi model inkuiri dengan kemampuan akademik awal berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kognitif. Hasil belajar kognitif lebih tinggi pada interaksi kemampuan akademik awal dengan model inkuiri daripada dengan model konvensional. 

 

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, sebaiknya institusi khususnya perguruan tinggi terus mendorong dan meningkatkan kuantitas dan kualitas pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran inkuiri sebagai upaya untuk memberdayakan kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, dan meningkatkan hasil belajar kognitif mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini juga dimungkinkan untuk menerapkan pembelajaran inkuiri untuk meminimalisasi dan mendekatkan jarak kesenjangan kemampuan awal mahasiswa.