DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kearifan Lokal Bahuma Suku Banjar di Mekarsari Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan

HASTUTI, KARUNIA PUJI.

Abstrak


 

Hastuti, Karunia Puji. 2019. Kearifan Lokal Bahuma Suku Banjar di Mekarsari Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.  Disertasi, Program Studi Pendidikan Geografi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., (II) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos., (III) Dr. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd., M.Si.

 

Kata Kunci: kearifan lokal, bahuma, Suku Banjar.

Salah satu sumberdaya lahan yang tersedia dan belum dimanfaatkan secara optimal ialah lahan rawa pasang surut. Lahan rawa pasang surut mempunyai  potensi yang cukup  luas  bagi  pembangunan  pertanian,  khususnya tanaman pangan. Pengembangan  lahan  rawa  pasang  surut  untuk  usaha pertanian  menghadapi  beberapa  kendala. Secara biofisik, faktor utama yang berpengaruh terhadap pengembangan lahan rawa pasang surut untuk  pertanian  yaitu  genangan  air,  pH tanah rendah, adanya zat-zat racun, kesuburan tanah rendah dengan keragaman yang  tinggi, dan kondisi topografi lahan. Pemanfaatan lahan rawa pasang surut oleh petani Suku Banjar terbukti mampu memperbaiki kualitas dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Keberhasilan petani Suku Banjar karena mereka memiliki kearifan lokal dalam mengolah lahan rawa. Kearifan lokal ini didapat secara turun temurun melalui pengalaman hidup dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dengan kearifan lokal yang dimiliki, membuat pertanian padi di lahan rawa pasang surut dapat berkelanjutan.

Fokus penelitian ini untuk mengungkapkan (1) karakteristik budaya bahuma Suku Banjar di lahan rawa pasang surut, (2) pengetahuan lokal bahuma Suku Banjar di lahan rawa pasang surut, (3) kearifan lokal bahuma Suku Banjar di lahan rawa pasang surut, dan (4) integrasi nilai-nilai kearifan lokal bahuma Suku Banjar pada mata kuliah Geogafi Pertanian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah petani Suku Banjar yang didukung beberapa informan kunci. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi.

 

Hasil penelitian menunjukkan, (1) Budaya bahuma yang dimiliki petani Suku Banjar memiliki karakteristik yang khas karena merupakan hasil penyesuaian petani dengan kondisi lahan rawa pasang surut. Budaya bahuma yang dilakukan petani Suku Banjar masih bersifat pertanian yang alami (natural farming). Hal ini dapat dilihat dari proses persiapan lahan, proses tanam bibit padi, proses pemeliharaan sampai proses panen dilakukan dengan cara yang tradisional. Begitu pula dengan alat-alat pertanian yang digunakan petani Suku Banjar masih tradisional. (2) Petani Suku Banjar memiliki pengetahuan untuk memprediksi datangnya musim kemarau dan musim hujan. Petani Suku Banjar juga memiliki pengetahuan tentang memilih lahan subur dan tidak subur yang dilihat dari jenis tanaman yang tumbuh di lahan tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki pengetahuan tentang varietas padi lokal yang dapat tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungan rawa pasang surut. (3) Kearifan lokal merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki kelompok masyarakat tertentu (dalam hal ini petani Suku Banjar) yang mencakup model-model pengelolaan sumber daya alam secara lestari termasuk bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Bentuk kearifan lokal yang dimiliki petani Suku Banjar meliputi: pengelolaan air, pengolahan lahan, menanam padi, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Dalam kearifan lokal bahuma yang dimiliki petani Suku Banjar juga terkandung nilai-nilai konservasi terhadap lingkungan. (4) Kearifan lokal yang dimiliki petani Suku Banjar dalam pemanfaatan lahan rawa pasang surut memiliki nilai-nilai positif. Nilai-nilai dalam kearifan lokal bahuma Suku Banjar yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Geografi Pertanian antara lain: nilai religius, nilai kerja keras, nilai pantang menyerah, nilai tanggung jawab, nilai kepedulian terhadap lingkungan, nilai gotong royong, nilai tidak menyakiti, nilai kebersamaan, nilai berbagi, nilai sabar, nilai berelaan (ikhlas), nilai bubuhan (kekeluargaan), dan) nilai bisa-bisa maandak awak (adaptasi).