DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Proses Koneksi Matematis Siswa Berdasarkan Level Berpikir Kreatif

Rina Ramandani

Abstrak


Berpikir kreatif merupakan salah satu komponen pembelajaran abad 21 yang diharapakan dapat diimplementasikan dalam kurikulum 2013. Kemampuan berpikir kreatif yang baik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam kegiatan problem solving. Salah satu alat yang digunakan untuk problem solving adalah koneksi matematis. Proses koneksi matematis sangat berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kreatif. Proses koneksi mempengaruhi kemampuan siswa untuk membuat banyak jawaban benar berbeda atau cara yang beragam dalam menyelesaiakan masalah open-ended. Dikarenakan kadar kreatif setiap siswa berbeda, proses koneksi matematis yang dilakukan dalam problem solving juga berbeda. Oleh karena itu penting untuk dilakukan penelitian yang mendeskripsikan proses koneksi matematis siswan berdasarkan level berpikir kreatif.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses koneksi matematis siswa berdasarkan level berpikir kreatif. Proses koneksi matematis siswa yang dimaksud adalah aktivitas mental atau langkah-langkah dalam menghubungkan konsep antarmateri matematika dan menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan masalah. Level berpikir kreatif dalam penelitian ini dikategorikan menjadi empat yaitu level berpikir kreatif 3 (memenuhi indikator fluency, flexibility, dan novelty), level berpikir kreatif 2 (memenuhi dua indikator, yaitu fluency dan flexibility atau fluency dan novelty), level berpikir kreatif 1 (memenuhi salah satu dari ketiga indikator berpikir kreatif yaitu fluency), dan level berpikir kreatif 0 (tidak memenuhi ketiga indikator berpikir kreatif).

Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 1 Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 siswa level berpikir kreatif 3, 1 siswa level berpikir kreatif 2, 1 siswa level berpikir kreatif 1, dan 1 siswa level berpikir kreatif 0. Subjek dipilih berdasarkan hasil tes berpikir kreatif dan saran pertimbangan guru matematika mengenai kelancaran komunikasi siswa. Selanjutnya subjek melaksanakan tes untuk mengetahui proses koneksi matematisnya. Proses koneksi matematis siswa diketahui berdasarkan hasil tulisan pekerjaan subjek dan hasil wawancara dengan subjek. Dari hasil tes dan hasil wawancara tersebut selanjutnya dideskripsikan proses koneksi matematis masing-masing subjek penelitian berdasarkan level berpikir kreatifnya. Instrumen penelitian untuk mengetahui level berpikir kreatif siswa berupa soal open-ended yang memiliki banyak jawaban benar berbeda dan banyak cara penyelesaian berbeda dengan materi pokok bangun datar. Sedangkan instrumen penelitian untuk mengetahui proses koneksi matematisnya berupa soal kontekstual non-rutin yang di dalamnya memuat beberapa konsep-konsep dalam matematika.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siswa pada level berpikie kreatif 3, 2, 1, dan 0 melakukan koneksi eksternal secara lengkap pada setiap tahap penyelesaian. Proses koneksinya diawali dengan mengoneksikan konsep matematika dengan masalah kehidupan sehari-hari yang termuat dalam soal. Hasil proses koneksinya berupa model matematika dari soal cerita. Proses koneksi antar topik matematika yang dilakukan siswa pada level berpikir kreatif 3 sangat  gamblang sehingga proses penyelesaian masalah menjadi efisien. Proses koneksi antar topik matematika yang dilakukan siswa pada level berpikir kreatif 2 kurang gamblang sehingga proses penyelesaian masalah kurang efisien. Proses koneksi antar topik matematika yang dilakukan oleh siswa pada level berpikir kreatif 1 tidak gamblang, banyak proses koneksi yang membuat penyelesaian masalah menjadi rumit. Proses koneksi antar topik matematika yang dilakukan oleh siswa pada level berpikir kreatif 0 tidak sempurna dan rumit. Semakin tinggi level berpikir kreatif, kemampuan dalam menuliskan proses penyelesaian masalah semakin gamblang.