DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Strategi Kognitif Mahasiswa Critical Language Scholarship (CLS) 2018 pada Belajar Keterampilan Berbicara.

Mufidah Nur Amalia

Abstrak


ABSTRAK

 

Amalia, Mufidah Nur. 2018. Strategi Kognitif Mahasiswa Critical Language

Scholarship (CLS) 2018 pada Belajar Keterampilan Berbicara. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Suparno., (II) Dr. Sunaryo HS. S.H., M.Hum.

 

Kata kunci: strategi kognitif, mahasisiswa CLS, belajar keterampilan berbicara

Penelitian tentang strategi kognitif mahasiswa CLS 2018 bertujuan untuk mendeskripsikan cara-cara atau trik-trik yang digunakan oleh mahasiswa CLS 2018 dalam mengatasi kesulitan serta penyelesaian tugas dalam berbicara. Penelitian ini dilakukan karena pada pembelajaran bahasa kedua, strategi kognitif tampak pada penalaran dan pemecahan masalah. Belajar bahasa kedua merupakan hasil penggabungan antara informasi yang didapatkan, pengetahuan yang dibangun, dan keterampilan berbahasa yang akan dikembangkan. Salah satu keterampilan berbahasa yang dikembangkan adalah keterampilan berbicara. Melalui tuturan ketika berbicara tampak strategi kognitif yang dipakai oleh mahasiswa CLS untuk menguasai bahasa bahasa Indonesia. Selain itu, terdapat alasan yang mendorong mereka untuk melakukan strategi tersebut. Alasan tersebut merupakan proses mental dalam pemrosesan informasi guna mencapai hasil belajar yang dikehendaki.

Terdapat tiga data dalam penelitian ini, yaitu (1) data tuturan lisan, dan (2) data tuturan tulis, dan (3) catatan lapangan berupa hasil observasi dan wawancara. Pertama, data tuturan lisan. Data ini berwujud unit-unit verbal yang tampak ketika mahasiswa CLS presentasi. Sumber data pada  data tuturan lisan adalah kegiatan presentasi selama di kelas. Kedua, data berupa tuturan tulis. Sumber data diperoleh dari kegiatan mahasiswa asing menjawab kuesioner. Peneliti membagikan kuesioner kepada mahasiswa asing guna menguak aspek kognisi yang terlibat dalam setiap perilaku belajar yang diterapkan ketika presentasi. Tidak hanya perilaku dalam memecahkan masalah yang berusaha diungkap peneliti, tetapi juga alasan mahasiswa asing menerapkan perilaku itu. Ketiga, catatan lapangan berupa hasil observasi dan wawancara. Sumber data hasil observasi adalah kegiatan pengamatan hal-hal yang mencolok pada kegiatan presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa CLS. Hal-hal yang mencolok tersebut sekiranya berpengaruh terhadap performansi presentasi mahasiwa CLS. Sumber data wawancara adalah kegiatan wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan peneliti apabila dalam proses observasi peneliti menemukan hal-hal yang patut dikuak

            Berdasarkan temuan penelitian, ditemukan 13 jenis strategi kognitif, yaitu (1) mengulang, (2) mencari sumber belajar, (3) mengelompokkan, (4) mencatat, (5) mendeduksi atau menginduksi, (6) menyubstitusi, (7) mengelaborasi, (8) menyimpulkan, (9) membayangkan, (10) mentransfer, (11) mempraktikkan, (12) menerima dan mengirimkan pesan, dan (13) menganalisis dan mengemukakan pendapat. Strategi kognitif berupa melatih diri sendiri dilakukan oleh mahasiswa sesaat sebelum presentasi. Pada kegiatan berbicara sehari-hari mahasiswa senang berlatih sendiri, sedangkan kegiatan berbicara sebagai nilai akhir program CLS 2018, mahasiswa senang berlatih dengan pengajar karena bisa mendapatkan koreksi dan umpan balik. Berdasarkan temuan yang telah dipaparkan, hal yang ditemukan oleh peneliti adalah mahasiswa melakukan strategi kognitif sebelum dan saat kegiatan berbicara. Selain itu, terdapat alasan yang mendasari mahasiswa CLS melakukan ketigabelas strategi tersebut. Alasan tersebut tidak lepas dari aspek kognisi mereka dalam mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.

            Terdapat alasan yang mendasari mahasiswa CLS melakukan strategi kognitif. Hal tersebut berhubungan dengan aspek kognisi mereka. Alasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, mengulangi. Mahasiswa CLS melakukan aktivitas mengulangi karena ingin mengoreksi kata yang diucapkan dan untuk mengingat topik yang akan dibicarakan selanjutnya. Kedua, mencari sumber belajar. Mahasiswa CLS mencari sumber belajar berupa artikel dan jurnal sebagai upaya untuk menemukan informasi dan menghindari berita palsu. Ketiga, mengelompokkan. Pada aktivitas mengelompokkan, mahasiswa CLS memilih menggunakan sinonim agar pembicaraan lebih menarik dan kompleks. Keempat, mencatat. Mahasiswa CLS melakukan aktivitas tersebut karena gambar atau foto memudahkan mereka dalam menyusun gagasan ketika berbicara dan melalui penggunaan gambar tersebut, mahasiswa bisa lebih tenang ketika presentasi. Kelima, mendeduksi atau menginduksi. Mahasiswa melakukan kegiatan mendeduksi atau menginduksi karena mereka ingin mengonfirmasi sesuatu hal yang dianggap ragu. Keenam, menyubstitusi. Mahasiswa CLS melakukan strategi kognitif berupa subtitusi untuk mengoreksi kata-kata yang diucapkan sekaligus mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi. Ketujuh, mengelaborasi. Mahasiswa CLS menghubung-hubungkan topik yang dibicarakan dengan pengalamannya agar lebih menarik. Kedelapan, menyimpulkan. Mahasiswa CLS melakukan kegiatan menyimpulkan supaya pendengar lebih jelas dan paham dengan topik yang dibicarakan, apalagi jika durasi berbicara sangat panjang. Kesembilan, membayangkan. Strategi kognitif berupa membayangkan dilakukan oleh mahasiswa CLS dalam upayanya untuk menjelaskan kepada pendengar maksud dari pembicaraan tersebut. Apabila membayangkan dengan ilustrasi verbal tidak cukup, maka mereka akan melakukan ilustrasi secara visual. Kesepuluh, mentransfer. Jenis strategi kognitif berupa mentransfer dilakukan oleh mahasiswa CLS dalam upaya untuk menerapkan kaidah linguistik yang dipelajari. Mahasiswa merasa sudah menerapkan imbuhan yang dipelajari, tetapi itu tidak cukup karena keterbatasan pelaksanaan program yang hanya berlangsung dua bulan saja. Kesebelas, mempraktikkan. Mahasiswa CLS telah mempraktikkan hasil belajar yang telah dipelajari, baik melalui latihan ataupun dalam komunikasi sehari-hari. Keduabelas, menerima dan mengirimkan pesan. Mahasiswa CLS kadang-kadang menemui kesulitan ketika ada peserta presentasi yang bertanya, apalagi jika dia menjadi fokus perhatian dalam presentasi tersebut. Ketigabelas, menganalisis dan mengemukakan pendapat. Mahasiswa CLS mengemukakan pendapat dengan memasukkan opininya pada akhir presentasi. Mahasiswa melakukan hal tersebut karena mengemukakan pendapat adalah bentuk berpikir kritis, agar presentasi lebih menarik, dan sudah menjadi kebiasaan sejak SMP.