DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perubahan Bentuk Satuan Pendidikan Pondok Pesantren dalam, Mempertahankan Eksistensi (Studi Multi Kasus pada Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Pondok Pesantren Gading Malang, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan). (Disertasi)

Moh. Busyairi

Abstrak


Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam asli Indonesia, merupakan bentuk kesinambungan tradisi pendidikan yang mengakar kuat dalam sejarah Islamisasi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan pesantren merupakan sub sistem dari sistem Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyaratan dan kebangsaan. Disamping itu pendidikan pondok pesantren juga merupakan pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kultur dan tradisi yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Akan tetapi sistem pendidikan pondok pesantren sekarang banyak dikembangkan dan dipadu dengan sistem pendidikan sekolah formal yang lebih dikenal dalam istilah sistem pendidikan pondok pesantren salafiyah dan khalafiyah (tradisional dan modern). menjadi sistem kombinasi.

Kedua sistem pendidikan tersebut ini memiliki tradisi yang berbeda. Pendidikan pondok pesantren memiliki tradisi untuk mendalami ajaran agama Islam dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, ketaatan dalam beribadah, akhlaq yang mulia, kemandirian, kesabaran, kesederhanaan inilah yang banyak dijumpai di pondok pesantren dan sulit dijumpai pada sekolah pada umumnya. Sementara tradisi kritik, kreatif, dinamis, progresif, terbuka, inovatif, tampaknya banyak dimiliki oleh pendidikan pada sekolah umum.

Untuk mengetahui perubahan inovasi sebagaimana tersebut di atas, diperlukan perumusan perubahan bentuk satuan pendidikan pondok pesantren, melalui studi multi kasus pada Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Pondok Pesantren Gading Malang, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Maksud tersebut dapat diketahui dengan mendiskripsikan perubahan bentuk-bentuk satuan pendidikan yang dikelola oleh pondok pesantren, kreator perubahan (agent of change), terjadinya perubahan, maupun tujuan pendidikannya. Rumusan perubahan bentuk satuan pendidikan itu diperlukan bagi pendidikan pondok pesantren agar para siswanya dapat memiliki keunggulan-keunggulan, baik dari segi kepribadian maupun keilmuan yang senantiasa melekat pada setiap individual santri ketiga Pondok Pesantren tersebut.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa perubahan bentuk satuan pendidikan pondok pesantren studi multi kasus pada Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Pondok Pesantren Gading Malang, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, mengenai proses pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan pondok pesantren, dapat penulis kemukakan antara lain: (a) Lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren memiliki bentuk satuan pendidikan jalur formal dan nonformal, baik sistem klasikal yang berbentuk satuan pendidikan madrasah, maupun berbentuk satuan pendidikan sekolah umum. Baik yang memiliki kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional maupun kurikulum dari Kementerian Agama, mulai jenjang pendidikan dasar, menengah dan bahkan ada pendidikan tinggi. Tetapi belum semua memiliki sarpras yang memadai. (b) Kreator perubahan (agent of change) pada pondok pesantren, merupakan tokoh-tokoh sentral, baik berpredikat sebagai Ulama', Pendiri, Pengasuh, Direktur, Kepala Pondok, atau Kepala Sekolah, yang memiliki integritas, intelektual serta penuh pengabdian tinggi terhadap perkembangan pendidikan pondok pesantren. (c) Terjadinya perubahan, tidak dapat ditentukan secara interval waktu yang tertentu, hal ini bergantung kepada situasi dan kondisi, serta kesiapan sumberdaya internal, dan respon dari sang kreator terhadap arus perubahan. (d) Tujuan dari perubahan bentuk satuan pendidikan yang terjadi selama ini, diasumsikan agar keilmuan santri bertambah tinggi, maka harus lebih lama dalam menuntut ilmu. Oleh karenanya perubahan bentuk satuan pendidikan dari jenjang pendidikan dasar sampai kepada pendidikan tingkat tinggi, dan beragam. Dengan demikian banyak pilihan bagi santri dalam menuntut ilmu. Hal ini berimplikasi kepada pondok pesantren yang demikian banyak diminati. Sehingga dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan eksis (survival). Dengan perkataan lain, perubahan bentuk satuan pendidikan pondok pesantren dalam mempertahankan eksistensinya dapat terwujud.

Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagi pengembang ilmu manajemen pendidikan dan ilmu sosial kemasyarakat, agar dijadikan referensi untuk bahan kajian dan pengembangan studi manajemen kepesantrenan khususnya dan manajemen pendidikan pada umumnya. (2) Bagi penyelenggara pondok pesantren, dapat melanjutkan program masing-masing yang sudah dicanangkan dan bahkan diperkuat dan dikembangkan secara terus menerus mengingat kebutuhan masyarakat semakin menguat. (3) Bagi Kementerian Agama Cq. Direktur Pekapontren, agar pelaksanaan sertifikasi Guru swasta porsinya ditingkatkan. (4) Bagi Kementeian Pendidikan Nasional yang mengawal sisdiknas, agar menata ulang sistem pemberian BOS, karena dengan sistem sekarang, hanya mengacu kepada jumlah murid. (5) Bagi pemerintah daerah dimana pondok pesantren berdiri, hendaklan memberikan dukungan penuh terutama menyangkut kebutuhan sarpras dasar dari standar pelayanan minimal pendidikan. (6) Bagi para peneliti agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang mampu menyingkap lebih mendalam tentang perubahan bentuk satuan pendidikan yang dikelola oleh pondok pesantren ditinjau dari medan fokus yang lain.

 

Abstract:

Muslim Boarding School which serves as native Islamic education institution is a continuation of education tradition grown strongly in Islamization history in unitary nation Republic of Indonesia. The education of Muslim Boarding School is also a sub-system of National Education with the purpose to make intelligent national life, to make complete Indonesian people, namely the peoples believe in God The One, virtuous, possessing knowledge and skill, physically and mentally healthy, steady and independent personality, and social and national responsibility. Besides, Muslim Boarding School also serves the oldest education institution in Indonesia with the culture and tradition different from schools in general. However, many education systems of Muslim Boarding School at present is developed and combined with school education, where in term of education system, it is known as salafiyah and khalafiyah (traditional and modern) Muslim Boarding School.

Both education systems have different tradition. The education of Muslim Boarding School has tradition to study Islamic norms deeply and implements them seriously, obedient in religious service, noble morals, autonomous, patient, modesty; all of them are found in Muslim Boarding School, but difficult to find in schools in general. Meanwhile the traditions of critics, creative, dynamics, progressive, openness, innovative are possessed by general schools.

To find out the innovation change as stated above, there must be a formulation of educational change in Muslim Boarding School, through multi-cases study on Tebuireng Muslim Boarding School Jombang, Gading Muslim Boarding School Malang, and Sidogiri Muslim Boarding School Pasuruan, in the attempt to preserve the existence. The purpose can be identified by describing the change of educational unit managed by Muslim Boarding School, agent of change, the occurrence of change, or the purpose of education. This formulation of education unit change is required for education of Muslim Boarding School in order the students have excellencies either from personality aspect or scientific aspect of the students from three Muslim Boarding Schools above.

From the result of study, it is found out that the change of education unit in Muslim Boarding School multi-cases study on Tebuireng Muslim Boarding School Jombang, Gading Muslim Boarding School Malang, and Sidogiri Muslim Boarding School Pasuruan, concerning education process in the attempt to achieve the objective of education in Muslim Boarding School, the writer may present: (a) Education institution carried out by Muslim Boarding School has formal and informal education unit, either classical in term of islamic school education unit or general school education unit. Possessing curriculum from National Education Ministry of the one from Religion Ministry, from basic, middle or higher education level. But not all of them has sufficient infrastructure. (b) Agent of change in Muslim Boarding School is central public figure, either with the predicate of Ulama, Founder, Coach, Director, Head of Muslim Boarding School, or Headmaster possessing integrity, intellectual and high integrity to the development of Muslim Boarding School. (c) The occurrence of change cannot be determined with certain time interval, this depends on the situation and condition, as well as the readiness of internal resources and the respond of creator toward change stream. (d) The purpose of education unit change happened so far is assumed in order the knowledge of the students is higher, therefore they must study in longer time. Therefore the education unit change from basic education level are various. Therefore many options for the student in seeking knowledge. This has implication that many peoples like Muslim Boarding School. Therefore it may maintain the survival. In another words, the change of education unit of Muslim Boarding School in preserving the existence may succeed.

The suggestion presented in this study is that: (1) For the developer of management and public-social science, this can be a reference of study and in management development of Muslim Boarding School and another general education. (2) For the management of Muslim Boarding School may continue respective program determined and even continually strengthened and developed considering the higher demand of the people. (3) For Religion Ministry in this case if Director of Muslim Boarding School, in order the implementation of private teacher certification has bigger portion. (4) For National Education Ministry which supports national educational system, in order to re-settle the provision of BOS, since with present system, it only refers to the number of students. (5) For regional government where Muslim Boarding School is situated, there should be full support dealing with basic infrastructure according to standard of minimum educational service. (6) For the researcher, in order there will advanced and continual research to reveal the change of education unit managed by Muslim Boarding School noticed from another focus.