DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Improving Subconscious Grammar Competence using Semantico- syntacticTranslation Practice for Students of Accounting Department, State Polytechnic of Malang. (Thesis)

Futuh Handoyo

Abstrak


The present study was conducted to respond to the students' low ability to process English language syntactically. This was likely due to their lack of grammatical competence, particularly subconscious grammar competence. Therefore, the study was aimed at improving the competence. The research question, then, was formulated as: How can the studennts' subconscious grammar competence be improved using semantico-syntactic practice?

Subconscious grammatical competence refers to grammar knowledge that has undergone an internalization process to a degree that the learners are able to string words into sentences in a relatively good speed. It is also often referred to as implicit or procedural knowledge of grammar. Semantico-syntactic translation practice refers to the activity of converting various kinds of Indonesian expressions they are likely to use for everyday communication, not necessarily grammatical Indonesian, into grammatical English. It is a sort of L1sense-to-L2 form translation.

            The research design used was classroom action research. The subjects were one class out of six classes of the first year students of Accounting Department. The class consisted of 26 students. The initial procedure of the treatment was planned to consist of the following stages: First, a grammar topic was presented using contrastive linguistic explanation and then followed with the subjects translating Indonesian propositions into grammatical English slowly to reinforce their conscious understanding. The step was repeated until all the topics under study were covered. Second, some sentences and/ or short dialogues covering all the topics under study were dictated to the students to translate by writing the English version on a piece of paper. Along this process the speed was gradually increased with the purpose of internalizing their conscious grammar knowledge and to see whether or not the technique worked. Finally, the subjects were to orally translate sentences, short dialogue, and short text and their performance was scored to judge whether the criteria of success established in advance was met.

Since subconscious grammar competence has something to do with the speed of stringing words into sentences correctly, the indicator of improvement was measured in terms of the students' ability to translate various styles of Indonesian sentences into grammatical English quickly and correctly. The research would be said to succeed when the oral performance of 60 % of the subjects', or 15.6 students ( rounded 16 students) reached 70 % accuracy, with the speed of 70% of the average speed of the three English teachers' performance used as a parameter. When the goal was not yet achieved at this point, some extra internalization practices were given until the end of the semester. However, when the goal was still not achieved by then, the first cycle would have to stop and reflection would be made to design a new plan for a new cycle.

            The result of the implementation showed that the goal was finally reached in fifteen meetings within one cycle with some extra meetings for oral internalization practice. The first seven meetings were used for upgrading the subjects' conscious grammar. The next four meetings were used to internalize the knowledge. The goal of this stage was to ensure that the technique worked. For this purpose, their performance of the first out of the four meetings were measured and used as the baseline, and their performance of the last day was also measured and used as the target line. The two groups of the scores were compared to see whether their performance significantly increased. The resulted scores indicated there was statistically significant increase. The average scores increased from 59.26 to 77.88, with the t value of 5.386 significant at the level of .0005(one tailed). Convinced with the result, the researcher moved on to the next stage, namely, measuring the subjects' oral performance. However, the result indicated that they still could not reach the goal. Only eleven of them could get 70 or more. Finally, after they had additional oral internalization practice for two meetings, the goal was reached. Sixteen subjects managed to get 70 or more, with the slowest speed of 35.63 w.p.m, which was slightly above the calculated speed used as a parameter, which was as much as 35.40 w.p.m.

The discussion on the finding, then, generated the following conclusions :(1) Subconscious grammar competence can be developed deductively using semantic-syntactic translation practice through the following procedure. First, the learners' conscious knowledge of grammar is upgraded by the teacher's explaining about the grammar rules and then followed with the students' practicing translating messages expressed in different styles of L1 into grammatical L2 to reinforce the knowledge. Second, the conscious knowledge, then, is internalized through further practice of the same task with gradually increased speed and task difficulty-from written increased to oral task.(2). However, as indicated in some related literatures, the developed subconscious grammar competence is not automatically activated in authentic communicative performance, but needs activating in a transitional process of ‘noticing gap'. To this point, the subconscious grammar competence performs two crucial functions. First, it can reduce the students' tendency to forget previous grammar lessons when learning new ones, but help them accumulate the lessons and use them for the act of noticing gap. Second, it can help the students to optimize the input exposed to them by their noticing act, because the input being noticed will be more likely to turn into intake and to be processed to enhance further acquisition process.

Abstrak:

            Penelitian ini dilakukan untuk merespon  rendahnya kemampuan mahasiswa dalam memroses bahasa Enggris secara sintaktis. Hal ini mungkin sekali disebabkan oleh lemahnya kemampuan grammar mereka, terutama subconscious grammar. Untuk itu, penelitian bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Masalah penelitian ini, kemudian, dirumuskan sebagai: Bagaimana latihan-latihan semantico-syntactic translation bisa digunakan untuk meningkatkan kompetensi subconscious grammar mahasiswa ?

            Kompetensi subconscious grammar mengacu pada pengetahuan grammar yang sudah mengalami proses internalisasi pada tingkat tertentu sehingga memungkinkan pembelajar mengaktifkannya untuk menyusun kalimat dengan cukup cepat. Kompetensi tersebut juga sering disebut sebagai pengetahuan grammar implisit atau prosedural. Latihan penterjemahan semantico-syntactic mengacu pada kegiatan menerjemahkan suatu pesan yang diungkapkan dalam berbagai gaya kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris baku. Ini merupakan jenis penterjemahan makna dalam bahasa 1 ke bentuk dalam bahasa 2.

            Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitiannya adalah satu kelas dari enam kelas mahasiswa tingkat satu jurusan akuntansi. Kelas tersebut berisi 26 mahasiswa. Strategi awal yang digunakan direncanakan terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut: Pertama, satu topic grammar diterangkan dengan menggunakan contrastive linguistic, kemudian mahasiswa dilatih menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Indonesia ke bahasa Inggris guna memperkuat pemahaman mereka. Langkah ini diulang sehingga mencakup semua topic grammar yang digunakan dalam penelitian ini. Kedua, sejumlah kalimat dan atau dialog pendek yang tata bahasanya sudah meliputi seluruh topic grammar yang digunakan dalam penelitian ini  didiktekan untuk mereka terjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang benar dengan menuliskannya di kertas. Proses ini diulang-ulang dan kecepatannya secara bertahap terus ditingkatkan guna menginternalisasikan pengetahuan grammar mereka dan memastikan bahwa teknik tersebut bekerja dengan baik. Terakhir, subjek penelitian diminta  secara lesan menerjemahkan sejumlah kalimat, dialog, dan teks pendek dan penampilan mereka diskor untuk menentukan apakah skor mereka telah memenuhi criteria keberhasilan yang ditentukan atau belum.

            Oleh karena kompetensi subconscious grammar terkait erat dengan kecepatan merangkai kata menjadi kalimat dengan benar, maka indikator  peningkatannya diukur dalam wujud kemampuan subjek penelitian dalam menerjemahkan berbagai gaya bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris baku secara cepat dan benar. Penelitian ini dinyatakan berhasil kalau skor dalam penampilan lesan dari 60% subjek penelitian, atau sebanyak 15,6 mahasiswa ( dibulatkan 16 mahasiswa) mencapai akurasi 70%, dengan kecepatan 70% dari kecepatan rata-rata penampilan tiga dosen bahasa Inggris sebagai parameternya. Jika tujuan belum tercapai pada titik ini, maka diberikan latihan-latihan tambahan untuk internalisasi paling lama sampai akhir semester. Namun demikian, jika tujuan tetap juga belum tercapai, maka siklus pertama harus dinyatakan berakhir dan dilakukan refleksi guna mendesain perencanaan baru untuk siklus berikutnya.

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan berhasil dicapai setelah dilaksanakan selama lima belas pertemuan dan masih dalam satu siklus dengan beberapa pertemuan tambahan untuk latihan internalisasi lesan. Tujuh pertemuan pertama dipakai untuk meningkatkan pengetahuan conscious grammar subjek. Empat pertemuan berikutnya dipergunakan untuk menginternalisasikan pengetahuan tersebut. Tujuan tahap ini adalah untuk memastikan bahwa teknik yang dipakai bekerja dengan baik. Untuk mengetahui itu maka penampilan mereka pada pertemuan pertama dari empat pertemuan diukur dan dipakai sebagai baseline, sedangkan penampilan mereka pada pertemuan keempat diukur juga dan dipakai sebagai targetline. Kedua kelompok skor kemudian dibandingkan untuk melihat apakah penampilan mereka mengalami peningkatan secara signifikan. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang secara statistic signifikan. Skor rata-rata meningkat dari 59,26 menjadi 77,88, dengan nilai t sebesar 5,386 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,0005 (one tailed). Dengan hasil yang meyakinkan tersebut, penelitian dilanjutkan ke tahap berikutnya, yakni, mengukur penampilan lesan mereka. Namun ternyata hasilnya menunjukkan bahwa mereka masih belum mampu memenuhi criteria keberhasilan yang telah ditentukan. Hanya sebelas subjek yang mencapai skor 70 ke atas. Akhirnya, setelah , dua pertemuan untuk latihan internalisasi lesan, criteria keberhasilan terpenuhi. Sebanyak enam belas subjek berhasil mendapatkan skor 70 atau lebih, dengan kecepatan terendah adalah 35,63 kata per menit, sedikit lebih tinggi dari kecepatan yang digunakan sebagai parameter, yakni sebesar 34,40 kata per menit.

            Pembahasan hasil penelitian tersebut akhirnya menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: (1). Kompetensi subconscious grammar bisa ditingkatkan melalui latihan-latihan semantico-syntactic translation dengan prosedur sebagai berikut. Pertama, pengetahuan conscious grammar mahasiswa ditingkatkan dengan penjelasan dosen diikuti dengan latihan menerjemahkan makna yang diungkapkan dalam berbagai gaya bahasa pertama ke dalam bahasa kedua baku. Kedua, pengetahuan tersebut kemudian diinternalisasikan dengan latihan yang sama yang diulang-ulang dengan kecepatan yang secara bertahap terus ditingkatkan, demikian pula tingkat kesulitannya-dari latihan tulis ke lesan. (2). Akan tetapi, menurut bahasan pustaka terkait, subconscious grammar yang dikembangkan tersebut tidak serta merta akan diaktifkan dalam proses komunikasi yang otentik, tetapi perlu diaktifkan dulu dalam proses transisi yaitu proses ‘noticing gap'. Pada titik ini, kompetensi subconscious grammar tersebut memainkan dua fungsi penting. Pertama, dia bisa mengurangi kecenderungan mahasiswa melupakan topik sebelumnya ketika mempelajari topik baru dalam matakuliah grammar, sehingga topik-topik tersebut berakumulasi dan bisa dipergunakan untuk tindakan ‘noticing-gap' terhadap pajanan bahasa. Kedua, dia juga bisa membantu mahasiswa mengoptimalkan input yang dipajankan ke mereka melalui tindakan ‘noticing-gap' yang mereka lakukan, sebab input yang diperhatikan (dinotice) akan lebih berpeluang menjadi intake dan kemudian diproses untuk mendorong proses akuisisi bahasa lebih lanjut.