DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Manajemen Pendidikan Multilkultural (Studi Multikasus di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang). (Tesis)

Prihartanti Agatha

Abstrak


            Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan asesmen kebutuhan pendidikan multikultural di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang; (2) mendeskripsikan kebijakan Pendidikan Multikultural di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang; (3) mendeskripsikan manajemen pengembangan kurikulum dan pembelajaran di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang; dan (4) mendeskripsikan iklim kegiatan belajar mengajar yang diterapkan di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis rancangan studi multikasus (multi-case studies). Fokus penelitian ini adalah bagaimana manajemen pendidikan sekolah berlatar Multikultural di SDK Eksperimen Mangunan Yogyakarta dan SDK Indriyasana Malang. Informan penelitian ini adalah Kepala Sekolah, guru, orang tua siswa, tata usaha, pendamping guru, dan masyarakat sekitar. Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan adalah: (1) wawancara mendalam (indepth interviewing), (2) observasi partisipan (participant observation), dan (3) studi dokumentasi (study of documents). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah pengumpulan data sampai terselesaikannya laporan penelitian. Analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Temuan penelitian: (A) SDKE Mangunan: (1) asesmen kebutuhan mencakup: (a) PSB tidak ada seleksi dan diprioritaskan dari keluarga tidak mampu yang berasal dari lingkungan sekitar Mangunan, (b) siswa yang mempunyai kebutuhan khusus (autis) diterima di sekolah dengan membawa guru pendamping, (c) calon siswa dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, (d) siswa yang berbeda keyakinan/agama dilaksanakan pendidikan religiositas/komunikasi iman, (e) setiap Jumat ada pertemuan membahas program dan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi guru dan siswa, (f) tidak ada konflik antara sekolah dengan masyarakat, masyarakat beranggapan sekolah adalah bagian dari masyarakat, (g) masyarakat lingkungan sekitar sekolah mendukung sekaligus mengkritisi keberadaan sekolah, (h) dalam acara-acara besar, sekolah melibatkan masyarakat, (i) output siswa dapat bersaing dengan output dari sekolah lain, (j) siswa bebas memakai pakaian untuk ke sekolah, (k) ruang kelas menggunakan rumah-rumah penduduk, (l) lokasi sekolah menyatu dengan kehidupan masyarakat dan tidak ada pembatas; (2) Kebijakan meliputi: (a) warga sekolah dilibatkan dalam penyusunan program sekolah, (b) ada pengarahan, pelaksanaan dan evaluasi pencapaian program-program sekolah secara periodik, (c) terhadap siswa yang heterogen sekolah memahami keunikannya, (d) dalam proses KBM, tidak ada perbedaan perlakuan terhadap siswa yang heterogen, (e) mata pelajaran Agama diganti dengan mata pelajaran Komunikasi Iman, (f) guru memberikan pendampingan dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif, dan (g) siswa bebas memakai baju untuk sekolah sesuai dengan kemauan siswa; (3) manajemen pengembangan kurikulum dan pembelajaran: (a) bahan ajar dikemas dalam bentuk permainan "kotak pertanyaan", (b) penerapan kurikulum nasional disesuaikan dengan kompetensi dasar dan sumber belajar lokal yang menarik, sehingga pembelajaran menyenangkan dan kontekstual, (c) ada pendampingan dari Lab. Dinamika Edukasi Dasar (DED) untuk para guru, (d) kurikulum alternatif adalah kurikulum yang bisa dirujuk dan dipilih untuk konteks sekolah, (e) pengembangan kurikulum berpedoman pada: perangkat pembelajaran, spesifikasi produk, mekanisme penyusunan, proses eksperimen di kelas, validasi akhir dan pra produksi, (f) evaluasi pengembangan kurikulum dan pembelajaran dilaksanakan pada Forum Jumatan, dan (g) evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui respon dan karya siswa dalam kegiatan belajar mengajar ; (4) iklim kegiatan belajar mengajar yang diterapkan: (a) menggunakan metode yang bervariasi, (b) situasi belajar mengajar yang harmonis, (c) RPP dengan pembelajaran yang menyenangkan, (d) belajar hal-hal yang kongkrit, (e) siswa yang berbeda sosial ekonomi digunakan pendekatan saling berbagi, (e) saling menghargai dan toleran kepada umat yang beragama lain dengan mengajarkan komunikasi iman, (f) kegiatan belajar mengajar dengan prinsip ajrih-asih, dan (g) memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekitar sekolah; (B) SDK Indriyasana Malang: (1) asesmen kebutuhan: (a) siswa heterogen, PSB tidak ada seleksi, (b) penerapan konsep pelayanan terhadap siswa agar dapat berkembang secara seimbang, (c) menggunakan metode yang bervariasi, (d) ada dukungan sekolah-sekolah sekitar, (e) guru diikutkan diklat dan studi banding di sekolah yang unggul, (f) hambatan yang dirasakan adalah terbatasnya dana, dan (g) siswa yang miskin diberi bantuan beasiswa dari donator baik dari institusi maupun perorangan; (2) kebijakan sekolah: (a) PSB memperhatikan heterogenitas, (b) metode yang digunakan bervariasi sesuai dengan kebutuhan, (c) sumber dana untuk operasional sekolah diperoleh dari uang sekolah, sebagian kecil dari BOS dan donator dari perorangan maupun institusi, (d) mengajar tidak membeda-bedakan profil siswa yang beragam serta berpedoman pada visi dan misi sekolah yaitu "kasih sayang", (e) menanamkan sikap mengenai situasi keragaman melalui lagu, bermain peran, gambar dan cerita, (f) untuk mengatasi hambatan-hambatan dilakukan evaluasi diri, evaluasi program, angket, diskusi dengan dewan guru, paguyuban kelas, diskusi dengan yayasan maupun dengan wali murid, (g) guru rajin mencari informasi tentang latar belakang siswa serta mengikuti pelatihan-pelatihan, dan (h) strategi pengembangan sekolah, dalam bidang SDM dengan studi banding, diklat serta ke DED Yogyakarta; (3) manajemen pengembangan kurikulum dan pembelajaran: (a) disesuaikan dengan program pemerintah, (b) Penentuan SKM, (c) bahan ajar dikembangkan guru sesuai dengan mata pelajaran dan perkembangan IPTEK, (d) sumber belajar: nara sumber, buku penunjang, kurikulum, media cetak dan elektronik, lingkungan dan pengalaman siswa secara langsung, dan (e) hambatan yang dihadapi guru dalam mengembangkan kurikulum dan pembelajaran adalah waktu, materi dan input; (4) iklim kegiatan belajar mengajar yang diterapkan: (a) menanamkan sikap terhadap situasi keberagaman, (b) menanamkan berbagai budaya yang ada dan menghargai keragaman budaya siswa, (c) mengembangkan toleransi beragama, (d) pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning), (e) penggunaan alat peraga bervariasi, dan (f) pembelajaran agar siswa dapat belajar secara kongkrit dari keseharian mereka.

Berdasarkan temuan penelitian di atas, dapat disimpulkan (1) asesmen sekolah yang belatar multikultural berbeda dengan sekolah regular, (2) kebijakan sekolah ditekankan pada karakteristik peserta didik yang beragam, (3) pengembangan kurikulum dan pembelajaran di-sesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang heterogen, (4) iklim belajar diciptakan secara kondusif agar lebih mendorong kreativitas, diskusi, eksplorasi, toleransi dan menyenangkan.

Implikasi bagi sekolah yang berlatar multikultural adalah bahwa pengelolaan ditekan-kan pada pemahaman keunikan peserta didik yang beragam dengan pendekatan kebersamaan untuk menumbuhkan sikap toleransi dan harga-menghargai didalam perbedaan yang ada.

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi di atas, disarankan untuk sekolah yang berlatar multikultural sebaiknya memperhatikan karakteristik peserta didik yang beragam, meningkat-kan kebersamaan, toleransi, harga-menghargai dan meminimalkan konflik antar peserta didik.

Abstract:

The goals of this research are: (1) to describe the need of Multicultural Education assessment at SDK Eksperimen Mangunan Yogjakarta and SDK Indriyasana Malang; (2) to describe Multicultural Education Policy at SDK Eksperimen Mangunan Yogjakarta and SDK Indriyasana Malang; (3) to describe The Curriculum and Learning Development Management at SDK Eksperimen Mangunan Yogjakarta and SDK Indriyasana Malang; (4) to describe The Teaching-Learning Process which are implemented SDK Eksperimen Mangunan Yogjakarta and SDK Indriyasana Malang.

This research uses qualitative approach by using multi-case study. This research is focused on how the multicultural education management at SDK Eksperimen Mangunan Yogjakarta and SDK Indriyasana Malang. The informants for this research are principals, teachers, parents, school staffs, teacher aid, and people who concerns with this research. Research data collection which are used: (1) indepth interviewing, (2) participant observation, and (3) study of documents. Data analysis for this research was analyzed during and after collecting data until this researched is accomplished. Data analysis consist of: data reduction, data presentation and conclusion.

The research findings: (A) SDKE Mangunan: (1) the need of assessment consists of: (a) there is no specific selection term for new students recruitment and the top priority is for poor families who live in Mangunan and nearby, (b) students with special need like autist can enroll in school and being accompanied by teacher aid, (c) all prospective students come from diversity of social economic background, (d) students with different religion background will be guided to have trans religion communication, (e) there is special program to discuss about student-teacher problems every Friday, (f) there is no crucial conflict between school and people, since people are aware that school is part of community, (g) people who live around the school support and watch the school program, (h) to celebrate special occasion, school invite people to be involved, (i) students output are really competitive, (j) no uniforms in school, (k) students use the people's houses for class, (l) there is strong bond for both school and the people around there; (2) policies: (a) school elements are invited to be involved in school programs, (b) There are guiding, implementation, and evaluation to achieve school programs periodically, (c) school completely comprehends the uniqueness of students' heterogeneity, (d) in KBM (Independent Learning Group) process, there is no difference way of treating students, (e) Religion lesson is replaced by faith communication lesson, (f) teacher coaches and implements the effective teaching methodology, (g) no uniforms in school; (3) learning and Curriculum Development: (a) The toolkit teaching is formulated in "box of question" games, (b) national curriculum is implemented together with competence based and using local source learning consequently it becomes contextual and fun learning, (c) there is coaching from Lab. Dinamika Edukasi Dasar

(Dynamic Basic Education Lab.) (DED) for teachers, (d) alternative curriculum is curriculum that can be chosen and applied for school context, (e) curriculum development based on: learning devices, product specification, construct mechanism, class experiment processes, final and pre production validity, (f) curriculum and learning development evaluation is held on Friday forum, (g) the evaluation is held for knowing the respond towards student works and teaching-learning process, and (h) evaluation can be applied by examining student works and student responds in teaching-learning process; (4) teaching-learning process atmosphere: (a) using diversity of teaching methodology, (b) harmonious teaching-learning atmosphere, (c) using lesson plan which promote fun activities, (d) learning concrete things, (e) students with different background are taught to share, (f) respect and more tolerant among students who has diversity religion backgrounds by teaching faith communication, (g) teaching-learning process by using the principle of respect-love, and (h) using source of learning which is available around the school environment; (B) SDK Indriyasana Malang: (1) the need assessment: (a) heterogeneous students, there is no specific selection term for new students recruitment, (b) using student service approach concept in order students are able to improve well, (c) using diversity teaching-learning methodology, (d) support from other schools, (e) teachers are sent to the best schools for seminars or cross study, (f) the major obstacle is lack of fund, and (g) for poor students are provided scholarship program from both personal or institution; (2) school policy: (a) new students recruitment based on heterogeneity, (b) the teaching methodology is flexible, (c) school operation management is taken from school fee, a little from school operational fund and some from benefactors from both personal or institutions, (d) teaching by using school vision and mission that is "love" and teachers are demanded to treat the students fairly, (e) teach the students about diversity by using songs, role play, pictures and stories, (f) to lessen the obstacles, there are self evaluation, program evaluation, polling, discussion with school board, school foundation, or parents, (g) teachers are expected to give information about the student background regularly and join in workshops as well, and (h) to promote school development strategy, in human resource by joining cross study, workshops and take a part actively in DED program Yogyakarta; (3) Curriculum and Learning Development Management: (a) determined by using government program, (b) School benchmark consideration, (c) information technology is considered to be used as teaching toolkits and methodology, (d) sources for teaching: authors, educators, books, curriculum, printed and electronic media, environment and students experiences, and (e) some obstacles in class in developing curriculum and learning are time, materials and input; (4) the implementation of teaching-learning activities atmosphere: (a) to teach good attitude in heterogeneity, (b) to teach the diversity of culture and appreciate the diversity of students' culture, (c) promote student understanding about the diversity of religion background, (d) joyful learning, (e) using various kind of teaching toolkits and materials, and (f) concrete learning based on their own daily life activities.

Based on the research findings above; (1) multiculture school assessment is different from regular school, (2) school policy is to promote the characteristics of students' uniqueness in heterogeneous atmosphere, (3) curriculum development based on student needs who study in heterogeneity, (4) to promote teaching-learning approach so students will be more creative, using discussion, explore, tolerant and fun.

The implication of multiculture school are the school management is stressed on understanding of student's uniqueness and diversity by using togetherness, respect and empathy approach.

Based on the implications above, is suggested for multiculture schools to focus on the characteristics of students diversity, to promote togetherness, tolerant or empathy, respects and minimize the conflicts among students.