DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

MaknaPernikahanUsiaDinibagi Orang Tua, SuatuKajianFenomenologi di DesaBrantaTinggi, KecamatanTlanakan, KabupatenPamekasan

laily dwi indrawati

Abstrak


ABSTRAK

 

Indrawati, Laily Dwi. 2017. Makna Pernikahan Usia Dini bagi Orang Tua, Suatu Kajian Fenomenologi di Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Prof. Dr. Budijanto, M.Sos (II) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si

 

Kata Kunci: Pernikahan Usia Dini, Orang Tua, In Order To Motives, Because Motives

 

Pernikahan usia dini masih menjadi masalah kependudukan di Indonesia dan banyak dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat masih banyak yang menikahkan anaknya pada usia dibawah ketentuan Undang-Undang Pernikahan nomor 1 tahun 1974. Pada peraturan tersebut dijelaskan bahwa usia minimal bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun, sedangkan untuk laki-laki adalah 18 tahun. Desa Branta Tinggidi Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu desa yang memiliki Kejadian pernikahan usia dini. Pernikahan usia dini sebagian besar dilakukan oleh orang tua terhadap anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki.

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkapkan konteks sosial dan makna pernikahan usia dini bagi orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi oleh Alfred Schutz. Pendekatan tersebut beranggapan bahwa setiap setiap makna tidak terlepas dari because motives dan in order to motives. Subyek penelitian ini adalah orang tua yang menikahkan anaknya pada usia dini, yaitu dibawah usia yang telah ditentukan oleh UU Pernikahan nomor 1 tahun 1974. Pengumpulan data dilakukan dengan berbagai tahap, yaitu Observasi, Observasi Partisipasi, dokumentasi, serta wawancara mendalam. Unit analisis dari penelitian ini adalah individu, namun jika dibutuhkan maka keluarga juga dapat menjadi data pelengkap. Subyek yang diwawancarai adalah 9 orang.

Penelitian ini menemukan konteks sosial dari subyek, yaitu, subyek berusia antara 45 tahun keatas; memiliki lebih dari 2 anak; tingkat pendidikan subyek tergolong rendah; bahkan banyak yang tidak pernah sekolah; tingkat pendidikan anak juga rendah sebagian besar adalah lulusan SD dan SMP; pekerjaan subyek rata-rata bertani, proyek, dan pemulung; anak perempuan yang telah dinikahkan rata-rata tidak bekerja, sedangkan suami bekerja sebagai petani, proyek dll. Berdasarkan konteks sosial (because motives) ditemukan dua pola perkenalan anak subyek dengan calon suami, yaitu: berkenalan melalui media Hand Phone (HP) dan dikenalkan oleh orang tua (dijodohkan).

Penelitian ini menghasilkan beberapa motif dilakukannya pernikahan usia dini oleh orang tua terhadap anaknya, baik motif sebab(because motives) dan motif tujuan (in order to motives). Motif sebab orang tua menikahkan anaknya pada usia dini adalah: kondisi ekonomi yang rendah (mengurangi beban tanggunga keluarga) dan khawatir anak tidak laku. Motif tujuan orang tua menikahkan anaknya pada usia diniyaitu: mengurangi beban ekonomi keluarga; menghindari beban social dari masyarakat. Ditemukan pula tiga makna pernikahan usia dini bagi orang tua, yakni: menghindari sangkal, menyambung silaturahmi dengan sahabat atau saudara, dan agar lebih mandiri.