DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Strategi POGIL terhadap Pemahaman Konsep Reaksi Redoks dan Keterampilan Proses Sains Siswa Ditinjau dari Self-Regulated Learning Berbeda.

Putu Rizky Febrilia

Abstrak


ABSTRAK

 

Reaksi redoks mengandung konsep-konsep yang berjenjang dari yang mudah ke sukar, dari sederhana ke kompleks, dari konkrit ke abstrak. Penyampaian materi reaksi redoks selama ini masih tidak berurutan dan tidak konsisten. Dampaknya siswa sering mengalami miskonsepsi dan pemahaman konsep reaksi redoks menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang inovatif dan interaktif. Strategi POGIL merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dalam suatu pembelajaran aktif yang menggunakan kelompok belajar (cooperative learning) dan aktivitas inkuiri terbimbing (guided inquiry). POGIL menyediakan kesempatan untuk mengajar konten dan keterampilan proses sains secara bersamaan. Keterampilan proses dapat dikembangkan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar kimia sebagai kimiawan atau penemu dan siswa terlibat dalam aktivitas inkuiri di laboratorium sains. Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, siswa dituntut berperan aktif dan memiliki kemandirian diri yang disebut self-regulated learning. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh strategi POGIL terhadap pemahaman konsep reaksi redoks dan keterampilan proses sains siswa ditinjau dari self-regulated learning berbeda.

Rancangan penelitian ini adalah Quasi Experimen Design dengan Post-test Only Control Group Design. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2 x 2. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X MIPA SMA Negeri 7 Malang pada tahun 2016/2017. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik acak kelompok, sehingga didapatkan dua kelas yaitu siswa kelas X MIPA 1 sebagai kelas eksperimen dan X MIPA 3 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerjasiswa (LKS), tes pemahaman konsep siswa, tes keterampilan proses sains yang disusun mengadaptasi dari Integrated Process Skill Test II, dan angket self- regulated learning yang mengaptasi angket Motivational and Self-Regulated Learning Components of Classroom Academic Performance. Instrumen penelitian sudah melewati tahap validasi ahli, validasi isi dan memiliki reliabilitas tes untuk tes pemahaman konsep siswa, tes keterampilan proses sains dan angket self- regulated learning masing masing sebesar 0,922, 0,770, dan 0,855. Data penelitian berupa hasil belajar pemahaman konsep, keterampilan proses sains dan self-regulated learning. Teknik analisis data menggunakan metode analisis varian dua jalur (anova two way).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan hasil belajar pemahaman konsep pada materi reaksi redoks antara kelompok siswa yang memiliki self-regulated learning berbeda. (2) ada perbedaan hasil belajar pemahaman konsep antara siswa yang dibelajarkan menggunakan strategi pembelajaran POGIL dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan strategi pembelajaran konvensional (3) ada interaksi antara strategi pembelajaran POGIL dengan self-regulated learning terhadap hasil belajar pemahaman konsep. (4) ada perbedaan keterampilan proses sains pada materi reaksi redoks antara kelompok siswa yang memiliki self-regulated learning berbeda. (5) ada perbedaan keterampilan proses sains antara siswa yang dibelajarkan menggunakan strategi pembelajaran POGIL dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran konvensional. (6) ada interaksi antara strategi pembelajaran POGIL dengan self-regulated learning terhadap keterampilan proses sains siswa pada materi redoks. (7) Keterampilan proses sains siswa kelas POGIL yang tergolong baik meliputi aspek mengamati, mengklasifikasi, menyimpulkan, merancang percobaan, dan menginterpretasikan data, sedangkan keterampilan proses sains siswa yang tergolong cukup meliputi aspek merumuskan hipotesis. Keterampilan proses sains kelas konvensional yang tergolong baik meliputi aspek mengamati, mengklasifikasi, merancang percobaan, dan menginterpretasikan data, sedangkan keterampilan proses sains siswa yang tergolong cukup meliputi aspek menyimpulkan dan merumuskan hipotesis.