DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Legenda Asal-Usul Nama Jember: Telaah Struktural Vladimir Propp dan Levi Strauss

Siwi Tri Purnani

Abstrak


ABSTRAK

 

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan cerita rakyat Asal-usul Nama Jember sebagai objek penelitian dengan alasan karena cerita tersebut merupakan cerita toponimi Kabupaten Jember yang memiliki fungsi pelaku dengan skema dan pola cerita tersendiri, serta merupakan salah satu cerita yang memiliki makna budaya di dalamnya. Dalam kajian sastra, seorang penelaah sastra dapat menerapkan beberapa pendekatan dengan menggunakan teori-teori struktural yang telah ada. Teori fungsi Vladimir Propp dapat diterapkan untuk menganalisis cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember. Pendekatan Propp dapat dipahami dengan cara membandingkan tokoh atau pelaku (pahlawan, putri, penjahat, dan lain-lain) dengan tindakan yang menyertai tokoh tersebut dalam cerita. Selain menggunakan pendekatan struktural dengan kajian analisis Vladimir Propp, peneliti juga memilih teori analisis dengan menggunakan pendekatan struktural-antropologi Levi Strauss untuk memahami makna budaya yang terkandung dalam legenda Asal-Usul Nama Jember. Penelitian ini secara umum dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember. Namun, secara khusus penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan struktur yang ada di dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember dan mendeskripsikan makna budaya yang ada dalam cerita rakyat tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian kajian budaya struktural. Penelitian ini memiliki data berupa kata, ungkapan, dan kutipan cerita dalam cerita rakyat yang sebelumnya telah dikumpulkan secara langsung oleh peneliti melalui metode pengumpulan data studi pustaka. Sumber data dalam penelitian ini dibatasi pada cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember yang telah didokumentasikan di dua buku, yakni buku karya Edy Santosa berjudul Cerita Rakyat Dari Jember dan buku karya Zainollah Ahmad berjudul Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno. Di samping peneliti bertindak sebagai key instrument, diperlukan instrumen tambahan yang membantu peneliti dalam melakukan penelitian. Instrumen tersebut, antara lain pertama, instrumen pengumpulan data yang dibagi menjadi dua instrumen, yakni instrumen tabel transkrip cerita rakyat dan panduan pengumpulan data sekunder. Kedua, instrumen pemandu analisis data dibagi menjadi tujuh instrumen, yakni tabel bahan analisis data cerita rakyat, tabel pemandu analisis data fungsi pelaku, tabel korpus data fungsi pelaku, tabel pemandu analisis data lingkungan tindakan, tabel analisis data lingkungan tindakan, tabel pemandu analisis data episode cerita, dan tabel analisis data episode cerita.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat lima belas fungsi pelaku dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember yang dimulai dari situasi awal hingga situasi akhir. Situasi awal cerita digambarkan dengan adanya sebuah perkampungan nelayan yang berada di dekat Laut Selatan. Semua warga perkampungan itu bekerja sebagai nelayan sehingga perkampungan tersebut lebih dikenal dengan nama kampung nelayan. Situasi akhir yang menutup cerita ini adalah pemberian nama kota menjadi Jember untuk mengenang jasa Endang Ratnawati. Selain itu, terdapat tiga lingkungan atau lingkaran tindakan dalam cerita ini, yakni lingkaran tindakan putri dan ayah, lingkaran tindakan penjahat, dan lingkaran tindakan pahlawan. Cara pengenalan pelaku dalam setiap cerita rakyat pun digambarkan secara berbeda-beda.

Fokus penelitian yang kedua adalah tentang makna budaya yang ditemukan dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember. Hasil analisis data menunjukkan bahwa muncul beberapa makna budaya tersirat yang ada di dalam cerita tersebut, seperti makna filosofi hidup yang dimiliki masyarakat Jawa. Salah satu bentuk pandangan hidup yang dimiliki suku Jawa adalah melakukan pengembaraan. Pengembaraan dalam falsafah hidup orang Jawa dilakukan ketika seseorang dianggap atau menganggap dirinya telah menjadi manusia dewasa. Pengembaraan ini memiliki tujuan untuk mendewasakan seseorang yang telah lama tinggal di dalam rumah. Pembiasaan laku hidup secara mandiri membentuk pola pikir dan sikap menjadi lebih dewasa dan mawas diri.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh simpulan yang sesuai dengan fokus penelitian kedua. Struktur fungsional dalam cerita rakyat Asal-usul Nama Jember tidak memiliki struktur cerita yang lengkap, yakni hanya memenuhi lima belas fungsi pelaku antara lain kejahatan, ketiadaan, keberangkatan (kepergian), perpindahan (tempat), kekurangan (kebutuhan), kekurangan (kebutuhan) terpenuhi, kemenangan, pengintaian, tuntutan yang tak mendasar, pengejaran, penyelamatan, perjuangan, penyelesaian (tugas), (pahlawan) dikenali, penyingkapan (tabir), dan cerita ini diakhiri dengan gambaran tewasnya Endang Ratnawati atau Putri Jembersari sehingga namanya diabadikan menjadi nama daerah yang kini dikenal dengan nama Jember. Cerita ini juga terdiri dari tiga lingkaran tindakan, yakni lingkaran aksi putri dan ayah, lingkaran aksi penjahat, dan lingkaran aksi pahlawan. Selain itu, ditemukan makna budaya tersirat yang ada di dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember, seperti makna filosofi hidup yang dimiliki masyarakat Jawa. Salah satu bentuk pandangan hidup yang dimiliki suku Jawa adalah melakukan pengembaraan. Pembiasaan laku hidup secara mandiri membentuk pola pikir dan sikap menjadi lebih dewasa dan mawas diri.

Berdasarkan simpulan yang telah disajikan, saran-saran yang dapat disampaikan, yakni pertama, berkaitan dengan penerapan dalam pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pengimplementasian nilai-nilai edukatif dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember di pendidikan formal, mulai jenjang SD hingga jenjang perguruan tinggi. Kedua, berkaitan dengan pelestarian nilai budaya, masih berkaitan dengan nilai edukatif yang terdapat dalam cerita rakyat Asal-Usul Nama Jember, pemahaman dan penanaman berbagai nilai edukatif ini dapat dilakukan dengan pengimplementasian cerita rakyat dalam pertunjukkan atau media lokal. Ketiga, berkaitan dengan penelitian selanjutnya, penelitian terhadap sastra lisan atau folklor yang lain hendaknya semakin digalakkan karena dengan semakin berkembangnya kegiatan penelitian terhadap folklor akan membantu pelestarian folklor Indonesia dan mengembangkan khasanah pengetahuan teori tentang folklor Indonesia. Terutama kajian terhadap bentuk folklor atau sastra lisan lainnya di Kabupaten Jember.