DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Bentuk Interferensi Gramatikal Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Karangan Siswa Kelas VII SMP Di Surakarta (Studi Kasus Multisitus).

Ajeng Cahya Nurani

Abstrak


ABSTRAK

 

Nurani, AjengCahya. 2017. BentukInterferensiGramatikalBahasaJawakedalamBahasa Indonesia padaKaranganSiswaKelas VII SMP Di Surakarta (StudiKasusMultisitus).Tesis. Program StudiPendidikanBahasa Indonesia, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Sumadi, M. Pd., (II) Dr. Imam AgusBasuki, M.Pd.

 

Kata kunci : Interferensi, gramatikal, morfologis, sintaktis

 

Interferensi merupakan tindakan mencampurkan bahasa sumber dengan bahasa target dalam satu konteks. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripisikan interferensi gramatikal bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VII SMP. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) bentuk interferensi morfologis bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VII SMP dan (2) bentuk interferensi sintaktis bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VII SMP.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus multisitus. Data penelitian ini adalah bentuk interferensi morfologis dan bentuk interferensi sintaktis dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta dan SMP Negeri 01 Tasikmadu. Sumber data penelitian ini adalah karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta dan SMP Negeri 01 Tasikmadu.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh dua hasil penelitian. Pertama, interferensi morfologis yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta adalah afiksasi dan reduplikasi. Interferensi morfologis yang muncul pada afiksasi terjadi pada tataran prefiks, sufiks, dan konfiks. Prefiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 20 Surakarta adalah prefiks {N-} yang morfnya menjadi n-, m-, ng-, dan ny-. Sufiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 20 Surakarta adalah sufiks {-i}, sufiks    {-e}, sufiks {-an}. Konfiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 20 Surakarta adalah konfiks {ke-an} dan konfiks {N-i}. Kemudian, interferensi morfologis yang muncul pada reduplikasi terjadi pada pengulangan seluruh. Interferensi morfologis pada pengulangan seluruh ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta pada kata sedikit-sedikit dan jalan-jalan. Berbeda dengan interferensi morfologis yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta, bentuk interferensi morfologis yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah afiksasi dan reduplikasi yang lebih beragam. Interferensi morfologis yang muncul pada afiksasi terjadi pada tataran prefiks, sufiks, dan konfiks. Prefiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah prefiks {N-} yang morfnya menjadi n-, m-, ng-, dan ny- dan prefiks {ke-}. Sufiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah sufiks {-i}, sufiks {-e}, sufiks {-an}, sufiks {-ane}, dan sufiks {-na}. Konfiks yang ditemukan dalam karangan siswa SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah konfiks {ke-an}, konfiks {N-i}, dan konfiks {di-i}. Kemudian, bentuk interferensi morfologis yang muncul pada reduplikasi terjadi pada pengulangan seluruh. Interferensi morfologis pada pengulangan seluruh ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 01 Tasikmadu pada kata besar-besar dan malam-malam.

Kedua, interferensi sintaktis yang muncul dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta adalah frasa dan kalimat. Interferensi sintaktis pada struktur frasa yang muncul dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta, yaitu frasa verba, frasa adjektiva, frasa nomina, dan frasa numeralia. Kemudian, interferensi sintaktis pada struktur kalimat yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta terdiri dari beberapa jenis, yaitu kalimat minor, kalimat inversi, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat interogratif, kalimat indikatif, dan kalimat prefektif. Berbeda dengan interferensi sintaktis pada struktur frasa yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 20 Surakarta, bentuk interferensi sintaktis pada struktur frasa yang ditemukan dalam karangan SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah frasa verba, frasa adjektiva, frasa nomina, frasa pronomina, frasa numeralia. Kemudian, interferensi sintaktis pada struktur kalimat yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal yang ditemukan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 01 Tasikmadu terdiri dari beberapa jenis, yaitu kalimat minor, kalimat inversi, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat interogratif, kalimat imperatif, dan kalimat futuratif. Kalimat menjemuk yang muncul dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 01 Tasikmadu adalah kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

 Berdasarkan hasil penelitian, disampaikan tiga saran. Pertama, bagi guru matapelajaran bahasa Indonesia, disarankan untuk memahami bahwa bentuk interferensi morfologis dan interferensi sintaktis bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia merupakan suatu ketidaktepatan dalam berbahasa. Oleh karena itu, penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dasar konseptual untuk memahami lebih mendalam untuk mencegah interferensi. Kedua, bagi siswa, hal ini menjadi acuan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan mereka tentang interferensi morfologis dan interferensi sintaktis sehingga mereka lebih cermat pada saat membuat karangan. Ketiga, bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat menjadi fakta empiris mengenai kekhasan interferensi morfologis dan interferensi sintaktis yang tergambar dalam karangan yang disusun oleh siswa kelas VII SMP. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai hasil studi pendahuluan untuk melakukan penelitian pengembangan (metode, strategi, media, bahan ajar) yang berkaitan dengan interferensi.