DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Proses Pemecahan Masalah Program Linear Berdasarkan Gaya Kognitif Reflektif dan Impulsif Siswa SMA Negeri 1 Pangkalan Banteng

NOURMA PRAMESTIE WULANDARI

Abstrak


ABSTRAK

 

Wulandari, Nourma Pramestie. 2017. Proses Pemecahan Masalah Program Linear Berdasarkan Gaya Kognitif Reflektif dan Impulsif Siswa SMA Negeri 1 Pangkalan Banteng.Tesis, Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Abdur Rahman As’ari, M.Pd., M.A., (2) Drs. Dwiyana, M.Pd., Ph. D.

 

Kata kunci: pemecahan masalah, gaya kognitif, reflektif, impulsif, program linear.

 

Pemecahan masalah adalah alat untuk mengembangkan kemampuan lain yang dimiliki siswa. Pada studi pendahuluan ditemukan beberapa siswa masih melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal program linear. Hal ini disebabkan siswa tidak dapat mentransformasikan masalah verbal menjadi kalimat matematika dengan tepat dan langkah-langkah penyelesaian masalah yang dilakukan juga tidak sesuai dengan masalah program linear yang diberikan.

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses pemecahan masalah program linear berdasarkan gaya kognitif reflektif dan impulsif siswa SMA Negeri 1 Pangkalan Banteng.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama dan didukung oleh instrumen lainnya, antara lain: 1) tes gaya kognitif, 2) tes pemecahan masalah mengenai program linear, dan 3) wawancara. Subjek penelitian ini adalah 2 siswa bergaya kognitif reflektif dan 2 siswa bergaya kognitif impulsif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proses pemecahan masalah antara siswa dengan gaya kognitif reflektif dan siswa bergaya kognitif impulsif. Proses pemecahan masalah siswa bergaya kognitif reflektif yaitu: 1) diawali dengan mengumpulkan informasi yang dituangkan dalam bentuk tabel, 2) mentranslasikan ke dalam model matematika serta memodifikasi soal untuk menentukan fungsi objektif, 3) menentukan titik-titik koordinat untuk membuat grafik dan daerah penyelesaian, 4) menentukan titik potong dengan metode gabungan, 5) melakukan uji titik pada fungsi objektif yang telah ditentukan dan ditarik kesimpulan mengenai nilai optimum yang diinginkan soal, dan 6) memeriksa jawaban. Pada soal nomor 1 subjek tidak menentukan persentase keuntungan dikarenakan keterbatasan waktu dan hasil akhir pada soal nomor 2 tidak tepat karena fungsi objektif yang ditentukan tidak tepat. Sedangkan proses pemecahan masalah siswa bergaya kognitif impulsif yaitu: 1) diawali dengan mentranslasikan masalah ke dalam model matematika tanpa membuat tabel berisi informasi dari soal, 2) tidak memodifikasi soal sehingga fungsi objektif yang ditentukan tidak tepat, 3) menentukan titik-titik koordinat untuk digunakan dalam menggambar grafik dan menentukan daerah penyelesaian, 4) menentukan titik potong menggunakan metode substitusi dan eliminasi, 5) hasil titik potong tersebut dilakukan uji titik bersamaan dengan titik-titik pojok yang lain, dan 6) tidak memeriksa kembali. Subjek tidak dapat menentukan persentase keuntungan maksimum pada soal nomor 1 dan hasil akhir pada soal nomor 2 tidak tepat dikarenakan fungsi objektif yang ditentukan tidak tepat.