DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SEJARAH ANTARA PEMBELAJARAN DENGAN MODEL VCT (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE) DAN DILEMA MORAL (STUDI PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 MALANG)

Putri Nur Ekasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Ekasari, Putri Nur. 2017. Perbedaan Hasil Belajar Sejarah Antara Pembelajaran dengan Model VCT (Value Clarification Technique) dan Dilema Moral (Studi Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Malang). Tesis, Jurusan Pendidikan Sejarah, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Ari Sapto, M.hum., (2) Dra. Hj. Siti Malikhah Thowaf, M.A, Ph.D

 

Kata kunci: VCT, dilema moral, hasil belajar sejarah, pembelajaran afektif

 

Model pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) berfokus pada proses menemukan dan memilih nilai. Pada pembelajaran sejarah nilai bersumber pada peristiwa masa lampau. Nilai yang berhasil ditemukan dan dipilih siswa merupakan bentuk dari guna belajar sejarah yakni mengambil hikmah dari peristiwa masa lampau. Guna belajar sejarah yang demikian itu merupakan bagian dari tujuan pembelajaran afektif. VCT merupakan bagian dari pembelajaran afektif. Model pembelajaran lain yang juga berbasis pada afektif adalah dilema moral. Model pembelajaran dilema moral menitikberatkan pada proses menalar. Siswa dilibatkan dalam sebuah situasi yang mengandung dilema moral melalui sebuah cerita. Siswa diminta untuk menentukan pilihannya berkaitan dengan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan disertai dengan alasan yang mendasarinya. Fokus utama guru bukan pada apa yang menjadi jawaban siswa melainkan penalaran atau alasan yang menyertainya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan hasil belajar sejarah antara pembelajaran dengan model VCT dan dilema moral. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian semu (quasy eksperiment). Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Malang. Subjek penelitian terdiri dari 2 kelas berjumlah 58 siswa. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari tes hasil belajar kognitif dan tes kesadaran sejarah. Jadi, hasil belajar sejarah pada penelitian ini adalah rerata dari tes hasil belajar kognitif dan kesadaran sejarah. Analisis data yang digunakan adalah uji t yaitu independent sample t-test dengan berbantuan SPSS 16 for windows.

Hasil penelitian ini dinyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model pembelajaran VCT dan dilema moral. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil pengukuran nilaiposttest hasil belajar sejarah kognitif maupun kesadaran sejarah pada siswa yang menggunakan model VCT dan dilema moral. Berdasarkan uji hipotesis pada hasil belajar kognitif diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00< 0,05 sedangkan kesadaran sejarah sebesar 0,00 < 0,05. Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar baik dari aspek kognitif maupun kesadaran sejarah siswapada pembelajaran dengan model VCT dengan dilema moral. Selain itu data hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa setelah menggunakan model pembelajaran VCT sebesar 89 sedangkan siswa dengan model dilema moral sebesar 83. Nilai rata-rata kesadaran sejarah siswa pada pembelajaran VCT sebesar92 dan 87 pada pembelajaran dilema moral.Mengacu pada hasil tersebut maka, juga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar sejarah siswa yang menggunakan model VCT lebih baik dibandingkan dengan dilema moral. Berdasarkan hasil temuan ada beberapa saran yang dibuat oleh peneliti. Pertama, pada pembelajaran VCT guru disarankan  untuk tidak memaksakan nilai apa yang harus dipilih siswa namun hanya menetapkan target nilai. Model pembelajaran VCT cocok diterapkan pada semua materi sedangkan dilema moral hanya cocok diterapakan pada materi dengan karakteristik yang kontroversial dan peristiwa yang mengandung dilema. Kedua, saran bagi peneliti selanjutnya, melalui hasil penelitian ini perlu dikembangkan dengan menggunakan metode action research. Ketiga, dapat dikaji lebih mendalam tentang model VCT dan dilema moral dalam kaitannya dengan historical thinking. Keempat, model pembelajaran afektif khususnya VCT dan dilema moral terbukti memberikan hasil belajar yang baik tidak hanya dalam segi kognitif melainkan juga kesadaran sejarah. Terlebih model pembelajaran VCT mampu mengubah hasil belajar sejarah siswa menjadi lebih baik dibandingkan dengan dilema moral, sehingga diperlukan sosialisasi lebih lanjut kepada guru melalui MGMP (Musyarah Guru Mata Pelajaran) karena model pembelajaran ini tergolong baru dalam pembelajaran sejarah. Hal ini penting dilaksanakan untuk menjadikan pembelajaran sejarah lebih bermakna bagi siswa sehingga pembelajaran sejarah tidak hanya berisi penyampaian fakta kering semata tanpa memperhatikan aspek afektif siswa.