DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Keefektifan Teknik Restrukturisasi Kognitif untuk Menurunkan Mogok Sekolah pada Siswa SMP

Devy Probowati

Abstrak


ABSTRAK 

 

Mogok sekolah adalah perilaku yang ditunjukkan siswa dengan ketidakhadirannya di sekolah karena siswa memperoleh tangible reinforcement yang dianggap nyata atau tampak di luar sekolah. Penyebab siswa memperoleh tangible reinforcement karena muncul pemikiran negatif  tentang sekolahnya, sehingga pemikiran positif mengenai lingkungan di luar sekolah lebih kuat. Hal itulah yang menyebabkan siswa lebih memilih berada di luar sekolah pada saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

Pendekatan yang digunakan untuk menurunkan mogok sekolah adalah teknik restrukturisasi kognitif dengan enam tahapan yaitu rasional, identifikasi pikiran konseli selama situasi masalah, pengenalan praktik coping thought, memindahkan pikiran dari self-defeating ke coping thought, pengenalan dan praktik positive self-statement, serta evaluasi dan tindak lanjut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan teknik restrukturisasi kognitif untuk menurunkan mogok sekolah siswa SMP kelas VIII di SMP Negeri 20 Malang.

Penelitian ini menggunakan rancangan single subject design dengan bentuk rancangan A-B-A. Fase baseline (A) dilakukan selama tiga sesi, fase intervensi (B) dilakukan selama enam sesi, dan fase baseline (A’) dilakukan selama tiga sesi. Subjek penelitian adalah lima orang siswa kelas VIII SMP Negeri 20 Malang yang dijaring melalui skala mogok sekolah. Instrumen intervensi penerapan teknik restrukturisasi kognitif. Instrumen pengumpulan data berupa skala mogok sekolah, lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar tugas. Data perkembangan siswa dianalisis menggunakan analisis visual grafik dengan metode split middle.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase baseline (A) masing-masing subjek masih berada pada kondisi yang sama, fase intervensi (B) masing-masing subjek berada pada kondisi yang sudah stabil, dan fase baseline (A’) masing-masing subjek sudah menunjukkan perbedaan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari sebelum diberikan intervensi dengan sesudah diberikan intervensi menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk menurunkan mogok sekolah siswa SMP dengan kategori penurunan tingkat mogok sekolah setiap subjek berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran yaitu (1) konselor menggunakan teknik restrukturisasi kognitif dalam menurunkan mogok sekolah serta dapat memahami setiap tahapan pelaksanaannya (2) konselor perlu mengetahui penyebab siswa mengalami mogok sekolah serta melakukan pengamatan perilaku secara lebih teliti selama siswa berada di lingkungan sekolah (3) peneliti selanjutnya jika menggunakan teknik restrukturisasi kognitif maka diharapkan benar-benar fokus pada ranah kognitif saja dan dapat menggunakan intervensi yang berbeda.