DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Professional Competence for Teachers of English in Indonesia: A Profile of an Exemplary Teacher. (Dissertation)

Mirjam Anugerahwati

Abstrak


In an era when English is greatly increasing in importance, outstanding English teachers are needed to help reach the goal of national education. But who are the outstanding English teachers? This study aims at finding out the professional competences of exemplary English teachers in high schools. The research problem is further elaborated into three questions: 1) what competences do the exemplary English teachers possess? 2) how do they get the competences? and 3) how did they get nominated as exemplary teachers? This study uses the ethnographic design, in which data are collected by means of observations, which are supported by interviews and questionnaires. The questionnaires are distributed to teachers of other subject matters and the English teachers while the interviews are conducted with the Principals of the subjects, the students, and the teachers of other subject matters, as well as the exemplary teachers themselves. These other interviewees are then called informants, while the exemplary teachers are the subjects. The observations are done in the exemplary teachers' classrooms and outside their classes to know their performance in teaching and the interaction with the students and other members of the school community.

            This study is conducted in four sites: Malang city, Lawang (Malang Regency), Sidoarjo Regency, and Solok Regency, West Sumatra. The schools comprise of one SMA (SMA N 8 MALANG), and three SMPs (SMP N I SIDOARJO, SMP N 3 X KOTO SINGKARAK, SOLOK, and SMP N I LAWANG). The rationale for choosing the sites is that the English teachers from those places were nominated by participants in the researcher's trainings and workshops, and they showed outstanding participation in all activities, helpfulness towards other participants, and outstanding achievement in the overall evaluation of the trainings/workshops. Moreover, the schools where they teach provide a variety of contexts for the study; the Senior High School is in Malang city, one Junior High School is in a big, modern regency (Sidoarjo), another is in a small regency town with strict Moslem situations (Solok), and the last is in a small district in Malang Regency.

As an ethnographic study, data are collected through numerous visits to the sites, where the researcher plays the role of a learner rather than an expert. The researcher gets involved in many activities in school, and observes the subjects in passive-participatory observations. Besides the four subjects, however, the researcher also collects supplementary data in the form of questionnaires, opinion poll and interviews with teachers outside of the four sites.

            Findings from the study reveal that three of the four subjects do have the professional competences that make them exemplary teachers. They are nominated by the students, colleagues, and principals who state similar things about them. One nominated teacher is not, according to the researcher, quite exemplary. What is interesting is that in all the four sites, which have different situations and settings, informants have very similar views and expectations on what they call the characteristics of exemplary teachers. They correspond with the competence standards outlined by the Board for National Standards of Education (BSNP), only the standards yielded in this study focus more on the Secondary school EFL teachers as stated by the informants.

            Another thing the three subjects have in common is the way they obtain their competences. They have all passed certification assessment, and they are all active in MGMP; therefore they know how important it is to develop professionalism. They try to improve and develop their professional competence by attending conferences and workshops for in-service training, and they are also invited to give trainings at other schools and sometimes at the provincial level. In short, they are professional teachers who are willing to share their skills, knowledge and expertise with others, and they are good people who make English fun to learn.

            Based on the conclusion of this study the researcher poses a theory of the profile of an exemplary English teacher, and what criteria should be used to assess her. An exemplary English teacher for High Schools in Indonesia should be one who, most of all, has outstanding personal competences. These competences will then lead her to other competences, i.e. the pedagogical, subject matter, and social competences. They should all go hand in hand and complement each other, but still the personal competence gets the biggest weight.

Abstrak: 

Pada saat bahasa Inggris mempunyai peran yang semakin penting seperti saat ini, diperlukan guru-guru bahasa Inggris yang amat bagus, yang dapat dikatakan ideal, melebihi rekan-rekan sejawatnya untuk dapat mencapai tujuan nasional pendidikan di Indonesia. Siapa sesungguhnya guru bahasa Inggris yang ideal tersebut? Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kompetensi profesional yang dimiliki guru-guru Bahasa Inggris yang istimewa di sekolah menengah (SMP dan SMA). Masalah utama penelitian ini kemudian dielaborasi ke dalam tiga sub-masalah, yaitu: 1) kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru-guru Bahasa Inggris yang istimewa di setiap sekolah yang diteliti, 2) cara para guru istimewa tersebut memperoleh kompetensi mereka, dan 3) cara para guru tersebut dinominasikan menjadi guru yang istimewa di sekolah mereka. Penelitian ini menggunakan desain etnografi, dan data dikumpulkan melalui observasi yang didukung oleh wawancara dan kuesioner. Kuesioner disebarkan pada guru-guru mata pelajaran lain, dan para guru Bahasa Inggris di setiap sekolah yang diteliti. Wawancara dilakukan dengan Kepala Sekolah, para guru mata pelajaran lain, siswa, dan guru-guru yang istimewa itu sendiri. Para guru Bahasa Inggris yang istimewa tersebut kemudian disebut sebagai subjek, sedangkan pihak-pihak lain yang diwawancara disebut sebagai informan. Observasi dilakukan di kelas dan juga di luar kelas para guru istimewa, untuk melihat performa mereka dalam mengajar, dan interaksi mereka dengan para siswa dan anggota masyarakat sekolah yang lain.

Penelitian ini dilaksanakan di empat lokal, yaitu Malang Kota, Lawang (Kabupaten Malang), Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian meliputi satu SMA (SMA N 8, Malang), dan tiga SMP (SMPN I Sidoarjo, SMP N I Lawang, dan SMP N 3 X Koto, Singkarak, Kabupaten Solok). Dasar pemilihan keempat lokal ini adalah informasi dan nominasi dari para informan yang mengenal guru-guru Bahasa Inggris di keempat sekolah tersebut. Para informan dan subjek adalah peserta di beberapa pelatihan Departemen Pendidikan Nasional di mana peneliti adalah salah satu instruktur. Sebagai peserta pelatihan, keempat guru subjek penelitan ini menunjukkan kinerja yang sangat menonjol dari segi partisipasi dalam semua kegiatan, kemauan menolong sesama peserta, dan prestasi yang sangat baik dalam semua evaluasi pelatihan. Selain itu, sekolah-sekolah tempat mereka mengajar memberikan variasi konteks bagi penelitian ini; SMA berada di Malang Kota, salah satu SMP berada di suatu kota kabupaten yang besar dan moderen (Sidoarjo), SMP yang lain berada di suatu kota kabupaten kecil dengan adat Muslim yang kuat (Solok), dan satu SMP lagi terletak di suatu kota kecamatan di kabupaten Malang (Lawang).

Sebagai sebuah studi etnografi, data bagi penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa kunjungan ke lokal penelitian, di mana peneliti berperan sebagai pembelajar, dan bukan seorang pakar. Peneliti bergaul akrab dengan para informan dan mengobservasi para subjek dalam observasi partisipatori pasif. Di samping keempat subjek dalam penelitian ini, peneliti juga mengumpulkan data dalam bentuk jajak pendapat dan wawancara dengan guru-guru di luar keempat lokal penelitian.

Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tiga dari keempat subjek memang benar-benar memiliki kompetensi profesional yang membuat mereka layak disebut sebagai guru luar biasa/ istimewa. Gelar tersebut mereka dapatkan melalui nominasi oleh para siswa, rekan sejawat, dan Kepala Sekolah, yang semua menyatakan hal-hal yang mirip. Namun demikian, satu dari keempat guru istimewa tersebut, menurut peneliti, kurang layak disebut sebagai guru istimewa. Yang menarik dalam hal ini adalah, di keempat lokal, yang masing-masingnya berada di konteks yang berbeda, para informan memiliki pandangan dan harapan yang sangat mirip tentang karakteristik guru Bahasa Inggris yang ideal. Pandangan-pandangan dan harapan tersebut sesuai dengan standar kompetensi guru yang dikemukakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Bedanya, standar dan kriteria yang ditemukan dalam penelitian ini lebih berfokus pada kompetensi guru Bahasa Inggris di SMP/SMA, sebagaimana dikemukakan oleh para informan dan dirumuskan sendiri oleh peneliti.

Hal lain yang dimiliki oleh ketiga subjek adalah cara mereka memperoleh kompetensi mereka. Mereka semua telah lolos sertifikasi guru, dan mereka aktif di dalam MGMP; dengan demikian mereka paham betapa pentingnya mengembangkan profesionalisme. Mereka berusaha meningkatkan kompetensi profesional mereka melalui seminar, lokakarya, dan mereka juga sering diundang menjadi nara sumber dalam pelatihan di sekolah lain, dan bahkan terkadang dalam tingkat propinsi. Singkatnya, mereka adalah guru-guru profesional yang mau berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka denag guru-guru lain. Mereka memperoleh kompetensi mereka melalui berbagai kegiatan in-service training, baik yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional mau pun atas prakarsa mereka sendiri.

Semua subjek dalam penelitian ini dinominasikan menjadi guru istimewa karena performa mereka, dedikasi, komitmen dan prestasi mereka dalam profesinya.

Berdasarkan kesimpulan yang didapat melalui penelitian ini, peneliti kemudian mengemukakan sebuah teori tentang kompetensi-kompetensi apa saja yang perlu dikuasai oleh guru Bahasa Inggris di SMP/SMA, dan apa saja kriteria yang dapat digunakan untuk menilainya. Berdasarkan kriteria tersebut disusunlah suatu profil guru Bahasa Inggris yang ideal: seorang guru Bahasa Inggris ideal di SMP/SMA adalah seseorang yang, di atas segalanya, memiliki kompetensi kepribadian yang menonjol. Kompetensi ini nantinya akan mengarahkan dia menuju pencapaian kompetensi-kompetensi lain, yaitu kompetensi pedagogis, bidang studi, dan sosial. Keempat kompetensi tersebut harus berjalan seiring dan saling melengkapi, namun tetap, kompetensi kepribadian harus mendapat bobot yang terbesar.