DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Singir sebagai Cermin Tradisi Komunitas Santri

Imam Baehaki

Abstrak


ABSTRAK

 

 

Baehaki, Imam. Singir sebagai Cermin Tradisi Komunitas Santri. Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, (2) Dr. Djoko Saryono, dan (3) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie.

 

Kata kunci: singir, tradisi, dan komunitas santri

 

 

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memerikan singir sebagai cermin tradisi komunitas santri. Agar tujuan tersebut tercapai, dilakukan pemerian tiga aspek yang meliputi pemerian (1) puitika bahasa singir, (2) struktur pesan singir, dan (3) refleksi nilai dan perilaku masyarakat santri dalam singir. Ketiga aspek tersebut dianggap merepresentasikan tradisi komunitas santri dalam perspektif hermeneutika.

Penelitian kualitatif ini menggunakan ancangan hermeneutika. Data pene-litian ini berupa tuturan singir. Dalam pengumpulan data, peneliti sebagai instru-men kunci dilengkapi dengan panduan wawancara, panduan studi dokumen, alat perekam elektronik. Ketika mengumpulkan data, peneliti melakukan seleksi data, identifikasi data, klasifikasi data, dan kategorisasi data yang didasarkan pada pandangan emik. Aktivitas ini dilakukan untuk mendapatkan data tuturan singir yang representatif sebagai cerminan tradisi komunitas santri. Analisis data dila-kukan dengan mengikuti model hermeneutika berdasarkan pandangan Ricoeur. Ketiga aspek penelitian dipahami secara cermat melalui level semantik, level refleksif, dan level eksistensial. Untuk memverifikasi temuan penelitian, dila-kukan triangulasi temuan tersebut kepada pakar bahasa, ilmu Arudl, dan pe-merhati serta tradisiwan komunitas santri.

1

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam teks singir ditemukan, per-tama, puitika bahasa singir. Puitika bahasa singir ditengarai oleh puitika bunyi, puitika leksikon, dan puitika retorika. Puitika bunyi ditengarai oleh pola persajakan singir yang mencakup bidang rima dan ritma (pola suku kata). Berdasarkan bunyinya, ditemukan rima dalam singir yaitu (1) asonansi (rima terbuka), (2) aliterasi (rima tertutup), dan (3) repetisi. Berdasarkan letak kata-kata dalam singir dibagi menjadi (1) rima awal, (2) rima tengah, (3) rima akhir, (4) ri-ma datar, (5) rima sejajar, dan (6) rima patah.  Ritma dibedakan menjadi (1) teks singir yang berpola suku kata tetap dan (2) teks singir yang berpola suku kata ti-dak tetap. Berdasarkan jumlahnya dalam larik setiap bait ditemukan (1) pola suku kata genap, (2) pola suku kata ganjil, dan (3) pola suku kata campuran atau silang. Puitika leksikon ditengarai oleh adanya penggunaan diksi atau pemilihan kata da-lam singir ditinjau dari bahasa, sifatnya, dan nilai makna. Penggunaan diksi ditin-jau dari bahasa yang dipakai dalam singir terdapat bahasa (1) Jawa, (2) Arab, (3) Indonesia, dan  (4) asing (Belanda dan Inggris).  Ditinjau dari sifatnya, diksi dipi-lah menjadi  (1) diksi umum, (2) diksi khusus, dan (3) diksi arkhais. Ditinjau dari makna, diksi dibedakan menjadi (1) nilai religi, (2) nilai sosial, dan (3) nilai peda-gogis. Adapun puitika retorika ditengarai oleh ditemukannya penggunaan gaya bahasa antara lain adalah (1) gaya bahasa perbandingan, meliputi: (a) simile, (b) metafora, (c) personifikasi; (2) gaya bahasa pertentangan, meliputi: (a) hiperbola, (b) litotes; dan (3) gaya bahasa pertautan, meliputi: (a) eufemisme, (b) pararel-isme, (c) repetisi.

Kedua, struktur pesan singir, terdiri atas tiga struktur pesan, yakni struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro teks singir dapat dilihat dari hasil analisis teks singir atas superstruktur bagian pembuka, isi, dan penutup, yaitu (1) informasi atau penjelasan bagian pembuka, (2) informasi atau penjelasan bagian isi/inti, dan (3) informasi atau penjelasan bagian penutup. Struktur mikro teks singir terdiri atas (1) deskripsi objek, (2) deskripsi keseluruhan fakta, dan (3) struktur praanggapan. Deskripsi objek terdiri atas objek umum dan objek khusus. Deskripsi objek ini dideskripsikan sesuai dengan tataran superstruktur, yakni deskripsi umum yang diikuti deskripsi objek khusus pada bagian pembuka, isi, dan penutup. Deskripsi keseluruhan fakta terdiri atas fakta khusus dan fakta tambahan, yang deskripsi paparannya seperti deskripsi objek. Struktur praanggapan demikian juga, ada pada bagian pembuka, isi, dan penutup. Isi pesan diamati sesuai dengan struktur teks singir yang terdiri atas bagian pembuka, isi, dan penutup. Masing-masing bagian itu dilihat apa isi pesannya. Berdasarkan ha-sil analis secara keseluruhan, isi pesan teks singir adalah pemberitahuan, perintah, motivasi, pujian, doa permohonan, dan nasehat.

Ketiga, refleksi nilai dan perilaku komunitas santri dalam singir, meliputi: (1) refleksi nilai komunitas santri dalam singir, dan (2) perilaku komunitas santri dalam singir. Refleksi nilai masyarakat santri dalam singir dapat dipilah menjadi tiga, yaitu (1) refleksi nilai religi, (2) refleksi nilai sosial, (3) refleksi nilai pedagogi. Refleksi nilai religi merupakan pandangan komunitas santri terhadap dimensi keilahian yang mengacu kepada keterikatan dan keterhubungan manusia dengan Allah, Zat Yang Maha Pencipta dalam hal: (1) akidah, (2) ibadah, dan (3) muamalah. Refleksi nilai sosial mengacu pada dimensi sosial kekomunitasan terdiri atas (1) refleksi nilai tentang (1) keluarga  (ayah atau suami, ibu atau istri, orang tua, dan anak), (2) kerabat, (3) tetangga, (4) ekonomi, (5) politik, (6) anak yatim dan fakir miskin, dan (7) umat manusia secara umum. Refleksi nilai pedagogis mengacu pada dimensi pendidikan terdiri atas (1) hakikat pendidikan, (2) kedudukan ilmu, (3) pendidik, (4) anak didik, dan (5) orang tua. Perilaku komunitas santri dalam singir dapat dipilah menjadi tiga, yaitu (1) perilaku religi, (2) perilaku sosial, (3) perilaku pedagogi.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa singir sebagai cermin tradisi komunitas santri merupakan wacana yang merepresentasikan kognisi penulis dan kognisi tradisi komunitas santri. Melalui teks singir ini, dapat diperikan refleksi nilai dan perilaku komunitas penuturnya. Karena itu, temuan penelitian ini secara teoretis memiliki implikasi akademik pada kajian analisis wacana, antropolinguistik, dan sosiolinguistik. Implikasi aplikatifnya pada sastra dan tradisi Jawa.serta pengajaran. Manfaatnya antara lain, untuk menentukan kebijakan dalam pemertahanan bahasa dan tradisi komunitas santri serta pemerkayaan sumber rujukan dalam pembelajaran di pondok, madrasah, dan pembelajaran masyarakat..