DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Implementasi Pendidikan Moral: Studi Multisitus di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur

Yulius Rustan Effendi

Abstrak


ABSTRAK

 

Effendi, Yulius Rustan, 2009, Implementasi Pendidikan Moral: Studi Multisitus di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur, Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing I:  Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. dan Pembimbing II: Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd.

 

 

Kata Kunci: implementasi, pendidikan moral

 

Fakta dalam kehidupan sosial masyarakat, perilaku peserta didik telah menyebabkan kecemasan yang berujung pada patologi sosial berupa penyimpangan moral (bias of morality). Penyimpangan moral (bias of morality) yang terjadi di kalangan peserta didik dewasa ini, ditandai dengan: (1) dekadensi etika/sopan santun, (2) perilaku tidak jujur seperti; suka bolos, nyontek, tawuran antara pelajar dan suka mencuri, (3) kurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, (4) kelompok teman sebaya yang bersifat kejam dan bengis, (5) kejahatan yang memiliki sikap fanatik dan penuh kebencian, (6) berbahasa tidak sopan, (7) merosotnya etika kerja, (8) mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab, (9) gelombang perilaku yang merusak diri sendiri seperti; perilaku seksual prematur, penyalahgunaan narkoba dan perilaku bunuh diri, (10) ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup.

Menghadapi krisis moral di kalangan peserta didik, salah satu solusi yang mesti ditengarahi adalah mengimplementasikan pendidikan moral di sekolah. Pendidikan moral di sekolah penting demi membentuk manusia peserta didik yang berkualitas. Mencermati pentingnya pengimplementasian pendidikan moral di sekolah, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian  di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang, dengan fokus Implementasi Pendidikan Moral: Studi Multisitus di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur, dengan sub fokusnya: (1) Latar Pengimplementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang. (2) Pelaksanaan Pengimplementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang. (3) Penilaian Pengimplementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang.

Untuk mengkaji lebih dalam guna menjawab sub fokus penelitian, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan fokus pendekatan studi multisitus. Penelitian dalam konteks studi multisitus, dilakukan peneliti dengan cara menjajaki lokasi, mendekati orang-orang yang dijadikan subyek atau sumber data melalui wawancara, mengumpulkan data dan memeriksanya, selebihnya adalah data non insani termasuk dokumen dan foto.

Penentuan informan dalam pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mengadakan konsultasi dengan kepala sekolah sebagai kunci informan setempat. Selanjutnya untuk menjaring data lebih jauh, lebih dalam, peneliti menggunakan teknik bola salju (Snowball Technique) guna mendapat informasi pihak-pihak yang terlibat (wakasek bidang kurikulum, wakasek bidang kesiswaan, guru BK (Bimbingan dan Konseling), guru-guru wali kelas, pembina spiritualitas dan moralitas dan beberapa orang dari pihak peserta didik serta orangtua/wali peserta didik).

Temuan penelitian ini sebagai berikut. (1) Latar Implementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang, mencakup tiga aspek temuan: (a) inspirasi spiritual, ”penghargaan terhadap kemanusiaan manusia peserta didik” (b) sumber inspirasi spiritual; Kitab Suci, contoh hidup tokoh pendiri masing-masing biara dan nilai-nilai kebajikan kristiani yang menjadi ciri khas sekolah.

(2) Pengimplementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang mencakup beberapa aspek temuan: penetapan kebijakan sekolah, visi, misi, tujuan, sasaran pendidikan moral dan manajemen penanaman nilai moral. Beberapa indikator yang memastikan keberhasilan antara lain: (a) kedua sekolah menerapkan sistem manajemen pengorganisasian secara efektif, yang ditandai oleh pelibatan orang-orang ke dalam team work/seksi-seksi, (b) menerapkan sistem manajemen partisipatif, melalui koordinasi kerja sama yang saling membutuhkan, saling mendukung diantara team work di SMPK St. Maria 2 dan diantara wakasek dan seksi-seksi di SMPK Sang Timur. (c) peran dan fungsi kontrol kepala sekolah berjalan sangat efektif, seperti: (1) menciptakan komunikasi yang akrab, bersahabat, saling memahami dan saling memercayai para guru dan peserta didik, (2) bersikap proaktif  memantau dan memotivasi para guru. (3) menanamkan kehidupan rohani (doa dan renungan) bersama sebelum memulai kegiatan PBM, (4) menghimbau para guru untuk bertanggungjawab pada tugas, memberi teladan hidup yang baik kepada peserta didik, (5) memberikan reward dan punishment. (d) Adanya kesatuan pikiran, tindakan, dan perintah (unity of mind, action, and comand). Kesatuan pikiran ini memacu kepala sekolah bersama para guru dan tokoh masyarakat menyusun rencana strategis (renstra) sekolah, dan kemudian diimplementasikan ke dalam rencana operasional (renop). Kesatuan tindakan lebih mengarah kepada pengejahwantaan program ke dalam tindakan praksis. (e) Terciptanya kinerja (performance) yang efektif.

(3) Penilaian Pengimplementasian Pendidikan Moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur mencakup dua aspek, antara lain: (a) penerapan manajemen pendidikan moral di kedua sekolah ini sangat efektif dan (b) perubahan  perilaku moral peserta didik.

Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa implementasi pendidikan moral di SMPK St. Maria 2 dan SMPK Sang Timur Malang sangat efektif. Keefektifan pengimplementasian pendidikan moral di kedua sekolah ini nampak dalam beberapa hal, antara lain: (a) penerapan manajemen pendidikan moral di kedua sekolah ini sangat efektif, (b) manajemen penilaian diatur berdasarkan standar penilaian yang obyektif, (c) perubahan  perilaku moral peserta didik.

Beberapa saran yang bisa disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) kedua sekolah perlu mempertahankan mutu pendidikan yang menyelaraskan perkembangan kecerdasan intelektual, kecerdasan moral dan spiritual, (b) kedua sekolah ini dapat dijadikan “model” dalam mengimplementasikan pendidikan moral di sekolah-sekolah lain yang sejawat; (c) menjalin kemitraan dengan orang tua peserta didik, masyarakat peduli pendidikan, pihak kepolisian, tokoh agama  dalam membimbing dan membentuk ketahanan moral peserta didik; (d) pemerintah perlu menyusun kurikulum pendidikan moral secara resmi di tingkat SD/MI, SLTP/MTs dan SMA/MA/SMK, (e) para peneliti selanjutnya, diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkapkan lebih dalam lagi mengenai pengimplementasian pendidikan moral dari medan fokus yang berbeda.