DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peningkatan Keterampilan Berbicara melalui Metode Bermain Peran Siswa Kelas V SDN 03 Baruga Kendari

Mansyur Momang

Abstrak


ABSTRAK

 

M., Mansyur 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara melalui Metode Bermain Peran Siswa Kelas V SDN 03 Baruga Kendari. Tesis. Tidak dipublikasikan. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, (II) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.

 

Kata Kunci: Peningkatan, keterampilan berbicara, bermain peran.

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas V SDN 03 Baruga Kendari yang masih rendah. Rendahnya kualitas proses dan hasil tersebut ditandai lemahnya respon siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan guru. Hal itu, merupakan akibat dari belum efektifnya pembelajaran keterampilan berbicara yang dilaksanakan di kelas. Guru kurang inovatif dan kreatif untuk mengembangkan metode pembelajaran Siswa kurang antusias karena adanya kegagapan dan kegugupan untuk mengajukan pertanyaan atau informasi yang akan disampaikan. Akhirnya, siswa tidak mampu menghasilkan pembicaraan yang akurat, relevan, lancar, terstruktur, jelas, paham dengan isi pembicaraan, nyaring dan efektif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran berbicara di SDN 03 Baruga Kendari, perlu diterapkan suatu metode kreatif yang dapat mengatasi problem praktis pembelajaran berbicara tersebut. Metode kreatif itu adalah “metode bermain peran”. Dipilihnya metode bermain peran tersebut didasari oleh pertimbangan teoretis maupun praktis. Secara teoretis menurut Vygostsky (1986) bermain peran mendukung awal muculnya dua kemampuan penting, yaitu kemampuan memisahkan pikiran dari kegiatan dan benda serta memahami dorongan hati dalam menyusun tindakan yang diarahkan sendiri dengan sengaja dan fleksibel. Sedangkan secara praktis, dengan metode bermain peran siswa akan tampak seperti bermain-main. Hal ini akan membebaskan dari tekanan, kejenuhan dalam pembelajaran. Dengan kata lain, bermain peran sangat sederhana untuk dilakukan oleh siswa, tetapi hasilnya cukup efektif dan menyenangkan. Peningkatan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran siswa kelas V SDN 03 Baruga Kendari dirancang dalam sebuah penelitian tindakan kelas.

Berdasarkan latar belakang pelaksanaan tindakan tersebut, dirumuskan masalah umum, yaitu bagaimana peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN 03 Baruga Kendari melalui metode bermain peran? Rumusan masalah tersebut diuraikan menjadi dua masalah khusus, yaitu (1) bagaimanakah proses peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui metode bermain peran pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dan (2) bagaimanakah produk peningkatan keterampilan berbicara siswa  melalui metode bermain peran.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Tiap siklus terdiri atas rangkaian kegiatan, yakni (1) perencanaan RPP, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi, (4) refleksi pembelajaran. Data penelitian ini diperoleh dari hasil analisis aktivitas guru dan respon tindakan siswa pada kegiatan proses pembelajaran serta produk pembelajaran berbicara. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan teknik pencatatan lapangan, perekaman, dan penilaian hasil. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah format catatan lapangan, rambu-rambu analisis proses pembelajaran kegiatan guru dan siswa, dan instrumen (rubrik) penilaian hasil belajar. Selain itu, juga digunakan penilaian produk pementasan dilakukan pula dengan perekaman kegiatan dengan menggunakan kamera handycam.

Penelitian ini menghasilkan simpulan bahwa pembelajaran berbicara melalui metode bermain peran terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN 03 Baruga Kendari. Hal ini, tercermati pada proses dan produk peningkatan keterampilan berbicara. Kedua hal dapat diuraikan sebagai berikut. Berdasarkan hasil analisis penilaian proses, peningkatan kegiatan pendahuluan terjadi dengan rerata kemunculan respon siswa terteliti mengalami peningkatan dari 66% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II; proses pembelajaran kegiatan inti siswa mengalami peningkatan, yaitu dari 65% pada siklus I meningkat menjadi 81% pada siklus II; dan proses pembelajaran kegiatan penutup kemunculan respon mengalami peningkatan, yaitu dari 71% pada siklus I meningkat menjadi 84% pada siklus II.

Berdasarkan hasil analisis penilaian produk pada aktivitas pementasan diperoleh temuan (a) kemampuan siswa dalam memahami isi dialog meningkat dari 56  pada siklus I menjadi 63 pada siklus II; (b) kemampuan siswa menghayati isi dialog meningkat dari 58 pada siklus I menjadi 66 pada siklus II; (c) kemampuan siswa melafalkan dengan lancar isi dialog meningkat dari 58 pada siklus I menjadi 66 pada siklus II; (d) kemampuan siswa mengucapkan isi dialog dengan lancar meningkat dari 57 pada siklus I menjadi 66 pada siklus II; (e) kemampuan siswa mengucapkan volume suara dengan nyaring meningkat dari 58 pada siklus I menjadi 67 pada siklus II; (f) kemampuan siswa melafalkan intonasi dengan tepat meningkat dari 58 pada siklus I menjadi 67 pada siklus II; dan (g) kemampuan siswa mengekspresikan dengan tepat meningkat 61 pada siklus I menjadi 71 pada siklus II. Rerata hasil sebaran respon kemampuan secara menyeluruh meningkat dari (58, siklus I) menjadi (66, siklus II). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbicara melalui metode bermain peran sangat efektif  untuk dilaksanakan di Sekolah Dasar.  

Berdasarkan hasil penelitian ini, diberikan beberapa saran sebagai berikut: (1)

kepada Kepala Sekolah Dasar disarankan agar memberikan peluang kepada guru untuk kreatif mengembangkan pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara di Sekolah Dasar, termasuk menerapkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran, (2) Kepada guru SD disarankan agar memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai salah satu alternatif strategi pelaksanaan pembelajaran berbicara, bahkan dapat dicobakan untuk pembelajaran keterampilan  lain, (3) Kepada penulis buku diharapkan untuk memasukan pembelajaran keterampilan berbicara melalui metode bermain peran dalam tulisannya sebagai sumber acuan/contoh dalam membuat rencana penerapan pembelajaran Sekolah Dasar, dan (4) Kepada peneliti lain disarankan dapat merancang penelitian yang berkaitan metode bermain peran dalam pembelajaran keterampilan berbicara untuk pengembangan aspek-aspek lain dalam pengembangan konsep berbicara.