DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Berpikir Matematis Komedian dalam Mengonstruksi Bahan Komedi : Studi Kasus pada Stand Up Comedy Indonesia

ABDURRAHIM ARSYAD

Abstrak


ABSTRAK

 

Arsyad, Abdurrahim. 2016. Berpikir Matematis Komedian dalam Mengonstruksi Bahan Komedi : Studi Kasus pada Stand Up Comedy Indonesia, Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dra. Santi Irawati, Ph.D.

 

Kata Kunci: Berpikir Matematis, Bahan Komedi, Stand Up Comedy

Berpikir adalah aktivitas mental yang terjadi di dalam otak dalam rangka mengingat, memahami, mencari, atau membuat cara, menganalisis, mensintesis masalah dalam rangka menyelesaikannya (Subanji, 2011:1), sedangkan penalaran diartikan oleh Subanji (2011:4) sebagai aktivitas mental/kognitif dalam menyelesaikan masalah dengan berpikir logis dan bersifat analitis. Hal ini menunjukkan bahwa, selama seseorang berpikir secara logis maka sebenarnya ia sedang berpikir matematis.

Berpikir matematis telah dikaji oleh banyak peneliti dengan konteks yang berbeda-beda. Lesh & English (2005) melakukan penelitian tentang hubungan kesuksesan seseorang terhadap kemampuan berpikir matematis, Shmakov & Hannula (2010) meneliti tentang kreativitas berpikir siswa dari pembelajaran matematika yang menyenangkan, Young (2013) menggunakan komedi improv untuk membantu kegiatan belajar mengajar, dan penelitian dari Nicewonder (2001) mengungkapkan bahwa mengenalkan komedi di kelas matematika pada jenjang mana pun dapat membantu siswa untuk mengerti dan membuat matematika menjadi menyenangkan.

Komedi dalam aktivitas pedagogik, menurut Grecu (dalam Shmakov dan Hannula:2010) memiliki fungsi, yaitu: (1) informatif, (2) emosional, (3) motivasional, (4) komunikatif, (5) pengembangan, (6) diagnosa, dan (7) regulasi. Eratnya komedi dengan kegiatan belajar mengajar, yang di dalamnya terjadi proses berpikir, membuat peneliti mengkaji proses berpikir matematis yang terjadi ketika seorang komedian mengonstruksi bahan komedi. Pada dasarnya komedi menggunakan pola setup – punchline, menawarkan harapan dan memberikan kejutan. Hal ini di dalam proses berpikir dikenal dengan proses asimilasi – akomodasi, yang menciptakan kondisi equilibrium dan disequilibrium. Selanjutnya, untuk mengkaji proses berpikir matematis yang terjadi, dilakukan penelitian terhadap Stand Up Comedy Indonesia.

Penelitian ini dilakukan pada tiga orang komedian di Indonesia. Tiga komedian tersebut dipilih berdasarkan materi komedi yang pernah dibawakan dalam acara Stand Up Comedy. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, direkam dengan alat perekam, lalu ditranskrip untuk dianalisis. Dari hasil penelitian dan analisis data diperoleh struktur berpikir komedian dan logika matematika yang digunakan. Secara singkat, berpikir matematis yang digunakan oleh komedian adalah pola logika implikasi. Kondisi “jika” sebagai setup, dan kondisi “maka” sebagai punchline. Teknik punchline yang berbeda digunakan oleh setiap komedian sesuai dengan persona panggung yang meliputi gaya bahasa, latar belakang, dan sensitivitas komedi.

Bangunan setup dikonstruksi berdasarkan pengalaman dan kejadian tak biasa yang dialami atau didengar. Data yang menjadi dasar setup bisa berupa angka-angka dan kalimat-kalimat ambigu. Hal tersebut kemudian diolah menggunakan pola logika implikasi hingga berujung pada punchline, bisa berupa penarikan kesimpulan dari pola logika atau pun analogi dan pengandaian pada kejadian lain yang absurd. Equilibrasi dan disequilibrasi atau harapan dan kejutan terjadi selama proses ini, sehingga muncul tawa dari penonton sebagai akibat.

Penelitian ini masih memiliki keterbatasan terutama dalam masalah dan konteksnya, karena itu perlu adanya penelitian lanjutan yang memfokuskan pada: (1) pengembangan proses berpikir matematis komedian dalam bidang lain seperti cerpen, novel, komik, sitkom, sketsa, film, dan lain-lain. (2) mengkaji proses berpikir matematis komedian di luar Indonesia, (3) mengkaji proses berpikir matematis penonton Stand Up Comedy, dan (4) membuat dan menerapkan struktur komedi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.