DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penyiapan dan Pelaksanaan Penjaminan Mutu dengan Sistem Akreditasi Program Studi di Perguruan Tinggi (Studi Multikasus pada Untad Palu, Unsimar Poso, dan STIE Panca Bhakti Palu).

MAHFUD MAHMUD GAMAR

Abstrak


ABSTRACT

 

Penyiapan dan Pelaksanaan Penjaminan Mutu dengan Sistem Akreditasi Program Studi di Perguruan Tinggi (Studi Multikasus pada Untad Palu, Unsimar Poso, dan STIE Panca Bhakti Palu).

Gamar, Mahfud Mahmud. 2016, Penyiapan dan Pelaksanaan Penjaminan Mutu dengan Sistem Akreditasi Program Studi di Perguruan Tinggi (Studi Multikasus pada Untad Palu, Unsimar Poso, dan STIE Panca Bhakti Palu). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (I) Prof. H.A Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., dan (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd,  dan (III) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M. Pd.

Kata kunci: penjaminan mutu, akreditasi, program studi, perguruan tinggi

Paradigma baru pendidikan tinggi sebagaimana termaktub di dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 dan Sejalan dengan Hingher Education Long Term Strategy (HELTS) tahun 2003-2010, menerangkan bahwa perlu adanya peningkatan mutu dan daya saing perguruan tinggi serta perlunya perguruan tinggi dikelolah menjadi organisasi yang sehat. Dengan demikian, perguruan tinggi diharuskan memberi penjaminan mutu (quality assurance) kepada masyarakat (stakeholder) dan kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap perguruan tinggi (stakeholder). Sistem penjaminan mutu perguruan tinggi terdiri atas penjaminan mutu internal (internal quality assurance) dan penjaminan mutu (external quality assurance). Penjaminan mutu perguruan tinggi dilakukan dalam bentuk akreditasi, hal ini diperjelas dan dipertegas dengan UU Sisdiknas 2003 dan penjabaran PP No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Kejelasan dan ketegasan tersebut berupa kewajiban program studi pada perguruan tinggi untuk melaksanakan akreditasi, bahkan melahirkan konsekuensi bagi program studi yang tidak melaksanakan akreditasi, berupa sangsi tidak dapat mengeluarkan ijazah bagi lulusan, pencabutan isin, hingga penutupan program studi.

Penelitian ini mengkaji tentang penyiapan dan pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi, dengan tiga fokus penelitian, yaitu: (1) proses penyiapan dan pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi; (2) upaya mempertahankan dan meningkatkan predikat akreditasi program studi di perguruan tinggi; dan (3) dampak yang ditimbulkan setelah pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi.

Penelitian ini dilaksanakan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Untad Palu, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Unsimar Poso, dan Program Studi Manajemen STIE Panca Bhakti Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multikasus. Data penelitian berupa data deskriptif yang diperoleh melalui wawancara, studi dokumen, dan observasi. sedangkan analisis data dalam penelitian menggunakan metode komparatif konstan. Penganalisaan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: (a) reduksi data, (b) penyajian data, dan (c) kesimpulan (kesimpulan sementara, verifikasi dan kesimpulan akhir). Pengecekan keabsahan data menggunakan empat kriteria, yang terdiri dari: keterpercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability).

Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, proses penyiapan dan pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di dilakukan dengan cara: (a)  melakukan persiapan pelaksanaan akreditasi program studi, terdiri dari: membentuk Team Task Force akreditasi, melakukan sosialisasi berkelanjutan, mengadakan pelatihan penyusunan borang akreditasi, menyusun naskah akreditasi, dan mengirim borang akreditasi ke BAN-PT,  (b) menerapkan standar akreditasi sesuai dengan tujuh stantar BAN-PT, (c) pelaksanaan visitasi, program studi dengan melakukan persiapan dan pelaksanaan visitasi akreditasi. Kedua, upaya mempertahankan dan meningkatkan predikat akreditasi program studi di perguruan tinggi, dalam bentuk: (a) komitmen mutu pimpinan lembaga. (b) merubah mind set terhadap pelaksanaan akreditasi program studi. (c) membangun SPMI program studi, dan (d) mempertahankan kinerja program studi sesuai standar akreditasi BAN-PT. Ketiga, dampak setelah pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi, meliputi hal-hal berikut: (a) dampak terhadap program studi yang terdiri dari: peningkatan citra program studi, dokumentasi program studi semakin baik, dan peningkatan pelayanan program studi. (b) dampak terhadap bidang akademik yang terdiri dari: tidak ada jam yang kosong, proses pembelajaran semakin baik, penilaian terhadap mahasiswa semakin jelas, dan adanya penilaian mahasiswa terhadap dosen. (c) dampak terhadap budaya mutu yang terdiri dari: berkaitan dengan nilai-nilai yang ada di program studi, berkaitan dengan kepemimpinan, dan komitmen peningkatan pelayanan.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka peneliti menyarankan beberapa hal kepada: (1) Untad Palu, Unsimar Poso dan STIE Panca Bhakti Palu, agar senantiasa menyiapkan dan melaksanakan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi secara baik dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di program studi; (2) perguruan tinggi lainnya, agar tulisan ini menjadi contoh, pedoman dan sebagai informasi yang berguna dalam melaksanakan proses penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi masing-masing; (3) Kopertis, agar senantiasa memberi pembinaan mengenai pelaksanaan penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi kepada perguruan tinggi swasta; (4) Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), agar mengetahui secara mendalam berbagai persoalan yang ada di program studi, selanjutnya memberikan dukungan yang nyata kepada seluruh program studi di perguruan tinggi berupa sosialisasi dan pembinaan dalam melakukan perbaikan mutu perguruan tinggi; (5) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), agar memberi dukungan nyata berupa pembinaan perguruan tinggi untuk meningkatkan kesehatan organisasi dalam suatu sistem yang efektif dengan ciri utama peningkatan kualitas; (6) peneliti selanjutnya, agar mengadakan penelitian lebih lanjut pada penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi dari aspek yang lain mengingat persoalan yang berkaitan dengan penjaminan mutu di perguruan tinggi masi sangat banyak dan dinamis; dan (7) ilmu Manajemen Pendidikan, agar disertasi ini dapat dijadikan referensi mengenai pen­­jaminan mutu, khususnya penjaminan mutu dengan sistem akreditasi program studi di perguruan tinggi.