DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesantunan Honorifik dalam Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Keluarga Terpelajar Masyarakat Tutur Makassar di Kabupaten Gowa

Syafruddin Syafruddin

Abstrak


 

ABSTRAK

 

Syafruddin, 2010. Kesantunan Honorifik dalam Tindak Direktif Berbahasa Indonesia Keluarga Terpelajar Masyarakat Tutur Makassar di Kabupaten Gowa. Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim,  (II) Prof. Dr. H. Suparno, dan (III) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd.

Kata kunci: kesantunan, honorifik, tindak direktif, masyarakat Makassar

 

Kesantunan Honorifik (KH) merupakan bagian integral dari tindak tutur berbahasa Indonesia keluarga terpelajar masyarakat Makassar dalam kehidupan sehari-hari. KH tersebut  mempunyai kekhasan atau pola tersendiri karena dipengaruhi norma sosial budaya yang mereka miliki. Kekhasan atau pola kesantunan honorifik tersebut menarik untuk dikaji. Hal itu berguna untuk menambah wawasan teoretis dan praktis tentang kesantunan honorifik dalam penggunaan BI pada keluarga masyarakat Indonesia umumnya dan keluarga terpelajar masyarakat Makassar khususnya. 

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah bentuk KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar di Kabupaten Gowa? (2) Bagaimanakah fungsi KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar di Kabupaten Gowa? (3) Bagaimanakah strategi penyampaian KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar di Kabupaten Gowa?

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan ancangan teori pragmatik dengan model kajian etnografi komunikasi untuk menginterpretasi KH sebagai tindak tutur. Data penelitian terdiri atas dua jenis, yaitu: (1) data tuturan dan (2) data catatan lapangan. Data tuturan mengandung bentuk, fungsi, dan strategi penyampaian direktif. Data catatan lapangan meliputi catatan lapangan deskriptif dan catatan lapangan reflektif. Data pertama diperoleh melalui teknik perekaman menggunakan tape recorder (MP4), dan data kedua diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif. Prosedur analisis data menggunakan model tersebut melalui empat tahap, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) penyimpulan temuan dan triangulasi.

Temuan penelitian ini dikemukakan sebagai berikut. Dalam percakapan dan aktivitas  interaksi di rumah, bentuk kesantunan honorifik berbahasa Indonesia dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar tampak dalam tuturan bermodus imperatif, interogatif, dan deklaratif. Dalam hal ini, berbagai tuturan tersebut menggunakan alternatif honorifik berupa istilah kekerabatan, kata ganti, dan nama diri. Bentuk KH tersebut digunakan untuk menyatakan berbagai fungsi tindak direktif sesuai dengan norma sosial yang telah mereka miliki dan berorientasi kepada kesantunan yang berbeda-beda sesuai dinamika perubahan suasana dan komunikasi saat interaksi terjadi. Penggunaan bentuk KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar mencerminkan penggunaan BI  berdasarkan norma sosial budaya yang berlaku dalam keluarga terpelajar masyarakat Makassar di Kabupaten Gowa.

Dalam percakapan dan aktivitas interaksi di rumah, KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar secara umum mempunyai fungsi yang meliputi perintah, permintaan, larangan, pemberian nasihat, dan pertanyaan. Berbagai fungsi KH tersebut diwujudkan dengan berbagai modus tuturan yang menggunakan honorifik bervariasi dan memperlihatkan kesantunan berbeda-beda, sejalan dengan perubahan suasana komunikasi saat interaksi tersebut terjadi. Penggunaannya mencerminkan penggunaan BI berdasarkan norma sosial budaya masyarakat Makassar umumnya dan norma sosial budaya yang berlaku dalam keluarga terpelajar masyarakat Makassar khususnya.

Dalam percakapan dan aktivitas interaksi di rumah, strategi kesantunan honorifik dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar meliputi: strategi langsung dan tidak langsung dengan berbagai variasi. Strategi KH tersebut diutarakan oleh partisipan tutur dengan berbagai modus tuturan yang menggunakan alternatif honorifik bervariasi untuk mengekspresikan fungsi-fungsi direktif mereka. Penggunaannya berorientasi kepada kesantunan berbeda-beda sesuai dengan perubahan suasana komunikasi saat interaksi terjadi. Penggunaan KH dalam tindak direktif keluarga terpelajar masyarakat Makassar itu mencerminkan penggunaan BI berdasarkan norma sosial budaya masyarakat Makassar umumnya dan norma sosial budaya yang berlaku dalam keluarga masyarakat Makassar khususnya.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut. Pertama, sebagai bagian masyarakat Makassar, keluarga terpelajar masyarakat Makassar mempunyai bentuk kesantunan honorifik yang diwujudkan dengan tuturan dalam berbagai modus dengan menggunakan alternatif honorifik bervariasi. Hal itu digunakan untuk menjalin hubungan sosial sesuai dengan norma sosial budaya yang mereka miliki. Kedua,  sebagai bagian masyarakat Makassar, keluarga terpelajar masyarakat Makassar mempunyai fungsi kesantunan honorifik dalam tindak direktif bervariasi yang diekspresikan dengan tuturan berbagai modus dengan menggunakan alternatif honorifik tersendiri sesuai dengan norma sosial budaya yang mereka miliki Ketiga, sebagai bagian masyarakat Makassar, keluarga terpelajar masyarakat Makassar mempunyai strategi kesantunan honorifik dalam tindak direktif yang diwujudkan dengan tuturan dalam berbagai modus menggunakan alternatif honorifik bervariasi untuk mengekspresikan fungsi-fungsi direktif mereka dengan berbagai variasi berdasarkan konteks yang berbeda-beda  sesuai dengan norma sosial budaya yang mereka miliki.

Hasil penelitian ini mempunyai implikasi teoretis, yaitu dapat memperluas wawasan teori tindak tutur dan sosiolinguistik; dan mempunyai implikasi praktis, yaitu dapat memberikan masukan bagi pengajar berbagai bidang studi umumnya, para perencana, penulis buku pelajaran, dan guru bahasa Indonesia khususnya tentang materi perencanaan dan pembelajaran kemampuan berkomunikasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Syafruddin, 2010. Honorific Politeness  in Directive Speech Act in using Indonesian Language of the Society of Macassarese Educated Family in Gowa Regency. Dissertation of Indonesian Language Education Study Program. Postgraduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Prof. Dr. H. Suparno, and (III) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd. 

 

Key words: politeness, honorific, directive act, Makassarese society

            Honorific politeness is an inseparable part of Indonesian speech act in daily life of the society of Macassarese educated family. The honorific politeness in that speech act has a typical pattern which is affected by social-cultural norms existing in Macassarese society. Such a typical pattern of honorific politeness is interesting and necessary to be conducted. This benefits to broaden the theoritical and practical perspectives on the honorific politeness in the usage of Indonesian language in Indonesian society in general and the Macassarese educated families in particular.

            In relation to the above statements, this study is carried out to answer the three questions as the following: (1) What are the forms of honorific politeness in directive speech act of the society of Macassarese educated family in Gowa regency? (2) What are the functions of these honorific politeness to the society of Macassarese educated family in Gowa regency? (3) What  strategies are used to convey the honorific politeness in directive speech act of the society of Macassarese educated family in Gowa regency?

This is a single case study of qualitative research design by using theories of pragmatics with ethnography analysis model of communication to interprete honorific politeness as speech act. The research data comprise two kinds: (1) speech data and (2) field notes data. The speech data contain the form, function, and directive delivery strategy. The field notes data consist of desriptive and reflective field notes. The first data are obtained through recording technique using a tape recorder (MP4) and the second data are gained through observation and interview techniques.The data of this study are analyzed by employing interactive analysis model through four steps: (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) the conclusion of the findings and triangulation.

The research findings show that declarative, interrogative, and imperative are the forms of honorific politeness in the speaking and in the interaction activities of Macassarese educated family at home. The various forms use an honorific alternative, such as kinship terms, pronouns, and self-names. The forms of honorific politeness in the directive act are delivered in various forms because they are related to the existed social norms and oriented to the different politeness based the changes of atmosphere and communication when an interraction occurs. The use of this honorific politeness in a directive act  of Macassarese society of educated family portrays the ways to speak Indonesian Language based on the social culture norms of the society of Macassarese educated family in Gowa regency in particular.

In daily conversations at home, the honorific politeness used by the  Makasarese society of educated family in general functions as a directive, demand, prohibition, advice, and question. These functions are manifested in a variety of speect acts using various honorifics and reveals different politeness in accordance with their communication needs when the interaction among the members of the family is going on. The use of this honorific politeness reflects the ways Macassarese ethenis  speak Indonesian Language on the basis of the social cultural norms of Makassarese society in general, and those of educated family in particular.  

Meanwhile, the strategy of honorific politeness in a directive act which is used by the speakers at home applies two strategies, namely direct and indirect strategies with their variants. The strategies delivered by speakers in a variety of speech acts use various honorific alternatives to express their directive functions. The use of the direct and indirect strategies are oriented to different politeness in accordance with the atmosphere and the communication when an interraction is going on. The use of the politeness in the directive act of the Macassarese educated family reflects the ways they speak Indonesian on the basis of social cultural norms of Macassarese society in general and educated family in particular.

Based on the findings, it can be concluded that firstly, Macassarese society of educated family as a part of Makassere society, has a form of honorific politeness which is used in various modes when the conversation is going on within the members of the family on the basis of their social-cultural norms. Secondly, Macassarese society of educated family, as a part of Macassarese society, has certain functions in conversation between the members of the family based on the social-cultural norms applied in their daily lives. Thirdly, the Macassarese society of educated family as a part of Macassarese society, has a honorific politeness strategy to express the directive functions in  their daily speaking. The honorific politeness in the directive act is delivered in different styles according to their social cultue norms.

The result of this research study has both theoretical and practical implications. The theoretical implication is that it can broaden the theories of speech act and sociolinguistics. It practically implies to give input to the teachers of various fields of studies, designers, textbook writers in general, and the teachers of the Indonesian Language in particular in terms of the design and the instruction comunicative competence.