DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Bahan Ajar Materi Koloid dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA

Lita - Novilia

Abstrak


ABSTRACT

 

Novilia, Lita. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Materi Koloid dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Srini. M. Iskandar, M.Sc., Ph. D., (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S.

Kata kunci: pegembangan bahan ajar, materi koloid, inkuiri terbimbing, kelayakan bahan ajar, efektivitas bahan ajar

Materi koloid merupakan materi yang diajarkan di SMA. Materi koloid memiliki beberapa karakteristik diantaranya: (1) mengandung banyak istilah asing yang harus dipelajari siswa seperti dispersi, kondensasi, adsorpsi, koagulasi, elektroforesis dan lain sebagainya; (2) sebagian besar materi koloid berupa pemahaman konseptual, dan tidak terdapat materi yang berupa pemahaman algoritmik; (3) materi koloid bersifat konkrit dan kontekstual (Gazali, 2014). Berdasarkan karakteristik materi koloid tersebut, dapat diketahui bahwa siswa dapat memperoleh pengetahuan melalui lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivistik Piaget yang menjadi dasar pemikiran dari pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing. Salah satu kelebihan pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing adalah dapat meningkatkan keterampilan proses sains. Namun pada penerapannya, materi koloid cenderung dijelaskan secara deskriptif menggunakan metode ekspositori/ceramah dan diskusi, sehingga siswa cenderung menghafalkan konsep-konsep pada materi koloid, yang dapat menimbulkan beberapa miskonsepsi. Pembelajaran pada materi koloid dengan metode ekspositori/ceramah belum memberikan hasil belajar kognitif yang memuaskan. Oleh sebab itu, sebaiknya materi koloid sebaiknya diajarkan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing. Dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing, sebuah bahan ajar sangat diperlukan guru untuk menunjang pembelajaran. Beberapa bahan ajar dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada pembelajaran kimia telah dikembangkan sebelumnya diantaranya Buku berbasis Praktikum oleh Gazali (2014) dan Buku Ajar oleh Suwarni (2013). Namun, belum menekankan pada pengembangan keterampilan proses sains siswa. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar materi koloid dengan pendekatan inkuiri terbimbing, menguji kelayakan bahan ajar yang dikembangkan, dan menguji efektivitas bahan ajar yang dikembangkan dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan proses sains(KPS) siswa.

Desain pengembangan bahan ajar mengacu pada Pedoman Pengembangan Bahan Ajar oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Departemen Pendidikan Nasional (2008) dengan langkah-langkah: (1) analisis kebutuhan bahan ajar; (2) penyusunan peta bahan ajar; (3) penentuan struktur bahan ajar; (4) penyusunan bahan ajar cetak; (5) evaluasi (validasi dan uji coba) dan revisi. Kelayakan bahan ajar ditinjau dari hasil validasi ahli meliputi kriteria isi, penyajian, kebahasaan, kegrafikaan, dan respon siswa setelah penggunaan bahan ajar. Efektivitas bahan ajar dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan KPS ditinjau dari hasil uji Wilcoxon dua sampel berpasangan. Seberapa besar peningkatan hasil belajar kognitif dan KPS ditinjau dari hasil analisis gain score.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang telah dikembangkan layak digunakan dengan hasil skor komposit berdasarkan validasi ahli pada kriteria isi sebesar 3,65; kriteria penyajian sebesar 3,44; kriteria kebahasaan sebesar 3,46; dan kriteria kegrafikaan sebesar 3,36. Hasil skor komposit berdasarkan respon siswa kriteria isi sebesar 3,29; kriteria penyajian sebesar 3,20; kriteria kebahasaan sebesar 3,61. Bahan ajar yang dikembangkan belum efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif, berdasarkan hasil uji Wilcoxon diketahui bahwa nilai signifikansi 0,711. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar yang dikembangkan dan tanpa bahan ajar yang dikembangkan. Besar peningkatan hasil belajar kognitif ditunjukkan dengan hasil analisis gain score yaitu siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar memiliki rata-rata gain score kemampuan kognitif sebesar 0,680 dengan kriteria sedang dan siswa yang dibelajarkan tanpa bahan ajar memiliki rata-rata gain score kemampuan kognitif sebesar 0,702 dengan kriteria tinggi. Kurang efektifnya bahan ajar dalam meningkatkan hasil belajar kognitif disebabkan materi pada bahan ajar terpisah-pisah, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep-konsep pada materi koloid. Oleh sebab itu, diperlukan perbaikan pada bahan ajar, khususnya pada materi sifat-sifat koloid dapat digunakan untuk mendapatkan konsep koloid. Namun, bahan ajar yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan KPS siswa, yang ditunjukkan melalui uji Wilcoxon dengan nilai signifikansi 0,031. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar yang dikembangkan dan tanpa bahan ajar yang dikembangkan. Besar peningkatan KPS ditunjukkan dengan hasil analisis gain score yaitu siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar memiliki rata-rata gain score KPS sebesar 0,515 dengan kriteria sedang dan siswa yang dibelajarkan tanpa bahan ajar memiliki rata-rata gain score KPS sebesar 0,250 dengan kritria rendah.