DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Transendensi dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri

Esa Kharisma Muhammad Nakti

Abstrak


ABSTRACT

 

Transendensi dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri

Nakti, Esa, Kharisma M.. 2016. Transendensi dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. A. Syukur Ghazali, M.Pd, (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd

Kata Kunci: transendensi, tokoh, cerpen

Kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri hadir sebagai karya sastra yang penuh nilai religiusitas, bermuatan transenden, pengajaran tentang kehidupan sosial beragama, baik sifatnya vertikal maupun horisontal. Muatan yang menjadi fokus dalam kajian ini bermaksud untu(1) mendeskripsikan wujud pengakuan ketergantungan manusia pada Tuhan, (2) mendeskripsikan wujud pengakuan adanya perbedaan yang mutlak antara manusia dan Tuhan, dan (3) mendeskripsikan wujud pengakuan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan.

Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literer berlandaskan teori sastra profetik yang berfokus pada teori transendensi. Data dalam kajian ini berupa narasi, deskripsi, dan dialog yang sesuai dengan teori transendensi dan kumpulan cerpenLukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri terbitan Kompas sebagai sumber datanya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi teks/dokumentasi dengan identifikasi, klasifikasi, dan pemberian kode. Siklus analisis dilakukan dengan cara pengumpulan data, pereduksian, penyajian data, interpretasi, verifikasi, dan penyimpulan. Tahap analisis ini didasarkan atas asas kecukupan dan kesesuaian dengan fokus kajian.

Dari kajian yang dilakukan, ditemukan bentuk transendensi. Pertama adalah  sikap fakirdalam wujud ketergantungan manusia kepada Tuhan yang bermakna pembatasan diri bahwa dalam hidup kebutuhan sejati hanyalah kepada Tuhan. Apapun dan siapapun yang berkait dan berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia, selama hal tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, maka itulah yang menjadi pusat perhatian. Kedua sikap takwa dalam menyikapi segala sesuatu sebagai bekal kesadaran dalam berusaha dan memutuskan pengambilan langkah. Ketiga sikap tawakal sebagai kepasrahan total terhadap hasil akhir. Apapun yang akan terjadi dan dialami, baik atau buruk, bukanlah hal yang penting karena yang utama adalah penghambaan kepada Tuhan. 

Fokus kajian kedua adalah wujud pengakuan adanya perbedaan mutlak antara manusia dengan Tuhan yang diwakili oleh sikap zuhud dan sabar. Zuhud didefinisikan sebagai sikap mengutamakan hal-hal yang arahnya mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu, sikap-sikap yang bertentangan dengan zuhud seperti mengharapkan materi yang lebih, mengharapkan penghormatan dari orang lain, dan pamrih akan pekerjaan yang telah dilakukan, melalui tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi selalu disisipkan sebagai peringatan agar tidak dilakukan. Di sisi lain ada sikap sabar sebagai bekal dalam menerima dan tidak mengeluh atas apa yang menimpa.

 

Wujud pengakuan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan merupakan fokus kajian ketiga. Dari fokus ketiga ini ditemukan sikap-sikap taubatan nasuha, wara’, dan ridha atau rida. Setiap individu yang hidup di dunia harus takluk pada ketentuan Tuhannya. Bahkan dalam hal kesalahan yang telah dibuatnya, Tuhan menetapkan peraturan untuk bersegera menyadari dan menyesali kesalahan tersebut dengan taubatan nasuha. Hal ini menunjukkan betapa Tuhan menyayangi manusia dengan tidak membiarkan kesalahan tanpa cara untuk menyelesaikan. Seperti yang dialami oleh tokoh Gus Jakfar, Mbah Joyo, dan Mbok Yem. Selanjutnya ada sikap wara’ yang bisa diartikan sebagai sikap meninggalkan keragu-raguan. Sikap tegas dipersyarati keyakinan akan keputusan yang diambil. Tentu saja dalam hal ini harus dilandasi dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai. Dengan hadirnya sikap wara’, diharapkan seseorang tersebut berlatih untuk lebih berhati-hati dan lebih memperdalam ilmu dan pengetahuan yang sudah dimiliki. Dari sikap taubatan nasuha dan wara’ pada fokus kajian ketiga ini, dibatasipada sikap ridha atau rida. Rida diartikan benar-benar rela dan ikhlas dengan apapun hasil yang diterimanya. Kesusahan atau kebahagiaan bukanlah masalah apabila seseorang menyadari konsep penghambaan kepada Tuhan. Karena memang pada hakikatnya semua bermula dan berakhir sesuai dengan kehendak Tuhan.