DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Pembelajaran Organisasional, Budaya Organisasi Sekolah, Kepemimpinan Terhadap Motivasi dan Perubahan Organisasional Dalam Peningkatan Kinerja SMAN di Jawa Timur. (Disertasi)

Bambang Setyadin

Abstrak


Secara strategis suatu organisasi bisa bertahan, berkompetisi, dan berorientasi global harus dapat memanfaatkan fungsi organisasinya dengan pembelajaran organisasional agar supaya terjadi perubahan organisasional yang pada muaranya dapat meningkatkan kinerja organisasi. Sekolah sebagai organisasi, agar bisa maju-berkembang sepatutnya melakukan konsolidasi diri dengan melakukan perubahan-perubahan organisasional. Untuk melakukan perubahan organisasional harus dimulai dari pembelajaran organisasional yang dibingkai dalam suasana kepemimpinan sekolah yang kondusif dengan tetap berpegang pada budaya organisasi sekolah. Selain itu juga harus meningkatkan motivasi para stakeholder sekolah yang pada akhirnya bisa melakukan perubahan organisasional sekolah dan pada ujungnya dapat meningkatkan kinerja sekolah.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hubungan multivariat pembelajaran organisasional, budaya organisasi, kepemimpinan sekolah, serta motivasi kerja personel sekolah dengan perubahan organisasional sekolah dan kinerja SMAN di Jawa Timur (Jatim). Selain itu juga untuk menjelaskan pengaruh faktor-faktor pembelajaran organisasional, budaya organisasi, kepemimpinan sekolah, terhadap motivasi kerja personel SMAN di Jatim.

Sebagai landasan untuk mengkonstruksi hipotesis penelitian digunakan Grand Theory Kurt Lewin (1922), dengan pendekatan Teori Kinerja, Teori Perubahan, Teori Motivasi, Teori Kepemimpinan, Teori Pembelajaran Organisasional, dan Teori Budaya Organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Luthans (1995), Sergiovanni (1991), Hanson (1991), Steers (1985), Robbins (1984), McClelland (1976), Senge, (1996), dan lain sebagainya. Berdasar atas upaya pencapaian tujuannya, desain penelitian ini merupakan causal explanation, yaitu bermaksud menjelaskan keterkaitan hubungan antar multivariat, sehingga akhir dari proses penelitian ini adalah menguji dan mengembangkan model hubungan multivariat tersebut.

Populasi penelitian ini adalah SMAN se Jatim yang berjumlah 329 sekolah dari 38 daerah Kota dan Kabupaten yang ditetapkan areanya. Jumlah sampel sekolah ditetapkan sebanyak 179 sekolah berdasarkan Tabel Krejcie dan Morgan. Sedangkan responden terdiri atas Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, Guru, Staf Administrasi, Murid dari 179 unit SMA, sehingga jumlah responden keseluruhannya adalah 895 orang. Untuk menentukan anggota sampel penelitian dilakukan berdasar jumlah sekolah dan murid sehingga dapat disebut Area Random Sampling.

Instrumen untuk mengumpulkan data penelitian adalah angket yang teruji validitas dan reliabilitasnya sebesar 0,685. Adapun unit analisis yang dijadikan dasar untuk pengolahan data adalah unit sekolah, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan Structural Equation Modeling (SEM).

Studi ini pada akhirnya menyimpulkan, bahwa: 1) Taraf Kinerja, Perubahan Organisasional, Motivasi Kerja, Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Pembelajaran Organisasional pada SMAN di Jatim termasuk dalam kategori ‘sedang' atau cukup, 2) Kinerja SMAN di Jatim hanya dipengaruhi secara langsung derajat motivasi kerja para personel sekolah dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh upaya pembelajaran organisasional dan situasi kepemimpinan yang kondusif berlatar budaya organisasi sekolah, 3) Perubahan organisasional SMAN di Jatim akan terwujud bilamana secara langsung ataupun tidak langsung ada upaya pembelajaran organisasional dalam situasi kepemimpinan yang berbasis budaya organisasi dan dilandasi oleh motivasi kerja para personel sekolah, 4) Upaya pembelajaran organisasional dan suasana kepemimpinan sekolah yang dilandasi langsung oleh budaya organisasi, berpengaruh langsung secara signifikan terhadap derajat motivasi kerja para personel SMAN di Jatim, 5) Budaya organisasi sekolah menjadi akar kultural bagi kepemimpinan SMAN di Jatim.

Atas dasar kesimpulan tersebut, peneliti menyampaikan rekomendasi kepada: 1) Para akademisi hendaknya mengembangkan teori kepemimpinan, budaya organisasi, pembelajaran organisasional, dan kinerja organisasi dalam perspektif dinamika organisasi yang memuat tahapan-tahapan prosesnya melalui praktik riset yang mendalam dan kritis terhadap asumsi-asumsi teoretiknya, 2) Para pejabat Depdiknas/Disdik Propinsi Jatim, hendaknya lebih memfokuskan pada peningkatan fungsi pelayanan kordinasi, mereduksi regulasi, memberi diskresi dan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi oleh SMAN di Jatim, 3) Para Kepala SMAN hendaknya menjabarkan visi dan misinya ke dalam rencana kerja, beserta parameter keberhasilannya, sehingga para personel sekolah memahami dan tergerak untuk bertanggung jawab secara kolektif; 4) Para stakeholder sekolah, agar supaya membangun kesadaran kolektif untuk pro aktif dalam memajukan dan mengembangkan sekolah berbasis budaya lokal dengan mendarmabhaktikan dana, tenaga, dan pikiran kepada sekolah, khususnya demi masa depan anak bangsa

 

Keywords: organizational change, performance, organizational learning, leadership, organization culture, working motivation.

Abstract:

Any organization willing to survive, compete and be globally oriented should take advantages from its organizational functions by applying organizational learning in order to gain significant organizational change which, in the end, will improve its performance. School as an organization, should consolidate by undergoing organizational changes in order to keep growing.

Organizational changes should start with organizational learning under a good school leadership environment while still hold the underlying school's organizational culture. In addition, it is important to improve school's stakeholders' motivation that will maintain organizational change and improve school's performance in the end.

This research aims at describing and explaining multivariate relationships among organizational learning, organizational culture, organizational leadership, and school personnel with school's organizational change and High School performance in East Java. In addition, this research also aims at explaining the influence of organizational learning factors, organizational culture and school leadership to High School personnel motivation in East Java.

Kurt Lewin's Grand Theory (1922) is used as foundation to construct research hypothesis by using the following approaches, Performance Theory, Change Theory, Motivation Theory and Organizational Culture Theory as explained by several experts such as Luthans (1995), Sergiovanni (1991), Hanson (1991), Steers (1985), Robbins (1984), McClelland (1976), Senge (1996) and others.

Based on how it achieves its goal, this research design is causal explanation, which means it is concerned with relationships among multivariate, and at last it suggests that the end of this research is to test and develop such multivariate relationship models.

Research population is 329 High Schools in East Java, located in predefined 38 cities and regencies. After applying Krejcie and Morgan Table, It is decided that the total of sample is 179 high schools, while respondents comprised headmasters, heads of school committee, teachers, administration staffs and students from 179 high school units, which means that the sum of resii pondents is 895 people. To determine member of the research sample, this research uses Area Random Sampling based on the sum of schools and students.

Instrument used in this research is questionnaire with validity and reliability of 0.685, while analysis unit used as the foundation of data processing is school unit, and data analysis technique is descriptive statistics and Structural Equation Modeling (SEM).

In the end, this research concludes that: 1) Performance level, organizational change, working motivation, leadership, organizational culture and organizational learning in High schools in East Java fall into ‘middle' or adequate category, 2) Performance of High schools in East Java is only influenced directly by the degree of school personnel's working motivation and indirectly influenced by organizational learning and conducive leadership environment within school's organizational culture, 3) Organizational change of High schools in East Java will be achieved both directly and indirectly when there is organizational learning effort within an organizational culture based leadership situation and based on school personnel working motivation, 4) Organizational learning effort and school leadership situation based on organizational culture directly influence the degree of working motivation of High school personnel in East Java in significant manner, 5) School organizational culture is the cultural root of High school leadership in East Java.

Based on the stated conclusion, the researcher recommends the following points: 1) Scholars should develop leadership, organizational culture, organizational learning, and organizational performance theory in organizational dynamic perspective which include their process phases through indepth and critical research against theoretical assumptions, 2) The officials of National Education Department of East Java should focus more on the betterment of coordination service function, reduce regulation, provide discretion and solution to whatever problems faced by High schools in East Java, 3) Headmasters should details their vision and mission in their planning, including success parameters, in order to make school personnel understand and encouraged to take responsibility collectively, 4) School stakeholders should build collective awareness to actively promote and develop local culture based school by contributing funds, efforts and thoughts to headmaster, specifically for the sake of pupils' future.