DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Piranti Estetika dan Nilai Pendidikan Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila Karya Kiai Bisri Musthofa

Moh. Ahsan Shohifur SuyetnRizal

Abstrak


ABSTRACT

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bagian  ini dipaparkan lima hal, yakni (1) konteks penelitian, (2) fokus penelitian, (3) kegunaan penelitian,  (4) metode penelitian dan (5) landasan teori. Kelima hal tersebut dipaparkan berikut ini.

1.1       Konteks Penelitian

Dalam praktek kegiatan belajar mengajar, pondok pesantren kaya dengan produk sastra. Sastra pesantren mempunyai ragam bentuk misalnya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, singir, nadhaman merupakan hasil karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama sangat mendominasi proses penciptaan, penurunan, dan atau pemasyarakatan singir sebab para ulama sebagai pemimpin agama sekaligus pengasuh para santri mengajarkan agama lebih dekat dengan nadzam, singir, dan sastra kitab daripada tembang geguritan dan panembrama sebagai tradisi sastra Jawa (Muzakka, 2002:2).

Singir sebagai produk tradisi, Wiliam (dalam Budiman, 2002:2) menyatakan bahwa singir dipengaruhi berbagai komponen tradisi, antara lain: pola pemikirannya, institusi dan perilaku manusia yang membentuknya. Secara material, singir merupakan produk tradisi yang bentuknya berupa teks lisan. Teks tersebut merupakan rekaman verbal dari berbagai tradisi komunitas penuturnya, yakni: gagasan, perilaku dan sikap sosial komunitas. Singir tidak hanya memuat nilai dan gagasan artistik maupun intelektual manusia, tetapi juga merekam berbagai perilaku hubungan dengan sesama maupun dengan institusi-institusi sosialnya. 

Hadirnya singir menurut Basuki (1988) bertolak dari khazanah sastra pesantren yang merupakan genre sastra Jawa sebab menurutnya tradisi sastra pesantren memiliki perbedaan yang sangat menonjol dibandingkan dengan genre sastra Jawa yang lain. Adapun perbedaannya dengan jenis sastra yang lain tampak dalam ciri-ciri sastra pesantren yang dikemukakannya yakni (1) lahir dan berkembang di kalangan pondok pesantren atau masyarakat santri, (2) bersumber pada Alquran, hadits, sirat Nabi, dan berbagai cerita dalam Islam, (3) muncul sesudah tahun 1800-an, (4) menggunakan bahasa Jawa Baru yang diselang-seling dengan bahasa Arab, (5) menggunakan huruf Arab yang dilengkapi dengan tanda baca atau syakal, dan (6) penyebarannya melalui tulisan dan lisan.

Membaca kembali nilai dan tradisi pesantren, sebagai lembaga keagamaan yang syarat nilai dan tradisi luhur yang menjadi karakteristik pesantren pada hampir seluruh sejarahnya. Secara potensial, karakteristik tersebut memiliki peluang cukup besar dijadikan sebagai pijakan dalam rangka menyikapi globalisasi serta persoalan-persoalan khusus dan umum. Persoalan yang muncul terutama pada nilai kemandirian, keikhlasan, kesederhanaan, ketiga hal itu merupakan nilai-nilai yang dapat melepaskan dari dampak globalisasi (A’la, 2006:9).

Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama sangat mendominasi proses penciptaan, pengajaran, dan pemasyarakatan singir. Kehadiran singir di  kalangan  masyarakat santri  tidak  terlepas  dari fungsinya  sebagai sarana atau alat pembelajaran di lingkungan masyarakat santri, yakni dijadikannya bentuk singir sebagai buku teks dalam proses pembelajaran di pesantren, dari pelajaran etika/akhlak, tauhid, fiqih, sejarah, hingga  pengajaran  bahasa Arab  dan  berbagai  cabang  ilmu  bahasa  yang terkait (Muzakki, 2006:3).

Hal demikian, proses pembelajaran tidak hanya ta’lim aqidah was syariah, juga mengajarkan ta’lim ilmi was tsaqofah, ta’lim adab wal hadoroh. Artinya pembelajaran tidak sekedar mengajarkan aqidah dan syariah, tetapi mengajarkan konteks budaya tulis sastra yang dihasilkan oleh ulama dengan cara memelihara, mengembangkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai dedikasi (adhiluhung) yang terinskripsi di dalamnya. Hasil kreativitas budaya tulis masyarakat pesantren salah satunya adalah singir. Meskipun populasinya cukup banyak, kehadiran singir dalam khazanah sastra masih jauh dari perhatian  pakar sastra. 

Sastra lama pada hakikatnya merupakan sastra-sastra daerah. Semua sastra daerah mempunyai sifat yang khas, aksara yang khas, bahkan bahan-bahan tulisan yang khas (Ikram, 1997:30-31). Dengan  memelihara naskah, dalam konteks ini adalah memelihara singir yakni menelaah nilai estetika dan pendidikan yang terinskripsi di dalam teks. Karena singir mempunyai konteks pemikiran future, artinya singir ditulis syarat dengan sumber–sumber Islam yakni Alquran, Hadis juga Ijtihad sehingga makna atau pesan dalam singir dapat digunakan  dengan konteks kehidupan sekarang, meskipun teks singir itu telah ditulis sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Beberapa ulama Nusantara yang terkenal kharismatik, kealiman ilmunya, beliau juga sangat produktif menulis, adalah Kiai Bisri Musthofa merupakan satu di antara sedikit ulama Islam Indonesia yang memiliki karya besar. Beliaulah sang pengarang kitab tafsir al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz. Kitab tafsir ini selesai beliau tulis pada tahun 1960 dengan jumlah halaman setebal 2270 yang terbagi ke dalam tiga jilid besar.

Karya-karya lain yang dihasilkan Kiai Bisri Musthofa, dan tidak hanya mencakup bidang tafsir saja tetapi juga bidang-bidang yang lain seperti tauhid, fiqh, tasawuf, hadits, tata bahasa Arab, sastra Arab, puisi jawa (singir) bertuliskan aksara Arab-Pegon dan lain-lain. Pemikiran Kiai Bisri Musthofa sangat kontekstual selalu disesuaikan dengan konteks waktu kondisi yang melatarbelakanginya serta mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudharatan bagi ummat pada umumnya (Huda, 2005: 60-61).

Selain itu, Kiai Bisri Musthofa termasuk orang yang sangat memprihatinkan kondisi kemerosotan moral generasi muda. Melalui karya-karyanya di bidang akhlak itulah Kiai Bisri Musthofa menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada generasi muda. Dalam kitab berbahasa Jawa Washoya Abaa li al-Abna, misalnya, Kiai Bisri memberikan tuntunan-tuntunan seperti sikap taat dan patuh kepada orangtua, kerapihan, kebersihan, kesehatan, hidup hemat, larangan menyiksa binatang, bercita-cita luhur dan nasihat-nasihat baik lainnya. Dengan demikian, singir merupakan media pembelajaran yang tepat untuk mengajak ummat pada amal kebajikan.

Naskah-naskah di Nusantara mengemban isi yang sangat kaya. Kekayaan itu dapat ditunjukkan oleh aneka ragam aspek yang dikemukakan, misalnya masalah sosial, politik, kebudayaan, agama, bahasa dan sastra (Baried, 1985:4). Jadi naskah mempunyai muatan nilai didaktis, religius dan belletri, jika dilihat dari pengungkapannya secara historis. Dalam kajian ini, peneliti berupaya untuk menelaah nilai estetika dan pendidikan yang terinskripsi dalam naskah Singir ngudi susila dan mitera sejati karya Kiai Bisri Musthofa.

Sastra tradisi pesantren (singir) menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat dengan orang-orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Sehingga makna yang terinskripsi pada singir berusaha menggambarkan dunia dan kehidupan manusia melalui kriteria utama yakni "kebenaran" penggambaran, atau yang hendak digambarkan.

Sastra merupakan karya fiksi hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan, yang mampu mengungkapkan aspek-aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna. Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk  mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Sastra lahir akibat dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap  realitas yang berlangsung sepanjang zaman. Selain itu, karya sastra muncul  dari  sesuatu yang menjadikan pengarang mempunyai rasa empati pada suatu peristiwa yang ada di dunia ini. Sastra yang dilahirkan dari para sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasaan estetik dan intelek bagi orang lain atau pembaca.

Atmazaki (1990:24) menyatakan sebagai ciri sastra adalah sastra tidak sekedar bahasa yang dituliskan dan diucapkan, ia tidak sekedar permainan bahasa. Akan tetapi bahasa yang mengandung makna lebih. Sastra menawarkan nilai-nilai yang dapat memperkaya rohani dan meningkatkan mutu kehidupan. Sastra juga memberi peluang kepada manusia untuk mempermasalahkan kehidupan sehingga memunculkan gagasan baru yang bermakna. Sastra juga mampu memenuhi hasrat manusia untuk melakukan perenungan (kontemplasi). 

Fungsi sastra adalah dulce et utile yakni indah dan bermanfaat atau berguna. Keindahan tersebut bisa terlihat dari bahasanya, strukturnya yang memang diperhitungkan yang bersifat imajinatif, reflektif, dan impresif (Wellek, 1956: 29-30). Keindahan yang terkandung dalam sastra didominasi oleh gaya bahasa. Aspek-aspek lain yang terkandung dalam komposisi, seperti keseimbangan susunan alenia, bab, dan sub-bab, susunan bait dalam puisi, keseimbangan antara dialog dengan improvisasi dalam drama, nada dan irama suara tukang cerita dalam dongeng (Ratna, 2011:141).

Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila terdapat estetika yang kompleks seperti estetika karya sastra pada umumnya meliputi keseimbangan gaya bahasanya, estetika antar baitnya juga rima pada singir tersebut. Karya sastra khususnya singir, memuat ajaran-ajaran serta nilai-nilai pendidikan (adiluhung) yang bersifat mendidik (piwulangan). Hal tersebut senada dengan Sedyawati  (2001:138) yang menyatakan bahwa setiap karya sastra Jawa (singir) mengandung banyak teladan, kegunaan dari budi  pekerti  manusia, dalam kriteria ini terutama bagi orang muda dan anak-anak.

Mahayana (2005:58-59) karya sastra baru akan bermakna jika ada pembacanya. Mengingat pengarang dan pembaca mempunyai peranan tersendiri yang saling melengkapi. Pembaca diajak untuk terlibat dalam wacana sastra yang bersangkutan, sekaligus juga dipaksa untuk memahaminya mengingat pembaca tidak disuguhi hiburan murahan dan tidak terganggu oleh pesan pengarang yang disampaikan secara tersurat, pembaca tidak hanya memperoleh kenikmatan estetik, melainkan juga kekayaan intelek dan kedalaman wawasan nilai moral.

Singir termasuk karya sastra yang mempunyai fungsi. Muzakka dkk. (2002) menemukan tiga fungsi utama singir, yakni fungsi hiburan, pendidikan dan pengajaran, dan spiritual. Fungsi hiburan muncul karena hadirnya singir berbentuk nadhom sehingga cara membacanya bisa dilagukan dengan lagu-lagu paada syair; fungsi pendidikan dan pengajaran bisa memberikan pengetahuan pendidikan, singir juga digunakan sebagai media pembelajaran di lingkungan pondok pesantren. Fungsi spiritual muncul karena sebagian besar singir diberlakukan penggunaannya semata-mata sebagai upaya penghambaan diri (ibadah) kepada Tuhan yakni untuk mengajegkan (mengistiqomahkan) rasa keimanan dan ketakwaan juga sebagai kontrol kehidupan di dalam masyarakat secara luas. Fungsi-fungsi singir di atas saling terkait satu dengan yang lain, ada penekanan tersendiri dalam fungsi singir yakni untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (taqarrub ilallah) dan berkontribusi sebagai sumber pengetahuan dengan cara sangat menyenangkan yakni dengan terbentuknya unsur dedactic heresy. 

 Singir yang terdapat di masyarakat Jawa digunakan sebagai media dakwah oleh wali sanga untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan sehingga ajaran Islam mudah diterima, dihayati, dan dipeluk oleh masyarakat Jawa pada kala itu. Selain Singir sebagai media dakwah, singir juga berfungsi sebagai instrumen pembelajaran di pesantren salafiyah untuk memahami pelbagai kitab untuk disingirkan atau dinadhomkan sehingga para santri lebih mudah menghafal matan (mata pelajaran).

Hal ini  dapat dipahami sebab singir mengandung banyak manfaat untuk anak-anak, karena Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila tidak hanya memunculkan estetika tetapi juga syarat dengan nilai pendidikan. Hal demikian yang menjadi fokus kajian pada nilai estetika dan pendidikan.

Penelitian nilai estetika dan pendidikan Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan. Penelitian sejenis yang pernah dilakukan adalah tesis oleh Yuli Widiyono yang berjudul Nilai Estetika dan Pendidikan dalam serat Wulangrah Karya Sri Susuhan Pangkubuwonno IV. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2010. Menjelaskan bahwa nilai-nilai dalam serat Wulangrah Karya Sri Susuhan Pangkubuwonno IV terdapat nilai estetika dan pendidikan.

Selanjutnya, Muhamad Burhanudin, 2002 dalam skripsinya yang berjudul ”Singir Erang-erang Sekar Panjang (tinjauan struktural semiotik)”. Hasil dari penelitian ini adalah teks Singir Erang-erang Sekar Panjang dibangun oleh unsur struktur puisi, yang terdiri atas lapis bunyi, lapis arti, dan lapis dunia yang digambarkan pengarang yang menimbulkan makna-makna tertentu. Makna yang didukung oleh unsur struktur berupa makna ekspresi emosional, penegasan, kegembiraan dan penderitaan. Secara keseluruhan makna yang terdapat dalam Singir Erang-erang Sekar Panjang adalah ajakan kepada manusia untuk mencari bekal hidup di akhirat, karena manusia akan mengalami tahapan perjalanan hidup (di dunia), mati dan hidup lagi (alam akhirat).

Selanjutnya, Moh. Muzakka dkk. (2005) dalam penelitian dosen muda yang berjudul Transformasi Puitika Arab dalam Sastra Jawa Kajian terhadap Singir Tajwid. Hasil dari penelitian ini adalah hasil kajian intertekstual menunjukkan bahwa teks singir tajwid merupakan teks dari nadzam tuhfatul ’athfal.

1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, fokus dalam penelitian ini adalah piranti estetika dan nilai pendidikan yang terinskripsi dalam naskah singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa. Piranti estetika bentuk singir meliputi diksi, majas, bahasa figuratif, rima dan perulangan bunyi. Kemudian untuk nilai pendidikan meliputi nilai pendidikan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan alam atau lingkungan. Fokus penelitian tersebut dirinci sebagai berikut:

(1)        piranti estetika naskah Singir Mitera Sejati dan  Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa .

(2)        nilai pendidikan naskah Singir Mitera Sejati dan  Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa .

1.3 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan kegunaan teoretis dan praktis sebagai berikut:

(1)        Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, manfaat yang diperoleh setelah mengkaji piranti estetika dan nilai pendidikan naskah singir Mitera Sejati  dan Ngudi Susila dapat mengetahui, menelaah, dan memberikan sumbangan untuk perkembangan teori-teori sastra khususnya stilistika dan sosiologi sastra.

 

 

(2)Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah cakrawala dan memberikan informasi secara detail mengenai piranti estetika dan pendidikan yang terkandung dalam naskah Mitera Sejati dan Singir Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa sebagai bahan pembelajaran latihan menyusun singir modern di pondok pesantren dan dapat digunakan sebagai metode menghafal nadhom atau matan kitab-kitab yang diajarkan di pesantren. Bagi peneliti selanjutanya dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan inspirasi untuk menghasilkan kajian baru.

1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian ini memaparkan lima bagian, yakni (1) pendekatan dan jenis penelitian, (2) data dan sumber data, (3) instrumen penelitian, (4) prosedur pengumpulan data, (5) teknik analisis data (6) pengecekan keabsahan temuan dan (7) tahap tahap penelitian.

1.4.1  Pendekatan dan Jenis Penelitian          

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah stilistika dengan cara  menganalisis sistem linguistik karya sastra dan dilanjutkan dengan menginterpretasi ciri-cirinya, dilihat dari tujuan estetis karya sastra sebagai keseluruhan makna. Pendekatan tersebut digunakan untuk  mengkaji  penggunaan diksi, majas, bahasa figuratif, rima dan pengalangan bunyi dalam singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode hermeneutika, yakni studi pemahaman, khususnya tugas pemahaman teks. Kajian hermeneutik berkembang sebagai sebuah usaha untuk menggambarkan pemahaman teks, lebih spesifik pemahaman historis dan  humanistik.

Dengan demikian, hermeneutik mencakup dalam dua fokus perhatian  yang berbeda dan saling berinteraksi yakni; (1) peristiwa pemahaman teks (2) persoalan yang mengarah mengenai apa pemahaman interpretasi (Palmer,1969: 8).

Jenis penelitian ini adalah penelitian analisis teks. Penelitian ini akan menganalisis teks yang terkandung dalam sebuah karya sastra dalam hal ini Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila dengan menggunakan sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan fokus analisis, yakni piranti estetika dan nilai pendidikan. Penelitian ini mendeskripsikan apa yang menjadi fokus penelitian, kemudian menganalisis dan menafsirkan data yang ada.

1.4.2 Data dan Sumber Data

Sumber data ini berbentuk artefak yang ditulis menggunakan aksara Arab-Jawa (pegon) berbahasa Jawa. Agar memudahkan pemerolehan data penelitian dan penelitian selanjutnya, maka dilakukan transliterasi ke Latin yakni bahasa Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan dapat diperoleh data pemahaman yang mencukupi dan mendalam sesuai dengan kebutuhan penelitian. Selanjutnya, data tersebut layak dianalisis dalam rangka menemukan nilai estetika dan pendidikan. Sumber data dalam penelitian ini berupa Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa diterbitkan dari Menara Kudus Jawa Tengah. Adapun deskripsi naskah yang dijadikan sebagai sumber data sebagai berikut.

1.         Naskah Singir Mitera Sejati

(a)        ukuran             : 18 x 13 cm

(b)        aksara              : huruf Arab-Pegon

(c)        tebal                : 8 halaman

(d)       iluminasi          : lembaran bagian luar naskah Singir Mitra Sejati berwarna dasar merah muda dengan kombinasi warna merah. Pada bagian atas terdapat tulisan “Mitra Sejati” yang ditulis tebal dan menggunakan tinta warna hijau. Di bawah tulisan “Mitra Sejati” terdapat tulisan “Nerangake ing Bab Budi Pekerti” serta tulisan “kaangkat deneng pikir ilaih ta’ala”. Selanjutnya terdapat tulisan “Kiai Bisri” dan terdapat tulisan “Rembang” di bawahnya. Di setiap pojok halaman sampul terdapat hiasan berupa ukiran berwarna hijau.

(e)        kertas               : kertas Belanda

(f)        pengarang        : Kiai Bisri Musthofa

(g)        kondisi                        : cukup baik, masih jelas untuk dibaca

(h)        isi (content)     : bab kamangnusan meliputi sikap anak marang bapak, sikap anak marang ibu, sikap rakyat marang pemerintah, sikap murid marang guru, sikap kita marang kanca, wernane tata krama, adabe ngerungoake guneman wong, tata kramane guneman, tatacarane sesrawungan kang bagus, ngerekso awak dan tata kramane mangan. Selanjutnya bab sandangan, omah lan kamar, kuwajiban wong adhi wasa, bab ghemi,ziarah lan tata krama, tilik wong lara, takziyah wong kepaten, walimahan, kemajuan lan kemajuan dan kewajiban wong tuwo.

2.         Naskah Singir Ngudi Susila

(a)        ukuran naskah             : 10 x 14,8 cm.

(b)        tahun terbit                  : 1952 M

(c)        ciri fisik naskah           : baik

(d)       aksara                          : Arab-Jawa (Pegon)

(e)        tebal                            : 16 halaman

(i)         hiasan/iluminasi           : lembaran luar pada naskah “Singir Ngudi Susila” berwarna dasar coklat. Pada bagian atas terdapat tulisan “singir” yang ditulis tebal dan menggunakan tinta warna hitam. Di bawah tulisan “Singir” terdapat tulisan “Ngudi Susila Saka Pithedah Kanthi Terwela” serta tulisan “dhining”. Selanjutnya terdapat tulisan “Kiai Bisri Musthofa” dan terdapat tulisan “ala nafaqoh” di bawahnya. Serta disebelah pojok kiri terdapat gambar Menara Kudus.

(f)        kertas                           : kertas Belanda

(g)        pengarang                    : Kiai Bisri Musthofa

(h)        penerbit                       : Menara Kudus

(i)         jenis sumber data        : naskah          

(j)         isi (content)                     : Singir Ngudi Susila di bagi menjadi delapan bab yakni bab meluangkan waktu, ketika proses belajar mengajar, pulang dari sekolah, berada di rumah, dengan guru, ketika ada tamu, sikap dan tingkah laku dan cita-cita luhur.

1.4.2.1 Pedoman Transliterasi Arab-Jawa Pegon

Hasil penerjemahan harus mencerminkan isi teks yang terinskripsi di dalamnya. Lubis (2001:81-82) menyatakan terjemahan yang baik adalah terjemahan yang mampu melukiskan apa yang ingin dikatakan oleh teks yang diterjemahkan ke dalam kalimat yang indah dan mampu mengekspresikan substansi teks sebagai bahasa aslinya. Ada tiga jenis terjemahan teks yaitu:

a) Terjemahan lurus: terjemahan kata demi kata, dekat dengan aslinya, berguna untuk membandingkan segi-segi ketatabahasaan.

b) Terjemahan isi: kata-kata yang diungkapkan dalam bahasa sumber diimbangi salinannya dengan kata-kata bahasa sasaran yang sepadan.

c) Terjemahan bebas: keseluruhan teks yang ada dalam bahasa sumber dialihkan dalam bahasa sasaran secara bebas.

Dalam penelitian naskah singir mitera sejati (MS) dan ngudi susila (NS) ini menggunakan cara penerjemahan bebas. Namun mengingat teks yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk singir, dengan demikian terjemahan bebas akan mempermudah pembaca dalam memahami isi teks.

Wurianto (2000:74-75) dalam melakukan transliterasi perlu mengikuti pedoman yang harus diperhatikan. Berikut disajikan tabel tentang pedoman transliterasi.

1.4.2.2 Bacaan Aksara Arab

 

Transkripsi dan transliterasi adalah proses untuk mempermudah pengumpulan data dikarenakan sumber data berasal dari naskah singir yang ditulis menggunakan aksara Arab-Jawa (Pegon). Bacaan aksara Arab yang terdapat pada singir akan ditrasliterasi ke bahasa Latin yakni Bahasa Indonesia sesuai dengan pedoman pada tabel berikut.

 

Tabel 1.1 Tabel bacaan huruf arab dan cara membaca dan menulis dalam transliterasi

 

AKSARA       Nama Huruf    Huruf Latin

Akhir   Tengah            Awal   Berdiri sendiri            

اـ           اـ           ا           ا           Alif      a

ﺏـ         ﺑـ          ﺒ           ب         Ba        b

ﺕـ         ﺘــ          ﺗ           ت         Ta        t

ﺙــ        ﺛــ          ﺜ           ٽ         Tsa       ts

ﺝ          ﺟــ        ﺠ          ج          Jim       j

ﺡ          ﺣــ        ﺤ          ح          Ha       h

ﭺ          ﭼــ        ﭽ          چ          Ca        c

ﺥ          ﺧــ        ﺨ          خ          kha      kh

ﺩـ             ﺪـ       ﺪ           د           Dal      d

ﺪـ          ﺪـ          ڎ           ڎ           ḍa        ḍ

ﺫـ          ﺬـ         ﺬ           ذ           Dzal     dza

ﺭـ         ﺮـ         ﺮ          ر          Ra        r

ﺯـ         ﺰـ         ﺰ          ز          Za        z

ﺱـ        ﺳــ        ﺴ          س         Sin       s

ﺵـ        ﺷــ        ﺸ          ش         Syin     sy

ﺹـ       ﺻــ       ﺼ         ص        ṣad       ṣ

ﺽـ       ﺿــ       ﻀ         ض        dhad    dh

ﻁـ         ﻃــ        ﻄ          ط          Tho      th

ﻈـ         ﻅــ        ﻇ          ڟ          ṭa         ṭ

ﻇـ         ﻈــ        ﻆ          ظ          Dzo     dz

ﻊ          ﻌ           ﻋ          ع          Ain      ‘a

ﻎ          ﻐ           ﻏ          غ          Ghoin  gh

ـڠ         ـڠـ        ڠ          ڠ          Nga     ng

ﻒـ        ﻔــ          ﻓ           ف         Fa        f

ﭫـ        ﭭــ          ﭬ           ڤ         Pa        p

ﻕـ         ﻘــ          ﻗ           ق          Qaf      q

ـك         ـكـ        كـ         ك          Kaf      k

ـڬ         ـڬـ        ڬـ         ݢ         Ga       g

ﻝـ         ﻟــ          ﻠ           ل          Lam     l

ﻡـ          ﻣـــ        ﻤ           م           Mim     m

ﻦـ         ﻨـــ         ﻧ           ن          Nun     n

ـڽ         ـڽـ         ڽـ         ڽ          Nya     ny

ﻭـ          ﻮـ              ﻮ      و          Wau     w

ـھ          ـھـ         ھـ          ه           Ha       h

ﻲ          ﻴـــ         ﻳ           ي          Ya       y

 

 

Tabel 1.2 Tanda Bunyi

 

1.4.3 Instrumen Penelitian     

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrumen). Peneliti sebagai instrumen utama merupakan panduan pengumpul dan penganalisis. Menggunakan panduan penngumpul dan analisis data piranti estetika dan nilai pendidikan. Peneliti berperan aktif mulai tahap perencanaan, pelaksanaan penelitian yang melibatkan kegiatan pembacaan, pengklasifikasian, pengkodean, penganalisisan, penafsiran, dan penyimpulan hingga pelaporan. Instrumen pendukung berupa tabel deskriptor data, tabel kategori dan kodifikasi. Tabel ini digunakan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data.

1.4.4  Pengumpulan Data       

Teknik pengumpulan data yang  dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik perpanjangan membaca, yakni pengambilan data dari sumber-sumber tertulis oleh peneliti dalam rangka memperoleh data beserta konteks lingual dan sastra serta ajaran untuk dianalisis. Perpanjangan membaca dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mencatat bagian-bagian larik singir yang memperlihatkan bentuk piranti estetika dan nilai pendidikan. Piranti estetika meliputi penggunaan diksi, majas, bahasa figuratif, dan rima. Selanjutnya nilai pendidikan terdapat nilai pendidikan yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan alam atau lingkungan dalam naskah singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila Karya Kiai Bisri Musthofa. Hasil perpanjangan membaca kemudian dicatat sebagai data yang  dimasukkan dalam tabel pengunpul data. Dalam data  yang  dicatat  itu  disertakan  kode sumber datanya untuk mengecek ulang terhadap sumber data ketika  diperlukan dalam rangka analisis data.

1.4.5 Analisis Data

Data yang didapat dari hasil perpanjangan membaca merupakan data  mentah yang harus diolah supaya diperoleh suatu data yang siap disajikan  menjadi hasil dari suatu penelitian. Analisis yang digunakan untuk menganalisis naskah singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila Karya Kiai Bisri Musthofa menggunakan dua pendekatan yakni stilistika dan sosiologi sastra. Pendekatan stilistika untuk menganalisis piranti estetika yang meliputi penggunaan diksi, majas, bahasa figuratif, rima dan peulangan bunyi. Sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis nilai pendidikan yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan alam atau lingkungan.

1.4.6 Pengecekan Keabsahan Temuan             

Pengecekan keabsahan temuan dilakukan agar hasil analisis dan interpretasi data dapat dipertanggungjawabkan kesahihan dan validitasnya. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan melalui tahapan membaca secara mendalam dan menelaah berkali-kali data yang sudah terkumpul sehingga diperoleh data piranti estetika dan nilai pendidikan dalam naskah Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila. Besar kemungkinan unsur subjektif akan membiasi hasil penelitian ini. Untuk menghindari hal tersebut (Moleong, 2008:327) memformulasikan 10 teknik pemeriksaan data dengan empat kriteria yakni kredibilitas, kepastian, kebergantungan dan kepastian. Peneliti menggunakan empat teknik dengan  kriteria kredibilitas, yakni ketekunan pengamatan, kecukupan referensi, pengecekan sejawat melalui diskusi, dan trianggulasi.

            Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri dan unsur dalam situasi yang sangat relevan secara terus-menerus terhadap piranti estetika dan nilai pendidikan dalam naskah Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila karya Kiai Bisri Musthofa. Dengan demikian, diharapkan data tentang piranti estetika dan nilai pendidikan yang terdapat dalam naskah Singir Mitera Sejati dan Ngudi Susila ada kesesuaian.

            Kecukupan referensi dilakukan dengan cara membaca dan menelaah sumber data dan berbagai pustaka yang relevan dengan fokus penelitian secara berulang-ulang agar diperoleh pemahaman makna yang memadai.