DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peran Guru Geografi pada Pembinaan Olimpiade Sains Nasional di SMA Darul Ulum 2 Jombang Unggulan BPPT Cambridge International School (CIS) ID 113 Dalam Perspektif Konstruksionistik

heris hulay fitern

Abstrak


ABSTRACT

 

Abstrak: Guru memiliki peran penting dalam pembelajaran dan pengembangan  siswa, seperti dalam menentukan kesuksesan siswa dalam olimpiade sains nasional. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan pola pembinaan guru geografi olimpiade sains nasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi penelitian ini di SMA Darul Ulum 2 Jombang, subjek penelitian adalah guru geografi, wakil kepala sekolah bidang pengembangan dan siswa peraih medali emas, data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan riset ini menunjukan bahwa yang pertama pola  pembinaan di SMA 2 Darul Ulum Jombang dimulai dari Perencanaan yaitu pembentukan tim olimpiade, persiapan materi dan soal, Persiapan sarana prasarana, pembentukan jadwal pembinaan. Pelaksanaan meliputi (1) Pemberian angket minat (2) Tes pengetahuan umum (3) Tes wawancara (4) Pleno (4) Pembinaan (5) Olimpiade Sains Kabupaten (6) Olimpiade Sains Provinsi (7) Olimpiade Sains Nasional. Pengawasan dilakukan oleh semua pihak, dan  evaluasi dilakukan pada setiap keikutsertaan siswa dalam suatu ajang.

Kata Kunci: Pola Pembinaan, Olimpiade Sains Nasional

Abstract: Teachers have an important role in the learning and development of students, such as in determining the success of students in the National Science Olympiad. This study was conducted to explain the pattern formation geography teacher National Science Olympiad. This study uses a qualitative method. The location of this study in SMA Darul Ulum 2 Jombang, the research subjects were geography teacher, vice principal and student development field gold medalist, the collected data were analyzed using data reduction, data presentation and conclusion. The findings of this research shows that the first pattern formation in SMA 2 Darul Ulum Jombang starting from planning the establishment of the Olympic team, the preparation of materials and matter, Preparation of infrastructure, formation coaching schedule. Implementation includes (1) administration of questionnaires interest (2) the general knowledge test (3) Test the interview (4) Plenary (4) Coaching (5) District Science Olympiad (6) Olympics Provincial Science (7) of the National Science Olympiad. Supervision is done by all parties, and an evaluation performed on each student's participation in an event.

Key Words: patterns of development, National Science Olympiad

Peningkatan mutu pendidikan akan menjadi tantangan bagi pembangunan pendidikan di tanah air. Kegiatan pendidikan mempunyai tujuan meningkatkan mutu pendidikan, bentuk kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik, telah disusun dan dijabarkan dalam bentuk progam dan dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi, baik di tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, nasional dan internasional. Kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut meliputi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Lomba Karya Jurnalistik siswa (LKJS), Olimpiade Sains Nasional (OSN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), dan Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR)

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan sebuah perhelatan besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang diselenggarakan setiap tahun sejak 2002. OSN memiliki arti penting sebagai ajang prestasi pencapaian mutu pendidikan nasional, dan menjadi referensi bagi upaya-upaya penjaminan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Bagi para siswa dan guru, OSN menjadi wadah yang menarik dan menantang untuk mencapai prestasi terbaik dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meraih kesempatan untuk mengikuti olimpiade serupa di tingkat internasional. Kesempatan untuk mengikuti OSN terbuka bagi semua anak negeri dan guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di berbagai pelosok tanah air, tanpa ada batasan asal sekolah maupun jalur pendidikan.

 Olimpiade sains nasional dimulai sejak tahun 2002. Pada bulan Mei 2016 telah diselenggarakan Olimpiade Sains Nasional di Palembang, Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, upacara penutupan dan Penganugerahan Medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2016 dihelat di Palembang Sport and Convention Center (PSCC). Jawa Tengah sebagai juara umum OSN 2016 di Palembang. Jawa Tengah untuk 10 kalinya secara berturut-turut berhasil menjadi juara umum OSN. Provinsi Jawa Tengah total meraih 18 medali emas, 21 medali perak, dan 26 perunggu. Peringkat kedua ditempati provinsi DKI Jakarta dengan perolehan 16 medali emas, 33 perak, dan 33 perunggu. Peringkat ketiga ditempati provinsi Jawa Barat.

Jawa timur menempati urutan keempat dalam OSN 2016 dengan 12 emas, 18 perak, 14 perunggu. Salah satu sekolah penyumbang emas dalam olimpiade sains nasional 2015 adalah SMA Darul Ulum 2 Jombang. Peraih medali emasnya adalah Muhammad Rais Akbar. Rais berhasil meraih medali emas dibidang geografi. Sekolah ini memang sering meraih prestasi di tingkat nasional, untuk OSN Tahun 2015  yang lalu SMA Darul Ulum 2 Jombang juga berhasil menyumbangkan medali emas yang diraih oleh Inka Novita Dinia selain itu pada pergelaran OSN 2014 juga menyumbangkan perak dalam bidang geografi yang di raih oleh mualif al imam yang sekarang sedang kuliah di UPN Yogjakarta. Sekolah ini memang sekolah favorit dan terkenal di daerah Jombang, pada saat peneliti mengadakan observasi awal, peneliti belum tahu sama sekali tentang sekolah ini tapi setelah peneliti datang ke sekolah ini secara langsung, peneliti tertarik dengan prestasi-prestasi yang selama ini diraih oleh SMA Darul Ulum 2 Jombang. Peneliti ingin meneliti bagaimana proses bimbingan yang dilakukan oleh guru kepada siswa sehingga bisa menghasilkan siswa yang berprestasi, khususnya di bidang geografi, karena keberhasilan seorang murid tentu tidak lepas dari peran guru yang selalu memberikan motivasi, bimbingan serta memfasilitasi supaya murid tersebut berhasil mendapatkan juara.

Guru geografi di SMA Darul Ulum 2 Jombang yaitu Bapak Afrindo Bagus Ermawan. Bapak afrindo merupakan lulusan S1 Pendidikan Georafi Universitas Negeri Surabaya dan S2 Manajemen di UBAYA. Hasil wawancara peneliti dengan Bapak Afrindo pada tanggal 3 Oktober 2015 beliau mengatakan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama dari semua pihak, dan salah satu poin penting adalah di SMA Darul Ulum 2 Jombang, sudah menerapkan 3 kurikulum sekaligus, yaitu kurikulum pondok pesantren, kurikulum nasional dan kurikulum cambrigde. setelah peneliti dijelaskan cukup lengkap mengenai ketiga kurikulum tersebut beserta implementasinya di dalam pembelajaran.

Peneliti menyimpulkan bahwa peran guru geografi dalam menerapkan kurikulum pada pembelajaran merupakan hal yang menentukan keberhasilan dalam proses pengembangan diri seorang siswa menuju siswa yang berprestasi. Sesuai dengan hasil wawancara dengan Inka novita dinia pada tanggal 3 Oktober 2015, Inka Novita Dinia mengatakankan bahwa soal yang dikerjakan pada waktu olimpiade sains nasional di Yogjakarta tidak jauh beda dengan latihan soal yang diberikan oleh guru geografi di sekolah yang berpedoman pada kurikulum cambrigde. Kurikulum cambrigde adalah Kurikulum yang diadaptasi dari University of Cambridge. Kurikulum Cambridge mengembangkan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan peserta didik  yang merupakan inti dari pengalaman belajar. Dalam kurikulum Cambridge, hal yang penting adalah proses karena proses mencerminkan bagaimana pikiran siswa bekerja.

Penelitian ini akan menjelaskan bentuk pola pembinaan yang telah berhasil mencetak siswa berprestasi, baik di tingkat kabupaten, provinsi dan sampai tingkat nasional, kegunaan penelitian ini peneliti harapkan bisa dijadikan bahan referensi dan pedoman bagi guru dalam membina siswa dalam meraih prestasi pada olimpiade sains nasional. Peneliti ingin melakukan penelitian lebih mendalam, tentang peran guru geografi dalam proses pengembangan diri siswa menjadi siswa yang berprestasi dalam olimpiade sains nasional.

Metode

Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif,  menurut Bogdan dan Taylor (2000) penelitian kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan deskripsi. Deskripsi itu berupa perkataan atau lisan dari individu (orang-perorang) atau sekelompok orang beserta berbagai perilakunya. Deskripsi itu berasal suatu dari pengamatan dan atau wawancara yang mendalam dan holistik (utuh-menyeluruh). Sedangkan menurut Meleong (2010) penelitian kualitatif adalah penelitian yang mempunyai maksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah

Hasil Penelitian

A.Perencanaan Pembinaan OSN di SMA Darul Ulum 2 Jombang

Setiap progam memiliki perencanaan, dalam melakukan perencanaan harus ada analisis yang rasional dan sistematis, maksudnya adalah bahwa perencanaan pendidikan telah berkembang pesat dengan berbagai pendekatan dan metodologinya yang rumit dan semakin kompleks. Pembinaan siswa olimpiade di SMA 2 DU Jombang memiliki perencanan yang sistematis dan terencana, keberadaan wakil kepala sekolah bidang pengembangan merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan progam pembinaan siswa olimpiade sains.

Wakil kepala sekolah  bidang pengembangan adalah Ibu Anis Nurlaili. Beliau merupakan sosok yang keibuan dan lemah lembut, tidak kalah dengan muridnya beliau juga mendapatkan juara satu olimpiade sains guru 2016 bidang fisika tingkat provinsi Jawa Timur dan berhasil mewakili Jawa Timur untuk berlaga di Palembang 15-21 Mei 2016, beliau lahir di Gresik, 20 Oktober 1977, pendidikan terakhir beliau adalah magister fisika.

Selain Bu Anis Nurlaili, peneliti juga mewawancarai Bapak Afrindo. beliau merupakan guru geografi sekaligus guru pembina siswa olimpiade bidang geografi. Beliau merupakan satu-satunya guru geografi di SMA DU 2 Jombang . sudah pasti karena beliau sendiri jumlah jam mengajar full, jumlah jam mengajar beliau sekitar 36 jam dalam seminggu, belum ditambah lagi dengan kegiatan pembinaan siswa olimpiade. Secara holistik peneliti mengajukan pertanyaan yang sama kepada Waka Pengembangan Bu Anis Nurlaili dan guru geografi Bapak Afrindo seputar perencanaan pembinaan siswa olimpiade, yang pertama mengenai pembentukan tim pembina olimpiade. Anis Nurlaili (2016) mengatakan

”Di sekolah kami, setelah kepala sekolah ada waka lainya. Salah satu wakanya adalah waka bidang pengembangan yang dimaksud adalah bidang pengembangan potensi prestasi akademik maupun non akademik meliputi lomba  OSN kemudian ada LKTI, ada O2SN ataupun LFS2N yang di kelola oleh pengembangan, di tim pengembangan sendiri saya sebagai wakanya. Guru yang ditunjuk tidak harus membidangi lomba, yang pertama harus guru tersebut harus guru tetap. Guru yang punya cita-cita yang mempunyai pandangan visi yang sama, ada 9 guru yang kita tunjuk.”

Apa yang disampaikan oleh Bu Anis Nurlaili sama dengan yang disampaikan oleh Afrindo (2016) saat wawancara tanggal 11 mei 2016 sebagai berikut: ”Biasanya pembina OSN dari guru bidang studi yang di tunjuk oleh sekolah untuk memberikan pengajaran mengenai materi OSN misalkan kayak geografi diambilkan dari guru mata pelajaran geografi, kalau fisika guru fisika. jadi sesuai bidangnya.”

                       

Tim Pembina olimpiade sains nasional di SMA 2 DU  Jombang terdiri dari guru-guru yang sesuai dengan mata pelajaran yang dilombakan pada olimpiade sains nasional salah satunya adalah guru geografi. Setiap tahun kinerja guru dalam membimbing siswa OSN akan terus dipantau apabila baik maka akan dipertahankan, apabila kurang baik akan dicarikan guru penggantinya. Tempat pembinaan berlangsung di dalam kelas dan perpustakaan. Buku-buku olimpiade sains nasional sudah disediakan di perpustakan dan setiap bidang yang dilombakan dalam OSN mempunyai rak buku masing-masing. Contohnya rak buku OSN geografi yang didalamnya memuat buku-buku geografi. Buku yang digunakan adalah buku ensiklopedia, buku materi  Cambridge dan buku latihan soal OSN. Pembinaan OSN diikuti siswa setiap hari kamis dan minggu karena pada hari tersebut kegiatan belajar mengajar di dalam kelas berakhir jam 1 siang, sehingga sore harinya digunakan untuk pembinaan ekstra OSN. Pembinaan dimulai satu bulan sebelum Olimpiade Sains Kabupaten.

Sesuai data yang peneliti ambil pada saat wawancara dengan Anis Nurlaili (2016) sebagai berikut:

”Untuk tim pengembang OSN ini setiap tahun kita perbarui jadi kita evaluasi tiap tahunnya, bagaimana kinerjanya setiap tahun kita lihat. Kalau tempatnya pembinaannya adalah di kelas dan perpustakaan pada hari minggu dan kamis dan di hari itu memang KBM sudah selesai jam 1 siang sehingga untuk kelasnya kita tidak ada masalah.”

Persiapan di SMA 2 DU Jombang untuk pembinaan OSN antara lain mulai pembentukan tim pembina olimpiade, tempat pembinaan, alat praktikum, buku dan soal, dan jadwal pelaksanaan.

B.Pelaksanaan Pembinaan OSN di SMA Darul Ulum 2 Jombang

Pelaksanaan pembinaan ini mencangkup kegiatan awal penjaringan siswa peserta olimpiade sampai pemberian bekal untuk siswa yang lolos olimpiade sains tingkat nasional.

 

1)Angket minat

Pemberian angket minat ini ditujukan kepada siswa, kemudian siswa akan  memilih dua bidang yang diinginkannya untuk dipersiapkan diajang olimpiade, selanjutnya akan dipilihkan oleh pihak sekolah untuk fokus pada salah satu bidang yang dipilih siswa tersebut. Tidak semua siswa diterima angketnya tapi akan diseleksi dan maksimal dipilih 10 siswa setiap bidangnya. Penuturan Muhammad Rais Akbar (2016) peraih medali emas bidang geografi tahun 2016 sebagai berikut ”Saya dulu waktu mengisi angket memilih bidang biologi dan geografi, yang sudah saya siapkan jauh-jauh hari adalah biologi tapi saya terpilih di geografi jadi saya belajar terus sejak diumumkan bahwa saya terpilih di bidang geografi. Tapi saya senang dan alhamdullilah sekarang malah mendapatkan medali emas.”

Terkait dengan proses penjaringan siswa peneliti juga menanyakan hal yang sama kepada guru geografi Afrindo (2016) dan jawaban beliau sebagai berikut : ”Penjaringan siswa biasanya diberi angket, Angket untuk peminatan jadi mereka rata-rata diambil dari tiap-tiap kelas. Siapa yang terbaik nanti kita lihat pada tes, Setelah tes awal nanti baru kita kelompokan apakah anak ini layak untuk bisa ikut di olimpiade atau tidak. Jumlahnya tiap bidang kalau disini maksimal sepuluh orang, sepuluh orang paling banyak itu karena terus terang  kalau lima belas atau dua puluh orang, kita susah untuk mengkoordinir anak-anak.”

2)         es awal

Setelah angket minat diserahkan kemudian siswa diharuskan mengikuti tes bidang studi dan tes matematika dasar, setiap bidang berbeda dalam pemberian soal untuk tes, sesuai dengan wawancara dengan Anis Nurlaili (2016) sebagai berikut:

Kalau untuk pelaksanaannya secara teknis untuk OSN. pertama kita ada penjaringan minat siswa. Baru ada tes, tes ini sampai 2 kali tes. Materi tes adalah materi-materi dasar yang akan memberi gambaran kita bahwa anak-anak masih bisa dikembangkan untuk ke semua bidang atau tidak. Ada tes matematika dasar, kalau geografi kita biasanya tambahi dengan tes pengetahuan umum.

Untuk  bidang geografi sekitar 130 siswa yang mengikuti tes seleksi pada tahun jaran 2016/2017.

3)Psikotes/wawancara

Proses wawancara merupakan tahapan yang menentukan bagi siswa, karena siswa yang pandai dan menguasai bidang ilmu belum tentu akan lolos dan terpilih menjadi sepuluh besar siswa yang akan dibina. Dalam tes wawancara ini siswa akan ditanyai tentang tujuan mengikuti OSN dan cita-cita nya. Terkait dengan tahap ini sesuai hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Anis Nurlaili (2016) seperti berikut:

”Kalau wawancara biasanya yang ditanyakan motivasinya siswa ikut OSN apa, tujuanya dia dan harapan ikut OSN, kalau siswa tidak punya cita-cita ke OSN meskipun nilainya tinggi kita pertimbangkan lagi, mungkin saja cita-cita itu akan sulit diraih nanti kalau tidak punya keinginan.”

4)Pleno

Rapat pleno dilakukan dengan melibat Bapak dan Ibu guru Pembina olimpiade, dalam rapat ini akan ditentukan 10 siswa yang akan diikutkan dalam pembinaan olimpiade. Pembinaan ini berlangsung sekitar 1 bulan sebelum olimpiade sains kabupaten. Hasil wawancara peneliti dengan waka pengembangan Anis Nurlaili (2016) sebagai berikut:

”Untuk jumlah siswa yang kita ambil biasanya berubah-ubah, kalau geografi biasanya tidak terlalu banyak, cuma tahun ini geografi kita ambil 10 siswa. Diambil banyak itu dimaksudkan agar peluang untuk lolos ke tingkat OSN lebih banyak,tapi tergantung inputnya siswa kita karena tiap tahun berubah-ubah”.

5)Pembinaan

Setelah ditentukan 10 siswa yang terpilih, selanjutnya adalah pembinaan. Pembinaan ini bertujuan memberikan kesiapan mental dan bekal berupa materi yang dilombakan pada olimpiade. Setiap tingkatan pembinaan untuk OSK, OSP, OSN  terdapat perbedaan dalam menerapkan strategi pembelajarannya.

6)OSK (Olimpiade Sains Kabupaten)

Pembinaan yang pertama adalah pembinaan olimpiade sains tingkat kabupaten. Persiapannya dengan memberikan materi dan latihan soal oleh bapak dan ibu pembina olimpiade setiap hari Kamis dan Minggu. Pembinaan berlangsung di kelas dan di perpustakaan.

Setelah pembinaan akan diadakan tes untuk pemilihan 3 besar siswa yang akan diikutkan dalam OSK, pada tahun ini yang terpilih adalah Siti Khadijah, Muhammad Ubaidillah Fai’qu Dhiya dan Muhammad Rais Akbar. Mereka bertiga merupakan delegasi dari SMA DU 2 Jombang untuk berlaga di OSK di SMAN 3 Jombang pada bulan februari 2016. Hasil dari OSK 2016 bidang geografi di Jombang mereka mendapatkan juara 1, 2 dan 3. Secara berurutan juara pertama di raih oleh Muhammad Rais Akbar, juara kedua Muhammad Ubaidillah Fai’qu Dhiya. Dan ketiga siti khadijah. Ketiga siswa tersebut nantinya akan diikutkan sebagai perwakilan dari Jombang untuk mengikuti OSP di Batu. Penuturan Muhammad Rais Akbar (2016) terkait kemenangan ini sebagai berikut:

”Jumlah pesertanya 80 siswa, saya juara 1, juara 2 Ubaid, kalau juara 3 adik kelas X untuk Soalnya sekitar 70 soal, kalau di OSK soalnya pilihan ganda jadi tinggal nyilang-nyilang saja, nilainya saya 100, saya juga tidak menyangka, kalau mas ubaid 94,5.”

 

7)OSP (Olimpiade Sains Provinsi)

Setelah diketahui hasil dari OSK, ketiga siswa tersebut dikarantina selama 1 bulan di sekolah untuk persiapan olimpiade sains tingkat provinsi bulan maret 2016. Karantina ini dengan mengalihkan belajar siswa yang lolos OSP diperpustakaan dan memperbolehkan tidak mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Kegiatan selama diperpustakaan adalah dengan latihan soal pendalaman materi dan mengundang tentor dari luar sekolah seperti alumni dan dosen. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Afrindo (2016)

”Pembinaannya  mereka di karantina jadi setelah OSK. Mereka biasanya dikumpulkan dalam satu ruang di perpustakaan setiap bidang. Mereka belajar bersama menemukan sendiri masalahnya kalau merasa ada yang kurang baru guru akan membantu menyelesaikan masalahnya.”

            ota Batu menjadi tuan rumah dalam olimpiade sains tingkat provinsi. Perlombaan berlangsung selama dua hari, hari pertama check in di hotel, hari kedua berlangsungnya lomba, lomba dimulai dari pukul 07.00 - 11.00. bidang geografi jumlah pesertanya sekitar 120 siswa, dan diambil 8 siswa terbaik untuk dilombakan ke tahap Olimpiade Sains Nasional. Hasil dalam OSP menempatkan Muhammad Rais Akbar  urutan ke 6, Muhammad Ubaidillah Fai’qu Dhiya urutan ke 9, dan Siti Khadijah urutan ke 23. Secara dramatis Ubaid tidak bisa melanjutkan ketingkat nasional dan nilai Ubaid selisih 0.6 dengan peringkat ke 8. Muhammad Rais Akbar mendapatkan tiket menuju OSN Palembang 2016. Peneliti menanyakan kepada Muhammad Ubaidillah Fai’qu Dhiya (2016) terkait nilai yang selisih tipis, jawabannya sebagai berikut :

”saya sebenarnya orangnya cuek mas, saya mulai ikut olimpiade ini tidak memikirkan hasilnya tapi saya berusaha semaksimal mungkin, itulah hasil saya dan alhamdullilah saya syukuri.”

8)         SN

Pembinaan olimpiade sains nasional  di sekolah berlangsung selama 1 bulan, selain disekolah Muhammad Rais Akbar mengikuti 2 kali pembinaan yang pertama karantina selama 1 minggu di Bandung, selain pemberian materi disana diajari praktek laboratorium dan observasi tim pengajarnya adalah mahasiswa ITB. Kedua mengikuti Pelatihan Daerah oleh Dosen UNESA selama 2 hari di Surabaya.

Olimpade sains nasional ke XV berlangsung di Palembang 15-21 Mei 2016. Secara singkat pada hari pertama peserta check in di hotel, hari kedua pembukaan, setelah pembukaan peserta ujian observasi lapangan, hari ketiganya ujian teori, ujian laboratorium dan ujian multimedia, hari keempat peserta diajak untuk rekreasi dan hari kelima penutupan”. Hasil yang baik diraih oleh Rais dengan mendapatkan medali emas dalam perhelatan Olimpiade Sains Nasional 2016 di Palembang.

Temuan tentang pelaksanaan pembinaan OSN siswa SMA Darul Ulum 2 Jombang

Skema 4.1 Pelaksanaan Pembinaan Olimpiade Sains Nasional Siswa di SMA 2 Darul Ulum Jombang.

C.Pengawasan

Pengawasan yang dilakukan oleh guru adalah dengan memantau langsung di perpustakaan dan biasanya pak afrindo mendampingi, pengawasan tidak melibatkan orang tua wali ataupun pengurus pondok tetapi cukup dari sekolah. Tapi pihak sekolah selalu memberikan pemberitahuan kepada orangtua siswa mengenai kemajuan anaknya di sekolah.

D.Evaluasi pembinaan

Evaluasi pembinaan selalu dilakukan setiap akhir pembinaan , seperti kurangnya waktu persiapan karena evaluasi disetiap jenjang berbeda OSK, OSP, OSN. Hal ini seperti yang disampaikan Anis Nurlaili (2016) sebagai berikut

Evaluasi OSK 2016

”Kalau OSK evaluasi kemarin ini waktu persiapan terlalu sedikit jadi kita baru bulan setelah UTS mulai pembinaan dengan bapak ibu guru. kemudian jarak lombanya di bulan februari itu sangat singkat jadi kurang. Rancangan kami kedepan untuk bulan-bulan agustus sudah kita mulai pembinaan.”

Evaluasi OSP 2016

”Kalau OSP biasanya anak-anak setelah lolos OSK akan kita karantina, kita kasih kepengawasan anak-anak ketika di karantina. anak-anak itu masih butuh dibina jadi ketika di karantina gak ada bapak ibu guru tiduran sambil mengobrol saja. bisa jadi kita perlu evaluasi pendampingan OSP diperkuat.”

Evaluasi OSN 2015

”Kalau tahun kemarin untuk bidang yang tidak dapat medali itu fisika kesulitan anak-anak adalah diparaktikum jadi kedepannya harus imbang secara teori maupun secara praktikum.Geografi alhamdulillah dapat emas jadi untuk tingkat OSN kita siapkan peta. lombanya di Jogja kita siapin peta-peta dekat Jogja, kira-kira lombanya tanggal sekian perkiraan cuacanya seperti apa.”

Matrik 4.1 Penyataan Informan dan Tema Tentang Pola Pembinaan olimpiade

Nama   Penyataan        Tema

Anis Nurlaili S.Si., S.Pd., M.Si.          Pembentukan tim Pembina Olimpiade yang terdiri dari guru mata pelajaran,

Guru geografi mendampingi terus dari awal sampai akhir,

Evaluasi progam terus dilakukan setiap ikut serta dalam setiap ajang baik dalam OSK, OSP, OSN

Tim Pembina olimpiade

Pendampingan guru,

Evaluasi progam

Afrindo Bagus Ermawan S.Pd., M.M.

Guru mapel menjadi Pembina olimpiade

Penjaringan siswa menggunakan angket minat. Peserta akan di tes tulis dan wawancara.

saya selalu update info terbaru tentang geografi        Tim Pembina olimpiade

Seleksi siswa

Guru sebagi informator

Pembahasan

A.Perencanaan

Perencanaan pembinaan olimpiade di SMA 2 Darul Ulum Jombang tersusun secara sistematis dan terencana dengan baik. Kaufman (1972)  Perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai. Bintoro Tjokroaminoto mendefinisikan perencanaan sebagai proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. perencanaan merupakan proses yang berisi kegiatan penentuan perhitungan yang dilakukan dalam rangka tercapainya tujuan tertentu. Pada hakekatnya perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan atas dasar pilihan yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam perencanaan terdapat persiapan-persiapan yang harus dilakukan untuk mendukung kelancaran progam pembinaan siswa olimpiade, persiapan yang dilakukan antara lain:

1.embentukan tim pembina olimpiade yang terdiri atas guru-guru sesuai dengan bidang atau mata pelajaran yang dilombakan di olimpiade sains. Terdapat Sembilan guru dan satu wakil kepala bidang pengembangan yang menjadi tim pembina olimpiade sains. Wakil bidang pengembangan sebagai penanggung jawab secara penuh dalam pelaksanaan pembinaan siswa olimpiade.

2.Persiapan materi dan soal olimpiade sains. Persiapan materi ini berhubungan dengan pengadaan buku, buku yang dipakai dari berbagai literatur dan sumber. Di sekolah ini untuk buku sudah tercukupi dan dapat dikatakan sudah lengkap mulai buku ensiklopedi, buku Cambridge dan buku penunjang lainya.Selain buku setiap guru juga memiliki modul yang harus diajarkan setiap pertemuan pembinaan dengan siswa. Untuk soal sudah jadi satu dengan buku dan modul tersebut.

3.Persiapan sarana dan prasarana memuat tempat untuk dijadikan pembinaan siswa olimpiade. sekolah ini terus melakukan pembangaunan dan fokus dengan membangun fasilitas siswa untuk mengembangakan potensinya dibidang manapun, termasuk pembangunan laboratorium geografi, pengadaan alat praktek geografi juga terus digalakan oleh waka pengembangan. Hal ini menunjukan keseriusan sekolah dalam membina siswa siswanya untuk mencapai kesuksesan di masa mendatang.

4.Persiapan penjadwalan pembinaan, sekolah ini berada pada lingkungan pondok pesantren untuk jadwal kegiatan belajar mengajarnya libur hari jumat saja, sedangkan untuk jadwal eskstra olimpiade di sekolah ini setiap hari kamis dan minggu ketika hari tersebut untuk kegiatan belajar mengajar di kelas selesai jam 13.00 WIB, sehingga setelah itu siswa mengikuti kegiatan ekstra olimpiade di sekolah.

Persiapan ini  mempunyai tujuan untuk memudahkan tim pembina dalam pelaksanaan progam pembinaan olimpiade. Menurut Guruge (1972) Perencanaan Pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan. Bagaimana cara mempersiapkan serangkaian kegiatan merupakan pekerjaan rumah bagi sekolah, dengan persiapan yang baik beserta tujuan yang jelas akan mempercepat dalam pembangunan pendidikan di setiap sekolah. Menurut Coombs (1982) Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. Harapan yang besar dari masyarakat terutama orang tua wali murid untuk bisa melihat perkembangan anaknya menuju ke arah yang lebih baik.

B. Pelaksanaan

Pelaksanaan pendidikan dalam sebuah institusi terkait erat dengan proses produksi dan reproduksi pengetahuan. Setiap individu mempunyai peran dan fungsi masing-masing yang saling bekerjasama dalam mencapai tujuan. Individu-individu yang peneliti maksud adalah orang-orang yang ikut dalam proses pelaksanaan pembinaan siswa olimpiade seperti waka pengembangan, tentor, guru mata pelajaran dan siswa peserta olimpiade. yang pada akhirnya mereka terbentuk pada sebuah kelompok yang mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh hasil yang baik dalam perhelatan olimpiade sains nasional. George Homans menyatakan bahwa terjadinya kelompok akibat interaksi dan sentimen (perasaan dan emosi), interaksi yang sering antara guru dan siswa dalam pelaksanaan pembinaan inilah yang membuat guru menjadi tahu kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri siswanya. Guru dan siswa sering mengikuti perlombaan bersama seperti PIGORA, OLGENAS dan lomba lainya dibidang geografi, membuat guru memiliki kedekatan emosional dan perasaan yang sama yaitu menginginkan hasil yang terbaik untuk siswanya. 

Secara umum pelaksanaan pembinaan di SMA 2 Darul Ulum Jombang meliputi penjaringan siswa, pembinaan, dan pengiriman lomba. Dalam penjaringan siswa ini semua siswa kelas X dan XI mempunyai kesempatan yang sama, dan diperbolehkan untuk mengikuti tes peserta olimpiade bagi siswa yang ingin mendaftar. Kesempatan terbuka bagi seluruh siswa tanpa adanya pilih kasih atau mengutamakan siswa tertentu, misalnya yang diperbolehkan mendaftar hanya siswa yang mendapatkan peringkat lima besar dikelasnya. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjaring semua siswa, baik siswa yang pandai dalam semua bidang atau yang memiliki kemampuan hanya pada satu bidang tertentu yang masih bisa dikembangkan oleh guru. Adanya tes tulis dan wawancara membuat proses seleksi di sekolah menjadi lebih kompetitif dan memudahkan guru untuk melihat kemampuan siswa. Selanjutnya tim pembina olimpiade akan menentukan siswa yang akan dibina melalui rapat pleno. Musyawarah dalam mengambil keputusan menunjukan dalam setiap menentukan keputusan harus di dasarkan pada mufakat. musyawarah diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan merupakan tanggung jawab bersama di dalam mengeluarkan setiap keputusan. Setiap keputusan yang dikeluarkan oleh sekolah akan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. 

Sekolah adalah sebuah wadah atau tempat untuk menyiapkan sebuah generasi yang unggul setiap siswa akan ditananmkan nilai-nilai karakter budaya yang luhur sesuai visi dan misi sekolah. Implementasi penanaman nilai karakter siswa terjadi tidak hanya pada waktu kegiatan belajar mengajar siswa didalam kelas tapi pada waktu ekstra seperti pembinaan olimpiade juga terus ditanamkan nilai karakter tersebut. Pendidikan akan menghasilkan generasi yang siap memasuki masyarakat dengan segala tuntutan didalamnya dan masyarakat yang memiliki karakter yang berbeda-beda.

C.Pengawasan dan evaluasi pembinaan

Pengawasan dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk mengamati dan mengawasi secara berkesinambungan dan terus-menerus terhadap pembinaan yang telah dilaksanakan. Pengawasan siswa dilakukan oleh guru mata pelajaran, yang ditunjuk sebagai guru pembina olimpiade, guru pembina rutin melihat kemajuan siswanya dengan memantau langsung pembelajaran di tempat pembinaan siswa.

Evaluasi selalu dilakukan setelah perlombaan, evaluasi oleh guru mata pelajaran tentang kemajuan siswa, waka pengembangan tentang kemajuan siswa, karena evaluasi berkaitan erat dengan pengambilan kebijakan yang akan diambil oleh pihak sekolah. Apabila tidak ada evaluasi maka tidak dapat diketahui apakah kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana. Informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program pembinaan , karena dari masukan hasil evaluasi program itulah tim pembina akan mengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut dari program pembinaan yang telah dilaksanakan. Wujud dari hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari tim pembina untuk pengambil keputusan.

Adapun fungsi dari pengawasan dalam progam pendidikan adalah:

1.Meningkatkan kualitas kerja

menerapkan fungsi pengawasan kerja,, berdampak pada peningkatan kualitas kerja individu-individu yang terkait dalam pelaksanaan pembinaan seperti guru mata pelajaran, tentor dan siswa

2.Menghindari terjadinya penyimpangan program

Penyimpangan ini seperti tidak sesuainya jadwal pelaksanaan pembinaan dengan perencanaan awal.

3.Mengajarkan untuk saling mengawasi

Pengawasan juga dapat berfungsi sebagai terapan. Dengan pengawasan, sekolah dapat menerapkan secara langsung, efektif dan efisien, secara persuasif yang bersifat mendidik kepada tim pembina olimpiade untuk memahami untuk maksud dan tujuan kegiatan olimpiade yang sudah dilakukan.

4.Mengukur seberapa jauh pencapaian program pendidikan

Keberhasilan pembinaan olimpiade tentu setiap tahun dapat dilihat dari seberapa banyak medali yang siswa raih. Tahun ini cukup menggembirakan dengan keberhasilan  Muhammad Akbar Rais meraih medali emas.

5.Memperoleh umpan balik (feed back)

Lewat pengawasan yang dilakukan, maka sekolah yang melaksanakan kontrol akan memperoleh pengalaman dan penemuan-penemuan kasus yang dapat dipergunakan sebagai bahan evaluasi yang nantinya dilakukan penyempurnaan kegiatan pengawasan selanjutnya.

Kesimpulan dan Saran

A.Kesimpulan

Pola pembinaan di SMA Darul Ulum Jombang dimulai dari Perencanaan yaitu pembentukan tim olimpiade, persiapan materi dan soal, Persiapan sarana prasarana, pembentukan jadwal pembinaan. Sedangkan untuk Pelaksanaan memuat a) Minat b) Tes pengetahuan umum c) Wawancara d) Pleno e) Pembinaan f) OSK g) OSP h) OSN. Setelah itu adalah pengawasan yang dilakukan oleh semua pihak, dan terakhir adalah evaluasi dalam setiap keikutsertaan siswa dalam suatu ajang.

B.Saran

1.Pembinaan siswa ikut OSN terbukti dapat meningkatkan kualitas peserta, oleh karena itu sekolah yang ikut OSK perlu diprogamkan pembinaan yang terstruktur atau kontinyu.

2.Agar pelaksanaan menjadi baik diperlukan progam yang kontinyu disertai sarana dan prasarana yang memadai

Daftar rujukan

Arifudin & Saebani, Beni Ahmad. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,  Kualitatif dan R & D. Bandung : Pustaka Setia

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek. Bandung:  PT.  Rineka Cipta

Arikunto,Suharsimi. 2001, Dasar-dasar evaluasi pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara.

Daryanto, H. 2012. Evaluasi pendidikan. Jakarta : PT rineka cipta

Fatah, Nanang.  2008. Manjemen Pendidikan.Bandung:Remaja Rosdakarya.

Fatchan, Ach. 2009.Metode Penelitian Kualitatif Serta Contoh Proposal : Skripsi, Tesis, dann Disertasi. Malang : UM Press

Fatchan, Ach. 2013. Metode Penelitian Kualitatif 10 Langkah Penelitian Kualitatif Pendekatan Konstuksi dan Fenomenologi. Malang : UM Press

Fatchan, Ach. 2015. Metode Penelitian Kualitatif Pendekatan Etnografi dan Etnometodologi Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial.Yogjakarta : Ombak

Ghony, M. Djunaidi dan Almansur, Fauzan. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-ruzz Media

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Panduan Umum Olimpiade Sains Nasional 2014. Jakarta: Dirjend Pendidikan Menengah

Suandy, Erly. 2003. Perencanaan Pajak, Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat

Sudjana, Nana .1989. Metode Statistik. Bandung: Tarsiti

Sugiyono.2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sukardi. 2014. Evaluasi progam pendidikan dan kepelatihan. Jakarta : bumi aksara

Sukiswa, Iwa. 1986. Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan. Bandung: Tarsito

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Proses Landasan Psikologis Guruan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sukmadinata. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

 

Syahril. 2009. Profesi Kependidikan. Padang: UNP PRESS