DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesantunan Berbahasa Siswa dalam Wacana Diskusi Kelas

Sri Wahyuni

Abstrak


ABSTRACT

 

Wahyuni, Sri. 2016. Kesantunan Berbahasa Siswa dalam Wacana Diskusi Kelas. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (II) Prof. Dr. Suyono, M.Pd., dan (III) Prof. Dr. Sumadi, M.Pd.

Kata Kunci: kesantunan, berbahasa siswa ,wacana diskusi kelas

Penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana kesantunan berbahasa siswa dalam wacana diskusi kelas. Latar belakang dilakukannya penelitian ini yakni kenyataan  kesantunan berbahasa dalam interaksi sosial di kelas merupakan realitas bahwa salah satu penggunaan bahasa dalam kelas. Pengguna bahasa terjadi dalam situasi resmi yang terkait konteks pembelajaran. Pada situasi ini ada norma kesantunan dalam pengguna bahasa yang disepakati oleh para peserta komunikasi. Kesantunan berbahasa dapat terungkap melalui tindak tutur sebagai unit dasar komunikasi yang dapat diungkap melalui bentuk formal linguistik, fungsi pragmatik, dan strategi yang digunakan.

Penelitian ini secara umum berfokus pada penggunaan kesantunan berbahasa siswa dalam wacana diskusi kelas. Secara khusus fokus penelitian ini adalah (1) bentuk kesantunan berbahasa siswa SMP dalam wacana diskusi kelas yang meliputi (a) penggunaan diksi eksperiensial, (b) penggunaan diksi ekspresif dan (c) diksi relasional; (2) fungsi kesantunan berbahasa siswa SMP dalam wacana diskusi kelas yang meliputi:(a) fungsi kesantunan tindak asersif (b) fungsi kesantunan tindak direktif (c) fungsi kesantunan tindak deklaratif, (d) fungsi kesantunan tindak komisif dan (e) fungsi kesantunan tindak ekspresif; serta (3) strategi kesantunan berbahasa siswa SMP dalam wacana diskusi kelas yang meliputi: (a) strategi kesantunan positif, (b) strategi kesantunan negatif, (c) strategi kesantunan off record, dan (d) strategi kesantunan on record.

Penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan kajian pragmatik. Peneliti bertindak sebagai instrument utama dengan menggunakan  observasi partisipsi dan panduan wawancara, untuk mengambil data dengan menggunakan alat perekam. Panduan kodifikasi data dan panduan analisis data sebagai alat analisis data. Data yang digunakan berupa (1) tuturan siswa dan guru dalam diskusi kelas dan (2) catatan hasil observasi atau catatan lapangan yang berisi tentang konteks kesantunan berbahasa. Sumber data penelitian ini adalah wacana diskusi kelas dan berbagai aktivitas subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi,dan perekaman. Analisis data dilakukan dengan rmereduksi data,  kegiatan penyajian data,dan tahap selanjutnya penarikan kesimpulan.

Hasil analisis data meliputi tiga hal. Pertama, diksi sebagai bentuk kesantunan berbahasa siswa dalam wacana diskusi kelas yang meliputi (1) diksi eksperiensial bermakna kiasan, diksi eksperiensial bermakna formal, diksi eksperiensial bermakna nonformal; (2) diksi ekspresif menyatakan nilai, diksi ekspresif menyatakan perasaan, diksi ekspresif membangkitkan perasaan; (3) diksi relasional sapaan honorofik, diksi relasional sapaan kekerabatan, diksi relasional sapaan kata ganti halus, diksi relasional kata ganti inklusi, diksi relasional sapaan dengan mitra tutur. Kedua, fungsi kesantunan tindak asertif meliputi (1) fungsi asertif mengemuka-kan pendapat, (2) fungsi asertif mempertahankan pendapat, (3) fungsi asertif mengemukakan alasan, (4) fungsi asertif menyatakan penolakan, (5) fungsi asertif menjawab pertanyaan, (6) fungsi asertif memberi penjelasan, (7) fungsi asertif menunjukan sesuatu, (8) fungsi asertif memberikan klarifikasi, dan (9) menyampai-kan laporan. Fungsi kesantunan tindak direktif meliputi (1) fungsi direktif memerintah, (2) fungsi direktif meminta sesuatu, (3) fungsi direktif meminta informasi, (4) fungsi direktif meminta penegasan, (5) fungsi direktif meminta perhatian, dan (6) fungsi direktif kesantunan melarang. Fungsi kesantunan tindak deklaratif meliputi (1) fungsi deklaratif menetapkan, (2) fungsi deklaratif memberi nama. Fungsi kesantunan tindak komisif meliputi (1) fungsi  kesantunan komisif berjanji, (2) fungsi kesantunan komisif melakukan kesepakatan. Fungsi kesantunan tindak ekspresif meliputi (1) fungsi ekspresi rasa senang, (2) fungsi ekspresi rasa kagum, (3) fungsi ekspresi rasa sedih, (4) fungsi ekspresi rasa kecewa, (5) fungsi ekspresi rasa menyesal, (6) fungsi ekspresi menyampaikan terima kasih, (7) fungsi ekspresi menyampaikan selamat, (8) fungsi ekspresi memberi maaf, (9) fungsi ekspresi kesantunan ngelulu, dan (10) fungsi ekspresi kesantunan memuji. Ketiga, strategi kesantunan positif meliputi (1) strategi memberi penghormatan, (2) strategi memenuhi keinginan, (3) strategi meminta pertimbangan, (4) strategi bertanya, (5) strategi melipatgandakan simpati, (6) strategi memberi perhatian, (7) strategi mencari persetujuan, dan (8) strategi merendahkan diri. Strategi kesantunan negatif meliputi (1) strategi menghindari perselisihan, (2) strategi bertanya balik, (3) strategi bersikap pesimis, (4) strategi bersikap patuh, (5) strategi menghindari berasumsi, (6) strategi meminta maaf, dan (7) strategi membuat lelucon. Strategi off record meliputi (1) strategi bertutur samar-samar, (2) strategi memberi isyarat, (3) strategi bertanya retoris, dan (4) strategi menghindari pemaksaan. Strategi on record meliputi (1) strategi memperoleh bantuan, (2) strategi memperoleh dukungan, ( 3) strategi dapat memperoleh kepercayaan, (4) strategi menghindari bahaya, (5) strategi menghindari kesalahpahaman, dan (6) strategi memperbaiki kerusakan citra diri yang telah dibuat.

 

       Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disampaikan saran-saran kepada berbagai pihak.Kepada guru bahasa Indonesia disarankan untuk tidak hanya menekankan pada kompetensi dasar berbahasa, tetapi juga memperhatikan konteks yang terkait dengan aspek sosial dan moral.Kepada lembaga pendidikan disarnakan untuk menempatkan perilaku kesantunan berbahasa menjadi karakter komunikasi di sekolah, sehingga sekolah akan menjadi wahana pembentuk moral yang luhur. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan paradigma yang lebih komprehensif dalam melihat wacana diskusi kelas.