DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Persepsi Laba Bagi Pengusaha Tempe Skala Mikro di Malang

hanjar ikrima nanda

Abstrak


ABSTRAK

PERSEPSI LABA PENGUSAHA TEMPE SKALA MIKRO DI MALANG RAYA

Hanjar Ikrima Nanda, Puji Handayati, Suparti

Akuntansi Pascasarjana-Universitas Negeri Malang

Jalan Semarang 5 Malang. Email: rimanda.147@gmail.com

Abstract:Tempe is one of the flagship products of Malang. Business development of tempe is quite high, it can be seen from the data of Department of Cooperatives and SMEs in 2015 that there were 1,532 business units in Malang in the area of tempe micro scale. However, financially the growth rate is stagnant. They lack the confidence to increase the volume of business, so the profit generated are less than the maximum. There are differences in performance to obtain operating profit. The performance difference is influenced by the differences of interest in setting up a business. This will give birth to a little different perspective related to the operating profit. Therefore, this study tried to find out the perception of micro-scale profit of tempe entrepreneurs in Malang. Business objectives and how to calculate return will help the construction of the perception of such profits.The research was conducted using qualitative approach. Data were collected by using the interview to the micro-scale tempe entrepreneurs in Malang. Infroman selected using snowball throwing sampling technique. The findings in this study is the perception of tempe entrepreneurs micro scale is divided into two, namely the perception related to the world and the here after. The fulfillment of these perceptions require going concern of business so that earnings continue to be generated. Related worldly affairs, they want the profits can be used to meet basic needs. When basic needs are met, according to their income are gains that can be used for investments into other businesses. As for the affairs of the hereafter, they just want to have a business that makes able to pray in peace, and after that was nominally want the profits can be used to continue to charity. Related to the calculation of profits, entrepreneurs who want to earn high profits will calculate the detailed cost of good sold.

Keywords: perception of profit, business objectives, micro enterprises

Abstrak: Tempe merupakan salah satu produk unggulan yang ada di Malang. Perkembangan usaha tempe cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari data Dinas Koperasi dan UMKM tahun 2015 yaitu ada 1.532 unit usaha tempe skala mikro di Malang. Namun, secara finansial tingkat pertumbuhannya stagnan. Mereka kurang percaya diri untuk meningkatkan volume usahanya, sehingga laba yang dihasilkan kurang maksimal. Terdapat perbedaan kinerja untuk memperoleh laba usaha. Perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh perbedaan tujuan dalam mendirikan usaha. Hal ini akan melahirkan cara pandang berbeda terkait dengan laba usaha. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengetahui persepsi laba pengusaha tempe skala mikro yang ada di Malang. Tujuan usaha dan cara menghitung laba akan membantu kontruksi persepsi laba tersebut. Penelitian ini di lakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikoleksi dengan menggunakan wawancara kepada pengusaha tempe skala mikro yang ada di Malang. Infroman dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Temuan dalam penelitian ini adalah  persepsi pengusaha tempe skala mikro terbagi menjadi dua, yaitu persepsi terkait dunia, dan akhirat. Pemenuhan persepsi tersebut memerlukan keberlangsungan usaha secara terus menerus agar laba terus dihasilkan. Terkait urusan duniawi, mereka ingin agar laba bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar.  Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, laba menurut mereka adalah keuntungan yang bisa digunakan untuk investasi ke usaha lain. Sedangkan untuk urusan akhirat, mereka hanya ingin memiliki usaha yang membuat bisa beribadah dengan tenang, dan setelah itu mereke ingin agar laba bisa digunakan untuk terus bersedekah. Terkait cara perhitungan laba, pengusaha yang ingin mendapatkan laba yang tinggi akan menghitung rinci harga pokok penjualan.

Kata kunci: persepsi laba, tujuan usaha, usaha mikro

Malang merupakan daerah yang  cukup banyak memiliki industri tempe. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM tahun 2015 menunjukkan bahwa pengusaha tempe ada di seluruh kecamatan di Malang. Meskipun sebagaian besar dari mereka bisa bertahan dalam kondisi perekonomian yang kurang stabil, namun hal ini tidak membuat usaha mikro percaya diri untuk meningkatkan volume usahanya. Mereka terkesan puas dengan volume usaha yang sama, seperti tidak mengejar kekayaan atau keuntungan  yang banyak.

Pengusaha tempe yang ada di Malang sebenarnya mampu mengembangkan usaha, terlebih banyak wisatawan yang minat membeli olahan tempe sebagai salah satu oleh-oleh khas Malang. Namun bagi pengusaha mikro, kesempatan emas untuk memaksimalkan potensi pasar belum disambung dengan baik. Beberapa pelatihan telah diadakan oleh pemerintah, terutama melalui penggunaan dasa desa untuk memberikan pelatihan kepada pengusaha tempe, namun hasilnya kurang maksimal. Pengusaha tempe tetap menjalankan usaha seperti sebelumnya, seakan tidak mau mengembangkan usaha. Mereka memiliki semangat yang mudah patah ketika hasil tidak sesuai dengan harapan.

Selain itu, mereka juga dengan mudahnya memberikan diskon kepada pelanggan. Volume penjualan yang masih kecil ternyata tidak membuat mereka merasa sayang dengan barang dagangan ketika diberikan percuma kepada pelanggan. Mereka pun seringkali menurunkan harga jual ketika masih ada barang dagang yang belum terjual. Hal ini mengesankan bahwa mereka seakan tidak peduli dengan besar laba yang akan didapatkan.

Reijonen (2008:617) mengatakan bahwa ada dua cara pengukuran kesuksesan bagi usaha mikro dan kecil yang didasari oleh keberadaan tujuan, yaitu tujuan keuangan dan non keuangan. kedua tujuan ini terkait dengan kepuasan batin seorang pelaku usaha. Kepuasan yang bersifat materialistis (keuangan) ataupun kepuasan batin (non keuangan). Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui persepsi pengusaha tempe terkait dengan laba usaha. Mereka biasanya menggabungkan keuangan usaha dan keluarga, serta tidak memiliki catatan keuangan. Namun, mereka pasti memiliki cara pandang tersendiri dalam mengetahui usahanya menghasilkan laba atau tidak.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi, agar dihasilkan suatu informasi yang mendalam terkait topik penelitian.  Jhonson dan Christensen (2004:354) menuliskan bahwa penelitian fenomenologi mendeskripsikan kesadaran dan pengalaman tentang sebuah fenomena. Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Creswell (2007:59-60), tipe fenomenologi yang digunakan adalah transcedental/psycological, di mana peneliti mengembangkan deskripsi struktural tentang pengalaman orang lain, sehingga peneliti tidak fokus pada interpretasi peneliti, tetapi lebih pada deskripsi pengalaman partisipan. Penelitian ingin menyajikan fenomena terkait bagaimana pelaku usaha mikro menganggap bahwa mereka telah mendapatkan keuntungan atas usahanya.

Populasi dan Sampel

Lokasi penelitian ini di sentra industry tempe di Malang Raya, khususnya pengusaha tempe mikro. Informan awal dalam penelitian ini ada dua yaitu Ibu Sn dan Bapak Pur. Ibu Sn adalah mantan produsen pengusaha tempe skala mikro yang bermukim di salah satu sentra industri tempe yang ada di Malang. Beliau memutuskan beralih profesi dari produsen tempe yang dijalankan lebih dari 15 tahun menjadi pedagang tempe dan tahu. Beliau merupakan salah satu pengusaha tempe skala mikro yang sukses dan usahanya hampir mendekati skala kecil. Beliau juga merupakan salah satu narasumber usaha yang dicari, namun seringkali menolak jika diajak bekerjasama untuk usaha yang lebih besar penghasilannya. Sepanjang masa usahanya, Ibu Sn tidak pernah memiliki catatan keuangan.

Bapak Pur merupakan salah satu pengusaha tempe yang ada di salah satu sentra industri tempe di Malang, berbeda dengan Ibu Sn. Beliau merupakan pengusaha tempe skala mikro yang baru 5 tahunan menjalankan usaha tempe, namun memiliki catatan keuangan. Beliau sempat berhenti dari profesi sebagai produsen tempe, namun akhirnya memutuskan menjalanni profesi tersebut sampai saat ini.

Informasi dari kedua informan kemudian dikembangkan ke informan selanjutnya sampai akhirnya ditemukan jawaban dari penelitin ini. Perbedaan latar belakang kehidupan dan pengalaman dalam laporan keuangan akan memberikan gambaran yang berbeda dari kedua informan.

Sumber Data

Data penelitian diambil dengan menggunakan wawancara kepada pengusaha tempe skala mikro yang ada di Malang. Selanjutnya hasil rekaman wawancara akan ditranskrip menjadi kata-kata. Hasil transkrip mempermudah peneliti untuk mencari penyataan penting yang selanjutnya ditandai dan didaftar. Daftar pernyataan penting akan membantu peneliti untuk merumuskan tema dari data. Kemudian tema dari data akan dideskripsikan menjadi ciri mendasar pengalaman yang biasa dilakukan atau dialami oleh informan. Hasil dari deskripsi ini nanti akan dikonfirmasi kepada informan untuk memastikan kebenaran apa yang ditangkap oleh peneliti berdasarkan hasil wawancara

Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan. Proses analisis merupakan usaha untuk menentukan jawaban atas pertanyaan perihal: rumusan-rumusan dan pelajaran-pelajaran atau hal-hal yang kita peroleh dalam proyek penelitian. Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data yang merupakan rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah. Pada tahapan ini peneliti melakukan proses penguraian data menurut bagian-bagiannya dan penelaan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian-bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Pengecekan Keabsahan Data

Analisis wawancara terstrutur didasarkan pada buku Jhonson dan Christensen (2004:367-368). Berikut tahap analisis data wawancara yang merupakan jenis penelitian kualitatif fenomenologi.

Data wawancara dicatat dan ditranskripkan untuk dianalisis. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang masih berhubungan dengan subjek penelitian, yaitu dari wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya hasil wawancara dikodingkan dan dibuat kerangka hasilnya. Analisis data kualitatif yang digunakan adalah thematic analysis. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan skema open coding  untuk mengorganisir data dan diimplementasikan terhadap seluruh tema yaitu konsep laba. Setiap wawancara segera ditranskripsi dan dibaca beberapa kali oleh peneliti serta diperiksa keakuratannya. Selanjutnya dibuat pemetaan horisontal untuk mengeliminasi pengulangan dalam respon informan. Pernyataan-pernyataan yang berbeda kemudian dirumuskan dan diekstrasi dengan mengartikulasikan tema-tema yang mendasari kutipan kata per kata dari informan. Cross case analysis  digunakan untuk membandingkan hasil wawancara antar setiap informan, sebagaimana dikatakan Jhonson dan Christensen (2004:379) bahwa cross care analysis is searching for similarities and differences across multiple cases.

Setelah ditemakan, kemudian peneliti mengkonfirmasi hasil tersebut kepada informan, agar tidak terjadi salah persepsi. Selanjutnya, pada saat dilakukan penyajian data, maka peneliti mengumpulkan narasi dari setiap informan ke dalam tema-tema yang sama, kemudian dilakukan perbandingan dengan literatur atau teori. Hasil analisis ini akan menjadi sebuah deskripsi narasi terkait  dengan bagaimana mereka menganggap bahwa diri mereka telah mendapatkan laba.

PAPARAN HASIL TEMUAN

Kondisi Pengusaha Tempe Skala Mikro Saat Kini di Malang.Tempe merupakan salah satu makanan yang mudah sekali ditemui di Malang. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM menunjukkan bahwa seluruh kecamatan yang ada di Malang memiliki pengusaha tempe, baik berskala mikro maupun kecil menengah. Sebagian besar dari mereka membuat tempe untuk dijual secara mentah, dan banyak pula yang membuat kripik tempe.

Sebagian kecil dari pengusaha tempe skala mikro mengatakan bahwa usaha tempe bukan merupakan sumber penghasilan satu satunya. Pak Sm, pengusaha asal Pakisaji, mengatakan bahwa setelah berdagang tempe, beliau bertani di lahan sendiri. Usaha tempe hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berikut jawaban dari Pak Sm ketika ditanya harapan terhadap usaha.

“Yo pancet ae. Tak sambi mbek tani ancene, sawahe dewe iku po. Pan mari kadang nang sawah, yo ngilekne banyu, yo babat-babat.”

Senada dengan Pak Sm, Pak Pnjuga mengatakan bahwa Beliau memiliki usaha lain selain tempe, namun tempe masih merupakan sumber keuangan utama bagi keluarga asal kecamatan Beji tersebut. Produsen tempe asal kota apel ini memiliki usaha lain yaitu jasa reparasi lampu. Berikut informasi dari Pak Pmdan istrinya.

“…Kan saya kalau siang tukang servis, servis lampu... Setelah pulang jualan, tidur. Setelah tidur ke mushola, baru servis.”

Hasil observasi peneliti dan beberapa pernyataan dari wawancara menunjukkan bahwa IbuSni merasa kuwalahan ketika memproduksi tempe. Beliau merasa semua tenaga tercurahkan untuk tempe, sehingga jarang tidur.

“Kan malam itu ngantuk ya, apalagi kalau tempe gak jadi sebenarnya gak boleh tidur. Tapi besok harus jualan. Kerja saya satu hari penuh, kan malam tidur lah sebentar, 2 jam lah. ........ kalau orang jualan tempe tidurnya itu sedikit, nggak boleh banyak-banyak, kecuali ada pegawainya. Kan kalau malam kan harus kita yang tahu, pegawai pulang.”

Selain dari sisi kelayakan rumah huni, kemampuan pengusaha tempe juga ditunjukkan dari segi pendidikan anak. Ibu Kh misalnya, pengusaha tempe skala mikro di  kecamatan Pakisaji ini memiliki 4 orang anak yang lulus STM, dan semua anaknya telah membina keluarga masing-masing. Beliau mengantarkan anaknya sampai lulus STM, kemudian sang anak melanjutkan ke bangku kuliah dengan biaya sendiri. Hasil wawancara dengan Ibu Kh tersebut adalah sebagai berikut.

“Mantun ditinggal Bapak e kulo sik nyekolahaken lare 4, hasil e dodolan niku nyulik gawe sangune 400 arek loro. Cacakne niku nggeh tasik kuliah, sing dadi guru teng Gondanglegi niku nggeh taksih kuliah teng Malang.  Mantun kuliah teng panjen 2 taun, kuliah teng Malang 3 tahun kuliah teng Suroboyo  taun, niku mpun Bapak e mpun mboten enten, niku golek-golek dewe damel sekolah dewe.”

Uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa pengusaha tempe skala mikro ada yang menjadikan tempe sebagai sumber keuangan utama, ada yang menjadikan tempe sebagai usaha sampingan. Pengusaha tempe skala mikro di Malang mampu mencukupi kebutuhan keluarganya meskipun sederhana. Namun, kemampuan untuk menjaga kesejahteraan keluarga ini seringkali tidak dibarengi dengan kondisi usaha yang meningkat. Mereka mampu membuat tempat tinggal yang nyaman dan mampu mengantarkan anak untuk sekolah ke jenjang yang tinggi, namun kondisi usaha kurang berkambang. Mereka memang menghindari risiko yang besar, sehingga kurang ada greget untuk mengembangkan usahanya. Mereka pun enggan untuk mencatat keuangan usaha mereka, sehingga kurang menyadari keuntungan atau kerugian yang mereka alami setiap harinya.

Motif Awal Berwirausaha Tempe ternyata bukan hanya merupakan usaha sampingan bagi beberapa pengusaha, tetapi usaha utama yang menghidupkan perekonomian keluarga. Ada pengusaha yang mengawali karirnya memang dari produksi tempe, ada yang mengawali dari produksi tahu, dan ada juga yang melepas profesi lama dan menjadi pengusaha tempe.

Ibu Sn mengaku memulai usaha dari berdagang, untuk dapat berperan sebagai orang tua tunggal bagi adik-adiknya. Beliau memutuskan menjadi wirausaha daripada menjadi karyawan yang tidak setiap hari digaji. Ibu Sn mendapatkan modal berdagang dari saudaranya. Hasil dari berdagang kemudian di simpan dalam bentuk arisan, sampai akhirnya Beliau memproduksi produknya sendiri. Berikut cuplikan dari kisah Beliau.

“Aku dulu pasar. ......... aku neruskan untuk jualan itu...... Akhir e berapa bulan itu begitu terus setiap aku jualan ada sisa ada sisa aku kumpulkan, tak ikutkan arisan. Terus akhir e selesai dapat arisan sudah aku gak pinjam lagi. Jadi aku harus apa ya, istilahnya itu kulakan sendiri. Gak harus ngutang terus. Terus bisa memenuhi dasar itu, apa yang diperlukan untuk dijual, gitu. Terus aku produksi tahu.....  Aku berpikir e harus gimana, kalau di kantor nunggu satu bulan terus adik semua gak nunggu satu bulan, hari ini harus ada makan, kayak gitu”

 Ibu Sn senantiasa belajar untuk mengembangkan usahanya. Setelah sukses berdagang dan usaha tahu, Beliau seringkali diminta tetangganya, baik tetangga desa maupun tetangga rumah, untuk membagi ilmu sukses berjualan tahu. Keikhlasan Beliau untuk berbagi pengalaman ternyata membuat tetangga Beliau, yaitu Pak Sr untuk mengajari Beliau membuat tempe. Pak Sr tidak takut kalah saing, meskipun sama-sama produksi tempe dan tahu. Berikut hasil wawancara dengan Ibu Sn tentang tetangga yang mendorongnya memproduksi tempe.

“Owh Pak Sr itu, yang dulu itu mbak nya saja ajak dulu, pertama itu ke rumah bilang gini “coba anu membuat tempe sekalian.... nyoba aja wong Mbak Sn kan orangnya jualan tahu laku keras, mbok nyoba buat tempe sekalian.”  Owh ya saya coba, nggak usah buat banyak, 3 kg aja dicoba dijual. Nanti kalau sudah tahu rasakan orang kan suka. Tak coba 3 kg jalan, terus menjes juga gitu. limbahe kan eman.”

Namun, usaha Ibu Sn tidak dilanjutkan lagi sejak tahun 1991. Faktor usia dan tumbuh kembang anak membuat Ibu Sn memutuskan beralih profesi menjadi pedagang tahu dan tempe. Ibu Sn dan suaminya memutuskan untuk lebih memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Beliau merasa jika anak-anaknya saat ini lebih membutuhkan pengawasan dan pengarahan, daripada harta yang melimpah. Ibu dua anak ini berharap bisa membekali ilmu bagi anak-anaknya sehingga anak menjadi lebih sukses dalam berusaha di masa depannya. Inilah salah satu ungkapan dari Ibu Sn.

“...kadang-kita kita itu ndak bisa apa ya… ndak bisa berperan ganda. Maksudnya itu, kita kalau produksi harus sering di rumah, ke pasarnya harus dibatasi, terus kita itu waktu anak ada acara di sekolah ada apa apa, kita itu ndak bisa, berarti kita kan anak terbengkalai. Lebih dominan kepada apa ya harta saja, gak mikir anak gitu. Lha terus padahal besok penerus kita adalah anak. Ke depannya anak mau jadi apa, kan kita. Terserah kita cara mendidik....... Lek prinsipku, aku gak bisa cuma meninggalkan harta. Anakku punya ilmu, ilmu lebih penting. Kalau aku ngasih ilmu, ke depannya dia bisa mencari sendiri. tapi kalau aku mengasih harta, belum tentu dia punya harta bisa manfaat barang yan aku tinggalkan, kalau dia gak punya ilmu ya habis. Tapi lek punya ilmu ya enak, gak punya harta tapi punya ilmu, dia kan bisa usaha, cepet berpikir.”

Lain halnya dengan Ibu Sn, Pak Ar beralih profesi dari tukang bangunan taman menjadi pengusaha tempe dengan harapan memiliki penghasilan yang lancar. Menurut Beliau, usaha tempe bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak. Pengusaha skala mikro yang telah menjalani usaha tempe selama 19 tahun  ini menyatakan sebagai berikut.

“Ya cari yang lancar, maksud e coro nganu iku.. yang tetap. Lek e singen niku lek teng taman, kadang kan sak minggu enyang, mboten wonten garapan, nggeh prei kan ngoten a. Dadi pados sing lancar niku tempe. …. Nggeh saget memenuhi kebutuhan lah istilah e”

Sama halnya dengan Pak Ar, Ibu Kh juga menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pasca suaminya meninggal dunia, Ibu Kh menjadi kepala keluarga. Beliau berharap dapat memberi makan dan menyekolahkan anak-anaknya. Berikut hasil wawancara dengan Ibu Kh.

“… digawe mangan ambek anak e, digawe sangune anak e sekolah. Sangune mek 400 repes, yo ngene-ngene iki sing tak sekolahno mbiyen (menunjuk anaknya yang baru datang dari berjualan tempe)...”

Rata-rata pengusaha tempe yang ada di Malang memang menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka tidak bersungguh-sungguh mengejar kekayaan fisik. Mereka juga merasa lebih puas ketika memiliki kebebasan berekspresi, daripada ketika menjadi karyawan. Pak Sholeh, pengusaha tempe asal kecamatan Singosari, menyatakan memilih usaha tempe sebagai wujud usaha mandiri. Pak Sholeh mengatakan usaha tempe lebih menguntungkan karena membuat Beliau lebih dekat dengan keluarga, seperti hasil wawancara berikut.

“Golek sing swasta, sing mandiri dewe ngono lho mbak…. Nggeh pokok yo kalih keluargo malih cedek lah wes. Coro percetakan semungguane pas wayah e mbayine Fauzi niko.. nggeh kate prei kesulitan. bane nggadah prei niku teng nggriyo disusul ken kerjo malih, lek ngoten koyok wonten pesenan pane mbejing dipundhut ngoten.. malih nglembur..nglembur ngoten. Sak aken sing teng nggriyo malih ngenteni.hehehe”

Motif lain juga ditemui dari Pak Pm yang pernah bekerja sebagai karyawan dan sales. Beliau mengakui jika usaha tempe lebih menguntungkan sekalipun tidak mendapatkan jabatan atau gaji yang lebih. Beliau merasa nyaman ketika bisa mengendalikan pekerjaan, atau tidak terikat dengan orang lain, sebagaimana pernyataan Beliau berikut ini.

“Ya kalau untuk rumah tangga enak e kan kalau tempe itu kita kerja sendiri. jadi gak terikat, terus gak diperintah  atasan. Kalau masalah gaji mungkin.. ketika kita punya jabatan yang tinggi mungkin gaji lebih bagus ya. Ketika seperti ini ya… alhamdulillah cukup buat kehidupan sehari-hari.”

Beliau juga tidak berkeinginan memperbesar volume usaha lagi. Bapak yang tertib sholat jama’ah di mushola ini, menyatakan kesulitannya jika ingin memperbesar usaha karena waktu yang terbatas. Beliau lebih memilih beribadah daripada berjualan terlalu pagi. Berikut yang Pak Pm sampaikan.

“…terus kita coba di sini, terus akhir e kan saya untuk maju lebih..lebih.. apa ya.. (untuk) lebih lagi lah. Itu tidak bisa! Kenapa demikian.. karena tempe itu pelanggan… terbatas. Lain kalau kita jual di pasar. Kita jual di pasar, kita bisa jual sebanyak mungkin. Cuman kalau di pasar itu kita harus berangkatnya terlalu pagi, bahkan terlalu malam sebelum sholat subuh, ya itu yang sulit ya.. ya jadi waktu kita terbatas, jadi kita tunggu sholat dulu, habis subuh berangkat. Antara subuh sampai saya kembali itu terbatas, jadi kita….”

Selain memenuhi kebutuhan keluarga, rupanya para pengusaha juga ingin memiliki penghasilan lebih. Ibu Kh menyatakan akan memberikan campuran lebih banyak untuk tempenya, ketika menginginkan keuntungan yang tinggi, seperti kutipan wawancara berikut.

“Waduh.. sembarang kulo campuraken saking batine cek akeh. Wonten kates nggeh kates, kulo campuraken… Tiyang nggunung sing numbasi, lek tiyang mriki mboten purun. Hehehe… wayah e payu 200 kok agak laris ono wong nuku 250 dikekno… lek mpun mlebet prepekan, koyok riyoyo, kulo rijiki, kulite mawon mboten kulo katutaken. Masi kulo mpun mlebet teng Wonokerso kulo rijiki…”

Ibu Kh ternyata juga menyesuaikan penjualan produk dengan tipe pelanggan. Beliau menyatakan jika selama pelanggan mau menerima tempe yang dicampur banyak bahan lain, maka Beliau akan tetap menjual tempe seperti itu. Namun, Beliau rupanya juga tahu cara menjaga kepuasan pelanggan inti, yaitu pelanggan yang dekat dengan domisili Beliau, di mana bahan campuran lain sangat diminimalisir bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini rupanya dilakukan untuk menjaga kesetiaan dari pelanggan yang dapat Beliau jangkau di usianya yang telah memasuki kepala 7 ini.

Berbeda dengan Ibu Kh atau sebagian besar pengusaha tempe yang lain, Bu Sn senantiasa menjaga kepercayaan pelanggan dengan meningkatkan kualitas produk. Beliau tidak pernah mencampuri produknya dengan bahan campuran lain. Beliau pun menjual dengan harga lebih  mahal. Namun agar pelanggannya tetap mau membeli, Beliau  senantiasa menerima kritik dan saran dari pelanggan agar produknya tetap digemari pelanggan. 

“He em, iya. lebih tinggi (harganya), soalnya kan murni, nggak mau aku campur. Akhirnya kan pelanggan suka. Bairpun harganya lebih mahal, soalnya kan rasa itu. Kan kita juga memberikan pengarahan, ada yang murah tapi ada campurannya, coba aja tempe ini rasakan. Aklu bisa merasakan, owh sedikit tapi lho… baut makan, lauk pauk, sedikit tapi bisa dirasakan. Kalau orang nggak punya selera tinggi, pokoknya besar, enak! Tapi ini sedikit bisa dirasakan…. Owh gak pernah survey ke pelanggan tapi pelanggan yang bilang. Saya bilang ke pelanggan ‘kalau tahu saya tempe saya kurang apa, sehingga saya bisa memperbaiki apa yang ada’…”

Akan tetapi, keinginan untuk mengejar keuntungan keuangan tersebut ternyata tidak terus ada. Ketika kualitas produk menurun atau produk rusak, pengusaha hanya berkeinginan untuk balik modal. Pengusaha menjual dengan harga murah, agar pelanggan tetap mau membeli. Pak An menyatakan seperti di bawah ini, ketika tempe yang dihasilkan rusak.

“…lek e rusak niku ancen rugi istilah e lek e rusak nopo mboten mateng, nopo kematengen. Istilah e lek e kematengen membusuk ngunu lho mbak, membusuk... Ngoten niku wes gagal termasuk an….  nggeh disade, coro.. coro laba niku wes kurang. Pokok balik duwik e dele ngoten niku…. pasan adem lek diiris kan ketingal alit. Kadang protol ngoten niku. Ngoten niku tiyang sadeyan sak anu anu ne wes mbak… Digedek-gedekaken pokok telas ngoten tok wes. Masio kematengen kan jarang sing remen a, pokok purun ngoten wes”

Hal serupa dilakukan juga oleh Ibu Kh ketika seperti berikut ini.

“Maleh muuurah.. maleh gak oleh bati. Gawe tuku dele maleh golek torokan, mbok opo sing nduwene. Mboh dodol salak, mboh dodol petek, gawe nambahi tuku dele. Hehehehe. Yo ngunu Nduk lek wong dagang”

Ada juga pengusaha yang mencampurkan tempe yang belum laku pada produk yang belum jadi, sehingga kerugian dapat diminimalisir. Sebagian besar pengusaha tempe melakukan hal ini. Pak Sholeh misalnya, Beliau tidak menjual semua tempe yang belum laku dengan harga murah. Beliau rela membawa pulang sedikit kembali tempe yang tidak terjual untuk dicampurkan ke produk yang belum jadi, seperti cuplikan wawancara berikut ini.

“Kulo bosok aken kadanganu, biasae rego 8.000 ya malih 5.000 4.000, separone. Malih rugi a. lek dicampuraken kan mboten pati nemen-nemen.Tapi lek kathah nggeh disade bosokan, lek dicampuraken sedoyo nggeh melok bosok mangke. Lek e kantun kedik-kedik ngonten, 2 alir 3 alir ngoten kulo campuraken”

Pak Ponito juga mencampurkan tempe yang belum laku ke dua produk yang sedang diproduksi, yaitu tempe kedelai dan tempe kacang. Pak Ponito malah tidak menjual tempe yang belum laku dengan harga murah, Beliau membawa pulang semuanya untuk diolah kembali. Pak Ponito mengatakan sebagai berikut.

“Nggak.. nggak didukne regane. Lek gak payu yo digowo moleh. Nanti bisa diolah lagi, dadi tempe bungkil, dicampurkan sama koprak iku. Dicampurkan ke tempe dele lagi ya bisa. ”

Hasil wawancara-wawancara tersebut menunjukkan bahwa tujuan atau motif mendirikan usaha tempe sangat beragam. Mereka mengawali usaha tempe dengan berbagai alasan. Secara umum mereka menjalankan usaha hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga berharap memiliki penghasilan tetap namun tidak terikat waktu. Mereka lebih suka menjadi wirausaha di mana mereka adalah pemilik, sehingga mereka bisa mengatur waktu sesuai dengan kebutuhan atau keinginan mereka.

Cara Mengetahui Laba. Persepsi merupakan cara pandang seseorang terhadap suatu hal, yang juga didasarkan dengan masa lalu dan harapan di masa depan. Persepsi pengusaha tempe di Malang ini terhadap laba, cukup beragam. Sebagian besar tidak memiliki catatan keuangan, hanya berhitung menggunakan perkiraan saja. Oleh karena itu tidak mengherankan ketika ditanya tentang laba, maka jawaban mereka cukup meluas. Rata-rata dari mereka mengetahui laba dengan mudahnya, yaitu jika tempe terjual habis. Pak Sholeh menyatakan bahwa  pandangannya terhadap laba sebagai berikut.

“Lek tempe niku mboten mesti niku nopo. Lek beto wangsul nggeh mboten bati, lek telas nggeh bati, mpun ngoten tok…..”

Ketidakpastian jumlah laba yang diperoleh selain dapat disebabkan karena ramai tidaknya pasar atau pembeli, dapat juga disebabkan karena perbedaan cara menjual. Pak Ar menceritakan pengalaman Beliau yang mengalami penurunan laba karena perbedaan irisan tempe yang dijual. Harga jual tempe menjadi berbeda, karena iisan terlalu besar atau terlalu kecil. Banyak sedikitnya tambahan produk (imbuhan) tempe yang diberikan kepada pelanggan juga mempengaruhinya.

“Mboten mesti lek coro karen mboten mesti. Kadang diimbu imbuhi, kadang salah irisan. Wong sabendinten ngiris niku lho saget kebablas anggit sampeyan. Masio ben dinten niku lho saget berobah, kadang keciliken ngotnemalih mboten mentolo. Kudune 2 ewu malih 1.500, moro ping bolak balik”

Jika Pak Sholeh merasa laba ketika semua terjual habis, maka Pak Solek masih memperhatikan berapa banyak tempe yang belum laku terjual. Berikut pernyataan Pak Solek.

“Yo ndelok, tempene kari piro ngunu lho mbak. Lek tempene sik akeh yo gak oleh bati, lek tempene mek titik yo oleh bati.”

Lebih detail, ternyata rata-rata mereka merasa mendapatkan laba ketika masih ada ada uang sisa hasil penjualan setelah digunakan untuk membeli bahan baku untuk produksi di hari berikutnya. Ibu Kh misalnya, lebih matematis menceritakan pengalaman Beliau untuk mengetahui laba. Beliau tidak pernah memiliki catatan keuangan, namun dengan menjual dagangannya melebihi beban (kulakan) yang dikeluarkan maka akan mendapatkan laba.

“Angsal bati iku koyok kulakan e digawe tuku dele, digawe tuku kayune, gawe tuku godong e, ragine iku kiro-kiro entek duwek 30 ewu. Pokok e lebih teko 30, terus hasil e yo 50, 49, wong jenenge dodolan, yo48. ….”

Sekalipun lebih jelas nominal laba yang diperoleh, ternyata Ibu Kh tidak pernah mencatat pemasukan dan pengeluaran dari usaha. Ibu Kh juga tidak memiliki target penghasilan yang muluk-muluk, hanya sebatas perkiraan yang cukup untuk makan dan uang saku anak-anaknya. Berikut jawaban Beliau ketika ditanya tentang catatan keuangan usaha.

“Oraaa tahu  pokok e sampe digawe mangan ambek anak e, digawe sangune anak e sekolah. Sangune mek 400 repes, yo ngene-ngene iki sing tak sekolahno mbiyen (menunjuk anaknya yang baru datang dari berjualan tempe). Pokok e sampe”

Pak Sakmad ternyata juga tidak pernah mencatat keuangan usahanya. Akan tetapi  pengusaha tempe mulai tahun 1974 ini sesekali masih mencari cara agar beban usaha  tidak membengkak. Beliau mencoba merebus kedelai menggunakan kompor dan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya, akhirnya Beliau mengetahui mana yang paling menguntungkan, sebagaimana pernyataan berikut.

“Iyo lha wong kompor ae wes penak.. ora tau ngangge kayu aku ancen e. tambah entek e mek titik.. soale  iso dadi 4 dino, lha lek kayu 5.000 ora sampe, sik 8.000an haree… Tau tak coba a, tuku kayu sik 8.000 entek e… lha 4 dino gawe 5.000, sik 20.000.. padahal gas mek 17.000. sik untung lah. Wes ora nunggok ne. Disumet, ditinggal wes umep wes siji setengah jam mari wes.”

Berbeda dengan pengusaha sebelumnya, Pak Pm mengaku pernah mencatat keuangan usaha meskipun beberapa bulan saja. Pengusaha yang pernah bekerja sebagai sales itu mengaku mencatat keuangan untuk mengetahui besar keuntungan yang didapatkan. Berikut hasil wawancara dengan Beliau.

“Nggeh kiro-kiro. Ini kan (menunjuk buku catatan) kita mau mengetahui seberapa banyak pendapatan kita dari tempe, kan lain tahu lain tempe kacang. 77 88 nah…”

Selain catatan pemasukan, Bapak yang bukan berasal dari lulusan Akuntansi ini ternyata juga memiliki catatan produksi. Catatan produksi ini membantu Pak Pm untuk menetukan berapa dana yang seharusnya disisihkan untuk membeli bahan baku yang tidak setiap hari dilakukan.

“Ini ada harga produksi (menunjuk buku catatan) Harga produksi ada sudah, termasuk gas. cuman ini nggak hari ini habis sekian.. Cuma rata-rata sekian.  Jadi katakanlah satu hari 15 ribu atau 16 ribu saya buat tempe”

Pencatatan keuangan ternyata membantu Pak Pm untuk yakin menjalani profesi sebagai pengusaha tempe. Sebelum melakukan pencatatan pada beberapa bulan dalam tahun 2015,  Beliau sempat meninggalkan profesi sebagai wirausaha tempe. Pada saat itu, Beliau belum yakin dengan keuntungan yang didapatkan dari usaha fermentasi kedelai ini. Saat ini, Pak Pm mengaku sudah tidak melakukan pencatatan lagi sejak taun 2015, karena dinilai hasil dari usaha yang mulai stabil.

“Kita nggak pernah mencatat, jadi buat tempe terus sempat ganti profesi. Jadi kita pikir-pikir, kita coba dulu kita.. kita.. apa ya.. kira-kira seperti itu (melihat keuntungan).. nggeh rata-rata niki lho per hati… ya saya kira jadi rutinitas naik turunnya.”

Besar laba rata-rata yang telah diketahui oleh Pak Pm membuat Beliau selalu berusaha tidak menurunkan harga jual di wilayah dagangnya. Ketika tempe ada yang belum laku, maka dibawa pulang untuk dicampurkan kembali kepada produk yang belum jadi. Beliau menjaga agar harga jual di wilayah dagang terus stabil, atau tidak turun di hari-hari berikutnya.

“….melihat kondisi itu, istilah e wilayah jual ya. Di wilayah jual itu selalu kita nggak pernah menurunkan harga, menjaga hari-hari berikutnya supaya besoknya tidak diturunkan lagi. Jadi kadang.. kita sampai.. katakanlah pukul 9 ya, kita sudah habis area, kadang itu bisa saja terjadi seperti itu, jadi yo daripada tempe dibawa pulang…. Iya (bisa diolah lagi).. Jadi dirajang kecil-kecil dibuat campuran.”

Beralih ke Ibu Sn, pengusaha tempe yang skala usahanya hampir masuk industri skala kecil ini, mengaku tidak pernah memiliki catatan produksi. Walaupun begitu, Bu Sn menyatakan jika semua harus dipikirkan. Beliau selalu mengingat apa yang dilakukan. Pengusaha yang telah memproduksi tempe selama 16 tahun ini telah mampu menghitung tanpa catatan formal. Berikut pernyataan Beliau.

“Yaiya segalanya harus dipikirkan. Lha kau kalau satu hari pagi jebret! Ke tukang seet kerja biasanya, masak berapa, sekian. Nanti dapat bel, minta ini.. harus dikalkulasi, masak harus sekian”

Beliau juga menambahkan jika penentuan keuntungan yang didapatkan juga harus mempertimbangkan kebutuhan keluarga dan karyawan.

“Ya kalau kita jualan kan gini mbak, kalau gak dapat laba ya buat apa itu kerja gitu. Ya harusnya dapat laba, bisa mencukupi di rumah. Kan awalnya kita sudah memprediksi, awal membuat ya. Dari 3 kg itu, nanti seumpama 3 kg, modal awal 10 ribu. Kalau bisa harus keluarnya 20ribu. Soalnya nanti kan di rumah, terus ongkos pegawai itu, juga kan kalau pegawai tahu tempe yang jelas jatah rokok, makan minum itu harus!”

Sekalipun memperhitungkan kebutuhan keluarga dan karyawan, Bu Sn ternyata tidak terlalu mempermasalahkan jumlah laba yang didapatkan. Beliau tidak memiliki target terkait jumlah laba yang harus didapatkan untuk keluarganya. Sama halnya dengan Ibu Febi, Bu Sn yakin jika asalkan tidak pesimis, ternyata semakin bertambah kebutuhan anggota keluarga maka semakin lancar usaha yang dijalankan. Berikut pernyataan dari Ibu Sn..

“Nggak masalah Mbak (laba keluarga turun)… Tapi kita kan sudah tahu setiap hari kita habisnya sekian. Tapi akan awalnya kita keluarga kecil, berdua. Owh ternyata selesai anu dapat rejeki lagi (setelah menikah, memiliki anak), owh ternyata dapat order lebih banyak lagi, kan gitu.”

Catatan yang Ibu Sn miliki hanyalah catatan tentang piutang. Beliau mencatat piutang sebagai bukti untuk menagih kepada pelanggan. Bagi beberapa pengusaha tempe, piutang tidak tertagih merupakan suatu risiko yang harus diminimalisir, seperti pernyataan Bu Sn berikut.

Ya jelas kadang-kadang dulu produksi itu ada yang gak setor buat bayar kuliah anaknya. Dapat arisan mau dibayar, ternyata dapat arisan gak dibayar, ya risiko. Makanya kudu pinter-pinter kita yang jalankan

Akan tetapi ada juga pengusaha yang tidak mencatat piutang yang dimiliki. Pak Sa hanya berharap usahanya terus dapat berjalan atau tetap bisa berjualan tempe. Beliau seringkali mengikhlaskan piutang yang tidak tertagih, karena pelanggan tiba-tiba tidak mengambil tempe di Beliau lagi. Pelanggan yang tidak langsung membayar setiap kali mengambil, membuat Pak Sa kesulitan untuk menagih Piutang. Solusi yang dilakukan Pak Sa untuk mengatasi piutang tak tertagih adalah dengan menggunakan tabungannya sendiri terlebih dahulu, atau dengan berhutang. Berikut hasil wawancara dengan Pak Sa.

“Nggak ada (pencatatan) mbak. Lek usaha tempe iku.. jalan… Maksudnya jalan itu… yok nopo nggeh.. gak bisa ditarget. Saya sehari.. sekian. Dapat laba sekian….Prediksi saya kalau usaha itu mesti ada untungnya… Konsinyasi, coro jowone nyaur ngamek. Dadi uang berputar terus…. Nah itu yang sulit, kan ada yang pelanggan ada yang bayar satu minggu sekali. Ada yang setiap hari…. Satu minggu sekali ada yang mbleset, sik mbulet. Tergantung pelanggan di sa itu aduh.. pelanggan wes dibandani, tapi suatu saat dia gampang pindah” 

Hasil wawancara tersebut juga menunjukkan keyakinan Pak Sa bahwa semua usaha pasti mendatangkan laba. Namun Pak Sa mengaku kesulitan untuk mengetahui laba rata-rata yang dihasilkan, karena tidak semua pelanggan membayar setiap mengambil produk. Pelanggan yang mengambil satu minggu sekali biasanya tidak bisa membayar penuh dengan berbagai alasan, bahkan tiba-tiba tidak mengambil produk di Pak Sa lagi. Menurut Beliau, keuntungan dapat dilihat ketika produk yang dijual sendiri, di mana uang setiap hari didapatkan. Berikut pernyataan Pak Sa.

“Umume hargane sak mene, ukuran e sak mene. Owh lek bati yowes… Lek e masak bawah 1 kw, 50 kg, 60 kg masih bisa diprediksi kan dijual sendiri.... Lek di sini kan wong njumuk, kulakan, apa namanya…distributor. Dadi siji wes, keuangan jadi satu induk….. Kapasitas sak mono iku (lebih dari 1 kw) mungkin satu minggu bisa. Kan setor kedelai sisanya berapa… tapi banyak gak ada sisanya soale belum bayar satunya(pelanggan), belum bayar satunya.” 

Wawancara tersebut menunjukkan bahwa Pak Sa tidak mempedulikan pencatatan keluar masukanya uang. Beliau menentukan harga  produk berdasarkan apa yang dilakukan oleh pedagang lain pada umumnya. Pengusaha asal Sanan ini tidak sepenuhnya mengetahui berapa beban yang dikeluarkan untuk membuat produk, sehingga keuntungan yang didapatkan pun tidak sepenuhnya nyata.

Meskipun demikian, Pak Sa merasa mendapatkan keuntungan ketika bisa menjual dengan harga lebih untuk setiap alir (per kotak) tempe. Beliau mengatakan jika selalu bisa menjual tempe sampai habis, sekalipun harus menjual sesuai harga pokoknya (harga kulakan). Beliau menambahkan, jika semua tempe pasti terjual namun jumlah uang yang diterima belum tentu sesuai. Pelanggan yang mengambil tempe dari Pak Sa terkadang tidak membayar sesuai harga jual dengan berbagai alasan. Pak Sa menjelaskan sebagai berikut.

“ Ya  harus habis. Ya lihat-lihat situasi kalau pasar sepi ya harga kulaan dikasihkan. Harga kulakan sekitar 26 per alir, kalau harga jualnya sekitar 32 30 per alir…. Kalau mau untung harus dijual lebih dari harga jual per alir…. Tapi kalau totalnya, tempe, mesti gak ada sisanya. Sisae di orang2. Terkadang kurang uangnya.…”

Sedikit berbeda, Pak Rd merasa mendapatkan keuntungan ketika ada uang sisa setelah modalnya sudah kembali. Pengusaha asal Sanan ini tidak berpikir panjang untuk menjual dengan harga lebih murah (kulakan) ketika ada uang untuk berjualan esok harinya. Pak Rd memang melakukan hal yang sama dengan Pak Sa, yaitu menentukan harga jual dengan mengikuti pasar. Namun perbedaan tempat mencetak tempe membuat Beliau tidak dapat menentukan harga per alir seperti yang dilakukan Pak Sa dan Pak Ar. Berikut yang Pak Rt sampaikan.

“Mengikuti pasar untuk menentukan harga jual…. Pkoknya modal sudah kembali, sekiranya pasarnya sepi ya diturunkan. Walaupun harganya turun”

Ketika menentukan keuntungan yang ingin dicapai, Pak Rd pun mengakui bahwa tidak ada target terkait keuntungan yang harus didapatkan. Tetapi Beliau mengalokasikan uang yang didapatkan untuk membeli bahan baku berjualan, untuk makan esok hari, untuk sekolah, dan sisanya ditabung.

“Nggak ada target satu hari harus sekian. Pokoknya jalan… Rumah tangga sama usaha jadi satu habis jualan kan dapat uang, ya itu dibagi-bagi. Pokoknya dibuat modal ada, dibuat makan ada, dibuat sekolah anak ada, nah sisanya itu di tabung”

Serupa dengan Pak Sa dan Pak Rd, Pak Kan mengaku hanya berharap usaha tetap jalan, oleh karena itu Beliau seringkali rela menjual dengan harga kulakan. Pengusaha asal Turen ini biasanya menaikkan harga ketika harga kebutuhan sehari-hari meningkat, agar tetap bisa membeli bahan baku untuk jualan di hari berikutnya, dan bisa makan hari ini. Ketika tempe belum laku terjual maka Pak Kan menitipkan tempe pada saudaranya yang mlijo.  Namun Beliau mengaku jika tidak pernah memperhitungkan jumlah uang yang akan diperoleh dari hasil menitipkan produk ke saudaranya. Pernyataan Beliau ditunjukkan pada hasil wawancara berikut.

“Mboten nate kulo catet. Pokok angsal barang nganu nggeh kulo anu maleh ngoten tok…. lek kulakan maleh ben dinten. Batine yoo…nopo niku, nggeh mbak kulo niku sing nganu. Kadang sak ulan mboten mesti disukani kalih atus (Rp 200.000). Mboten nate kulo itung… nggeh nyesuaino (harga) kalih angsale yotro niko lho Lek e regine naik, mboten angsal yotro, malih mboten angsal dele, mboten angsal sareman e. nggeh pancet standart (harganya)”

Sedikit berbeda dengan pengusaha tempe yang lain, Ibu Febi  merasa mendapatkan keuntungan ketika bisa bersedekah kepada orang lain, bisa membuat karyawan nyaman, dan pendidikan anak terjamin. Pengusaha asal Sanan ini awalnya juga melakukan pencatatan pengeluaran dan pemasukan usaha meskipun tidak rinci, namun karena penghasilan sudah stabil maka sudah tidak mencatat lagi. Berikut pernyataan dari Ibu Febi.

“saya dulu pernah bikin membukuan, ada masuk ada keluar. cuma karena sudah tidak sempat, saya tidak membuat lagi. Jadi diperkirakan, ya dihitung pemasukan pengeluaran cuma tidak detail. Dikatakan untung kalau… kita bisa hidup lebih baik, katakan kalau dulu kita jualan sekian mana mungkin kita bisa sedekah, mana mungkin kita bisa berbagi. Kalau kita dikasih rejeki lebih kan bisa berbagi. Memang dari dulu saya usahakan anak-anak dapat pendidikan yang baik...”

Berbeda dengan Pak Sa yang merasa lebih untung ketika bisa menjual sendiri barang dagangan daripada dibeli oleh pelanggan tempe yang tidak setiap hari membayar. Ternyata Bu Sn menemukan bahwa keuntungan tetap sama antara tempe yang dijual sendiri dengan yang dibeli oleh pedagang tempe. Semua itu tergantung dari kemampuan pengusaha tempe itu sendiri, termasuk untuk menagih piutang. Jika pelanggan merugikan kita maka sebaiknya kita mengirimkan tempe ke sana lagi.

“…. Jadi dijual sendiri, juga diantarkan ke orang…. Semua menguntungkan, terserah kita bagaimana caranya menarik, mengelola… Lha jadi orang kan harus sesuai, apa yang diucapkan dengan yang dijalankan harus sesuai. Kalau gak sesuai ya satu kali itu aja”

Sedangkan Pak Sr, justru berusaha untuk senantiasa membuat pedagang tempe yang mengambil dari Beliau agar mudah menjual kembali. Walaupun keuntungan Pak Sr menjadi berkurang, namun Pak Sr yakin jika semakin banyak pelanggan maka keuntungan juga akan besar. Pengusaha tempe asal Pakis ini juga selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan pelanggan.

“(Agar pelanggan puas) banyak guyon, terus caranya  saat jual nggak mahal. Jadi gimana yo,  ya kiranya pelanggan bisa jual…. Iya, bisa mudah jualannya. Jadi walaupun saya dapat untung sedikit, pelanggan saya tetap bisa jualan”

Penjualan dengan harga murah kepada pelanggan yang menjual kembali tempe yang dibeli, tidak selamanya dilakukan. Pak Sulkhan akan memilih pelanggan yang setiap hari membeli, agar keuntungan Beliau tetap stabil dan usaha bisa terus dijalankan. Pengusaha asal Gondanglegi ini juga membatasi pembelian oleh pelanggan yang akan mengambil dalam jumlah besar, dengan alasan keterbatasan dana untuk stok ke satu pelanggan saja. Pak Sulkan berusaha menjaga pelanggan lain meskipun mereka membeli dalam jumlah kecil. Berikut penjelasan Pak Sulkan.

“Lek tiyang ben dinten niku nggeh saget. Lek dek e saiki njupuk mene mboten,  malih ilang batinipun.  Malih gak pasti. Lek e kulo dol murah niku ancen ben dinten tiyang e njupuk, bah wes masi nyudo rego 500 nopo 1000 niku bah wes, pokok kulo piturut saget mlampah ngoten niku lho…. Lek tiyang gelem mendet ben dinten, 20 kg, kulo mboten wani. Kulo lak maleh kedah nggadah bunci riyen. Nggeh kulo ngetenaken mendet 10 kg mawon ben dinten. Malih sakne pelanggan lintune mboten kumanan”

Terkait dengan tambahan modal, pengusaha skala mikro memang sangat berhati-hati. Mereka tidak mau mengambil risiko tinggi, jika berhutang ke bank, kecuali jika bunga dari hutang sangat kecil. Rata-rata modal didapatkan dari tabungan sendiri atau pinjam ke Saudara. Ibu Sn mengatakan tidak berani menggunakan pinjaman dari bank untuk usaha, atau untuk membeli bahan. Beliau menggunakan modal pinjaman untuk membeli barang-barang produksi saja, seperti membuat tempat produksi.

“…. Kalau dulu aku masalah kedele nggak ya, soalnya aku punya prinsip kalau kamu hutang bank jangan dibuat untuk berdagang. Kalau memang kamu hutang bank buatlah tempat produksi satu dua biar memudahkan, lebih cepet cara kerjanya atau nggak biasanya buat beli tong saja, tempatnya produk. Aku gak mau, dulu nyarankan ke suamiku hutang bank buat dagang, aku gak mau. Dagang ya sudah bairlah, yang ini biar berkembang kalau kamu hutang ya buat yang lain. Dulu aku ancen hutang bank, kan dapat dana KUR, jadi bunganya kecil sekali. Mbayarnya itu mudah, terus cicilannya ringan kan”

Beberapa hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pikiran yang berbeda-beda terkait dengan laba. Ada pengusaha yang melihat laba hanya dari produk yang terjual habis, ada yang dilihat dari sisanya, ada juga yang lebih matematis, bahkan ada yang memiliki catatan keuangan. Perbedaan pandangan tentang laba juga mempengaruhi cara mereka berusaha mendapatkan laba.

PEMBAHASAN

            Persepsi Laba bagi Pengusaha yang Didominasi Tujuan Keuangan

Ibu Sn berharap untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan adik-adiknya ketika memilih menjadi pengusaha tempe. Beliau merasa memiliki uang setiap harinya untuk membeli bahan makan bagi keluarganya, tidak perlu menunggu satu bulan seperti karyawan. Pengusaha tempe skala mikro memang hanya berharap jika usaha tempe yang dijalani akan membuat mereka mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya Hal tersebut senada dengan yang ditemukan oleh Benz (2006:32), di mana orang menjadi pengusaha karena keuntungan yang didapatkan. Ibu Kh pun menjelaskan lebih lanjut jika laba (bati) dilihat dari adanya tambahan uang yang ada di tangan, yang diperoleh dari usaha yang dijalankan. Laba berwujud materi/uang dikemukakan oleh  Ibu Kh sebagai berikut.

“Angsal bati iku koyok kulakan e digawe tuku dele, digawe tuku kayune, gawe tuku godong e, ragine iku kiro-kiro entek duwek 30 ewu. Pokok e lebih teko 30, terus hasil e yo 50, 49, wong jenenge dodolan yo 48. Dadi hasil e digawe maem ambek anak “

Berbicara tetang laba, pertama kali yang dipikirkan oleh Ibu Kh adalah menggunakan uang penjualan untuk membeli modal usaha, dan sisanya yang bisa digunakan untuk makan adalah laba. Laba di sini berarti tambahan kekayaan yang dimiliki oleh pengusaha, meskipun laba yang didapat seringkali langsung digunakan untuk biaya makan. Adanya suatu kemampuan membeli makanan dari tambahan kekayaan merupakan manivestasi dari teori proprietary di mana usaha perseorangan merasa laba ketika ada penambahan aset (kekayaan).

Sprague dalam Godfrey (2010:258) menyatakan bahwa seluruh tujuan bisnis adalah peningkatan kekayaan, yaitu peningkatan kepemilikan. Peningkatan kepemilikan ini diwujudkan dengan bertambahnya kekayaan yang berarti dihasilkannya suatu laba. Menurut Godfrey (2010:258) dalam teori propietary, konsep laba adalah meningkatkan kekayaan bersih sebagai imbalan dari “kewirausahaan”. Laba mencerminkan tambahan kekayaan yang dihasilkan dari usaha tempe. Laba tersebut berwujud material/uang yang berarti menambah kekayaan pemilik. Ketika pengusaha tidak memiliki kewajiban (hutang) maka kepemilikan dari pengusaha adalah sama dengan aset yang dimiliki.

Laba bersih akan meningkatkan kekayaan pemilik dalam suatu periode operasi bisnis. Sedangkan beban akan mengurangi porsi kepemilikan, yang berarti mengurangi kekayaan pemilik. Sesuai teori proprietary mereka akan merasa laba ketika ada tambahan harta bagi pemilik, misalnya bertambahnya jumlah uang. Ketika ada produk yang tidak terjual maka mereka merasa rugi. Padahal secara akuntansi mereka masih mungkin mendapatkan laba, sekalipun ada produk yang belum terjual. Kurang detailnya pengusaha dalam menghitung Biaya Overherad Pabrik (BOP) menyebabkan hal ini terjadi. Bagi mereka, asalakan balik modal dan masih ada uang sisa, berarti mereka telah mendapatkan laba.

Pengusaha yang hanya berharap untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar biasanya tidak merasa khawatir jika tidak memperhitungkan biaya overhead. Pengusaha tempe skala mikro yang ada di Malang akan melihat harga pasar pada umumnya, atau hasil berbagi informasi dengan sesama pengusaha, untuk menentukan harga jual produk. Padahal, jika pengusaha mau menghitung BOP dengan seksama maka uang yang ditabung bisa bertambah, karena mereka menjadi tahu berapa harga pokok penjualan produk, yang akhirnya mudah untuk menentukan harga jual yang pantas untuk produk mereka sendiri.

Pak Sr menyatakan jika perlu memperkirakan laba yang akan didapatkan agar mampu membayar hutang. Posisi hutang di sini merupakan pengurang dari laba, atau mengurangi kekayaan dari pengusaha. Oleh karena itu karena pengusaha menyadari jika hutang adalah kewajiban, maka sekalipun mengurangi laba, pembayaran hutang tetap dilakukan. Pembayaran hutang dilakukan untuk menentramkan hati karena tidak ada tanggungan beban kepada orang lain. Hutang memang merupakan suatu janji yang harus dibayarkan, telah disebutkan beberapa ayat dalam Al-Qur’an bahwa hutang harus dibayarkan seperti dalam surat Al-Nisa ayat 11 dan 12, dimana hutang merupakan sesuatu yang harus didahulukan pembayarannya sebelum dilakukan pembagian harta waris. Hal ini merupakan justifikasi pentingnya pembayaran hutang.

Setelah pengusaha bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, dan memenuhi kewajibannya maka sisa uang akan ditabung. Mereka akan menggunakan tabungan ini untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan usaha ataupun kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dengan segera. Namun, tidak selamanya tabungan digunakan untuk berjaga-jaga, tabungan dapat juga digunakan sebagai bentuk simpanan sebelum investasi ke dalam usaha sejenis ataupun usaha lain.

Pak Nito menggunakan tabungan ini untuk berinvestasi ke usaha lain yang lebih menjanjikan pengembaliannya. Beliau jarang menjual tempe dengan harga murah, jika tempe tidak laku maka akan diolah kembali sebagai bahan campuran produk lain yang bisa dijual di beberapa hari berikutnya. Pengusaha semacam ini lebih memperhatikan laba usaha yang dihasilkan, oleh karena itu lebih rinci memperhitungkan biaya overhead pabrik (BOP).

Biaya overhead pabrik (BOP), yaitu  biaya produksi tidak langsung terhadap produk, di luar biaya bahan baku dan biaya produksi. Contoh dari BOP adalah biaya listrik, ragi tempe, penyusutan peralatan, dan lain sebagainya. Pengusaha yang ingin mendapatkan laba tinggi biasanya lebih memperhitungkan BOPnya. BOP di sini merupakan suatu pengeluaran usaha atau biasa disebut dengan beban usaha. Menurut (De Mel, dkk, 2009:19), laba bisa dilihat dari keuntungan yang dilaporkan secara langsung, yaitu mengurangkan pendapatan dengan beban.

Meskipun dikatakan “ikut-ikutan” harga pasar dalam menentukan harga jual, beberapa pengusaha masih lebih detail dalam memperhitungkan beban produksi. Pak Sakmad misalnya, yang memutuksan untuk mengganti bahan bakar kayu bakar menjadi bahan bakar gas. Tindakan Pak Sakmad dilakukan setelah Beliau memperhitungkan harga beli kayu bakar dan dibandingkan dengan pembelian gas. Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan bahan bakar milik usaha dengan rumah tangga, agar mudah untuk menentukan manakah bahan bakar yang paling menguntungkan.

Pengusaha berusaha mendapatkan laba yang stabil dan cukup untuk dapat bertahan hidup, untuk dapat membayar hutang, untuk berinvestasi, dan lain sebagainya. Laba yang bersifat materi tersebut  juga diperlukan untuk membeli modal usaha agar bisa menjaga kelangsungan usaha (going concern). Kelangsungan hidup usaha memang merupakan sa