DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ANALISIS STRATEGI DIFERENSIASI DAN ALIANSI UNTUK MENCIPTAKAN KEUNGGULAN BERSAING DALAM MENGHADAPI PASAR GLOBAL (Studi Pada Usaha Konveksi Jeans Merek Never Get Old Company di Kota Malang)

Yoan Santosa Putra

Abstrak


ABSTRACT

 

Abstract: The purpose of this study was to analyze the differentiation strategy and alliances using SWOT analysis as a medium to create a competitive advantage in the face of the global market in the convection jeans brand Never Get Old Company. This type of research is a case study with qualitative descriptive research. The results of the research with the SWOT method showed that the value of 1.85 and a value IFAS EFAS at 1.95 where the SWOT diagram layout of these two values is in quadrant I of supports an aggresive strategy thus it has the power and opportunity that can take advantage of existing opportunities. Strategies that can be used is SO strategy. Where differentiation into force of this effort while the alliance is an opportunity in this business. Results of interviews with key informants obtained also the answer that the business is already implementing differentiation and alliances. Thus SWOT analysis on the strategy of differentiation and the alliance is able to be a medium to create a competitive advantage in business convection brand jeans Never Get Old Company in facing global markets

Key Words:SWOT Analysis, Differentiation, Alliance, Competitive Advantage

Abstrak:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi diferensiasi dan aliansi dengan menggunakan analisis SWOT untuk menciptakan keunggulan bersaing dalam menghadapi pasar global pada usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company. Jenis penelitian adalah studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dengan metode analisis SWOT menunjukkan bahwa1) nilai IFAS sebesar 1.85 dan 2) nilai EFAS sebesar 1.95 dimana pada diagram SWOT letak dari kedua nilai tersebut berada pada kuadran I yaitu mendukung strategi agresif dimana usaha ini memiliki kekuatan dan peluang sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang dapat digunakan adalah strategi SO. Dikarenakan  1) diferensiasi menjadi kekuatan dari usaha ini sedangkan 2) aliansi menjadi peluang pada usaha ini. Hasil wawancara dengan informan kunci diperoleh juga jawaban bahwa usaha ini sudah menerapkan diferensiasi dan aliansi. Dengan demikian analisis SWOT pada strategi diferensiasi dan aliansi tersebut tepat untuk menciptakan keunggulan bersaing pada usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company dalam menghadapi pasar global.

Kata kunci:Analisis SWOT, Diferensiasi, Aliansi, Keunggulan Bersaing 

Never Get Old Company adalah salah satu merek dari pakaian berbahan jeans yang berada di kota Malang. Usaha konveksi jeans ini berdiri pada tahun 2011, sehingga masih relatif baru dibanding usaha sejenis lainnya. Walaupun masih tergolong usaha rumahan, namun Never Get Old Company cukup ulet dalam menciptakan keunggulan bersaing.

Produksi utama dari usaha konveksi jeans ini adalah celana jeans dengan merek Never Get Old Company. Celana jeans yang diproduksi memiliki berbagai macam warna dan variasi model. Selain itu juga memproduksi jaket dan tas berbahan jeans. Meskipun kedua produk tersebut bukan sebagai produk utama

Usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company sebagai produsen celana jeans juga harus mampu bersaing dengan para pesaingnya. Yaitu dengan menghasilkan produk yang bermutu dan berkualitas. Sehingga diminati oleh konsumen, yang tentu saja tujuan dari usaha ini adalah memiliki pelanggan yang loyal dan mampu menciptakan keunggulan bersaing.

Pakaian merupakan kebutuhan pokok setiap manusia. Baik kaum muda, dewasa, maupun orangtua semuanya membutuhkan pakaian untuk kegiatan sehari-hari. Dewasa ini model pakaian juga telah menjadi tren fashion dan gaya hidup dari seseorang. Kota Malang adalah salah satu kota yang pertumbuhan penduduknya cukup pesat setiap tahun. Pertumbuhan penduduk yang cukup pesat ini antara lain dikarenakan adanya perpindahan penduduk baru yang masuk ke Malang. Hal ini merupakan imbas dari banyaknya kampus di kota Malang. Yang setiap tahunnya menjadi magnet bagi calon mahasiswa baru untuk melanjutkan pendidikannya. Baik di kampus negeri atau swata dengan cara menetap di rumah kos atau di rumah kontrakan.

Faktor pertumbuhan penduduk tersebut yang juga menjadi salah satu faktor pendorong banyaknya usaha yang berdiri di kota Malang. Terutama usaha yang berkaitan dengan kegiatan dan gaya hidup mahasiswa. Mulai dari usaha kuliner, rumah kos dan kontrakan, percetakan, alat tulis, dan sebagainya yang dapat menunjang kegiatan mahasiswa. Salah satu usaha yang potensial untuk didirikan ini adalah usaha konveksi.

Potensi pada usaha konveksi ini diantaranya antara lain karena pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Selain itu calon mahasiswa baru yang masuk Malang juga menjadi target yang potensial. Dimana pada usia-usia tersebut tren dan model pakaian masih sangat diperhatikan. Apalagi kecenderungan pada usia tersebut merek menjadi salah satu faktor untuk membeli pakaian. 

Potensi inilah yang coba ditangkap oleh pengusaha konveksi. Yaitu dengan membuat desain berbeda serta membuat produk yang terbatas. Menciptakan merek yang mudah diingat dan diucapkan oleh konsumen. Hal ini sesuai dengan banyaknya keinginan dari konsumen remaja usia sekolah dan usia kuliah yang suka memakai  pakaian yang bersifat eksklusif dan bermerek.

Mengingat tidak semua pengusaha konveksi memiliki toko atau outlet sendiri. Sehingga mau tidak mau para pengusaha konveksi ini harus berusaha agar dapat memasarkan produknya. Selain itu pengusaha konveksi juga harus berusaha agar merek dari produknya dapat dikenal dengan mudah oleh konsumen.

Keunggulan bersaing menurut Porter (1994) adalah kemampuan suatu perusahaan untuk meraih keuntungan ekonomis di atas laba yang mampu diraih oleh pesaing di pasar dalam industri yang sama. Perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif senantiasa memiliki kemampuan dalam memahami perubahan struktur pasar dan mampu memilih strategi pemasaran yang efektif.

Studi yang dilakukan Porter selanjutnya menetapkan strategi generik yang diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu cost leadership, diferensiasi, dan focus. Pilihan tiap-tiap perusahaan terhadap strategi generik di atas akan bergantung kepada analisis lingkungan usaha untuk menentukan peluang dan ancaman.

Berawal dari inilah muncul ide dari pemilik usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company untuk keluar dari jalur pemasaran yang ada. Yaitu menjadi produsen sekaligus melakukan strategi aliansi dalam hal pemasaran. Upaya ini dilakukan bersama dengan beberapa pengusaha konveksi yang sama-sama belum memiliki toko untuk memasarkan produknya.

 Strategi aliansi ini dipilih karena dapat membuat usaha konveksi yang belum memiliki toko menjadi lebih mudah dalam memasarkan produknya. Hal ini dilakukan untuk dapat menekan biaya produksi. Sekaligus menciptakan biaya yang efisien dalam pendistribusian dan pemasarannya. Selain itu dengan menerapkan strategi aliansi maka harga jual yang diberlakukan dapat disepakati secara bersama.

Porter (1994) menyatakan dalam strategi diferensiasi, perusahaan berusaha menjadi unik dalam industrinya di sepanjang beberapa dimensi yang secara umum dihargai oleh pembeli. Perusahaan menyeleksi satu atau lebih atribut yang dipandang penting oleh banyak pembeli di dalam suatu industri, dan secara unik menempatkan diri untuk memenuhi kebutuhan itu. Perusahaan dihargai dengan harga premi (premium price) karena keunikannya.

Cara melakukan diferensiasi berbeda untuk tiap industri. Diferensiasi dapat didasarkan pada produk itu sendiri, sistem penyerahan produk yang digunakan untuk menjualnya, pendekatan pemasaran, dan jajaran luas faktor lain.

Diferensiasi produk.

Dalam diferensiasi produk, produk memiliki arti atau nilai bahwa perusahaan menciptakan suatu produk baru yang dirasakan oleh keseluruhan pelanggan sebagai produk yang unik dan berbeda. Produk fisik merupakan hal yang potensial untuk dijadikan pembeda. Perusahaan dapat membedakan produknya berdasarkan keistimewaan, kualitas kinerja, kualitas kesesuaian, daya tahan, keandalan, mudah diperbaiki, gaya dan rancangan. Pemilihan produk di antara banyaknya tawaran yang ada di pasar selalu didasarkan pada adanya perbedaan, baik secara implisit maupun eksplisit. Literatur Psikologi merujuk kepada fakta bahwa perbedaan mencolok yang terkait dengan suatu produk akan merangsang daya ingat karena perbedaan tersebut akan diapresiasikan secara intelektual, (Hasan 2009).

Diferensiasi pelayanan.

Menurut Tjiptono (2001), cara lain untuk melakukan diferensiasi adalah secara konsisten memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik daripada para pesaing. Hal ini dapat dicapai dengan memenuhi atau bahkan melampaui kualitas jasa yang diharapkan para pelanggan.

Diferensiasi merek.

Menurut Zyman (2000), banyak perusahaan yang sukses dalam menjual produk karena produk mereka memiliki citra jelas yang menentukan posisi mereka di titik yang secara potensial menarik dalam pilihan konsumen yang begitu banyak. Berbagai konsep yang berkembang saat ini menyiratkan bahwa pentingnya merek sebagai sarana atau alat untuk meraih keunggulan bersaing di pasar. Begitu perusahaan telah secara jelas mendefinisikan citranya kepada pelanggan, maka langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan citra tersebut agar elemen ini menjadi sumber keunggulan bersaing yang anda miliki dalam jangka panjang.

Strategi aliansi.

Pengertian strategi aliansi menurut C. Jay Lambe, Robert E. Spekman and Shelby D. Hunt dalam Winata (2002) mendefinisikan aliansi sebagai upaya kolaborasi antara dua atau lebih perusahaan di mana perusahaan menggabungkan sumber daya mereka dalam upaya untuk mencapai tujuan yang saling kompatibel yang tidak dapat dengan mudah dicapai sendiri.

Strategi aliansi adalah suatu kegiatan kolaborasi antara pihak-pihak yang berkepentingan. Tetapi dalam kegiatannya kerjasama ini hanya memfokuskan kepada penguatan sumber daya yang dirasa lemah oleh salah satu pihak. Tujuan utama dari aliansi ini adalah agar setiap pihak dapat mensiasati kekurangan dari sumber dayanya.

Menurut Porter dalam Rangkuti (2015), ada tiga strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memeperoleh keunggulan bersaing yaitu: 1) Cost leadership, 2) Diferensiasi, 3) Fokus

Perusahaan dapat memperoleh keunggulan bersaing yang lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya jika dia dapat memberikan harga jual yang lebih murah daripada harga yang diberikan oleh pesaingnya dengan nilai atau kualitas produk yang sama. Harga jual yang lebih rendah dapat dicapai oleh perusahaan tersebut karena dia memanfaatkan skala ekonomis, efiseinsi produksi, penggunaan teknologi, kemudahan akses dengan bahan baku.

Perusahaan juga melakukan strategi diferensiasi dengan menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya. Misalnya persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, inovasi produk, pelayanan yang lebih baik, dan brand image yang lebih unggul.

SWOT

Rangkuti (2015) mengemukakan bahwa analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).

Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategi perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah analisis SWOT.

Hasil Penelitian Sebelumnya yang Relevan

Haq, (2012) dalam artikel yang berjudul. “Implementasi Strategi Bersaing Usaha Konveksi Pada UD. Larasati Tulungagung”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi strategi bersaing pada UD. Larasati Tulungagung. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis domain dan taksonomi. Analisis domain pada penelitian ini merupakan gambaran umum perusahaan meliputi visi dan misi, lokasi, analisis pesaing industri, dan analisis internal serta eksternal perusahaan. Sedangkan analisis taksonomi yaitu implementasi strategi bersaing perusahaan. Hasil penelitian ini adalah strategi bersaing yaitu tiga strategi generik Porter telah dilakukan oleh UD. Larasati untuk menghadapi persaingan. Strategi generik yaitu strategi keunggulan biaya, diferensiasi, dan strategi fokus. Strategi keunggulan biaya dilakukan dengan harga bahan baku yang murah, tenaga kerja borongan, alat produksi milik sendiri, pemasaran direct selling, dan sistem pengupahan yang membuat harga jual produk menjadi relatif terjangkau. Strategi diferensiasi dilakukan dengan memiliki keragaman produk dan desain produk, eksklusufitas produk, serta pelayanan konsumen. Strategi fokus dilakukan UD. Larasati dengan fokus pada segmen pasar menengah kebawah, dan melayani kelompok konsumen pedagang grosir.

Utama, (2003) dalam artikel yang berjudul. “Upaya Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Perusahaan Dalam Era Persaingan Global Melalui Aliansi Strategis”. Persaingan global pada masa sekarang ini telah menciptakan peluang dan tantangan bagi perusahaan yang ingin berperan dengan posisi kuat. Arena persaingan global telah menjadikan lingkungan bisnis telah berubah secara radikal dalam waktu yang relatif singkat (turbulence) serta persaingan antar perusahaan semakin ketat. Persaingan yang ketat ini tidak hanya terjadi pada perusahaan yang beroperasi pada lingkungan pasar domestik, tetapi terjadi pula pada pasar internasional. Salah satu faktor kunci untuk menentukan keberhasilan dalam persaingan tersebut adalah melalui upaya peningkatan keunggulan bersaing perusahaan. Pendekatan yang mungkin dapat diterapkan bagi perusahaan pada kondisi seperti sekarang ini adalah melalui aliansi strategis. Aliansi Strategis yang dilakukan dua perusahaan atau lebih dalam menghasilkan suatu produk bukan hanya bisa meringankan beban biaya dan mempersingkat waktu, tetapi juga mernpercepat proses produksi sehingga produk yang dihasilkan tetap inovatif dan mampu meraih konsumen sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan. Aliansi strategis dapat membantu perusahaan untuk mentransformasikan operasinya dan memperoleh akses pada berbagai sumber-sumber baru teknologi, pasar dan wawasan yang mungkin sulit bagi perusahaan untuk melakukan dan mempelajari dengan sendiri. Meskipun aliansi dapat memberikan manfaat berupa nilai tambah atas pengembangan dan usaha pembelajaran (learning effort), tetapi aliansi strategis dapat juga menimbulkan dilema terhadap operasi bersama (cooperation) dengan partnernya dikarenakan peran ganda (dual roles) dari aliansi strategis yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan. Aliansi di satu sisi berperan cooperation tetapi pada saat yang bersamaan disisi lain berperan sebagai competition bagi perusahaan. Peran competition inilah yang perlu disadari oleh perusahaan yang akan melakukan aliansi dengan perusahaan lain dikarenakan peran competition dari aliansi strategis pada prinsipnya akan merupakan suatu bentuk persaingan terselubung (unintended competition) bagi masing masing perusahaan yang melakukan aliansi strategis.

Jummaini, (2013) dalam artikel yang berjudul “Pengaruh Strategi Diferensiasi Terhadap Keunggulan Bersaing Pada Distro dan Butik di Kota Lhokseumawe”. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi merek dan diferensiasi harga berpengaruh terhadap keunggulan bersaing pada distro dan butik. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa untuk menjadi wirausaha yang sukses pada usaha distro dan butik maka harus dapat mempertahankan keunggulan bersaing, yaitu dengan diferensiasi. Produk dan merek yang mempunyai kualitas harus diperhatikan, disamping harga yang terjangkau dan kualitas pelayanan baik.  

Fokus penelitian

1.Deskripsi strategi diferensiasi dan aliansi pada usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company Di Kota Malang.

2.Analisis strategi diferensiasi dan aliansi  untuk menciptakan keunggulan bersaing konveksi jeans merek Never Get Old Company Di Kota Malang.

3.Kendala dan solusi pelaksanaan strategi diferensiasi dan aliansi pada usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company Di Kota Malang.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Yaitu hasil wawancara antara peneliti dan informan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus karena peneliti menyelidiki secara cermat suatu peristiwa, aktivitas, proses, terhadap sekelompok individu.

Kehadiran Peneliti

Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen kunci, dimana peneliti berperan sebagai pengamat partisipan artinya peneliti memasuki, mengamati, dan mengikuti kegiatan subyek yang sedang diteliti, sehingga peneliti dapat menghayati dan merasakan seperti apa yang dirasakan subyek penelitian.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di tempat produksi konveksi jeans merek Never Get Old Company yang berada di jalan Uranium No.66 Purwantoro Blimbing Malang.

Sumber Data

Sumber data primer dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data yang akurat karena sumber data ini adalah informasi langsung yang diperoleh oleh peneliti yaitu observasi, interview (wawancara), dan dokumentasi. Sedangkan sumber data sekunder dapat diperoleh dari catatan lapangan, buku-buku referensi pendukung yang dapat memperkaya data primer.

Prosedur Pengumpulan Data

Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam rangka mengumpulkan data untuk keperluan penelitian.

Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT dengan menggunakan matriks SWOT. Tujuannya untuk mengetahui apakah strategi diferensiasi dan aliansi tepat atau tidak digunakan sebagai media untuk menciptakan keunggulan bersaing pada usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company. Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2011) menyatakan bahwa terdapat tiga macam kegiatan analisis data kualitatif yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan.

Matriks Faktor Strategi Internal Dan Eksternal

Rangkuti (2015) menyatakan setelah faktor-faktor strategis internal dan faktor strategis eksternal suatu perusahaan diidenftifikasi, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Sumary) dan EFAS (Eksternal Strategic Factors Analysis Sumary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal tersebut dalam kerangka strengths and weakness, opportunities and treaths.

Matriks Faktor Strategi Internal

Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Sumary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka strenghs and weakness perusahaan.

Tabel 2.1 IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Sumary)

Faktor-faktor

strategi internal                                              Bobot        Rating           Skor                                                                                                                               (bobot x   rating)                                                                                                                                                                                                                                     

Strength

1. Bahan baku berkualitas                   0.10     4          0.40                             

2. Inovasi produk                                0.05     4          0.20                                               

3. Dan seterusnya…                                                                      

Weakness 

1. Belum memiliki toko sendiri                       0.10     1          0.10                               

2. Modal usaha kecil                           0.05     1          0.05                

3. Dan seterusnya…

Total                                                           …               …                            …

Sumber: Diadaptasi dari Rangkuti (2015)

Matriks Faktor Strategi Eksternal

Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Sumary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka strenghs and weakness perusahaan.

Tabel 2.2 EFAS (Eksternal Strategic Factors Analysis Sumary)

Faktor-faktor

strategi eksternal                                    Bobot                 Rating         Skor              

                                                                                                                                        (bobot x rating)                                                                                                                                                                                                                                     

Opportunities

1. Melakukan aliansi pemasaran produk                                                

   dengan pemilik distro                              0.20         4          0.80

2. Membuat asesoris pelengkap misalnya                  

   ikat pinggang, dan tas                        0.10   4          0.40

3. Dan seterusnya…                                       

Threats

1. Kompetitor yang sudah lama berdiri      0.15         1          0.15                               

2. Banyak pesaing pada produk  sama       0.05          2          0.10                

3. Dan seterusnya        …

Total                                                         …                                      …

Sumber: Diadaptasi dari Rangkuti (2015)

Gambar 2.2 Diagram Analisis SWOT

Matriks SWOT

Matriks SWOT menggambarkan bagaimana manajemen dapat mencocokkan peluang-peluang dan ancaman-ancaman eksternal yang dihadapi suatu perusahaan dengan kekuatan dan kelemahan internalnya. Matriks SWOT dapat diaplikasikan baik pada perusahaan tunggal maupun multibisnis dan bahkan untuk unit bisnis (Hunger and Wheelen, 2003).

a. Strategi SO

Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.

b. Strategi ST

Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.

c. Strategi WO

Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.

d. Strategi WT

Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

Pengecekan Keabsahan Temuan

Teknik yang dilakukan untuk mengecek keabsahan suatu data adalah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang antara lain yaitu: uji credibility, uji transerbility, uji dependability, uji confirmability. Salah satu cara yang paling umum dilakukan untuk pengecekan data dalam penelitian kualitatif adalah teknik triangulasi.

Tahap-Tahap Penelitian

Tahap Persiapan Penelitian, Tahap Pelaksanaan Penelitian, Tahap Analisisi Hasil

Subyek Penelitian

Sumber data primer dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data yang akurat karena sumber data ini adalah informasi langsung

Informan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

1.Informan kunci (key informan)

Informan kunci dalam penelitian ini satu orang yaitu pemilik dari usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company. Yaitu saudara Diaz informan ini dipilih karena dianggap paling mengetahui dan mengerti informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

2.Informan pendukung

Informan pendukung dalam penelitian ini adalah karyawan, mitra bisnis, dan konsumen.

HASIL

Strategi Diferensiasi

Strategi diferensiasi yang dijalankan oleh usaha konveksi  jeans merek Never Get Old Company sesuai dengan fokus penelitian diantaranya adalah diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, dan diferensiasi merek. Adapun penjelasan masing-masing strategi diferensiasi yang diperoleh dari proses wawancara adalah sebagai berikut:

Diferensiasi Produk

Diferensiasi produk yang dilakukan adalah dengan cara membuat kemasan (package) yang berbeda karena produk kemasan untuk membungkus celana jeans berasal dari kain berbahan kanvas dan juga melakukan berbagai inovasi agar limbah produksi yang dihasilkan sedikit. Seperti yang disampaikan oleh pemilik:

Kami menggunakan kain kanvas sebagai ganti dari kantung plastik, bentuknya mirip tote bag. pada label harga kami menggunakan dari sisa potongan kain jeans.

(W/Di/29-03-2016).

Selain itu pemilik juga melakukan inovasi pada model celana yang dibuat seperti penuturan pemilik berikut:

 Ada model celana slim, slim fit, dry slim fit, dan street. Serta ada bahan yang menggunakan selvedge denim.

(W/Di/29-03-2016).

Usaha konveksi jeans ini juga sudah membuat produk lain dari bahan denim yaitu jaket dan tas tetapi dalam jumlah terbatas, karena menurut pemilik jaket dan tas  tersebut merupakan bagian dari inovasi bahan baku produksi yang berupa kain denim. Seperti penuturan pemilik:

Jaket dan tas yang kami produksi ini merupakan inovasi yang kami buat. Setiap produksi jumlahnya terbatas untuk menjaga keeksklusifan produk.

(W/Di/29-03-2016).

Diferensiasi Pelayanan

Diferensiasi pelayanan yang dilakukan oleh pemilik adalah pada proses produksi, selain menerapkan sistem stok yaitu memproduksi barang berdasarkan persediaan tiap bulan, pemilik juga telah  menerapkan sistem order atau pesanan. Yaitu konsumen dapat memesan jeans sesuai dengan desain yang diinginkan sehingga model jeans tersebut berbeda dengan desain pada jeans untuk persediaan.

Hal ini sesuai pernyataan dari pemilik:

Selain sistem stok pada produksi, kami juga sudah menerapkan sistem order atau pesanan. Jadi jeans yang diminta sesuai dengan desain dari konsumen sehingga berbeda

            (W/Di/29-03-2016).

Selain itu pelayanan yang dilakukan pemilik adalah dengan melakukan pelayanan penjualan menggunakan sistem COD (cash on delivery). Yaitu sistem menerima pembayaran dari konsumen setelah konsumen menerima celana jeans yang telah dibeli atau bayar ditempat. Dengan cara produsen mengirim barang ke alamat konsumen. Tetapi sebelumnya dilakukan perjanjian terlebih dahulu untuk sistem COD (cash on delivery) dimana untuk wilayah Malang tidak dikenakan biaya tambahan atau ongkos kirim. Seperti yang disampaikan oleh pemilik:

Saya sering COD (cash on delivery) ke alamat konsumen. Iya untuk COD (cash on delivery) sendiri yang masih area Malang gratis ongkos kirim.

(W/Di/29-03-2016).

Diferensiasi Merek

Berkaitan dengan pemberian merek yang dilakukan oleh pemilik adalah dengan memberi nama merek jeansnya Never Get Old Company. Latar belakang dan harapan pemberian nama ini adalah usaha yang didirikan tersebut dapat terus berinovasi dan terus berkembang. Serta nama merek tersebut dapat melekat dibenak konsumen karena arti dari bahasa asing yang digunakan tersebut. Meskipun dalam perjalanan usahanya banyak mengalami tantangan. Seperti yang disampaikan pemilik:

Never Get Old sendiri yang artinya tidak pernah menjadi tua, dalam artian yang tidak pernah menjadi tua adalah ide, inovasi, dan kreatifitas seseorang.

(W/Di/29-03-2016)

Strategi Aliansi

Mengingat pemilik belum memiliki toko sendiri selain itu persamaan visi juga menjadi pertimbangaan dalam memilih mitra aliansi, jadi aliansi yang dilakukan pemilik adalah dalam hal pemasaran produk. Meskipun pemilik juga sudah melakukan promosi produk melalui media sosial untuk memasarkan barangnya. Seperti yang diungkapkan pemilik:

Selain promosi melalui media sosial, saya juga melakukan kerjasama dengan distro Ride Inc di Kota Malang untuk memasarkan produk saya karena sampai saat ini saya belum punya toko.

(W/Di/29-03-2016)

PEMBAHASAN

Deskripsi Strategi Diferensiasi

Diferensiasi menurut Porter (1994) adalah dalam strategi diferensiasi, perusahaan berusaha menjadi unik dalam industrinya di sepanjang beberapa dimensi yang secara umum dihargai oleh pembeli. Perusahaan menyeleksi satu atau lebih atribut yang dipandang penting oleh banyak pembeli di dalam suatu industri, dan secara unik menempatkan diri untuk memenuhi kebutuhan itu. Perusahaan dihargai dengan harga premi (premium price) karena keunikannya.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jummaini, (2013) dalam artikel yang berjudul “Pengaruh Strategi Diferensiasi Terhadap Keunggulan Bersaing Pada Distro dan Butik di Kota Lhokseumawe”. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi merek dan diferensiasi harga berpengaruh terhadap keunggulan bersaing pada distro dan butik. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa untuk menjadi wirausaha yang sukses pada usaha distro dan butik maka harus dapat mempertahankan keunggulan bersaing, yaitu dengan diferensiasi.

Budi, (2015) dalam artikel yang berjudul “Analisis Strategi Keunggulan Bersaing Pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Witel Jatim Selatan  Malang”. Hasil kesesuaian dari penentuan strategi generik Telkom Witel Jatim Selatan adalah strategi diferensiasi. Melihat karakteristik perusahaan dengan memberikan skor dapat diketahui bahwa perusahaan menetapkan strategi generik berbasis utama Differensiasi (Differentiation). Strategi Differeniasi di gunakan oleh suatu perusahaan guna mendapatkan keunikan sehingga bisa memberikan nilai lebih dari ekspetasi yang diinginkan pelanggan, dengan kelebihan tersebut perusahaan akan menawarkan produk dengan harga di atas pesaing lain.

Sedangkan dari hasil temuan penelitian diketahui bahwa pemilik juga telah menerapkan strategi diferensiasi pada usahanya, baik diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi merek, dan diferensiasi harga. Hal ini dilakukan untuk menambah nilai yang terbaik bagi konsumen. Nilai tambah tersebut lambat laun akan semakin tertancap dibenak konsumen. Sehingga nantinya konsumen akan menjadi pelanggan pada produk jeans merek Never Get Old Company ini. Dengan menjadi pelanggan maka tidak langsung sifat loyal pada pelanggan akan tercipta. Diferensiasi yang telah dilakukan oleh pemilik pada usahanya meliputi:

Diferensiasi produk yang dilakukan antara lain dengan cara melakukan inovasi pada sisa bahan. Yaitu label merek terbuat dari sisa bahan yang dapat dijadikan gantungan kunci, model jeans yang bervariasi dalam beberapa desain dan bahan. Tas model tote bag dari kanvas sebagai pengganti kantung plastik. Serta membuat jaket dan tas dalam jumlah yang masih terbatas.

Diferensiasi pelayanan yang dilakukan diantaranya adalah usaha ini juga menerima pesanan jeans sesuai dengan desain yang dipesan oleh konsumen. Dimana proses pengerjaannya tepat waktu yaitu selesai dalam empat hari setelah pemesanan. Selain itu pelayanan yang dilakukan kepada konsumen adalah dengan menggratiskan biaya ongkos kirim untuk konsumen wilayah Malang.

Diferensiasi merek yang dilakukan pemilik adalah dengan memberi nama merek jeansnya dengan nama Never Get Old Company. Harapan pemilik adalah usahanya dapat terus melakukan inovasi pada produknya meskipun menggunakan bahasa asing tapi arti dari kata tersebut memiliki arti yang sesuai dengan harapan pemilik, yaitu tidak pernah menjadi tua dalam berinovasi dan berkreatifitas. Diharapkan konsumen yang mengingat nama ini maka akan langsung  tertuju pada produk  jeans merek Never Get Old Company.

Diskripsi Strategi Alian

Pengertian strategi aliansi menurut C. Jay Lambe, Robert E. Spekman and Shelby D. Hunt dalam Winata (2002) mendefinisikan aliansi sebagai upaya kolaborasi antara dua atau lebih perusahaan di mana perusahaan menggabungkan sumber daya mereka dalam upaya untuk mencapai tujuan yang saling kompatibel yang tidak dapat dengan mudah dicapai sendiri.

Strategi aliansi memang bukanlah hal yang baru dalam lingkungan bisnis, banyak perusahaan yang sudah menggunakan strategi aliansi untuk meningkatkan keunggulan bersaing mereka guna mempertahankan posisinya dalam industri. Pada prinsipnya, aliansi dilakukan perusahaan untuk saling berbagi biaya, resiko, dan manfaat.

Hal ini seperti penelitian yang dilakukan Winata dan Devie, (2013) dalam jurnal Business Accounting Review yang berjudul “Analisa Pengaruh Aliansi Stratejik Terhadap Keunggulan Bersaing dan Kinerja Perusahaan”. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara aliansi stratejik dan keunggulan bersaing, aliansi stratejik dan kinerja perusahaan, dan keunggulan bersaing dan kinerja perusahaan. Penelitian ini berhasil membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara aliansi stratejik dan keunggulan bersaing, aliansi stratejik dan kinerja perusahaan, dan keunggulan bersaing dan kinerja perusahaan.

Prasetya, Rahardja, dan Hidayati, (2007) dalam Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi yang berjudul “Membangun Keunggulan Kompetitif  Melalui Aliansi Stratejik Untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Pos Indonesia Wilayah VI Jateng Dan DIY)”. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis serta implikasi manajerial mengenai langkah yang harus diambil oleh PT. Pos Indonesia untuk meningkatkan kinerja perusahaannya melalui keunggulan kompetitif yang didapat dari inovasi produk, aliansi stratejik dan perubahan lingkungan.

Aikaterini and Provelengiou, (2011),"Market-Facing Strategic Alliances In The Fashion Sector", dalam artikel Journal Of Fashion Marketing And Management: An International Journal. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyelidiki strategis aliansi di industri fashion dalam menghadapi pasar dengan mempelajari kasus tertentu dalam konteks literatur yang ada. Ditemukan bahwa isu-isu umum sementara dalam literatur dapat dilihat dalam contoh aliansi strategis dalam industri fashion, dengan faktor spesifik industri, terutama kompetensi di pemasaran, branding dan ritel, berdampak pada motif untuk aliansi, pemilihan mitra aliansi. Artikel ini memberikan penjelasan tentang motif untuk proses mempengaruhi keberhasilan pengelolaan aliansi strategis dalam sektor fashion.

Strategi aliansi juga telah diterapkan pemilik usaha konveksi jeans merek Never Get Old Company untuk dapat bertahan dalam persaingan. Hal ini dilakukan pemilik dengan mampu menangkap adanya peluang pada usaha lain yang merupakan mitra usahanya. Dimana pemilik melakukan pendekatan-pendekatan dan negosiasi dengan berkomunikasi secara efektif kepada mitra usaha. Dalam penerapannya strategi aliansi ini mampu mengakomodir kelemahan usaha pemilik dalam memasarkan produknya dengan memanfaatkan keunggulan mitra usahanya.

Strategi aliansi yang dilakukan pemilik yaitu bekerjasama dengan pemilik distro yang bersedia distro miliknya dijadikan tempat untuk memasang hasil produksi jeans merek Never Get Old Company. Dengan demikian maka pemilik dapat menghemat biaya untuk promosi  jeans merek Never Get Old Company. Serta dapat membantu dalam hal distribusi dan pemasaran.

Hasil analisi tabel IFAS menunjukan bahwa faktor kekuatan memperoleh skor 2.25 dan kelemahan 0.40 dengan selisih skor (+) 1.85. Pada tabel EFAS menunjukan bahwa faktor peluang memperoleh skor 2.35 dan ancaman 0.40 dengan selisih skor (+) 1.95. Hasil kuadran 1 ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Usaha  tersebut memiliki peluang dan kekuatan se