DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Buku Panduan Penyesuaian Diri di Lingkungan Kerja Menggunakan Metode Structured Learning Approach (SLA) Bagi Siswa SMK

Leny Latifah

Abstrak


ABSTRACT

 

E-mail: leny.latifah@yahoo.com. No. Hp. 081336422543

The demands of the labor organizations that create higher vocational students

have to adapt to the changing situation. The research objective to produce training

manuals adjustment in the working environment. Adapting the design for the development

of research Borg and Gall (1983) and Dick & Carey (1990), includes; (1) analysis of

needs (2) planning, (3) early product development, (4) the design and implementation of

formative evaluation, (5) a revision of the final product. While the effectiveness test

carried out with one group pretest -posttest design. Subject studies 11 class XI student of

SMK PGRI Pakisaji Malang. The instrument uses the scale adjustment in the work

environment with the validity of ≥ 0.3 and 0.882 Cronbach alpha reliability. The results of

study (1) has developed guidelines that meet the criteria of acceptability and expert testing,

(2) have effectively improve students adjustment in the working environment.

Key Words: Training guidelines, The adjustment in the work environment, 

Structured Learning Approach (SLA)

Abstrak: Tuntutan organisasi terhadap tenaga kerja yang semakin tinggi membuat siswa

SMK harus menyesuaikan diri terhadap situasi perubahan. Tujuan penelitian

menghasilkan buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja. Penelitian

mengadaptasi rancangan pengembangan Borg & Gall (1983) dan Dick & Carey (1990)

meliputi; (1) análisis kebutuhan (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4)

perancangan dan pelaksanaan evaluasi formatif, (5) revisi produk akhir. Sedangkan uji

efektifitas dilakukan dengan rancangan one group pretest posttest. Subjek penelitian 11

siswa kelas XI SMK PGRI Pakisaji Malang. Instrumen menggunakan skala penyesuaian

diri di lingkungan kerja dengan validitas ≥ 0,3 dan reliabilitas alpha Cronbach 0,882.

Hasil penelitian (1) panduan yang dikembangkan telah memenuhi kriteria akseptabilitas

dan, (2) telah efektif meningkatkan penyesuaian diri siswa di lingkungan kerja.

Kata Kunci: Panduan pelatihan, Penyesuaian diri di lingkungan kerja,

Structured Learning Approach (SLA)

Perkembangan teknologi yang begitu cepat, dan orientasi organisasi nasional-internasional yang luas, menuntut tenaga

kerja memiliki kompetensi yang tinggi. Sistem pendidikan dan latihan kejuruan juga harus memberikan bekal keterampilan

khusus untuk individu yang memungkinkan mereka mencari pekerjaan atau memulai bisnis mandiri, melatih untuk bekerja

produktif dan beradaptasi dengan kondisi kemajuan teknologi (Raelin, 2008). Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

adalah individu yang berada pada rentangan usia remaja. Menurut Havighurst, sesuai tahap perkembangan kerja, remaja usia

15-24 tahun berada pada tahap 3 (tiga) yaitu mencapai identitas sebagai pekerja atau profesi dalam struktur pekerjaan/profesi

tertentu. Artinya, remaja di usia tersebut sudah seharusnya memilih dan mempersiapkan diri untuk sebuah pekerjaan

(Havighurst, dalam Gibson & Mitchell, 2008). Lebih lanjut, Depdiknas Jakarta melalui pengamatan empirik menemukan data

bahwa sebagian besar lulusan SMK di Indonesia bukan saja kurang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan

teknologi, tetapi juga kurang mampu mengembangkan diri dan karirnya di tempat kerja (Kompasiana, 2012). Sehingga dapat

disimpulkan bahwa penyesuaian diri siswa SMK terhadap lingkungan sosial termasuk lingkungan tempat kerja masih tergolong

rendah, sedangkan tuntutan organisasi terhadap tenaga kerja semakin hari semakin tinggi.

2Jurnal Pendidikan, Vol..., No..., Bln Thn, Hal....-....

Remaja dalam hidupnya akan dihadapkan pada situasi bagaimana menghadapi kondisi saat ini, perilaku seperti apa

yang harus ditunjukkan agar sesuai dengan norma dan diterima dalam pergaulan, teman-teman mana yang dipilih, dan

seterusnya. Setiap individu dalam memenuhi keinginan, kebutuhan dan harapan terkadang menghadapi kenyataan yang sesuai

dengan keinginannya, tetapi ada kalanya juga berbeda dengan kenyataan yang diharapkan. Kenyataan yang bertolak belakang

dengan keinginan, apabila diterima secara apa adanya akan membantu individu tumbuh dan berkembang dengan baik (Santrock,

2009). Apabila individu tidak dapat memenuhi tuntutan lingkungan, keadaan tersebut akan menjadi masalah dan dapat

mengganggu pertumbuhan dan perkembangan individu, bahkan dapat menyebabkan stagnasi perkembangan (Maslow dalam

Calhoun & Acocella, 1995). Bahaya yang ditimbulkan akibat kegagalan remaja dalam melakukan penyesuaian diri terhadap

lingkungan sosial diantaranya tidak bertanggung jawab, bersikap sangat agresif, perasaan tidak aman, merasa ingin pulang jika

berada jauh dari lingkungan yang tidak dikenal, dan perasaan menyerah (Hurlock, 1995). Remaja yang tidak mampu memenuhi

tuntutan lingkungan akan menderita dan tidak bahagia (Mu’tadin, 2002). Sedangkan menurut Bransford, 2006; Hatano, 1990;

Hatano & Oura, 2003 (dalam Santrock 2009) ahli yang adaptif mampu mendekati situasi-situasi yang baru dengan fleksibel

daripada selalu merespon suatu rutinitas yang kaku dan tetap. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa orang yang mampu

menyesuaikan diri adalah individu yang dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi yang berbeda serta dapat memecahkan

masalah dan terbuka terhadap hal-hal baru yang ditemui.

Sekolah merupakan salah satu faktor penentu bagi kepribadian anak, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara

berperilaku (Hurlock, 2004). Dengan demikian peranan sekolah akan hal tersebut adalah memberikan keterampilan penyesuaian

diri dengan menyediakan panutan, pelajaran dan panduan pelatihan sehingga siswa mampu mengatasi berbagai gangguan yang

timbul pada proses perkembangannya. Pengembangan buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dapat

memberikan kemudahan bagi konselor di sekolah dalam memberikan layanan kepada siswa secara optimal, karena layanan

bimbingan dan konseling dan fungsi konselor di sekolah pada kenyataannya belum berjalan maksimal. Hoyt (dalam Gladding,

2009) menyatakan salah satu hal yang harus dilakukan oleh konselor Sekolah Menengah, khususnya sekolah yang menerapkan

magang yaitu membantu siswa mengajari kemampuan adaptif. Artinya, konselor di SMK memiliki tantangan lebih berat untuk

membantu siswa melakukan transisi yang lancar dari Sekolah Menengah ke lingkungan kerja. Berdasarkan ketetapan Undang

Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun. 2003 peran konselor sebagai tenaga profesional tidak hanya memberikan

layanan bimbingan dan konseling, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi peserta didik agar tercapai tujuan

perkembangan optimal peserta didik.

Metode Stuctured Learning Approach (selanjutnya disingkat SLA) dipilih sebagai metode dalam pelatihan penyesuaian

diri siswa karena pada umumnya proses pembelajaran saat ini yang bersifat kognitif maupun psikomotorik masih terfokus

kepada guru sehingga guru menjadi model yang berpengaruh besar bagi siswa. Disatu sisi siswa selalu membutuhkan motivasi

dan pemberian contoh perilaku dari pendidik. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah panduan yang terstruktur dengan

menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang ditekankan pada perlunya pembiasaan merespon dan

peniruan. Hal ini sejalan dengan teori belajar sosial dari Bandura yang memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata

refleks atas stimulus, melainkan juga atas reaksi yang timbul akibat interaksi yang terjadi antara lingkungan dengan kognitif

manusia itu sendiri. Perilaku penyesuaian diri di lingkungan kerja sebagai bagian dari keterampilan sosial-interpersonal pada

dasarnya diperoleh melalui pembelajaran dengan cara mengamati, melihat model, berlatih ulang melalui permainan peran,

memberikan umpan balik dan selanjutnya dioptimalkan melalui transfer perilaku supaya dapat memperkuat pembelajaran itu

sendiri. Berdasar pada pandangan tersebut maka dalam penelitian ini siswa difasilitasi untuk belajar dan berlatih berperilaku

adaptif melalui penerapan metode pembelajaran terstruktur (SLA). 

Penyesuaian diri menurut Corsini (2002) adalah modifikasi dari sikap dan perilaku dalam menghadapi tuntutan

lingkungan secara efektif. Hurlock (2004) berpandangan bahwa penyesuaian diri merupakan respon terhadap tuntutan yang

berasal dari lingkungan sosial yang dicerminkan dalam bentuk perilaku yaitu interaksi atau hubungan yang baik dengan

lingkungan sekitar. Sedangkan lingkungan kerja menurut Mangkunegara (2007), adalah semua aspek fisik kerja, psikologis

kerja, dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja dan pencapaian produktivitas. Lingkungan kerja yang

dimaksud di dalam bab ini adalah lingkungan kerja non fisik. Menurut Sedarmayanti (2001) lingkungan non fisik adalah segala

keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja.

Sedangkan Siagian (2001) berpendapat bahwa lingkungan kerja non fisik adalah lingkungan kerja yang menyenangkan dalam

arti terciptanya hubungan kerja yang harmonis antara karyawan dan atasan, karena pada hakekatnya manusia dalam bekerja

tidak hanya mencari uang, akan tetapi bekerja merupakan bentuk aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan. Lebih

lanjut, Penyesuaian sosial di lingkungan kerja adalah proses interaksi yang terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat

individu hidup, dimana individu melakukan interaksi dengan orang lain di lingkungan kerja (Mu’tadin, 2002). Aspek-aspek

penyesuaian sosial di lingkungan tempat individu berada menurut Schneiders (1964) adalah: (1) mengakui dan menghormati

hak orang lain di dalam lingkungannya, (2) membangun hubungan pertemanan dengan orang lain di lingkungannya, (3)

bersikap empati terhadap orang lain, (4) Memiliki sifat altruism, (5) menghormati hukum, tradisi dan kebiasaan di dalam

lingkungan sosial. Adapun tujuan penelitian adalah menghasilkan buku panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja

  Nama Belakang Penulis, Judul dalam 3 Kata... 3

dengan teknik SLA bagi Siswa SMK yang dikembangkan untuk memenuhi kriteria kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan

kepatutan melalui uji ahli.

METODE

Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model Borg & Gall (1983)

dan Dick & Carey (1990). Peneliti mengadaptasi kedua prosedur berdasarkan kemiripan langkah-langkah dari keduanya. Hasil

kombinasi atau penggabungan dari kedua prosedur ini terdiri lima langkah yaitu (1) analisis kebutuhan, (2) perencanaan, (3)

pengembangan produk awal, (4) perancangan dan pelaksanaan evaluasi formatif, (5) revisi produk akhir. Sedangkan uji

efektifitas dilakukan dengan rancangan one group pretest posttest. Subjek penelitian adalah 11 siswa kelas XI SMK PGRI

Pakisaji kabupaten Malang. Instrumen menggunakan skala penyesuaian diri di lingkungan kerja dengan validitas butir sebesar

≥ 0,3 dan reliabilitas alpha Cronbach 0,882. 

HASIL

1. Hasil Uji Ahli

a. Ahli Bimbingan dan Konseling

Produk panduan pelatihan yang telah disusun kemudian dilakukan penilaian oleh ahli. Subjek ahli dalam penelitian ini

terdiri dari 2 (dua) orang ahli rancang dan isi Bimbingan dan Konseling. Penilaian ahli dilakukan dengan menggunakan

angket penilaian dan diskusi secara langsung. Pada hasil uji ahli panduan pelatihan terdapat empat aspek yang dinilai yaitu

aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kepatutan ditambah dengan penilaian media, dengan ketentuan nilai 1 adalah

skor terendah dan nilai 4 adalah skor tertinggi. Berikut hasil uji ahli pada masing-masing aspek: (1) aspek kegunaan

dirumuskan sebanyak 8 item. Berdasar penghitungan sesuai ketentuan diperoleh skor minimal 8 dan skor maksimal 32.

Apabila penilaian kedua ahli digabungkan dan dibagi dua, diperoleh nilai rata-rata sebesar 25,5. Artinya panduan pelatihan

yang dikembangkan termasuk dalam kategori berguna. (2) aspek kelayakan panduan pelatihan penyesuaian diri di

lingkungan kerja dirumuskan sebanyak 9 item. Berdasar penghitungan maka diperoleh skor minimal 9 dan skor maksimal

36. Berdasarkan hasil penilaian kedua ahli diperoleh nilai rata-rata 30,5. Artinya panduan pelatihan yang dikembangkan

termasuk dalam kategori layak. (3) aspek ketepatan panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dirumuskan

sebanyak 14 item. Berdasar penghitungan maka diperoleh skor minimal 14 dan skor maksimal 56. Berdasarkan hasil

penilaian kedua ahli diperoleh nilai rata-rata 45. Artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori

tepat. (4) aspek kepatutan panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dirumuskan sebanyak 4 item. Berdasar

penghitungan diperoleh skor minimal 4 dan skor maksimal 16. Berdasarkan hasil penilaian kedua ahli diperoleh nilai ratarata

14,5.

Artinya

panduan

pelatihan

yang

dikembangkan

termasuk

dalam

kategori

patut.

(5)

aspek

media

panduan

pelatihan

penyesuaian

diri di lingkungan kerja dirumuskan sebanyak 8 item. Berdasarkan hasil penilaian kedua ahli diperoleh nilai

rata-rata 24. Artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori menarik.

b. Ahli Bahasa Indonesia

Subjek ahli dalam penelitian ini terdiri dari 1 (satu) orang ahli Bahasa Indonesia. Penilaian ahli dilakukan dengan

menggunakan angket penilaian dan diskusi secara langsung. Berdasarkan penilaian ahli bahasa tentang struktur bahasa,

dapat dijelaskan bahwa pada panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dirumuskan sebanyak 14 item dengan

menggunakan skala penilaian 1 – 4. Berdasar pada hal tersebut maka diperoleh skor minimal 14 dan skor maksimal 56.

Berdasarkan penilaian ahli bahasa, penggunaaan bahasa di dalam panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja

termasuk dalam klasifikasi sangat baik dengan skor 52.

2. Hasil Uji Kelompok Kecil (Konselor)

Subjek ahli dalam penelitian ini adalah 3 (tiga) orang Konselor yang berasal dari sekolah berbeda. Kriteria akseptabilitas

yang diuji adalah; (a) aspek kegunaan panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja dirumuskan sebanyak 8 item.

Hasil penilaian ketiga ahli diperoleh nilai rata-rata 32, artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori

berguna. (b) aspek kelayakan dirumuskan sebanyak 9 item dan hasil penilaian ketiga ahli diperoleh nilai rata-rata 31, artinya

panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori layak. (c) aspek ketepatan panduan dirumuskan sebanyak 14

item. Hasil penilaian ketiga ahli diperoleh nilai rata-rata 51,3 artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam

kategori sangat tepat. (d) aspek media dirumuskan sebanyak 14 item dengan hasil penilaian dari ketiga ahli rata-rata 13,6

artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori patut. (e) aspek media dirumuskan sebanyak 8 item

dengan hasil nilai rata-rata 29,3 artinya panduan pelatihan yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat menarik.

3. Hasil Uji Kelompok Terbatas (Siswa)

Untuk mengetahui keberhasilan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja bagi siswa SMK berdasarkan panduan yang

telah dikembangkan, maka dilakukan tes sebelum dan setelah pemberian pelatihan dengan menggunakan skala pretest dan

posttest penyesuaian diri di lingkungan kerja. Selanjutnya data hasil pretest dan postest dianalisis. Analisis secara kelompok

dilakukan dengan uji statistik Wilcoxon. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor siswa sebelum dan sesudah

pelatihan. Subjek pelatihan adalah 11 orang siswa SMK yang berasal dari jurusan akuntansi dan administrasi perkantoran yang

diambil secara acak (random). Berikut uraian singkat tentang skor masing-masing siswa setelah diberi pelatihan penyesuaian

4Jurnal Pendidikan, Vol..., No..., Bln Thn, Hal....-....

diri di lingkungan kerja dengan teknik SLA. Diketahui bahwa jumlah data (N) positif rank adalah 11. Artinya semua skor 11

peserta pelatihan menjadi lebih tinggi setelah diberikan pelatihan daripada skor sebelum pelatihan. Untuk negatif ranks adalah 0

(tidak ada nilai sebelum pelatihan yang lebih tinggi dari pada nilai setelah pelatihan). Mean Rank (rata-rata peringkat) adalah

6.00 dan Sum of Rank (Jumlah peringkat) adalah 68,00. Selanjutnya ditinjau dari perolehan skor rata-rata sebelum dilaksanakan

pelatihan, tingkat penyesuaian diri siswa berada pada kategori sedang (skor 42), kemudian setelah dilakukan pelatihan

penyesuaian diri di lingkungan kerja meningkat kepada kategori sangat tinggi (skor 73). Hal ini berarti bahwa, pelatihan

penyesuaian diri di lingkungan kerja dengan teknik SLA efektif meningkatkan penyesuaian diri siswa di lingkungan kerja.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja menggunakan metode Structured

Learning Approach (SLA) bagi siswa SMK terbukti dapat mengembangkan keterampilan penyesuaian diri siswa, dan pelatihan

tersebut telah memenuhi kriteria akseptabilitas dari para uji ahli. Berikut uraian tentang masing-masing prosedur;

1. Produk Pengembangan

Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini adalah panduan pelatihan penyesuaian diri di lingkungan kerja

bagi konselor dan siswa SMK. Panduan untuk konselor merupakan petunjuk khusus melaksanakan pelatihan, langkah-langkah

yang dilakukan, serta petunjuk umum penggunaan panduan pelatihan yang ditujukan pada konselor sebagai fasilitator yang

mambantu siswa membimbing penggunaan panduan. Buku panduan untuk siswa berisi petunjuk umum dalam pelaksanaan

pelatihan. Penerapan strategi pembelajaran terstruktur dalam pelatihan ini dimulai dengan tahap pertama SLA, yaitu pemberian

instruksi atau arahan. Penjelasan atau instruksi dilakukan secara sederhana, jelas dan spesifik untuk membantu siswa memahami

secara benar tentang apa, mengapa dan bagaimana perilaku menyesuaikan diri di lingkungan kerja itu perlu ditunjukkan ketika

berada di tempat kerja. Pada saat pemberian instruksi ini siswa tampak semangat, serius dan penuh perhatian. Terdapat

beberapa siswa yang bertanya mengenai tips dan cara supaya segera dapat menyesuaikan diri di tempat kerja. Para siswa terlihat

sudah tidak sabar untuk mengetahui cara supaya dapat menyesuaikan diri di tempat kerja.

Selanjutnya tahap kedua SLA adalah pemberian contoh melalui model simbolik yaitu penayangan fragmen/film. Presentasi

model simbolik melalui media audio-visual ini dilakukan dengan menayangkan dua fragmen cerita. Fragmen yang pertama

berjudul ”Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” dan fragmen yang kedua berjudul ”The Billionaire”. Kedua fragmen tersebut

memerankan tokoh-tokoh yang berada pada situasi di tempat kerja dan menggambarkan peran tokoh yang dapat menunjukkan

beberapa jenis perilaku penyesuaian diri seperti; menghormati dan menghargai hak orang lain, melibatkan diri di lingkungan

kerja, mendukung rekan di tempat kerja, mendahulukan kesejahteraan bersama, dan patuh terhadap nilai, aturan, serta kebiasaan

yang berlaku. Penayangan fragmen dilakukan secara bergantian, yakni fragmen dengan judul ”Merry Riana: Mimpi Sejuta

Dolar” lebih dulu ditayangkan dengan durasi 50 menit kemudian pada pertemuan berikutnya, di hari yang berbeda siswa

diberikan tayangan fragmen dengan judul ”The Billionaire”. Pada akhir penayangan masing-masing fragmen terdapat kegiatan

refleksi isi dan refleksi diri. Refleksi isi fragmen diberikan dengan tujuan agar siswa dapat mengambil makna yang terkandung

pada cerita tersebut dan dapat mengambil hal positif dari perilaku para tokoh. Sedangkan refleksi diri diberikan agar siswa dapat

melakukan introspeksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini. Melalui pemberian model ini diharapkan siswa dapat

memiliki penyesuaian diri yang tepat dan benar ketika berada di tempat kerja. Pada saat menayangkan dua fragmen cerita dan

peran dari tokoh, siswa tampak serius dan semangat mengamati model. Hal ini terbukti ketika diajukan pertanyaan tentang

bagaimana perilaku penyesuaian diri dilakukan sesorang ketika berada di tempat kerja, semua siswa mampu menjelaskannya

secara tepat sesuai model yang telah ditunjukkan. Ini berarti pengamatan dilakukan secara maksimal, dengan demikian akan

berefek pada tahap bermain peran. Terkait hal ini, Frosh (dalam Handarini, 2000) menyatakan bahwa tahap pemberian contoh

merupakan prosedur yang sangat berpengaruh pada hasil pelatihan keterampilan sosial. Perilaku penyesuaian diri terjadi dalam

relasi sosial maupun interpersonal, oleh karena itu jika siswa diberi model yang tepat dan dilakukan secara benar maka dapat

meningkatkan keterampilan penyesuaian diri siswa di lingkungan kerja. 

Pada tahap ketiga SLA, siswa diberi peran untuk berlatih menunjukkan perilaku penyesuaian diri di lingkungan kerja

berdasarkan skenario yang terdapat pada buku panduan. Pada pelatihan ini setiap siswa difasilitasi untuk dapat berlatih perilaku:

(1) menghormati dan menghargai hak orang lain melalui skenario dengan judul ”Wawancara Pertama”, (2) melibatkan diri di

lingkungan kerja melalui skenario dengan judul ”Keluarga Kedua”, (3) mendukung rekan di tempat kerja melalui skenario

dengan judul ”Percayalah Padaku”, (4) mendahulukan kesejahteraan bersama melalui skenario dengan judul ”Kamu

Berpotensi”, dan (5) patuh terhadap nilai, aturan, serta kebiasaan yang berlaku melalui skenario dengan judul ”Bekerja 24 Jam/7

Hari”. Pelatihan bermain peran tersebut dilakukan melalui proses kelompok. Pada saat siswa bermain peran, peserta yang

lainnya melakukan observasi. Observasi terkait dengan indikator perilaku penyesuaian diri di lingkungan kerja pada setiap

komponen yang dilatihkan. Thompson (2003), mengungkapkan bahwa: (a) bermain peran dilakukan dengan tujuan memberi

siswa pengalaman berlatih keterampilan tertentu serta membahas dan mengidentifikasi tingkah laku yang efektif dan tidak

efektif, (b) bermain peran dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kenyamanan pada setting kehidupan nyata, (c) semakin

nyata berlatih bermain peran maka emosi seseorang semakin terlibat dan meningkatkan pembelajaran terhadap keterampilan

baru yang dilatihkan, (d) melalui bermain peran terkait berbagai situasi yang serupa dengan kehidupan nyata memungkinkan

seseorang mencoba berbagai cara dalam menghadapi situasi nyata. 

Tahap keempat SLA yaitu pemberian umpan balik untuk memperkuat aspek perilaku dan instruksi yang benar tentang

bagaimana memperbaiki perilaku. umpan balik disampaikan oleh observer, kemudian dipahami oleh siswa yang telah berlatih

peran sehingga sangat jelas terlihat kekompakkan dan semangat untuk berlatih, saling mengevaluasi kekurangan dan kelebihan,

belajar untuk sportif menerima usul saran dan saling membantu jika ada teman yang mengalami kesulitan mengekspresikan

peran-peran yang diberikan, dengan demikian siswa akan berusaha memperbaiki keterampilan penyesuaian diri di lingkungan

kerja pada sesi latihan berikutnya. Hasil penelitian (Prihartanti, 2003) yang berjudul “Kualitas Kepribadian Ditinjau dari

Konsep Rasa Suryomentaram dalam Perspektif Psikologi”, diperoleh hasil bahwa orang-orang yang melakukan penyesuaian

diri dengan cara introspeksi ternyata lebih banyak ditemukan pada orang dengan kualitas kepribadian kategori tinggi (pribadi

yang memiliki keberhasilan olah rasa/kepekaan rasa) daripada kualitas kepribadian kategori sedang. Dengan nilai perbandingan

66,6% : 33,3%. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil evaluasi dari para observer, sangat berguna untuk meningkatkan kualitas

keterampilan penyesuaian diri di lingkungan kerja dan juga meningkatkan kualitas kepekaan siswa ketika mendapat masukan.

Tahap kelima/akhir dari pembelajaran terstruktur (SLA) yaitu pemberian tugas. Tugas ini dilakukan siswa di luar setting

pelatihan. Siswa ditugaskan untuk mengidentifikasi situasi di luar kelompok latihan, menguraikan hal apa saja yang dilakukan

sebagai gambaran perilaku penyesuaian diri di lingkungan kerja yaitu cara menghormati dan menghargai hak orang lain,

melibatkan diri di lingkungan kerja, mendukung rekan di tempat kerja, mendahulukan kesejahteraan bersama, dan patuh

terhadap nilai, aturan, serta kebiasaan yang berlaku. Penyelesaian tugas dimaksud dengan menggunakan format pen