DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perilaku Kepemimpinan Kolektif di Pondok Pesantren [Studi Multisitus pada Pesantren Bani-Djauhari, pesantren Bani-Syarqawi Sumenep, dan Pesantren Bani-Basyaiban Pasuruan]. (Disertasi)

Atiqullah Atiqullah

Abstrak


Perilaku kepemimpinan kharismatik-tradisional pesantren sebenarnya bersandar kepada keyakinan bahwa kyai mempunyai kualitas luar biasa yang bersifat teologis, hal ini merupakan daya tarik pribadi kyai sebagai pemimpin-kekuasaannya berasal dari Tuhan. Fenomena kepemimpinan secara kolektif bersandar pada pembagian peran, tugas dan kekuasaan secara bersama, sehingga lahirnya kepemimpinan kolektif di pesantren diasumsi sebagai usaha bersama untuk mengisi jabatan baru karena tuntutan sosial masyarakat.

Perubahan kepemimpinan tunggal yang mengacu pada figur kyai tertentu pada pola kepemimpinan kolektif semacam ini ternyata tidak menampik otoritas kyai yang menjadi ciri utama pesantren, bahkan menempatkan kyai sebagai pengasuh yang terlembaga dalam dewan pengasuh. Pengurus harian dan yayasan yang bertugas membenahi operasionalisasi yang dipegang oleh kyai muda dibantu sejumlah alumni dan santri, sehingga terjadi diversivikasi wewenang yang relatif merata, keputusan tidak muncul sepihak melainkan melalui mekanisme musyawarah seluruh komponen yang ada dalam kepengurusan dan yayasan pesantren.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku kepemimpinan kolektif di pesantren. Beberapa hal yang dapat dideskripsikan sehubungan dengan fokus penelitian ini adalah; perilaku kepemimpinan kepemimpinan kolektif di pondok pesantren dalam proses pengambilan keputusan, pengendalian konflik, dan pembangunan tim. Sub fokusnya adalah; perilaku kepemimpinan,  sumber otoritas dan ghirah kepemimpinan kolektif dan proses pengambilan keputusan, penyelesaian konflik dan pembangunan tim.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif berjenis studi multi situs pada  tiga pondok pesantren di Jawa Timur; yaitu pesantren Bani-Djauhari Prenduan, pesantren Bani-Syarqawi Guluk-Guluk Kota Garam Sumekar dan di pesantren Bani-Basyaiban Kraton Kota Santri. Dalam menggali data peneliti banyak menggunakan wawancara mendalam dengan para kyai fungsionaris Dewan Riasah, Dewan Masyayikh, dan Majlis Keluarga, serta dari para pengurus harian-majlis a'wan, asatidz, dan santri. Serta melalui observasi dan dokumentasi, data-data dianalisis secara interaktif dan komparatif konsan.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa; pertama, perspektif kepemimpinan kolektif pesantren, semula teraktualisasi dari proses sosial-kultural, kemudian pada perkembangannya berubah kepada proses sosial-struktural berbentuk organisasi yang beranggotakan kyai-kyai dan kemudian disebut "majlis kyai" yang memimpin dan mengasuh santri secara bersama-sama (berjemaah) atau collective didasarkan pada seniouritas (masyayikh) dari garis kekerabatan (kinship), dengan kedudukan majlis kyai sebagai badan tertinggi di pesantren, secara fungsional merupakan pembina pengurus harian dan pengurus yayasan, yang dibantu oleh majlis pengasuh putri, majlis a'wan dan pengurus pleno. Dan sedangkan kolektivitas kepemimpinan dalam majlis kyai berkecenderungan pada perilaku kepemimpinan kolektif-partisipatif bergantung kepada kapasitas peran dan otoritas yang dipenuhi para kyai, serta kewenangan yang diberikan kepada kyai muda.

Kedua, kewenangan dewan kyai secara kolektif di pesantren bersumber dari kesadaran bersama pada norma-norma yang telah diatur bersama, serta kesadaran personal beberapa kyai bersumber dari nilai-nilai keagamaan yang diyakini berupa kharisma (charismatic-religious), yang mempunyai tujuan dan ghirah pelembagaan kepemimpinan di pesantren sebagai upaya pembagian tugas dan kekuasaan, sebagai wadah bermusyawarah, upaya kesinambungan pesantren dimasa-masa mendatang, responsif terhadap persoalan pendidikan masayarakat, dan meneladani Rasul Muhammad saw., sebagai pemimpin sejati. Dan sedangkan perilaku kepemimpinan kolektif di pesantren didukung oleh faktor kepribadian, faktor  pendidikan, faktor pengalaman, dan faktor lingkungan para kyai di pesantren.

Ketiga, Perilaku proses pengambilan keputusan majlis kyai dilakukan melalui musyawarah dan inisitif-inisiatif sebagai proses penetapan tujuan dan sosialisasi program dalam memperkaya gagasan dan keterlibatan semua pihak. Demikian juga proses penyelesaian konflik bersifat individual, mediasi, klarifikasi (tabayyun), proses ikrar dan perjanjian (tajdidun niyah), dan proses mija hijau (mahkamah), sebagai upaya penegakan syari'ah. Sedangkan proses pembangunan tim dilakukan melalui proses intensitas pertemuan dan pemerataan komunikasi diantara pengurus, pemanfaatan moment-moment, pelibatan para Nyai di pesantren, serta pemberian kompensasi (bisyaroh).

Implikasi penelitian ini dapat mengilhami pola kepemimpinan pesantren yang selama ini dipimpin secara tradisional, kompensional dan individual minded. Pembagian kekuasaan dan wewenan, serta tugas dan fungsi kepemimpinan akan semakin jelas dan terarah, karena menurut peneliti problem yang akan diahadapi pondok pesantren dimasa-masa mendatang semakin kompleks, sehingga refresentasi kepemimpinan kolektif semakin mungkin untuk modalitas perilaku kepemimpinan yang berkesinambungan (continual leadership) dan situasional kolektif-partisipatif.

Disarankan kepada para kyai pengasuh "pemilik" pesantren agar mengembalikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan kontribusi, Yayasan sebagai lembaga otonom mengurusi asset dan pendanaan senantiasa berkreasi dan lebih produktif, para pengurus pesantren hendaknya senantiasa mengembangkan profesionalisme, dan pesantren perlu kiranya semakin mendapat perhatian semua kalangan untuk pengembangan dimasa mendatang sehingga menjadi lembaga pendidikan alternatif.

Abstrat:

Keywords: leadership behavior, kyai council, pesantren maisonette.

The charismatic Leadership behavior of pesantren, in fact,  leans on confidence that kyai have extraordinary quality of theological aspect, it is a personal fascination for kyai as his power leader comes from God. The collective leadership phenomenon relies on the division of role, duty and power, so that the presence of collective leadership in pesantren   are assumed  as effort together to fill  new position becaus demand for social society.

The single leadership changes which relates for certain kyai figure, for this kind collective leadership, actually, it does not slap down kyai authority becoming especial pesantren characteristic, whereas seating kyai as caretaker which is instituted in careteker council. Daily officials and institution tasking correct operasionalisasi holded by young kyai  assisted by a number alumni and santri, so that happened authority diversivikasi which relatives flatten, decision do not emerge side but through deliberation mechanism all existing component in management and institution  of pesantren.

This research aim for describing the collective leadership behavior in pesantren. Several things can be described to focus this research is; the collective leadership behavior in pesantren maisonette  in decision-making process, conflict operation, and team development. Its sub-focus is; the leadership behavior, authority source and collective leadership ghirah and decision-making processes, solving the conflict and team development.

This research is the field reseach with approach qualitative  types to study the multi situs in  three pondak pesantrens in east jawa; those are Bani-Djauhari pesantren parenduan, Bani-Syarkawi pesantren Sumenep and Bani-Syaiban pesantren pasuruan. In getting data, researcher uses many interviews in detail with all fungsionaris kyai of ri'asah council, masyayikh council, and majlis family, and also from all daily officials of a' wan-majlis, asatidz, and santri. and also passes observations and documentations, datas analyzed by interactions and constant comparabilities.

From resulting the research known; the first, that pesantren collective leadership perspective, initialy proved from the sosial-cultural process, then for its growth changes sosial-structural process forming the organization which have the member of kyai-kyai and  later called  "majlis kyai" leading and take care of santri by together (berjemaah) or collective based on seniorities (masyayikh) from consanquinity line (kinship). Status majlis kyai as highest position in pesantren, functionally as the daily officials builders and institution officials, assisted by putri caretaker majlis, a'wan majlis and pleno officials. Leadership collectivization in majlis kyai  inclines to collective-participation leadership behavior depending on capacity roles and authority fulfilled by all kyai, and also authority given  for  young kyai.

The second,  collective kyai council authority in pesantren stems from awareness for norms which have been arranged together, and also personal awareness for some kyai stem from religious values believed forming charisma ( charismatic-religious). The aim and ghirah of leadership institution in pesantren as division effort of duty and power, as place of have deliberation, striving pesantren continuity in the next periods, responsive to society education problems, and to set an example of Rasul Muhammad saw. as a real leader. The collective leadership behavior in pesantren supported by personality factor, education factor, experience factor, and environmental factor for all kyai in pesantren.

The third, decision making of kyai majlis done through deliberation and willingness as process the aim stipulation and program socialization in enriching ideas and involvement all side. The conflict solution forms individually, mediasi, clarification (tabayyun), promise process and agreement (tajdid al-niyah), and  green table process (mahkamah), as effort for syari'ah straightening. Team development done through meeting intensity process and communications generalization among officials,diaries exploiting, involvement all Nyai in pesantren, and also giving compensation (bisyaroh).

This research implication  can inspire the pesantren leadership patterns which during this time is led traditionally, compensation and individually minded. Division of power and authority, and also duty and leadership function will be clearly  and directional, because according to researcher that problem will be faced to pesantren maisonette in next period more complex, so that  collective leadership representation  is more possible for continual leadership and situation behavior leadership of participation collective.

Suggested to all caretakers kyai "owner" pesantren  to be returning opportunity to society to give contribution, Institution as otonomous institute thining asset and finance ever creativety and more productive, all pesantren officials shall ever develop the professionalism, and pesantren presumably need to get more attentively in all circle for the development in the next period  so that becoming the alternative education institute.