DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesantunan Tuturan Direktif dalam Interaksi Pembelajaran di SMA Negeri 1 Batu.

mardiyah putri astuti

Abstrak


ABSTRACT

 

Kesantunan Tuturan Direktif dalam Interaksi Pembelajaran di SMA Negeri 1 Batu.

Astuti, Mardiyah Putri. 2016. Kesantunan Tuturan Direktif dalam Interaksi Pembelajaran di SMA Negeri 1 Batu. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo, HS., M.Pd., (II) Dr. Sunoto, M.Pd.

Kata Kunci: kesantunan tuturan, interaksi pembelajaran, tuturan direktif, strategi

kesantunan, aspek budaya.

Kesantunan tuturan dalam interaksi pembelajaran di dalam kelas dilakukan melalui bentuk tuturan direktif, memperhatikan strategi tuturan, dan dipengaruhi oleh aspek budaya. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti bentuk, strategi, dan aspek budayanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kesantunan direktif, strategi kesantunan, dan aspek budaya Jawa dalam interaksi pembelajaran antara guru dan siswa.

Pengkajian terhadap bentuk tuturan direktif, strategi kesantunan, dan aspek budaya Jawa dalam tuturan dilakukan dengan mengggunakan teori dan panduan analisis berdasarkan teori tindak tutur direktif Bach dan Harnish untuk bentuk tuturan direktif, teori kesantunan Brown dan Levinson untuk strategi kesantunan tuturan, dan teori tingkat tutur Gunarwan untuk aspek budaya Jawa. Ranah kesantunan yang diteliti adalah interaksi pembelajaran SMA Negeri 1 Batu. Data penelitian ini yakni (1) transkrip rekaman tuturan guru dan siswa, (2) catatan lapangan, dan (3) hasil wawancara. Dalam penelitian ini, perpanjangan pengamatan dan pemeriksaan rekan sejawat digunakan untuk mengecek keabsahan data.

Bentuk tuturan direktif dalam interaksi pembelajaran ditandai dengan (1) direktif permintaan, (2) direktif pertanyaan, (3) direktif  perintah, (4) direktif larangan, (5) direktif pemberian izin, dan (6) direktif nasihat. Hasil analisis mengenai bentuk tuturan direktif menunjukkan bahwa guru melakukan kesantunan secara dominan melalui perintah, larangan, izin, dan nasihat, sedangkan bentuk tuturan direktif dilakukan oleh guru dan siswa dengan mempertimbangkan aspek budaya. Strategi kesantunan tuturan dalam interaksi pembelajaran ditandai dengan (1) memberi perhatian, (2) melebihkan dalam memberi komentar atau pujian, (3) menegaskan, (4) menggunakan penanda sebagai anggota kelompok yang sama, (5) mengupayakan kesepakatan, (6) menghindari perbedaan pendapat, (7) mengisyaratkan kesamaan pandangan, (8) menggunakan lelucon, (9) menampilkan pengetahuan penutur dan mempertimbangkan keinginan penutur, (10) menawarkan, berjanji, (11) bersikap optimis, (12) menyertakan penutur dan petutur dalam kegiatan, (13) memberi atau meminta alasan, (14) menerima atau menampilkan sikap timbal balik atau saling, dan (15) memberi hadiah pada petutur. Hasil analisis mengenai strategi kesantunan tuturan menunjukkan bahwa guru dan siswa melakukan tuturan untuk kesantunan dengan beragam strategi. Aspek budaya dalam interaksi pembelajaran ditandai dengan  (1) aspek kurmat (hormat), (2) andhap asor (rendah hati), (3) empan papan (sadar akan tempat), dan (4) tepa selira (tenggang rasa). Hasil analisis mengenai aspek budaya dalam tuturan guru dan siswa menunjukkan bahwa aspek budaya Jawa diintegrasikan dalam tuturan yang dilakukan dalam kelas.

 

Bentuk tuturan direktif, strategi kesantunan direktif, dan aspek budaya dilakukan oleh dominan dilakukan oleh guru dan siswa untuk kepentingan tertentu. Hal itu menunjukkan eksistensi kesantunan tuturan dalam interaksi pembelajaran di SMA Negeri 1 Batu. Dari simpulan tersebut, maka disarankan kepada guru dan siswa untuk menggunakan bentuk, strategi, aspek budaya dengan cara yang kontributif dan konstruktif, sehingga dapat memberikan pencerahan baik bagi seluruh elemen dalam interaksi pembelajaran.