DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penggunaan Negosiasi Makna dalam Wacana Lisan Guru-Siswa Kelas IV SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02

Septi Kartika Sari

Abstrak


ABSTRACT

 

Sari, Septi Kartika. 2016. Penggunaan Negosiasi Makna dalam Wacana Lisan Guru—Siswa Kelas IV SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd., (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd.

Kata kunci: negosiasi makna, wacana lisan

Negosiasi makna dapat dimanfaatkan sebagi strategi dalam pembelajaran di kelas. Guru dapat menggunakan negosiasi makna untuk menjelaskan materi pelajaran. Negosiasi makna dapat diartikan ketika interaksi antara guru dengan peserta didik mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, kemudian guru berupaya untuk mengatasi dengan cara dan taktik agar bisa dipahami oleh peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bentuk negosiasi makna yang dilakukan guru dalam pembelajaran di kelas IV SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02, (2) mendeskripsikan frekuensi penggunaan negosiasi makna dalam pembelajaran di kelas IV SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02, (3) mendeskripsikan perbedaan penggunaan negosiasi makna SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif (mixed methods). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dibantu dan didukung oleh instrumen lainnya. Pada metode kualitatif, menggunakan intrumen lembar observasi dan pedoman wawancara. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa lembar observasi, dan  wawancara. Terdapat tiga data dalam penelitian ini. Data penelitian ini berupa (1) bentuk negosiasi makna pada pembelajaran di kelas, frekuensi penggunaan negosiasi makna pada pembelajaran di kelas, dan (3) perbedaan penggunaan negosiasi makna di SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, terdapat sembilan bentuk negosiasiasi makna, yaitu permintaan klarifikasi, konfirmasi, cek konfirmasi, perbaikan atau dikoreksi sendiri, perluasan, permintaan penjelasan, membalas klarifikasi, membalas konfirmasi, dan membalas sebagai jawaban. Kedua, frekuensi negosiasi makna yang paling sering muncul pada pembelajaran adalah cek konfirmasi. negosiasi makna yang paling rendah tingkat penggunaannya adalah membalas sebagai jawaban. Ketiga, perbedaan penggunaan negosiasi makna di SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02 terletak pada frekuensi atau kemunculan negosiasi makna. Pada pembelajaran di SDN Mojomalang 02 frekuensi negosiasi makna lebih tinggi, dibanding pada pembelajaran di SDN Sandingrowo 01. Negosiasi makna sering muncul dikarenakan pembejaran di sekolah tersebut menggunakan kurikulum KTSP.

Sehubungan dengan temuan dan hasil penelitian tersebut, disarankan pada guru untuk menggunakan kesembilan bentuk negosiasi makna yang telah diteliti. Bagi tim MGMP Bahasa Indonesia, untuk mempertimbangkan penggunaan negosiasi makna terutama kesembilan negosiasi makna yang telah diteliti, agar diperkenalkan kepada guru kelas. Bagi peneliti selanjutnya, perlu diadakan penelitian sejenis mengenai perbedaan penggunaan negosiasi makna pada yang ditik beratkan pada gender.