DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penggunaan Negosiasi Makna dalam Wacana Lisan Guru—Siswa Kelas IV SDN Sandingrowo 01 dan SDN Mojomalang 02

Septi Kartika sari

Abstrak


ABSTRACT

 

Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Upaya Peningkatan Kinerja Guru (Studi Multi Kasus pada PAUD Islam Sabilillah dan SDN Tanjungsari 1 di Kabupaten Sidoarjo)

Ramadoni, Wahyu. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Upaya Peningkatan Kinerja Guru (Studi Multi Kasus pada PAUD Islam Sabilillah dan SDN Tanjungsari 1 di Kabupaten Sidoarjo). Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd; (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd.

Kata Kunci: kepemimpinan, kepala sekolah, kinerja guru.

Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam meningkatkan kinerja guru, karena dalam proses pembelajaran di sekolah kepemimpinan kepala sekolah menjadi penentu bagi peningkatan kinerja guru dan prestasi siswa. Dengan dukungan dari seluruh komponen sekolah, kepala sekolah bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin sekolah secara berkelanjutan. Melalui gaya kepemimpinan dan perannya di sekolah, serta usaha yang dilakukannya. Maka perkembangan kualitas sumber daya manusia menjadi lebih maksimal dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan bersama.

Tujuan dari penelitian ini untuk: (1) menemukan perbedaan pada gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, (2) menemukan perbedaan pada peran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, (3) menemukan perbedaan pada faktor pendukung dan penghambat kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, (4) menemukan perbedaan pada usaha menyelesaikan hambatan dan memanfaatkan pendukung dalam meningkatkan kinerja guru di PAUD Islam Sabilillah dan SDN Tanjungsari 1 Kabupaten Sidoarjo.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data dibagi dalam dua tahap, yakni analisis data kasus individu dan analisis data lintas kasus.

Hasil temuan lintas kasus menunjukkan: (1) gaya kepemimpinan demokratis, kepala sekolah memberikan ruang kepada guru untuk bekerja dan memahami setiap perbedaan dari masing masing individu guru yang bertujuan untuk menempatkan kepemimpinannya dari guru satu ke guru lainnya. Kepala sekolah menerapkan kedisiplinan pada guru. Kepala sekolah menerapkan komunikasi yang baik, dari komunikasi yang baik kepada warga sekolah maka segala bentuk program sekolah dan tugas lainnya bisa sesuai tujuan; (2) Kepala sekolah sebagai leader, menjadi pemimpin sekolah dengan memberikan contoh yang baik bagi guru guru dalam kawasan sekolah. Kepala sekolah sebagai motivator, berperan menjadi motivator adalah dengan memberikan support kepada guru yang mengalami masalah, disamping memberikan masukan kepala sekolah pastinya memberikan motivasi kepada guru yang bersangkutan. Kepala sekolah sebagai ibu, sahabat, dan teman kerja. memberikan ruang kepada guru agar bisa lebih terbuka untuk sharing tentang semua permasalahan yang dialami guru dalam pembelajaran; (3) Faktor pendukung, sistem penghargaan pada guru yang berprestasi melalui penilaian rapot guru yang diberikan setiap awal semester untuk diisi sendiri dan di akhir semester akan di setorkan ke kepala sekolah melalui koordinator jenjang. Penghargaan diberikan oleh yayasan kepada seluruh guru yang berprestasi, berupa sepeda motor dengan hak pakai selama tiga tahun, undian umroh ke tanah suci mekah. Hubungan yang sinergis antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru serta kerjasama guru untuk memudahkan dalam meningkatkan semangat kinerja. Pihak masyarakat yang mendukung proses pendidikan serta kegiatan sekolah. Faktor penghambat, Perbedaan karakter guru berdampak pada kinerja guru. Guru yang tidak linier, menyebabkan kurang maksimal dalam memberikan materi kepada siswa. Adanya senioritas dalam situasi kerja, menyebabkan tidak seimbangnya pembagian kinerja. Banyaknya tugas yang harus dikerjakan guru, apabila pekerjaan yang tidak selesai disekolah lalu di selesaikan dirumah. Dengan ini guru tidak bisa fokus pada pembelajaran siswa; (4) Kepala sekolah menggunakan pendekatan persuasif, untuk lebih memahami karakter masing masing guru. Membuat tingkatan level kinerja guru, level profesional fast-trek; level sedang, level tidak profesional. Ketiga level ini kepala sekolah bisa membagi tingkatan kinerja guru yang diketahui setelah penyerahan rapot guru diakhir semester. Mengadakan supervisi kelas terstruktur yang dilakukan oleh koordinator jenjang dan tidak terstruktur yang dilakukan oleh kepala sekolah secara spontanitas. Memberikan kesempatan kepada guru untuk kuliah lagi  mengambil jurusan yang linier. Mengikutkan pelatihan pada guru baik pelatihan internal maupun eksternal sekolah. Pelatihan internal sekolah dengan mendatangkan nara sumber, sedangkan pelatihan eksternal dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan Sidoarjo. Dan melaksanakan Penilaian Kinerja Berkelanjutan guru. Membagi setiap tugas guru sesuai tugas pokoknya masing masing, mengajarkan guru menjadi guru profesional dengan mengingatkan guru untuk menyelesaikan tugasnya di sekolah tanpa harus dibawa pulang ke rumah.

 

Saran-saran yang dapat dikemukakan oleh peneliti adalah: (1) bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang bagaimana rekrutmen kepala sekolah yang baik agar setiap sekolah mendapat kepala sekolah yang berkualitas. (2) bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memudahkan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dengan menggunakan kepemimpinan demokratis kepada bawahan. (3) bagi pengawas sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat membina kepala sekolah untuk memahami kompetensi yang lain dan membina guru dalam proses pembelajaran. (4) bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan dan sekaligus sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian lanjutan, khususnya untuk menyempurnakan penelitian ini dengan setting yang berbeda.