DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR LIFE SKILL KERAJINAN KERAMIK DI KAMPOENG WISATA KERAMIK DINOYO

SYEKH ABU ALI AL HUSSEN

Abstrak


ABSTRACT

 

Hussen, Syekh Abu Ali. 2016. Pemanfaatan Sumber Belajar Life Skill Kerajinan    Keramik Di Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo Kota Malang. Tesis             Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana      Universitas             Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed,             (II) Dr. Zulkarnain, M.Pd. M.Sc.

Kata Kunci: Kerajinan Keramik, Life Skill, Sumber Belajar.

Upaya pengoptimalan SDM yang berkualitas dan kompetitif  bagi pelaku UKM kerajinan keramik yaitu  melalui pembelajaran life skill. Pemanfaatan dan pengoptimalan sumber belajar dibutuhkan dalam proses pembelajaran life skill kerajinan keramik untuk peningkatan dan pengembangan potensi pengrajin. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan informasi sumber-sumber belajar life skill kerajinan keramik yang dimanfaatkan pengrajin di Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo Kota Malang beserta alasannya, dengan kata lain penelitian ini mempersoalkan bagaimana dan mengapa pengrajin memanfaatkan sumber-sumber belajar tersebut.

Metode penelitian ini menggunakan  metode penelitian kualitatif, jenis penelitian yaitu studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada beberapa informan sesuai dengan fokus penelitian. Untuk mengecek keabsahan pernyataan informan dilakukan wawancara, observasi dan dokumentasi.

 

Hasil penelitian diketahui bahwa pengrajin mengoptimalkan segala sumber belajar life skill yang ada melalui (1) Pengrajin belajar teknik membuat keramik melalui media cetak berupa buku-buku kerajinan keramik. Persaingan usaha yang terjadi dan kurangnya interaksi antar sesama pengrajin mendorong pengrajin belajar mandiri (2) Pengrajin belajar melalui blog dalam Internet tentang disain keramik terbaru dan model keramik yang banyak laku terjual di pasaran, serta melalui media sosial meliputi grup Whatshaap, Facebook, dan grup Blackberry Massengger sebagai sarana berinteraksi dan berdiskusi antar sesama pengrajin di dalamnya. Belajar melalui internet dirasakan pengrajin lebih praktis dan sewaktu-waktu pengrajin dapat memanfaatkannya. (3) Pengrajin belajar melalui pemilik usaha dengan cara magang kerja dikarenakan semua pengrajin keramik Dinoyo mengawali life skill kerajinan keramik melalui pemilik usaha. (4) Pengrajin belajar melalui pembeli dengan berdiskusi untuk bahan evaluasi hasil kerajinan keramik pengrajin, hal ini memotivasi pengrajin untuk berinovasi dan mengasah kreativitas. (5) Beberapa pengrajin mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan yang diselenggarahkan oleh Pemerintah dan lembaga swasta meliputi cara membuat keramik yang baik, tata cara pengelolaan keuangan, dan teknik pemasaran. Alasan pengrajin sebagai upaya mempertahankan eksistensi budaya kerajinan keramik dan upaya peningkatan kecakapan membuat keramik. (6) Belajar melalui ahli keramik dengan cara mengikuti studi banding ke beberapa pusat keramik yang ada di wilayah Indonesia. Pengrajin  mendapatkan banyak pengetahuan teknik membuat keramik yang sistematis, baik, dan benar melalui pakar atau pengrajin berpengalaman. Alasan pengrajin sebagai upaya memperkaya wawasannya akan teknik membuat keramik dan keinginan membuat produk keramik yang berkualitas. (7) Pengrajin belajar melalui lingkungan dengan berdiskusi dengan sesama pengrajin di lingkungan keramik Dinoyo, bealajar dari pelajar dan mahasiswa yang magang, dan pengrajin observasi lingkungan sekitar untuk mengetahui model kerjinan keramik yang banyak diminati masyarakat. Saran dalam penelitian ini yaitu: (1) Belajar melalui media cetak dan internet masih belum mampu mampu menjelaskan praktek secara rinci, maka diharapkan berfungsi kembali Paguyupan Keramik Dinoyo sebagai wadah aspirasi pengrajin, pusat pembelajaran, dan sarana kebersamaan sesama pengrajin Dinoyo. (2) Karena belajar melalui pemilik usaha dan pembeli terbatas pengetahuan dan ketrampilan yang di dapatkan pengrajin. Maka perlu diadakan pelatihan yang professional dan studi banding ke sesama pusat keramik di Indonesia yang lebih professional kecakapannya. (3) karena pelatihan dirasakan pengrajin masih belum bisa meningkatkan life skill kerajinan keramik bagi pengrajin, maka diharapkan Pemerintah maupun Lembaga swasta penyelenggara pelatihan untuk mengevaluasi dan memperbaiki program pelatihannya. (4) Lingkungan sosial pengrajin masih kurang mendukung terbukti adanya persaingan tidak sehat antar pengrajin diharapkan terbentuknya Koperasi Unit Keramik.