DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA KELAS IX SMP SHALAHUDDIN MALANG

gutomo wibi ananggih

Abstrak


ABSTRAK

Wibi Ananggih, Gutomo. 2016. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Pemahaman Matematika Siswa Kelas IX SMP Shalahuddin Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono M.S., M.Sc., II) Dr.rer.nat. I Made Sulandra M.Si.

Kata Kunci : Masalah, Pembelajaran, Pemahaman

Berdasarkan wawancara didapatkan  bahwa siswa tidak dapat menjelaskan kembali tentang materi yang baru diajarkan dan tidak dapat memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa belum memiliki kemampuan yang menjadi indikator pemahaman. Selain itu,  guru sering menggunakan model pembelajaran berbasis masalah tetapi dalam pelaksanaannya pembelajaran cenderung terpusat pada guru. Dengan demikian fakta menunjukkan terdapat permasalahan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP Shalahuddin.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas untuk menangulangi masalah pembelajaran matematika. Dalam penelitian ini, peneliti adalah instrumen utama. Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi tindakan yang dilakukan guru dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Pengumpulan data dilakukan dengan rekaman hasil pekerjaan LKS dan tes,  serta lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa. pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber data, data, teori dan metodologi.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah yang telah meningkatkan pemahaman matematika siswa terdiri dari lima tahapan, yaitu: a) Membaca masalah adalah masing-masing kelompok membaca dan berdiskusi untuk memahami masalah SPLDV yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari; b) Mendefinisikan masalah adalah setiap kelompok menuliskan informasi dalam masalah dan target solusi yang akan dicari dengan bahasa sendiri; c) Menemukan ide “Pengilhaman” adalah kelompok diminta untuk menemukan pola dengan cara mengisi tabel pada LKS, kemudian pola yang telah ditemukan digunakan untuk menentukan model SPLDV dari masalah; d) Memecahkan masalah adalah setiap kelompok menggunakan model SPLDV yang telah didapatkan untuk mendapatkan penyelesaian dengan menggunakan metode grafik, subtitusi, atau eliminasi; e) Menyampaikan hasil belajar adalah setiap kelompok ditunjuk perwakilan untuk menyampaikan hasil pengerjaan yang dimiliki dari diskusi masing-masing kelompok. Perwakilan kelompok tidak menyampaikan secara keseluruhan hasil diskusi, melainkan hanya poin-poin hasil diskusi sesuai yang diperintah guru. Peningkatkan pemahaman matematika siswa yang ditunjukkan dengan siswa memiliki kemampuan sesuai dengan tujuh indikator pemahaman, yaitu: a) Menginterpretasi; b) Mencontohkan; c) Mengelompokkan; d) Merangkum; e) Menginferensi; f) Membandingkan; g) Menjelaskan. Setiap indikator diskor, kemudian skor diakumulasikan menjadi skor akhir siklus. Dihasilkan 83% dari seluruh siswa, yaitu 29 dari 35 jumlah siswa kelas telah memiliki skor lebih dari sama dengan 75. Bahkan terdapat dua siswa yang mendapat skor 100.

ABSTRACT

Wibi Ananggih, Gutomo. 2016. Problem Based Learning to Enhance Mathematics Understanding of Student Grade IX SMP Shalahuddin Malang. Thesis. Mathematics Education Study Program, Graduate Program of State University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono M.S., M.Sc., II) Dr.rer.nat. I Made Sulandra M.Si.

Keywords: Problems, Learning, Understanding

 

Based on the interview we found that students can not explain the concept that already taught and also can not give examples of problems in everyday life related to the concept being taught. It shows that students do not have the ability to be an indicator of understanding. Based on interviews found that teachers often use the problem-based learning, but in the implementation tends to the teacher centered learning. Thus the fact remains there are problems in mathematics learning in class IX student of SMP Salahuddin.

This study uses classroom action research design for tackling the problem of learning mathematics. In this study, the researcher is the main instrument. This research data is a description of the actions that teachers using problem-based learning model. The data collection is done by recording the work of worksheets and tests, as well as the observation sheet activities of teachers and students. Checking the validity of the data is done by triangulation of data sources, data, theory and methodology.

The results of this study indicate that the problem-based learning have increased students' understanding of mathematics consists of five stages, namely: a) Reading the problem is each group to read and discuss SPLDV to understand the problems related to everyday life; b) Defining the problem is the group to write down the information in the problem and the target solution will be sought with the language itself; c) Find the idea  " Brainstroming" is the group were asked to find a pattern by filling the tables at LKS, then the pattern that has been found is used to determine the SPLDV model; d) Solving the problem is each group using SPLDV models that have been obtained for the settlement by using the graphical method, substitution, or elimination; e) Share the learning outcome is each group appointed one of member to present the results of the work possessed of discussion each group. The member who had been chosen did not convey the overall outcome of the discussion, but only points of discussion results in accordance ruled by the teachers. Increasing students' mathematical understanding shown by the students have the ability to match the seven indicators of understanding, namely: a) Interpretative; b) Exemplifying; c) Classifying; d) Summarizing; e) Inferring; f) Comparing; g) Explaining. Each indicator score, then score is accumulated into a final score. Resulting 83% of all students, ie 29 of 35 the number of classes students have had a score of more than or equal to 75. In fact, there are two students who received a score of 100.