DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Diagnosis Kesalahan Siswa dan Pemberian Scaffolding dalam Menyelesaikan Pertidaksamaan Kuadrat

Febri Mustika Sari

Abstrak


ABSTRAK

 

Sari, Febri Mustika. 2015. Diagnosis Kesalahan Siswa dan Pemberian Scaffolding dalam Menyelesaikan Pertidaksamaan Kuadrat. Tesis. Program Studi  Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Subanji, M. Si., (II) Dr. Sri Mulyati, M.Pd.

 

Kata kunci: diagnosis, kesalahan siswa, scaffolding, pertidaksamaan kuadrat.

Berdasarkan uji pendahuluan sebagian besar siswa masih mengalami kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal tentang pertidaksamaan kuadrat. Padahal konsep pertidaksamaan kuadrat digunakan sebagai materi prasyarat dalam menunjang pembelajaran materi selanjutnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendiagnosis kesulitan apa yang dihadapi siswa dan mengetahui scaffolding yang sesuai untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan pertidaksamaan kuadrat.

Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI KA 2 SMK Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2014/2015, yang mana jumlahnya 28 siswa dan setelah mengerjakan soal tes diagnostik dan dilakukan pengoreksian dipilih 6 subjek yaitu dua orang yang kemampuan matematika baik (S1 dan S2), dua orang yang kemampuan matematika sedang (S3 dan S4) dan dua orang yang kemampuan matematika rendah (S5 dan S6). Enam subjek tersebut diwawancara dalam rangka mengklarifikasi dugaan dan memahami kesulitan yang dialami, kemudian dilanjutkan dengan pemberian scaffolding. Selanjutnya untuk evaluasi pelaksanaan scaffolding dilaksanakan tes akhir. Metode yang digunakan adalah tes dan wawancara. Pengklasifikasian kesalahan siswa menggunakan empat langkah pemecahan masalah yang dikemukakan Polya yaitu: (1) pemahaman masalah; (2) menyatakan fakta dalam kalimat-kalimat matematika yang sesuai; (3) menggunakan konsep-konsep metematika yang telah dipelajari sebelumnya; dan (4) memeriksa kembali hasil perhitungan yang telah diperoleh dan mengkomunikasikan jawaban. Scaffolding yang dilaksanakan peneliti meliputui tiga level yang dikemukakan Anghileri yaitu: (1) environmental provisions; (2) explaining, reviewing dan restructuring; dan (3) developing conceptual thinking.

Hasil tes diagnostik menunjukkan bahwa kesalahan siswa adalah:  (1) memahami masalah soal cerita dan menentukan model matematika karena kemampuan bahasa; (2) lupa rumus dan kesalahan konsep karena pembelajaran kurang bermakna sehingga perlu adanya advance organizer; (3) kesalahan perhitungan karena pemahaman konsep siswa kurang utuh; dan (4) kesalahan pemfaktoran karena siswa tidak memeriksa kembali hasil perhitungan.

Scaffoldinglevel 1: environmental provisions diberikan ketika guru memandang perlu adanya bantuan berupa grafik fungsi kuadrat. Scaffolding level 2: (1) explaining diberikan ketika siswa lupa konsep; (2) reviewing diberikan ketika siswa tidak dapat menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya; dan (3) restructuring diberikan ketika siswa mengalami kesalahan konsep. Level 3: developing conceptual thinkinglebih pada making connectionsdiberikan ketika siswa lupa konsep dengan menghubungkan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah.

Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru pada umumnya untuk melakukan diagnosis kesalahan siswa sehingga dapat memberikan scaffolding yang efektif dan guru membiasakan siswa dengan soal pemecahan masalah. Soal penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya pengembangan variasi soal dan jawaban dari permasalahan pertidaksamaan kuadrat.