DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Identifikasi Miskonsepsi Materi IPA SMP Kelas VIII dengan Teknik Certainty of Response Index (CRI) Termodifikasi dan Upaya Perbaikannya Melalui Strategi Konflik Kognitif.

Dian Aprilyani

Abstrak


ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMP pada materi IPA, (2) mengetahui apakah strategi konflik kognitif dapat mengurangi miskonsepsi siswa SMP, dan (3) bagaimana retensi pemahaman konsep dan persistensi miskonsepsi siswa SMP setelah pembelajaran perbaikan dengan startegi konflik kognitif.

Penelitian menggunakan mixed method desain embedded experimental. Subjek penelitian 26 siswa SMP Negeri 1 Bululawang Kelas VIII D semester genap tahun ajaran 2015/ 2016. Pengambilan data dengan menggunakan 20 soal CRI   termodifikasi untuk pretest, posttest dan delaytest, buku catatan siswa dan hasil wawancara. Analisis terhadap jawaban dan alasan pretest untuk mengetahui jenis miskosnepsi siswa. Buku catatan dan wawancara untuk memperkuat temuan tentang berkurangnya miskonsepsi siswa. Uji-t dilanjutkan n-gain terhadap skor pretest dan  posttest untuk menguji hipotesis. Membandingkan jumlah siswa paham konsep pada posttest dan delaytest untuk mengetahui retensi pemahaman konsep siswa.  Membandingkan jumlah siswa miskonsepsi pada pretest, posttest dan delaytest untuk mengetahui persistensi miskonsespsi siswa.

Hasil penelitian menunjukkan : (1) miskonsepsi terjadi pada semua konsep, terutama pada konsep gerak persitaltik, tujuan pencernaan makanan, tujuan pernapasan dan gangguan pada sistem peredaran darah manusia, (2) strategi konflik kognitif dapat mengurangi miskonsepsi siswa SMP (3) retensi siswa SMP masuk kategori sangat baik, artinya konsep benar yang diperoleh siswa dapat diterima dan dipertahankan di memori jangka panjang. Persistensi miskonsepsi yang dialami siswa SMP masuk ke dalam kategori sangat rendah, artinya siswa mau menerima konsep benar sehingga miskonsepsinya terganggu dan tidak mempertahankan miskonsepsinya.

Sebagai implikasi penelitian ini dikemukanan beberapa saran: 1)  pembelajaran perbaikan sebaiknya tidak dilaksanakan bersamaan dengan materi lainnya, karena miskonsepsi yang belum terselesaikan dapat mempengaruhi pemahaman siswa pada materi berikutnya, 2)  identifikasi miskonsepsi  perlu dilakukan terlebih dahulu sehingga dapat merencanakan konflik kognitif yang dapat menjadi konflik di pikiran siswa, sesuai dengan tingkat berpikir siswa dan lebih memotivasi siswa untuk menimbulkan pemahaman konsep menjadi lebih bermakna.