DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pembelajaran Problem Posing Setting Kooperatif Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Tembilahan

Kaspun Nazir

Abstrak


ABSTRAK

 

Nazir, Kaspun, 2016. Pembelajaran Problem Posing Setting Kooperatif Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Kelas VIII1 SMP Negeri 1 Tembilahan. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr.Subanji, M.Si. (2) Dra.Santi Irawati, M.Si., Ph.D.

 

Kata Kunci: Problem Posing, Kooperatif Investigasi Kelompok, Koneksi Matematis

investigasi kelompok yang dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Tembilahan pada materi lingkaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data yang dikumpulkan antara lain berasal dari: 1) hasil observasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran; 2) tes hasil belajar; 3) hasil wawancara; 4) catatan lapangan; dan 5) rekaman video.

Langkah- langkah pembelajaran problem posing setting kooperatif investigasi kelompok pada materi lingkaran yang dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa yaitu : 1) kegiatan pendahuluan dengan mengondisikan siswa untuk siap belajar, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi, memberikan penjelasan tentang model pembelajaran yang digunakan dan melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan awal siswa tentang materi sebelumnya dan materi yang akan dipelajari; 2) kegiatan inti yaitu tahap pengelompokan, siswa dibagi menjadi kelompok belajar dan pada tahap perencanaan, siswa merencakan kegiatan-kegiatan kelompok. Pada tahap investigasi, siswa diberikan permasalahan terkait materi lingkaran, siswa melakukan investigasi dengan melakukan penyelidikan dan menuliskan informasi yang ada pada permasalahan, kemudian dari informasi tersebut siswa membuat soal dan penyelesaian. Pada tahap pengorganisasian, siswa mengorganisasikan kelompok belajar untuk mempersiapkan presentasi. Pada tahap presentasi, kelompok siswa yang ditunjuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Pada saat presentasi terjadi tanya jawab dan diskusi kelas terkait hasil presentasi. Pada tahap evaluasi guru memastikan siswa memahami materi yang diajarkan dan memberi soal latihan; 3) kegiatan akhir guru bersama siswa melakukan refleksi pembelajaran dan menutup pembelajaran.

Dari hasil penelitian, kemampuan koneksi matematis siswa meningkat dengan pembelajaran problem posing setting kooperatif investigasi kelompok. Siswa mampu mengaitkan ide-ide matematika sebelum, selama dan setelah membuat soal dan penyelesaian. Ide-ide koneksi matematis siswa sering muncul setelah siswa menyelesaikan masalah. Ide membuat soal baru dan penyelesaian tersebut dengan menambah informasi yang terdapat pada permasalahan yang diberikan. Hal ini didukung dengan persentase hasil tes kemampuan koneksi matematis siswa secara klasikal yang mendapatkan skor >76 terjadi peningkatan yaitu 77.42% pada siklus I menjadi 93.55% pada siklus II. Persentase hasil observasi aktivitas guru meningkat dari  85.33% pada siklus I menjadi  95.66% pada siklus II. Persentasi hasil observasi aktivitas siswa meningkat dari  82.44 % pada siklus I menjadi 91.27 % pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dan siswa pada pembelajaran problem posing setting kooperatif investigasi kelompok berjalan dengan sangat baik. Respon siswa terhadap pembelajaran problem posing setting kooperatif investigasi kelompok pada penelitian ini sangat positif.

Saran yang dapat disampaikan agar pembelajaran problem posing setting kooperatif investigasi kelompok dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa antara lain: 1) menyiapkan masalah kontekstual yang menarik dan diketahui siswa agar siswa termotivasi dan tertantang dalam membuat soal dan penyelesaian; 2) siswa dilibatkan secara langsung dalam proses investigasi dan mengumpulkan informasi yang terdapat dalam permasalahan; 3) memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan agar tahap investigasi pembuatan soal dan penyelesaian berjalan dengan lebih baik; 4) memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berdiskusi dalam kelompok dan menjamin seluruh siswa terlibat dalam kegiatan kelompok; dan 5) guru harus benar-benar mengelola alokasi waktu agar pembelajaran berjalan efektif.