DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Students’ Reading Self-Efficacy Level and Its Sources: A Study in A Senior High School in Malang

Meti Rahmawati

Abstrak


ABSTRAK

 

Rahmawati, Meti. 2016. Students’ Reading Self-Efficacy Level and Its Sources: A Study in A Senior High School in Malang.Unpublished Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd., (II) Nunung Suryati, M.Ed. Ph.D 

 

Key words: Reading Self-Efficacy, Sources of Self-Efficacy

Reading comprehension involves complex factors including cognitive and affective factors. Many previous studies highlight significant relationship between self-efficacy and students’ reading achievement. Despite the knowledge of the importance of reading self-efficacy, reasearch in this domain is limited in number and context. In the light of the research gaps, this study was aimed at (1) identifying the level of reading self-efficacy among Indonesian senior high school students, (2) investigating the individual contribution of the four sources of self-efficacy on reading self-efficacy as hypothesized by Bandura, (3) exploring students’ perceptions on the four sources of reading self-efficacy, and (4) predicting the simultaneous contribution of the four sources of self efficacy.

This study belongs to explanatory mixed-methods design consisting of quantitative and qualitative phase. Quantitative phase was conducted first and given more weigth. Data for quantitative phase were collected through two questionnaires, namely reading self-efficacy questionnaire and sources of reading self-efficacy questionnaire. These were distributed to 146 students of grade tenth, eleventh and twelfth of SMA Laboratorium UM. The analysis method employed was multiple regression. The results of the quantitative phase were aimed to answer the first, second and fourth research question. Furthermore, the qualitative data were obtained from interview with 9 students. The interviews were transcibed and descriptively displayed and explained to answer the third research question.

The result of quantitative phase showed that the level of the students’ reading self-efficacy was mostly on the level of high level. The trend was the higher the grade, the higher the level of reading self-efficacy. Regarding the sources of self efficacy, only mastery experience, vicarious experience, and social persuasion significantly contributed to reading self-efficacy. Mastery experience turned out to be the most prominent one and psychological states did not predict reading self-efficacy. Simultaneously, the four sources of self-efficacy predicted reading self-efficacy for about 40%, meaning that other 60% was influenced by other factors outside the model.

The result of qualitative phase investigating highlighted nine major points. First, all subjects in interview indicated mastery experience as the most influential source. Secondly, high scores boosted their reading self-efficacy level, and low scores undermide it. Thirdly, occasional failures did not significantly affect students’ confidence level. Fourth, for vicarious experience, all students stated that they compared themselves with their classmates. Fifth, they preferred to work in group since they could learn from their friends. Sixth, they preferred to ask to their friends about difficulties rather than to their teachers. Seventh, there was no personal feedback given by the teachers to each student. Eight, no peer feedback was given or encouraged in the classes. Ninth, psychological state did not significantly influence students’ reading self-efficacy.

            Since it was found that mastery experience was the most influential source of self-efficacy, one of important recommendations drawn was that teachers should give opportunity to their students to correct their mistakes and to see mistakes as part of their learning process. Emphasizing learning process was more important than focusing on the product. Having authentic assessment as the one applied by the teachers in the SMA LAB UM could be one of the alternatives. Furthermore, teachers should also provide the students with strategies to deal with difficulties. In that way, students would feel the control of their own learning process. It was also suggested to encourage group works and peer feedback in class to facilitate vicarious experience and social

 

ABSTRAK

Rahmawati, Meti. 2016. Students’ Reading Self-Efficacy Level and Its Sources: A Study in A Senior High School in Malang.Unpublished Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd., (II) Nunung Suryati, M.Ed. Ph.D 

 

Key words: Efikasi diri dalam membaca teks bahasa Inggris,  sumber-sumber efikasi diri

Membaca pemahaman melibatkan berbagai faktor meliputi faktor-faktor kognitif dan afektif. Hasil penelitian menyatakan bahwa efikasi diri siswa berkorelasi positif dengan tingkat prestasi membaca mereka. Meskipun peran penting efikasi diri terhadap kemampuan membaca siswa telah diketahui, penelitian dalam domain ini sangat terbatas dalam hal jumlah dan konteks. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) tingkat efikasi diri siswa SMA dalam membaca teks bahasa Inggris, (2) kontribusi masing-masing faktor efikasi diri terhadap tingkat efikasi diri siswa dalam membaca teks bahasa Inggris, (3) persepsi siswa mengenai sumber-sumber efikasi membaca teks bahasa Inggris, dan (4) memprediksi kontribusi simultan dari keempat faktor tersebut.   

Penelitian ini menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif dengan desain exlanatory, dimana fase kuantitatif dilakukan terlebih dahulu dan diberikan bobot yang lebih besar dari pada fase kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan dua kuisioner yaitu kuesioner tentang keyakinan akan kemampuan diri siswa dalam memahami teks bahasa Inggris dan kuisioner tentang sumber-sumber efikasi diri siswa dalam membaca teks bahasa Inggris. Kuisioner-kuisioner tersebut dibagikan kepada 146 siswa. Metode analisis yang digunakan adalah metode regresi berganda. Hasil dari fase kuantitatif digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama, kedua dan keempat. Selanjutnya, data kualitatif diperoleh dari interview dengan 9 siswa. Hasil wawancara ditrankrip dan dijabarkan secara deskriptif  untuk menjawab pertanyaan ketiga.

Hasil dari fase kuantitatif menunjukkan bahwa tingkat efikasi membaca siswa SMA berkisar pada tingkatan tinggi. Tren yang didapat adalah semakin tinggi kelas semakin tinggi tingkat efikasi membaca siswa. Selain itu, diketahui bahwa hanya performa masa lalu, pemodelan, dan persuasi yang secara siknifikan berpengaruh terhadap tingkat efikasi membaca siswa. Performa masa lalu merupakan faktor yang paling dominan sedangkan kondisi emosi siswa tidak berpengaruh secara siknifikan. Secara simultan, keempat sumber efikasi diri tersebut memprediksi tingkat efikasi membaca siswa sebesar 40%, yang berarti 60% selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.  

Hasil dari fase kualitatif merujuk pada sembilan poin penting. Pertama, semua subjek menyatakan bahwa peforma masa lalu merupakan sumber efikasi yang paling dominan. Kedua, nilai yang memuaskan cenderung meningkatkan efikasi diri dan nilai yang jelek dan kegagalan menurunkan tingkat efikasi diri siswa. Selanjutnya, siswa menyatakan bahwa nilai kurang memuaskan yang terkadang didapat tidak lantas seketika menurunkan tingkat kepercayaan diri mereka begitu saja. Keempat, mengenai sumber efikasi diri yang berasal dari pemodelan sosial, semua siswa menyatakan bahwa mereka cenderung membandingkan diri mereka dengan siswa lain di kelas. Kelima, siswa lebih memilih untuk bekerja dalam kelompok karena mereka dapat bertanya kepada teman tentang materi yang belum dipahami. Keenam, siswa lebih memilih untuk bertanya kepada teman daripada guru saat mereka mengalami kesulitan. Tujuh, tidak ada feedback khusus yang diberikan untuk setiap siswa. Delapan, tidak ada feedback dari teman sejawat yang diberikan atau dilakukan di kelas. Sembilan, kondisi emosi siswa tidak berpengaruh secara signifikan.

Karena performa masa lalu merupakan sumber efikasi diri yang paling berpengaruh terhadap tingkat efikasi membaca siswa, guru disarankan untuk memberikan kesempatan bagi siswa memperbaiki kesalahan dan melihat kesalahan tersebut sebagai salah satu bagian penting dari proses pembelajaran. Penekanan terhadap proses pembelajaran lebih penting daripada fokus hanya pada produk. Guru juga dituntut untuk membekali siswa dengan strategi-strategi membaca yang memudahkan siswa mengatasi kesulitan saat membaca. Dengan demikian, siswa merasa memiliki kontrol terhadap proses pembelajaran. Selain itu, guru disarankan pula untuk menerapkan kerja kelompok dan memfasilitasi feedback dari teman sejawat terkait dengan sumber efikasi yang berasal dari pemodelan dan persuasi sosial.