DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perkembangan Pemahaman Matematis Siswa Sekolah Dasar Kelas V Berdasarkan Teori Pirie-Kieren Pada Topik Pecahan

Nur Aida Endah Pratama

Abstrak


ABSTRAK

 

Pratama, N. A. E. 2016. Perkembangan Pemahaman Matematis Siswa Sekolah Dasar Kelas V Berdasarkan Teori Pirie-Kieren Pada Topik Pecahan. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A, (II) Dr. Subanji, M.Si.

 

Kata kunci : konstruksi pemahaman, perkembangan pemahaman, alur perkembangan pemahaman, teori Pirie-Kieren, folding back.

Proses siswa mengonstruksi pemahaman merupakan acuan untuk mengetahui perkembangan pemahaman matematis siswa. Teori Pirie-Kieren digunakan sebagai kerangka untuk melakukan analisis karena dalam teori ini menyediakan cara untuk mendeskripsikan dan menghitung perkembangan pemahaman matematis yang terjadi pada konstruksi pemahaman siswa. Pecahan merupakan salah satu konsep yang dibangun dari banyak konstruksi pemahaman karena memiliki banyak keterhubungan, baik keterhubungannya dan keberlanjutan antara konsep pecahan, maupun keterkaitan konsep pecahan dengan konsep-konsep lain pada  matematika.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses siswa mengonstruksi pemahaman dalam menyelesaikan masalah pecahan yang dianalisis menggunakan teori Pirie-Kieren. Jenjang kelas V sekolah dasar ditentukan sebagai kelas penelitian karena materi pecahan pada kelas V dianggap memuat banyak keterhubungan konsep dan kaitannya dengan konsep lain dalam matematika. Sehingga, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan alur perkembangan pemahaman matematis siswa sekolah dasar kelas V dalam menyelesaikan masalah pecahan berdasarkan teori Pirie-Kieren.

Pendekatan kualitatif-naratif digunakan dalam penelitian ini, karena data dan informasi yang diperoleh dalam penelitian merupakan data kualitatif, kemudian dinarasikan secara jelas, terperinci dan menyeluruh. Dalam hal ini, peneliti merupakan instrumen utama penelitian. Instrumen pendukung berupa soal tes pendahuluan, yang digunakan untuk membantu menentukan subjek penelitian,. Sedangkan soal tes konstruksi pemahaman dan pedoman wawancara semi- terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data utama penelitian. Data yang telah terkumpul dianalisis mengikuti tahap analisis data menurut Creswell, dengan beracuan pada deskrispsi level teori Pirie-Kieren sebagai alat analisisnya.

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa alur perkembangan pemahaman siswa sekolah dasar kelas V dalam menyelesaikan masalah pecahan mempunyai kesamaan, yaitu dimulai dari tahap image making, bergerak menuju image having, kemudian berkembang pada level property noticing sampai pada level formalising. Perbedaannya terletak pada proses folding back yang terjadi untuk melengkapi pemahaman yang kurang pada level-level tertentu dalam teori Pirie-Kieren. Berikut dipaparkan deskripsi alur perkembangan pemahaman pada tiap level. (i) Proses interpretasi pecahan dalam bentuk gambar pada level image making ditentukan dari cara siswa memaknai keterhubungan narasi dengan gambar pada soal; (ii) Pada level image having, kebanyakan subjek menentukan operasi pengurangan pecahan dari kata ‘dimakan’ dalam narasi, kemudian jumlah yang dikurangi dinyatakan dalam bentuk arsiran; (iii) Subjek mengonstruksi pemahaman melalui interpretasi bagian keseluruhan pecahan pada level property noticing berdasarkan pemahaman pada level sebelumnya. Beberapa subjek melakukan tindakan folding back pada level image having untuk melengkapi pemahaman, setelah pemahaman pada level property noticing dianggap sudah lengkap. (iv) level formalising dapat dicapai seluruh subjek setelah sebelumnya melengkapi pemahaman pada level property noticing. Secara umum, hasil penelitian ini mendukung pernyataan bahwa folding back merupakan salah satu indikasi pemahaman siswa kelas V sekolah dasar mengalami perkembangan ketika menyelesaikan masalah pecahan.