DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penalaran Analogi Siswa Kelas VIII dalam Menyelesaikan Masalah Luas dan Keliling Segitiga dan Segiempat

DYAH AYU PRAMODA WARDHANI

Abstrak


ABSTRAK

 

Wardhani, Dyah Ayu Pramoda. 2016. Penalaran Analogi Siswa Kelas VIII dalam Menyelesaikan Masalah Luas dan Keliling Segitiga dan Segiempat. Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dr.Abdul Qohar, M.T.

 

Kata Kunci: penalaran analogi, penyelesaian masalah, segitiga, segiempat

Penalaran analogi adalah proses penarikan kesimpulan  dengan menggunakan kesamaan sifat dan struktur hubungan  dari  permasalahan sumber yang telah diketahui untuk diaplikasikan pada permasalahan target. Penalaran analogi membuat siswa harus menemukan hubungan dari permasalahan sumber dengan permasalahan target serta mengaitkan dengan konsep matematika yang relevan. Soal penalaran analogi melatih siswa mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu siswa harus memiliki konsep yang kuat serta memiliki ketrampilan untuk menghubungkan pengetahuan lama dan pengetahuan baru.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran analogi siswa kelas VIII dalam menyelesaikan masalah luas dan keliling segitiga dan segiempat. Penalaran analogi dideskripsikan berdasarkan indikator penalaran analogi English yang meliputi tahap: encoding, inferring, mapping, dan applying. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitaif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah 4  siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wagir yang mengikuti ekstrakulikuler study club matematika. Subjek penelitian ini terdiri dari 1 siswa dengan kemampuan tinggi, 2 siswa dengan kemampuan sedang, dan 1 siswa dengan kemampuan rendah. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari data hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal tes penalaran analogi dan hasil wawancara yang telah ditranskripkan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis interim.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penalaran analogi siswa kemampuan tinggi (S1) terjadi dengan baik. Siswa dapat memahami masalah yang diberikan kemudian menyimbolkan unsur-unsur yang diketahui pada masalah sumber dan masalah target (encoding). Selanjutnya mencari hubungan yang berlaku pada masalah sumber (inferring) dan memetakan setiap aturan yang dilakukan pada masalah sumber ke masalah target (mapping). Setelah memperoleh aturan yang berlaku pada masalah sumber, S1 menerapkan prosedur penyelesaian yang sama ke masalah target (applying). Penalaran analogi siswa kelompok sedang (S2 dan S3) cenderung terjadi cukup baik. Ada beberapa hambatan yang dialami siswa kelompok sedang yaitu pada proses mapping. Hambatan tersebut antara lain: siswa tidak mampu memetakan aturan yang berlaku dari masalah sumber ke masalah target, siswa lupa rumus luas bangun datar. Penalaran analogi siswa kemampuan rendah (S4) menunjukkan bahwa subjek tidak dapat memahami masalah yang diberikan. Pada proses encoding melakukan kesalahan dalam menyimbolkan panjang sisi suatu bangun datar dengan sudut (∠).